Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 104


__ADS_3

Karina yang mengetahui keadaan putrinya, bergegas terbang ke Jerman. Perjalanan lima belas jam terasa bagai bertahun-tahun lamanya, ia gelisah dan resah. Selama di perjalanan ia tak bisa tidur, ia terus berdoa untuk kesembuhan putrinya.


Disambut oleh Thomas dan Illyas di Bandara, mereka pergi ke rumah sakit dengan cepat.


Karina tak bisa menahan rasa sakitnya saat melihat keadaan putrinya yang terbaring koma.


Terbayang di benaknya, mimpinya beberapa waktu lalu. Takut seketika menyeruak di dadanya.


'Jangan bawa pergi anak kita mas! Aku mohon!!' lirih Karina di dalam hatinya. Ia cemas mimpinya itu akan menjadi nyata.


Ia menyesal telah mengabaikan firasat buruknya!! Seharusnya ia cegah saja putrinya itu saat pergi ke Jerman.


"Nawang..." lirih Karina pilu. Selama beberapa waktu, Karina tenggelam dalam kesedihannya saat melihat keadaan anaknya. Hingga ia lupa akan keberadaan menantunya.


Barulah setelah tangisnya mulai pudar, ia ingat pada Cleve yang tak ada di ruangan itu.


"Dimana Cleve, tuan?" tanya Karina pada Thomas.


"Dia dirawat di ruang sebelah!" ujar Thomas, "Dia tidak makan dan minum selama beberapa hari. Dia pingsan tadi pagi!"


Tangis Karina yang surut pun kembali pecah.


"Kenapa nasib kalian seperti ini....?!" lirih Karina.


****


Memutuskan untuk menetap di Jerman, Karina ingin merawat putrinya sendiri. Bersama dengan Cleve, Karina menemani Nawang yang tengah koma.


Sedangkan Thomas harus bolak-balik Jerman-Indonesia, karena masih harus mengurusi perusahaan. Apalagi ada peluncuran produk baru yang harus ia tangani.


Setelah mendapat kabar mengenai keadaan Nawang, Juni, Abraham dan keluarga Adyatama juga sempat datang untuk menjenguk Nawang. Namun mereka tak bisa menetap terlalu lama. Dan kembali pulang beberapa hari yang lalu.


Kondisi Nawang saat ini, tak memungkinkan untuk dipindahkan ke Indonesia. Sehingga mau tidak mau mereka harus menetap di negeri asing.


Untungnya ada Jacob dan Hans yang selalu memperhatikan mereka. Tak pernah sekalipun kedua kakak beradik itu lupa membawakan makanan untuk Karina dan Cleve.


Sarapan, makan siang dan makan malam. Mereka berdua senantiasa datang.


Karina berterimakasih pada kedua orang itu. Ia juga merasakan ledakan semangat tiap kali si kecil Theo datang dan menggumamkan doa-doa untuk Nawang.


Hal itulah yang membuat Karina merasa tegar menjalani hari-hari yang penuh siksa saat menunggu kesembuhan putrinya.


Jika saja ia bisa menukar tempatnya, ia ingin mengalihkan kondisi putrinya itu pada dirinya.


Biarlah ia yang koma, asal putrinya baik-baik saja! Ia lebih rela..


Namun ia tak berdaya, ia tak bisa melakukannya. Ia hanya bisa berdoa dan berdoa. Menunggu keajaiban datang.


Sehari

__ADS_1


Dua hari


Tiga Hari


Seminggu....


Tak ada tanda-tanda Nawang akan bangun. Cleve semakin hari semakin kurus, ia bahkan tak ingat makan jika saja Karina tak membujuknya.


Pria yang dulunya sangat kokoh, sangat kuat dan seolah tak tergoyahkan itu. Kini hancur berkeping-keping karena Nawang.


"Makanlah Cleve! Sejak pagi kamu tidak makan!" pinta Karina. Ia memaksa menantunya itu untuk makan.


Jacob telah membawakan beberapa sandwich untuk Cleve siang tadi. Namun hingga malam menjelang, Cleve tak mau menyentuhnya.


"Sebentar lagi...!" sahutnya serak.


Karina menghela nafas berat. Sudah berapa kali Cleve dirawat karena tiba-tiba pingsan. Namun pria itu seolah tak peduli. Sepertinya cintanya pada Nawang sangat besar.


Karina senang mengetahui anaknya bertemu dengan pria yang benar-benar mencintainya. Tapi juga sedih karena Cleve terus menyiksa dirinya.


'Cepatlah bangun sayang! Kasihan suamimu! Sepertinya ia tak akan bisa bertahan lebih lama jika kau terus tertidur!' batin Karina, menatap putrinya sendu.


Ia menggenggam tangan Nawang dengan lembut. Mengelus-elus tangan putrinya sembari mengucap doa di dalam hatinya.


Di lain tempat, Juni yang harus kembali pulang ke Indonesia merasa sangat bersedih dengan apa yang menimpa sahabatnya.


Ia ingin tetap tinggal. Tapi begitu sulit bagi Juni untuk melakukannya. Mengingat ia tak terbiasa tinggal di luar negeri.


Abraham yang khawatir terhadap istrinya, kemudian memaksa Juni untuk pulang.


"Dik?!"Abraham memeriksa istrinya, apakah sudah tidur apa belum?!


