Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 98


__ADS_3

Melihat Juni yang tengah kesakitan, tapi masih membela Abraham seperti itu, Sagara merasa kasihan juga. Dengan enggan ia berkata.


"Kalau kau memang tak mau menuntutnya, tidak apa..." ucap Sagara.


"Tapi aku akan tetap mengatakan semuanya pada papa dan mama!!" putus Sagara."Setidaknya mereka berhak mengetahui kebenaran yang menimpa putri mereka!"


Juni menghela nafas berat, seketika kepalanya pening. Sagara memang sangat keras kepala. Itulah kenapa mereka bersaudara.


"Sagara, saat aku mengetahui perselingkuhanmu! Aku tak pernah berniat mengatakannya pada orangtua kita. Meski perbuatanmu itu salah!! Kau tahu kenapa!?" tanya Juni, "Karena aku tak mau mereka bersedih!"


"Kali ini juga sama, Sagara!" tambah Juni, "Aku menyembunyikan hal ini karena tak mau mereka bersedih. Setelah semua yang menimpa keluarga kita, apa menurutmu papa dan mama baik-baik saja?!"


"Mereka sudah sangat terluka, janganlah menambah luka yang tak perlu pada mereka!" ujar Juni, "Aku dan Abraham akan segera menikah, tak ada gunanya kau menyebutkan hal yang hanya akan menyebabkan perpecahan!"


Jika orangtuanya mengetahui hal ini, sudah pasti mereka tak akan menyukai Abraham. Sementara, Abraham sendiri akan menjadi menantu mereka.


Setiap kali Juni memikirkannya, kepalanya terasa pusing. Itulah sebabnya, ia tak membiarkan Abraham menyatakan kebenarannya.


Hubungan yang didasari oleh kebencian sejak awal, tak akan berlangsung dengan baik.


Juni tak ingin hal itu terjadi.


Meski hubungannya dan Abraham tak didasari oleh cinta, namun Juni tak ingin pernikahan yang akan dia jalani berubah menjadi pernikahan neraka.


"Tolonglah Sagara, aku tak pernah memohon apapun padamu!" ucap Juni. Ia sudah sangat frustasi berbicara pada saudara kembarnya ini, "Kali ini saja. Tolong dengarkan permintaanku! Tolong jangan buat pernikahanku ini menjadi hal yang buruk. Jangan buat papa dan mama membenci Abraham, bagaimanapun Abraham akan menjadi menantu mereka!"


"Jika sejak awal mereka telah membencinya, bagaimana Abraham akan bertindak?! Bagaimana ia akan memperlakukanku kelak?!" ucap Juni, "Apa kau tidak mengasihani saudaramu ini?!"


Mendengar ucapan memelas Juni, Sagara akhirnya luluh juga. Meski hatinya berat untuk menyanggupi, tapi Sagara akhirnya berjanji akan merahasiakan apa yang ia ketahui.


"Baiklah! Aku akan melakukan apa yang kau mau!" pungkas Sagara.


****


"Bagaimana apa cantik?!" tanya sang desainer saat Abraham menatap pengantin wanitanya dengan takjub.


"Ah!" Abraham tersentak. "Iya, cantik!"


Juni tersenyum canggung. Dia merasa hal seperti ini tak pantas untuk mereka.


Awalnya ia yakin bahwa ia bisa menjalani biduk rumah tangga bersama Abraham, meski tak ada cinta diantara mereka.

__ADS_1


Namun semakin dekat pernikahan mereka, semakin gundah hati Juni. Rasa bersalah menyeruak dengan bebas dari dadanya. Bayangan Odelia terus bergantung di benaknya.


Setiap kali ia bersentuhan dengan Abraham, ia merasa telah menghianati sahabatnya. Hati Juni pun kembali goyah.


Menyadari apa yang terjadi, Abraham sedikit menjaga jarak dari Juni. Ia menahan diri setiap kali ingin menyentuh perut Juni.


Ia tahu, meski Juni sudah pernah menikah sebelumnya. Kegagalannya sebelumnya masih menjadi trauma yang besar di hatinya.


'Pasti Juni gundah memikirkan banyak hal' batin Abraham.


Setelah selesai fitting baju pengantin, Abraham mengajak Juni pergi ke sebuah cafe yang menyediakan banyak dessert buah. Abraham tau, Juni sangat menyukainya.


Sejak beberapa hari terakhir ini, Juni kesulitan untuk makan. Ia hanya mengisi perutnya dengan beberapa dessert buah.


"Kemana kita?!" tanya Juni.


"Kamu suka dessert kan?!" alih-alih menjawab, Abraham balik bertanya, "Ayo kita beli beberapa!"


Juni tersenyum tipis, "Kau memperhatikanku?!"


