
Pernikahan tinggal sebulan lagi, Lalita dan Sagara kini disibukkan dengan pemilihan baju pengantin.
Sagara tak mengalami masalah yang berarti, karena sebelumnya Sagara telah menyiapkan setelan untuk pernikahannya dengan Nawang.
Namun itu berbeda dengan Lalita. Lalita tak mau mengenakan gaun 'bekas' Nawang. Sehingga ia membuat gaun lain sebagai gantinya.
Lagipula bentuk tubuh mereka sangat berbeda. Nawang lebih tinggi, lekuk tubuhnya juga terbentuk sangat baik. Berbeda dari Lalita yang lebih pendek dengan tubuh yang kurus.
Lalita ingin disiapkan gaun eksklusif khusus untuknya sendiri. Sehingga sang desainer merasa sedikit kesulitan.
"Saya tidak mau gaun yang ketat!" ujar Lalita, "Saya ingin gaun yang longgar, tapi tetap menonjolkan lekuk tubuh saya!"
Sang desainer pun mengangguk, mengungkap bahwa ia mengerti. Kemudian dengan patuh, menunjukkan model-model gaun pengantin seperti deskripsi Lalita.
Meskipun di dalam hatinya ia terus bertanya-tanya, kenapa pengantinnya berubah. Namun ia tak mengungkapkannya. Ia tak mau ikut campur dengan masalah pribadi client-nya.
Walaupun desainer itu dan stafnya tak mengungkapkan apapun, Sagara bisa merasakan tatapan-tatapan menghakimi dari mereka. Yang membuatnya merasa sangat dongkol.
Tapi Sagara tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya. Siapapun akan penasaran jika sang pengantin berganti secara tiba-tiba. Apalagi, ia sudah datang berkali-kali dengan Nawang. Selain gaun pengantin, mereka juga sempat membuat pakaian yang mereka kenakan untuk pertunangan mereka. Tentu saja para staff mengenal mereka dengan baik.
Apalagi berita mengenai perceraian Lalita dan Cleve tengah santer diberitakan di media. Mereka pasti menyadari bahwa wanita yang dibawa oleh Sagara adalah mantan istri CEO 'Cleve'.
"Sayang, antar aku cek up dong!" pinta Lalita. Ia berbisik di telinga Sagara.
"Aku sibuk, pergilah sendiri!!" ucap Sagara dingin.
Lalita memberenggut, "Sibuk apa?! Kamu kan lagi cuti?!"
"Aku harus pergi menemui Nawang!" ujar Sagara, "Sepertinya ia akan kembali dari luar kota!"
Sagara mendengar pembicaraan Juni dan Nawang lewat sambungan telepon beberapa hari lalu, dan mengetahui bahwa Nawang akan kembali hari ini.
Karena kondisinya yang masih belum pulih total, Sagara kesulitan jika harus melakukan perjalanan jauh. Sehingga ia menahan keinginannya untuk menyusul Nawang ke luar kota. Dan memilih menunggu Nawang kembali.
Sagara hendak membujuk Nawang lagi. Ia merasa yakin bahwa Nawang masih mencintainya. Dan akan bersedia menunggu dirinya bercerai.
"Kamu masih membicarakan perempuan itu?! Kita akan menikah sebentar lagi, sayang!" keluh Lalita. "Apa kamu tak peduli padaku?! Pada bayi kita?!"
"Itu tidak ada hubungannya denganku!" sergah Sagara, "Sejak awal aku tak pernah menginginkan bayi!"
"Aku juga tidak!!" bentak Lalita, "Aku juga tak menginginkan bayi. Tapi bagaimana, ia sudah hadir disini!!"
Lalita menyentuh perutnya, "Bagaimana pun karena kita orangtuanya, kita harus bertanggung jawab dan bersikap baik mulai sekarang!!"
"Iya, aku akan menjadi orangtua yang baik!" sahut Sagara, "Aku dan Nawang akan menjaga anak itu dengan baik! Kau lahirkan saja dia dengan sehat!"
__ADS_1
Lalita mengernyit. Lagi-lagi topik itu, "Kau pikir dia akan mau melakukannya?! Bangunlah, Sayang! Dia sudah mencampakkanmu!!"
****
Setelah kejadian hari itu, Juni tak memiliki keberanian untuk menemui Nawang. Begitu juga sebaliknya, Nawang merasa canggung bertemu dengan Juni dan kekuarganya. Sehingga Nawang bersembunyi dan memilih tinggal di luar kota dengan ibunya.
Namun meski begitu, mereka masih melakukan komunikasi lewat telepon.
Hari ini saat Nawang kembali, Juni dan Odelia mengajaknya untuk bertemu. Mereka akan memperbaiki hubungan yang canggung diantara mereka.
"Hay!" sapa Juni canggung, menyambut kedatangan sahabatnya.
"Hay" sapa Nawang tak kalah canggungnya.
Odelia yang melihatnya merasa muak.
"Eeyy!! Menjijikkan sekali!!" keluhnya, "Kalian lagi cosplay jadi anak remaja yang baru kenalan ya?!"
Mendengar ocehan Odelia, Juni dan Nawang serempak tertawa. Suasana yang canggung pun mulai mencair.
Setelah mengungkapkan basa-basi singkat, obrolan mereka berubah berat dan saling mengungkapkan keluh kesah masing-masing.