Pria itu sudah menetapkan panggilannya untuk Juni, 'dik'.


Sebenarnya Juni hanya lebih muda beberapa bulan dari Abraham. Namun karena Abraham ingin dipanggil 'mas'. Juni tak bisa menolaknya. Padahal ia terbiasa menyebut nama Abraham sebelumnya.


"Mas.." panggil Juni.


"Ya..?! Belum tidur, dik?!" Abraham yang tidur disebelah istrinya kemudian bertanya. "Ada apa?! Kamu kesakitan?!"


"Tidak.. hanya saja aku tidak bisa tidur!" ujar Juni.


Abraham memahami perasaan istrinya, "Berdoa saja! Yakinlah dia pasti akan segera sadar!"


Juni terkesiap, "Bagaimana mas bisa tahu kalau aku lagi memikirkan Nawang?!"


"Apalagi yang membuatmu tak bisa tidur selain sahabatmu?!"


Juni tersenyum simpul. Terkadang ia merasa, Abraham begitu mengenalnya. Padahal mereka tidak pernah dekat sebelumnya.

__ADS_1


Eric saja yang sudah mengenalnya selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menikah, tak bisa seperti itu. Bagaimana Abraham bisa melakukannya?!


Mengelus perut Juni, Abraham menyenandungkan sebuah lagu pengantar tidur. Ketimbang terlihat mesra, tindakan Abraham terkesan lembut dan manis. Sehingga membuat Juni merasa nyaman. Juni seperti seorang anak kecil yang tengah ditenangkan oleh ayahnya.


****


Sepuluh hari berlalu dan Nawang masih tak sadar dari koma. Hari ini adalah hari ulang tahunnya.


Cleve sudah menyiapkan sebuah pesta kejutan untuk Nawang. Ia sudah merencanakannya jauh-jauh hari sebelumnya.


Setelah pulang dari bulan madu yang indah, mereka akan pergi menghadiri acara pernikahan sahabat Nawang. Menghabiskan waktu di villa, kemudian kembali pulang dengan sebuah pesta kejutan yang meriah.


Ya! Seharusnya begitu! Tapi nyatanya Nawang terbaring koma sekarang.


"Seharusnya sekarang kamu sedang menari bersama denganku, di pesta ulang tahunmu...." Cleve menerawang, membayangkan Nawang yang tersenyum dan tertawa bersama dengannya di pesta yang meriah. Ia merasa sangat sakit, ia kembali menangis.


"Aku menyesal...seandainya aku mengikuti kata-katamu, hal ini tak akan pernah terjadi padamu!!" ujar Cleve, ia mengingat kata-kata Nawang di pesawat. Ia menyesal karena mengabaikannya. "Maafkan aku sayang.. aku sungguh sangat menyesal! Aku salah... tolong maafkan aku!"


Namun Nawang yang ada di depannya hanya terdiam. Apalagi menjawab, membuka matanya pun tidak.


"Jangan abaikan aku seperti ini.. aku hancur tanpamu..." lirih Cleve. Ia menggenggam erat tangan Nawang, menangis sembari memeluk tangan itu dengan erat.


Ia merindukan saat tangan itu dengan hangat menyapu kepalanya dan menyentuh pipinya.


Cleve benar-benar merindukan istrinya!!


Ketakutan yang ia telan sebelumnya, kini kembali menyeruak. Meski ia optimis istrinya akan kembali sadar. Namun rasa takut akan kehilangan tak bisa dipungkiri olehnya.


"Bukalah matamu, sayang...aku mohon!! Aku berjanji menjadi suami yang lebih baik lagi untukmu! Jika kau membuka matamu.. aku berjanji akan melakukan apapun yang kau katakan.. aku berjanji tidak akan pernah membantah..." Cleve terus menangis. Ia mengucapkan ribuan janji untuk Nawang. Namun sebanyak apapun ia mengucapkan janji-janji manis, Nawang tak pernah membuka matanya.


Melihatnya, Cleve merasa semakin hancur.


Jika bukan karena nafasnya yang konstan. Tak ada tanda bahwa istrinya itu masih hidup.


"Bangunlah sayang..." lirih Cleve lagi.


Selama berjam-jam, Cleve menangis hingga air matanya surut dan ia tertidur lelap. Di dalam mimpinya ia melihat Nawang, istrinya berpakaian serba putih. Terlihat begitu cantik dan bersinar.


Cleve yang melihatnya berlari, mengejar Nawang. Namun Nawang bergerak menjauh dan semakin jauh.


'Nawang!! Nawang!!' teriak Cleve. 'Nawang, kamu dimana sayang?!'


Cleve mengedarkan pandangannya, tapi sosok Nawang tak ia temukan. Hanya ruangan putih tak berpenghuni yang ada.


Menangis, Cleve berteriak 'Sayang, jangan tinggalkan aku!! Aku mohon!!'


'Aku sangat mencintaimu, Nawang!' teriak Cleve putus asa.


Cleve menangis di dalam tidurnya, Ia tak menyadari tangan yang digenggamnya itu bergerak perlahan.

__ADS_1


Mata Nawang yang tadinya hanya terpejam, bergerak-gerak. Bulu matanya yang lentik pun berkibas. Nawang akhirnya kembali sadar.


****


__ADS_2