"Tentu saja! Kau ibu dari anakku!" sahut Abraham.


Seharusnya jika ini adalah perkataan dari orang yang ia cintai, mungkin Juni akan merasa meleleh mendengarnya. Namun perkataan itu berasal dari Abraham yang merupakan suami dari sahabatnya, ia hanya merasa haru dan sedih saat mendengarnya.


"Kenapa?!" tanya Abraham tenang.


"Karena aku akan menikahi suaminya!" ujar Juni lagi. Selama beberapa hari ini, hati Juni terombang-ambing. Kadang-kadang ia merasa yakin, kadang-kadang ia merasa ragu. Ia benar-benar tersiksa oleh perasaan dan pikirannya sendiri.


"Kau lupa, bukankah pernikahan ini adalah permintaan Odelia sendiri?!" ucap Abraham. "Ingatlah dengan menikah, kita telah mewujudkan keinginan Odelia. Bukan menghianatinya!"


"Kau mau mewujudkan keinginan Odelia kan?!" sambung Abraham.


Juni mengangguk. Ia kemudian tersenyum, sepertinya kegundahannya memudar.


"Benar, begitu.." ucap Abraham senang melihat Juni menjadi lebih baik.


Sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama dengan Juni. Namun ia tak bisa goyah karena tanggung jawab yang ada di tangannya.


"Nanti sebelum menikah, kita berkunjung ke makamnya ya!" ajak Abraham.


Juni mengangguk setuju.

__ADS_1


Mobil Abraham melesat melewati jalanan yang tenang, ia kemudian melambat di depan sebuah cafe cantik dengan tulisan 'cacafe' yang menggantung di atasnya.


Abraham turun dari mobilnya, berlari ke arah seberang dan membukakan pintu untuk Juni.


Setiap kali Abraham melakukannya, rasanya asing sekali.


Juni tak pernah diperlakukan manis seperti ini. Bahkan oleh mantan suaminya, Eric.


"Hati-hati kepalamu!" seru Abraham.


Menggandeng tangan Juni, Abraham mengajak Juni masuk ke dalam cafe. Ia kemudian memesan beberapa dessert buah dan milkshake seperti yang diinginkan Juni.


Semua baik-baik saja, sampai mereka mengalihkan pandangan untuk mencari meja guna ditempati. Namun netra keduanya bersitatap dengan orang yang paling ingin mereka hindari.


Di sebuah meja dekat dengan jendela, seorang pria berpenampilan klimis tengah menatap mereka dengan tajam. Ialah Eric yang tengah makan bersama dengan seorang perempuan.


Pria itu menatap Abraham dan Juni dengan rahang yang mengeras. Seolah-olah sedang menahan amarah.


"Mau duduk dimana?!" tanya Abraham, mengabaikan tatapan menusuk yang dilontarkan Eric padanya.


Memilih tempat yang jauh dari Eric, Juni menuju meja paling ujung dimana hanya ada beberapa pengunjung yang menempati meja sebelahnya.


Perlahan, Abraham menuntun Juni menuju ke meja. Menarik kursi yang ada di depannya, Abraham mempersilahkan Juni untuk duduk.


"Hati-hati!" ucap Abraham lagi. Ia benar-benar memperlakukan Juni bak barang pecah belah. Sangat berhati-hati.


"Terimakasih!" sahut Juni.


Interaksi kecil mereka yang manis, tak luput dari pandangan Eric. Ia meringis, menahan rasa sakit hatinya, melihat Juni tengah memadu kasih dengan pria lain.


Eric menahan gejolak di hatinya yang membuncah, ia masih berpikir bahwa Juni dan Abraham telah menghianatinya.


"Ada apa sayang?!" tanya Sasya, dia adalah seorang wanita yang akhir-akhir ini dekat dengan Eric. Ia wanita matang dengan pekerjaan tetap sebagai seorang perancang busana.


Mereka berdua bertemu saat wanita itu mengunjungi kota sebelah dan mengalami masalah pada wajahnya. Ia jatuh hati pada Eric yang menanganinya saat itu.


Setiap seminggu sekali, Eric akan mengunjungi wanita itu. Namun belakangan, ia enggan pergi ke apartemen Sasya. Karena ternyata Juni juga menempati apartemen yang sama.


"Itu, mantan istriku..!" sahut Eric geram.


"Yang kamu bilang selingkuh sama suami teman mu itu?!" Sasya bertanya. Eric pernah bercerita bahwa mantan istrinya berselingkuh dengan suami sahabatnya sendiri.

__ADS_1


Sasya melirik ke arah yang dimaksud Eric, ia kaget karena melihat pria tampan dan wanita cantik yang duduk disana.


'Ah, pantas saja dia diselingkuhi!' batin Sasya, melihat betapa tampannya pria itu.


__ADS_2