Saling meminta maaf dan Menangis. Dalam waktu singkat hanya ditemani dengan secangkir kopi, persahabatan mereka bertiga kembali seperti semula.
"Lalu sekarang apa rencanamu?!" tanya Juni. Ia tahu Nawang sangat menyukai dunia kosmetik. Namun karena masalah yang terjadi pada pernikahannya, Nawang harus meninggalkan dunia yang ia cintai. Juni merasa menyesal telah menarik Nawang ke dalam 'the last'.
"APA?!" Odelia dan Juni terpekik kaget.
Nawang tersenyum dan mengangguk kecil. "Aku akan bekerja di 'Cleve'!"
"Sungguh?! Syukurlah..." ujar Juni. Ia menangis haru. Ia sangat senang.
Sebagai seorang sahabat, Juni paling memahami Nawang. 'Cleve' adalah tempat yang merupakan impian Nawang. Jika bukan karena dirinya, Nawang pasti sudah menjadi orang hebat dari perusahaan kosmetik ternama itu.
"Maafkan aku, gara-gara diriku... jika bukan karena aku, kau pasti sudah menjadi bagian dari 'Cleve' sejak dulu!!" gumam Juni sembari menangis pilu.
"Kenapa kau bicara begitu?!" ujar Nawang, "Karena kau, aku menemukan teman-teman yang menarik dan mendapat banyak pengalaman!"
Mendengar ucapan Nawang, bukannya merasa lega. Juni malah merasa semakin sedih.
"Maafkan aku..."lirihnya lebih pilu.
Namun berbeda dari Juni, Odelia fokus pada hal lainnya. Ia tak bisa menghilangkan perasaan janggal di hatinya saat mendengar Nawang akan menjadi sekretaris dari CEO 'Cleve', mantan suami dari Lalita, selingkuhan Sagara.
'Apa ini hanya perasaanku?!' batin Odelia, 'Kenapa rasanya ada yang aneh!?'
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, bagaimana bisa kau dipilih sebagai sekretaris CEO?!" tanya Odelia kemudian.
Perekrutan besar-besaran yang dilakukan oleh 'Cleve' menjadi berita hangat yang bahkan di dengar oleh Odelia yang kerjaannya hanya tinggal di rumah.
Keponakan bik Karti, pembantu rumah tangga Odelia juga mengadu nasib dan melamar di 'Cleve'. Namun ia gugur di ujian pertama. Katanya ada ribuan orang yang melamar kesana, sulit untuk masuk jika bukan orang yang amat sangat jenius.
Bukannya Odelia tidak percaya pada sahabatnya, tapi Nawang bukanlah orang yang amat sangat jenius. Bagaimana bisa ia dipilih dari ribuan orang?! Apakah ini semacam kebetulan klise seperti dalam novel?!
"Bagaimana bisa kau secara kebetulan dipilih jadi sekretarisnya?!" tanya Odelia lagi.
"CEO Cleve yang menawarkannya langsung padaku!" ujar Nawang jujur.
"Apa maksudmu?!" Odelia kaget, "Kau tidak melamar?!"
"Tidak!" sahut Nawang, "Beliau yang datang padaku dan menawarkan posisi sebagai sekretarisnya!"
"APA?!" Odelia semakin kaget.
****
Meninggalkan Lalita di butik sendirian, Sagara melesat pergi ke rumah Nawang. Namun saat Sagara menekan bel, seorang pria tinggi tegap membukakan pintu untuknya.
"Ada yang bisa saya bantu?!" Cleve keluar dari rumah Nawang.
"K-kau?!" Sagara kaget, "Kenapa kau ada disini?!"
"Saya berkunjung" sahut Cleve seadanya.
Memang benar, Cleve datang untuk berkunjung. Ia ingin menemui Nawang, guna menanda tangani kontrak kerja yang sudah diperbaharui. Namun Nawang ternyata tidak dirumah. Cleve hendak kembali ke kantornya. Namun saat ia membuka pintu untuk keluar, Ia malah bertemu dengan Sagara.
"Kenapa kau berkunjung ke rumah Tunanganku?!" geram Sagara.
"Maaf, tapi kalau saya tidak salah ingat! Nawang bukanlah tunangan anda lagi sekarang!" sahut Cleve.
"Ha..." Sagara mendengus kesal, "Apa kau mau balas dendam?!"
"Karena aku merebut istrimu, jadi kau berusaha mengambil kekasihku?!" ujar Sagara, "Kau tidak akan bisa, Nawang hanya mencintaiku seorang! Nawang bukan wanita murahan seperti yang kau pikirkan!!"
Cleve menyeringai, "Apa anda pikir semua orang seperti anda?! Menyedihkan sekali anda ini!"
Cleve kemudian mencondongkan tubuhnya dan berbisik di dekat telinga Sagara."Saya peringatkan, hati-hati dengan perkataan anda! Jika anda tak ingin dituntut karena melecehkan sekretaris saya!"
"Ngomong-ngomong, Anda tidak merebut Lalita dari saya, saya yang membiarkan Anda melakukannya!"
Senyum tersungging di bibir Cleve setelahnya, "Terimakasih karena anda melakukannya dengan sangat baik!"
__ADS_1
Cleve lalu menepuk pundak Sagara dengan pelan.