
"Apa aku harus berterimakasih padanya karena dia tidur dengan tunanganku?! Ha...." Nawang tertawa memikirkan perkataan Lalita.
"Bagaimana bisa?! Apa dia akan melakukan hal yang sama jika aku tidur dengan suaminya?!" Geram Nawang. "Apa dia akan berkata, terimakasih karena telah melayani suami saya?! Apa begitu?!"
Nawang tertawa, tertawa terbahak-bahak. Namun tak ada kebahagiaan di dalam tawanya. Hanya ada kepedihan dan rasa sakit di dalamnya.
Tawanya yang kian memudar kemudian berganti dengan Isak tangis yang memilukan.
Hatinya sesak, kepalanya pening dan ia merasa sangat mual. Rasanya sangat tidak nyaman. Ia benar-benar ingin lari jauh dari semua ini jika bisa.
Ia tercenung sendirian. Menatap keramaian di bawahnya. Setiap kali ia merasa sedih, marah ataupun kecewa. Ia akan datang ke gedung itu dan berteriak sepuasnya.
Gedung itu adalah gedung yang terabaikan. Setelah beberapa orang meninggal saat rekonstruksi gedung tersebut, bangunan itu ditinggalkan. Pembangunannya tidak dilanjutkan dan juga tidak dibongkar. Karena disana sepi dan tidak ada siapapun yang akan datang, Nawang merasa tenang disana.
"Bagaimana bisa dia berpikir aku akan senang mendengar Sagara mencintaiku, sementara ia tidur dengannya?!"
Gumam Nawang. "Benar-benar..."
Ia merasa Lalita sangat aneh. Dengan cara berfikirnya yang seperti itu, ia merasa Lalita itu di luar nalar! Namun ironisnya, Sagara yang ia cintai dan telah ia kenal sejak kecil juga memiliki pemikiran yang sama.
"Apakah disini akulah yang aneh?!" Gumam Nawang sendiri.
Bagi Nawang cinta itu adalah kepercayaan dan keikhlasan. Seperti ayah dan ibunya yang saling percaya dan mengikhlaskan. Begitu juga Nawang memahami cinta.
Saat dirinya mencintai seseorang, Nawang akan selalu mempercayainya. Tak sekalipun ada curiga di hatinya. Apapun yang pasangannya lakukan, dimanapun dan dengan siapapun. Nawang gak pernah menaruh curiga bahkan secuil pun.
Begitupun setiap kali ia mencintai seseorang, ia ikhlas menerima apapun kekurangan dan kesalahan orang tersebut. Masa lalu, perbuatan buruk semua hal itu akan dia terima dengan lapang.
Namun saat ini, kesalahan Sagara ini, begitu sulit bagi Nawang untuk menerimanya. Ia berusaha ikhlas karena ia mencintai Sagara. Namun entah kenapa Nawang merasa ini tidaklah benar!!
Mungkin memang ini semua adalah kesalahannya, karena terlalu kaku dan tidak mau berhubungan int*m sebelum menikah. Tapi itu prinsip yang telah diajarkan oleh orang tuanya. Ia ingin menjunjungnya sebisanya.
Jika Sagara mencintainya, seharusnya Sagara juga ikhlas menunggunya. Tapi kenapa?! Kenapa dia malah mencari yang lain untuk memenuhi hal yang tidak bisa dipenuhi oleh Nawang?!
Nawang kebingungan. Ia menangis tersedu-sedu, bergumul dengan dirinya sendiri. Kalut akan emosi yang membuatnya pusing.
__ADS_1
Dadanya sesak karena menangis dengan keras, tapi bukannya merasa puas. Ia malah merasa resah. Ia gelisah oleh hal yang tidak ia tahu penyebabnya.
"Apa yang anda lakukan disini?!" Sebuah suara yang sangat familiar, yang akhir-akhir ini terus ia dengar tiba-tiba menginterupsi kesedihannya.
Dengan mata yang berkabut, Nawang menoleh ke asal suara dan menemukan pria itu, berdiri dengan gagah tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"CEO Cleve?!" Gumam Nawang, "B-bagaimana anda bisa disini?!"
"Saya mengikuti anda!" Sahut Cleve.
"Apa?!"
"Saya mengikuti anda!" Ulang Cleve dengan suara yang lebih keras. Berfikir Nawang tidak bisa mendengarnya.
