Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 36


__ADS_3

'Kau kan tahu, dia sangat mencintaiku! Dia akan sangat menderita jika tidak bersamaku!! Aku juga sangat mencintainya. Aku tak akan bisa hidup tanpa dia. Apa kau mau melihatku mati, karena tak bisa bersamanya?!'


Mengingat ancaman Sagara itu, nyali Juni menciut. Ia yang tadinya tak memiliki keraguan sedikitpun untuk mengungkapkan kebenaran pada Nawang, kini kembali berpikir ulang.


Seperti kata Sagara, Nawang pasti akan menderita jika mengetahui kebenaran terkait kehamilan wanita itu. Nawang juga pasti akan sangat malu jika pernikahannya di batalkan.


Mungkin itu sebabnya Nawang hanya diam, meski sudah mengetahui perselingkuhan Sagara. Apa Nawang masih ingin mempertahankan hubungannya dengan Sagara!?


Sama seperti dirinya yang tetap ingin mempertahankan pernikahannya, meski telah diselingkuhi oleh Eric. Mungkin Nawang juga meutuskan hal yang sama.


Namun entah kenapa, walau berusaha memikirkannya dengan positif. Juni tak bisa merasa lega. Hatinya seperti terganjal oleh sesuatu yang keras. Dan ia tetap merasa tak nyaman.


Juni tak ingin Nawang menikahi pria yang menghianatinya. Seperti bagaimana Nawang mendukungnya, untuk memutuskan hubungan dengan Eric yang telah menghianatinya. Juni juga memiliki perasaan yang sama untuk Nawang.


Tapi meskipun begitu, Juni juga tak bisa mengabaikan Sagara.


Ia mengutuk perbuatan saudaranya itu, namun Juni juga mencintainya sebagai saudara. Bagaimana bisa ia menghianati orang yang berbagi darah yang sama dengannya!? Apalagi jika karena ucapannya, Sagara akan terluka dan melakukan hal yang buruk pada akhirnya. Juni juga tak sanggup melihatnya.


Setengah hati Juni merasa, pilihan untuk diam adalah pilihan yang tepat. Namun setengah hatinya yang lain mengatakan, bahwa ia harus mengungkap kebenaran.


Juni benar-benar merasa dilema!!


"Aku harus apa...?!!!" lirih Juni sembari membanting setirnya.


Ia sebenernya hendak pulang. Tapi melihat kondisinya yang seperti ini, pasti orang-orang rumah akan cemas. Sehingga ia berputar-putar, mengendarai mobilnya tanpa arah tujuan.


Namun semakin lama berkendara, semakin gelisah dirinya. Ia juga merasa semakin tak nyaman. Karena suasana hatinya yang kacau, ia takut akan menyebabkan kecelakaan.


"Nawang..." gumamnya lagi sembari menepikan mobilnya di tepi jalan. Juni merasa sangat bersalah. Ia ingin mengatakannya pada sahabatnya, tapi ia tidak bisa.


Saat ia benar-benar bingung dan kalut. Ia teringat sahabatnya yang lain, Odelia.


Sehingga tanpa pikir panjang, Juni segera banting setir menuju kediaman Odelia. Ia yakin sahabat nya itu bisa membantunya memilih jalan yang benar.


Secepat kilat, Juni melajukan mobilnya menuju ke rumah Odelia. Ia bahkan tidak ingat jalan apa yang dilalui olehnya. Sehingga dalam sekejap mata, ia sudah memasuki kompleks perumahan mewah. Tepat di depan rumah megah bernuansa putih dan emas, Juni memperlambat mobilnya.


Saat satpam yang bertugas melihat kedatangannya, ia langsung membuka gerbang dan mempersilahkan Juni untuk masuk.


Disambut oleh bik Karti, asisten rumah tangga Odelia, Juni menemui sahabatnya.


Odelia yang menyapanya dengan senyuman, segera terhenyak saat melihat penampilan Juni yang berantakan. Bekas air mata yang belum kering di pipinya serta matanya yang memerah dan berair. Membuat Odelia terpekik kaget.


"Kamu menangis?! Ada apa ini?!" Tergopoh, Odelia menghampiri Juni.


Saat tangan Odelia menyentuh bahunya, air mata yang telah surut kembali mengalir. Juni menangis terisak di depan Odelia begitu saja.


Hati Odelia seketika mencelos. Ia langsung merasa cemas. Takut ada hal buruk lain yang datang.

__ADS_1


'Apa lagi ini?! Apa yang terjadi pada Juni??' batinnya bertanya-tanya. 'Apa ada masalah dengan perceraiannya?!


"Apa yang terjadi?! Kenapa kamu menangis Juni?!" tanya Odelia lagi. "Apa ada yang mengganggumu?! Katakan padaku!"


Juni menggeleng. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi setiap kali ia membuka mulut, yang keluar hanya suara isakan.


Selama beberapa saat, Juni hanya bisa menangis dalam rengkuhan sahabatnya itu. Odelia pun tak bisa bertanya banyak hal dan hanya menemani Juni dalam diam.


Setelah puas menangis, barulah Juni menceritakan keluh kesahnya dengan suara yang serak.