Sebenarnya, ia tidak sengaja melihat Nawang di cafe tadi. Kebetulan ia bertemu dengan koleganya di dekat sana. Melihat kondisi Nawang yang emosional, setelah bertemu dengan Lalita. Entah kenapa Cleve malah mengikutinya.
Awalnya ia hanya ingin melihat dari jauh. Apalagi gadis itu menangis tersedu-sedu. Cleve masih enggan berhadapan dengan wanita yang menangis seperti itu.
Tapi kemudian ia merasakan dorongan aneh, untuk menghiburnya.
Saat ia merasa menderita oleh kejadian yang menimpanya dulu, Cleve muda hanya bisa menangis dengan kencang.
Tapi meskipun sudah menangis dengan keras selama berjam-jam, bukan kepuasan yang ia dapat. Ia malah merasa semakin menderita.
Saat ini, itulah yang Cleve lihat telah terjadi pada Nawang.
"Kenapa anda melakukannya?!" Tanya Nawang kemudian.
Cleve terdiam. Ia juga tidak tahu apa alasannya.
"Apa anda kasihan pada saya?!" Tanya Nawang lagi.
Ia tidak suka dikasihani. Apalagi oleh suami dari wanita yang telah tidur dengan tunangannya.
Nawang tahu ini bukan kesalahan Cleve, toh Cleve juga korban yang mengalami hal yang sama sepertinya. Namun Nawang sangat ingin marah saat ini, dan ia tidak tahu harus melakukannya pada siapa.
__ADS_1
"Jangan kasihani saya! Saya tidak membutuhkannya!" Ujar Nawang kemudian.
"Saya tidak kasihan pada anda!" Ujar Cleve kemudian. "Saya hanya ingin dekat dengan anda!"
"Jika anda berniat pergi dari Presdir Sagara, datanglah pada saya!" Ujar Cleve, "Saya akan menerima anda!"
Setelah mengatakan kata-kata ambigu yang tidak bisa dipahami kedalaman artinya itu, Cleve pergi begitu saja meninggalkan Nawang yang kebingungan.
****
Pagi ini sebuah surat dari pengadilan agama dikirim menuju ke kediaman Juni. Indah-lah yang menerimanya dan langsung mengirimkannya pada Agung.
"Br*ngs*k!" Umpat Agung geram. Agung adalah orang yang sabar, seingatnya ia tidak pernah mengumpat sepanjang hidupnya. Jika pun ia marah pada anak maupun istrinya, ia hanya akan diam.
Namun saat ini, hal-hal yang belum pernah terjadi sebelumnya padanya, muncul dan menggelitik kesabarannya.
Menantunya yang b*j*Ngan itu dengan percaya diri melayangkan gugatan perceraian pada Juni begitu saja. Pria itu yang telah dijunjung tinggi oleh putrinya, kini mencampakkan putrinya bagai ampas tebu.
Alih-alih mengunjungi istrinya yang sedang di rawat di rumah sakit, atau setidaknya bertanya mengenai buah hati kecilnya yang cantik. Eric malah memutuskan pernikahannya dengan cepat. Seolah-olah sudah lama menantinya.
Agung sangat geram. Tak sulit baginya menghancurkan Eric dengan tangannya.
Rumah dan segala fasilitas masih menggunakan namanya. Bahkan bangunan yang menjadi klinik tempat Eric mencari nafkah masih merupakan hak miliknya.
Dengan satu perintah darinya, Eric akan langsung menjadi gelandangan.
Namun bukan itu masalahnya. Ia tidak sanggup menyampaikan pada putrinya, bahwa pria yang dicintainya telah mencampakkannya. Agung tidak sanggup melakukannya.
Agung tidak pernah berharap hal yang berlebihan untuk anak-anaknya. Ia tidak pernah mendikte buah hatinya. Seumur hidup, pilihan anak-anaknya tak pernah ia campuri sedikitpun. Entah itu dalam pertemanan, hobi, pendidikan bahkan pasangan.
Sehingga saat Juni datang membawa Eric ke depannya, Agung menyambutnya dengan tangan terbuka.
Agung tidak peduli dengan latar belakang ataupun kekayaan pria itu. Asalkan ia bisa membahagiakan Juni, itu sudah lebih dari cukup untuk Agung.
Ia tidak pernah mengharapkan hal yang muluk-muluk, cukup seseorang yang bisa mencintai putrinya seperti dirinya.
__ADS_1
Namun sekarang, inilah yang ia dapatkan. Seseorang yang bahkan lebih buruk dari sampah yang tak bisa di daur ulang.