"Odel... apa yang harus aku lakukan?!" tanya Juni.


"Tentang apa?!"


"Nawang.. d-dia...Sagara.. " tiba-tiba lidah Juni terasa kelu. Mengungkapkan penghianatan saudaranya sendiri terhadap sahabatnya, ternyata sangat sulit untuk dilakukan.


Odelia menghela nafas berat. Ia memahami maksud Juni meski Juni hanya mengatakan beberapa kata.


"Aku tahu..." ujar Odelia kemudian.


"Apa?! Kau tahu?!" Juni kaget. "Bagaimana kau...?!"


"Aku melihat Nawang menampar perempuan itu!" aku Odelia jujur, "Wanita itu berkata akan tetap menemui Sagara meski Sagara telah menikah! J*Lang S*Al*n!!"


"Jadi Nawang sudah tahu semua?!" tanya Juni kemudian. Entah kenapa Juni sedikit lega.


"Aku tidak sengaja mendengar wanita itu hamil, saat akan menjenguk Sagara!" sahut Juni apa adanya.


"APA?!! JAL*NG ITU HAMIL?!!" sentak Odelia kaget.


Juni mengangguk, "Kau tidak tahu?!"


Odelia menggeleng, "Kami hanya tahu mereka berselingkuh!"


"Berarti Nawang juga tidak tahu?!" tanya Juni lagi. Juni kembali merasa kalut.


"Aku rasa tidak!!" sahut Odelia, "Kita harus memberitahu Nawang!"


Odelia bangkit, ia menarik Juni untuk mengajaknya menemui Nawang.


Namun Juni tak mau berdiri, sebagai gantinya, ia menatap Odelia dengan sendu.


"Ada apa denganmu?!" pekik Odelia, "Ayo kita temui Nawang dan katakan semuanya!! Nawang harus tahu!"


Juni yang mendengar kata-kata sahabatnya itu merasa pilu. Ia juga memikirkan hal yang sama tadi, tapi sekarang ia merasa ragu.


"Aku harus apa...." gumam Juni. Ia kembali menangis.

__ADS_1


"Ya, kita harus memberitahu Nawang. Apapun yang terjadi!!" tegas Odelia.


"Tapi Sagara bilang, ia akan mati jika tak bisa bersama dengan Nawang!" ungkap Juni kemudian, "Dia mengancam ku akan mati jika pernikahannya dengan Nawang dibatalkan!"


Odelia terhenyak! Barulah ia sadar, kenapa Juni menangis begitu pilu tadi. Ternyata ini alasannya. Sahabatnya itu tengah dilema, antara saudaranya dan sahabatnya.


****


"Anda sudah memutuskannya?!" suara di seberang sambungan tengah bertanya.


"Iya, saya dan ibu saya sudah memutuskannya!" sahut Nawang, "Bisakah anda juga ikut bersama kami?!"


"Anda memiliki hak yang sama untuk mengungkapkannya!" ujar Nawang, "Dan lagi, kalau anda tak keberatan. Saya ingin mengungkap kehamilan istri anda! Bagaimana pun janin di dalam kandungannya adalah keturunan dari keluarga Adyatama!"


"Tentu!! Saya juga memikirkan hal yang sama!" sahut Cleve, "Saya rasa, saya akan mengajaknya bersama saya kesana!"


"Kita selesaikan semuanya bersama! Mereka juga harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan mereka" sambung Cleve.


Nawang mengangguk setuju. "Terimakasih!"


"Sama-sama" bisik Cleve ringan.


Entah kenapa kata-kata yang diucapkan oleh Cleve menguatkan Nawang. Seolah ada yang menggenggam tangannya dan berjalan di jalan yang sama, Nawang merasa mendapatkan energi tambahan.


"Saya benar-benar bersyukur, anda ada bersama saya!" ucap Nawang tulus.


Cleve yang mendengarnya, tercenung dengan bibir yang melengkung di seberang sambungan.


"Apa itu berarti anda senang bahwa istri saya berselingkuh dengan tunangan anda?!"


Nawang kaget, ia tak menyangka Cleve akan mengartikan ucapannya seperti itu.


"Ti-tidak!! Bukan begitu maksud saya...."ujar Nawang gelagapan.


Cleve tertawa mendengar Nawang yang panik di ujung sambungan, "Saya tahu maksud anda! Tenang saja, saya hanya bercanda!"


Nawang terdiam, hatinya tadi sempat terjun bebas. Ia benar-benar merasa cemas, takut kata-katanya menyakiti hati Cleve.


"Anda benar-benar..!!!" geram Nawang kemudian. Ia merasa kesal juga. Bagaimana bisa pria itu bercanda dengan hal semacam itu?!!


"Sampai jumpa nanti, Nawang!" seru Cleve.


Dheg!!!


Nawang tiba-tiba tersentak.


Meski sebelumnya, Cleve sudah sering menyebut namanya. Namun tadi itu terasa berbeda, ada desiran aneh yang seolah-olah menembus hatinya saat Cleve menyebut namanya.

__ADS_1


Dengan gagap Nawang kemudian membalas, "Sampai jumpa nanti, tuan Cleve!"


__ADS_2