Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 6


__ADS_3

"Bagaimana Zoe, ma?!" Tanya Juni tiba-tiba.


Setelah setiap hari mendapatkan dukungan dari keluarga dan teman-temannya, Juni berangsur-angsur membaik. Ia sudah tidak terlihat seperti mayat hidup seperti dirinya saat baru saja tersadar.


Kini wajahnya dipenuhi oleh senyum dan bersinar oleh semangat kehidupan. Melihat perkembangan Juni yang kian membaik, Ria merasa sangat bahagia. Ia berharap hal yang sama juga akan terjadi pada Sagara.


"Zoe dijaga oleh Indah, sayang!" Sahut sang mama sembari menyunggingkan seulas senyum.


"Apa dia baik-baik saja?! Apa dia rindu aku, ma?!" Tanya Juni.


Meski sempat melupakan kehadiran anaknya, setelah dibutakan oleh rasa sakit hati. Kini Juni telah sadar. Ia pun mulai merindukan putri semata wayangnya itu.


"Tentu saja! Zoe kangen kamu. Dia kadang rewel, tapi Indah mengurusnya dengan baik!" Ujar Ria lagi.


Juni tersenyum tipis. Mendengar nama Indah, ia merasa sangat bersyukur.


Meski Indah selalu menjadi pembantu rumah tangga mereka namun di mata Juni, Indah lebih dari itu. Indah seperti seorang kakak perempuan yang tidak pernah bisa ia miliki.


Sekarang bahkan Indah lebih dari itu untuknya. Indah telah menyelamatkan nyawanya, sehingga ia jauh lebih menghormati Indah.


"Kalau bisa, nanti ajak Zoe sama Indah kesini ya ma!" Pinta Juni.


"Iya, nanti mama suruh mereka kesini jenguk kamu!" Ujar Ria.


"Oh ya ma... Kok Sagara gak pernah muncul nengokin aku sih ma?!" Tanya Juni tiba-tiba.


Ia merasa aneh karena setelah beberapa hari ia dirawat, tidak ada sedetikpun saudara kembarnya datang untuk menemuinya. Mungkinkah ada sesuatu yang terjadi, sampai-sampai Sagara tidak bisa menjenguk kembarannya yang sekarat?!


"Oh.. i-itu..." Ria tergagap tidak menyangka Juni akan bertanya mengenai Sagara, "Dia sibuk ngurusin persiapan launching produk baru, sama sibuk ngurusin persiapan pernikahannya!"


"Tapi.. beberapa kali dia dateng kesini kok! Cuman kamunya pas tidur!" Ujar Ria berdusta.


"Ah, masak sih?! Mama bohong ya?!" Goda Juni.


"Eng-enggak!" Elak Ria dengan gugup.

__ADS_1


Ria dan Agung telah sepakat untuk sementara waktu tidak mengatakan pada Juni tentang keadaan Sagara yang koma.


Mereka takut Juni mengalami syock dan kembali down saat mengetahui kondisi kembarannya.


Mereka berencana mengatakannya jika keadaan Juni sudah pulih sepenuhnya.


Melihat ibunya yang gugup, Juni merasa sedikit curiga. Namun ia kembali berfikiran positif dan menepis perasaan aneh yang mengganjal di hatinya.


Mungkin saja kan memang Sagara terlalu sibuk, sehingga tidak bisa menjenguknya?!


'Siapa suruh sok-sokan gak pake WO! Mau buat pesta pernikahan yang megah sendirian, konon! Sekarang sibuk kan?! Aku saja dulu pake jasa WO!!' batin Juni.


Mengingat tentang pernikahannya dahulu, Juni merasakan sesak di dadanya.


Ia tidak habis pikir pernikahan yang telah ia impikan selama bertahun-tahun, hancur begitu saja dalam waktu semalam!


Dia masih tidak mampu memahaminya, bagaimana bisa Eric membuang dirinya begitu saja. Seolah-olah selama ini yang mereka lewati hanyalah hal yang tidak berharga!!


Apa selemah itu ikatan cinta antara dirinya dan Eric?


Iya.. mungkin itu memang benar! Jika tidak, bagaimana bisa dengan mudahnya orang ketiga masuk diantara mereka?!


Juni kembali berfikir bahwa dirinyalah, penyebab sesungguhnya dari perselingkuhan suaminya!


Semakin memikirkannya, hati Juni semakin sakit. Ia semakin menyadari bahwa ia bukanlah istri yang baik.


'Apakah aku begitu buruk hingga Eric lebih memilih Dina ketimbang diriku?!' batin Juni.


Namun saat pikirannya gelap oleh suara-suara yang menyalahkan dirinya, satu suara yang lantang menerjang kesadarannya.


Suara Odelia tiba-tiba terngiang di otaknya.


"Yang selingkuh itu mereka! Berarti yang salah itu mereka, bukan kamu!! Jadi kenapa kamu yang harus merasa bersalah?!"


***

__ADS_1


Dadanya naik turun menandakan bahwa ia bernafas dengan teratur. Persis seperti orang yang tertidur. Matanya pun tertutup damai, seolah-olah ia sedang bermimpi hal-hal manis yang indah.


Jika saja tidak ada alat-alat yang menempel di tubuhnya, mungkin Nawang tidak akan ingat bahwa calon suaminya itu bukanlah sedang tidur melainkan koma.


Nawang yang baru saja kembali dari kantor polisi untuk mengambil barang-barang milik Sagara, menyambangi rumah sakit untuk menemui Sagara.


Tidak ada siapapun disana yang menjaganya. Mungkin Tante Ria sedang ke toilet atau melihat keadaan Juni.


Dengan perlahan, ia duduk di kursi yang berada di sebelah ranjang Sagara. Ia menyentuh pelan tangan Sagara, seolah-olah tengah meminta ijin pada calon suaminya.


"Bagaimana kabarmu?! Apa.. hari ini dokter sudah mengecek keadaanmu?!" Tanya Nawang pada Sagara, yang masih setia terpejam di hadapannya.


"Persiapan launching produk baru berjalan baik! Aku yakin.. itu akan membuat penjualan 'the last' meningkat pesat tahun ini!" Ucap Nawang. "Dengan begitu, kita juga akan terbebas dari tekanan Sunshine!"


"Produk itu pasti akan sangat laris!" Imbuh Nawang. Ia terus berbicara, seolah-olah Sagara bisa mendengarnya.


"Tadi... Aku pergi ke kantor polisi, aku mengambil barang-barangmu yang ditemukan di TKP!" Ujar Nawang lagi. Ia menyerahkan sebuah plastik bag besar yang berisikan barang-barang Sagara, namun Sagara tidak bereaksi sedikit pun.


"A-aku.. aku akan meletakkannya di sini!" Ucap Nawang, ia kemudian meletakkan plastik bag itu di nakas.


"Kalau begitu, aku akan kembali ke kantor!" Nawang berujar lagi. "Kamu harus cepat sadar, mengerti?! Ada banyak hal yang akan kamu lewatkan kalau kamu hanya terus tertidur!"


Nawang bangkit hendak melangkahkan kakinya untuk pergi. Namun entah kenapa tubuhnya terasa berat. Ia terdiam sejenak, ia merasa ada sesuatu yang panas dan menyesakkan berusaha tumpah dari dalam dirinya. Ia kemudian menelan salivanya, seolah-olah dengan cara itu 'rasa menyesakkan' itu juga tertelan kembali ke dalam dirinya.


Namun setetes air mata jatuh perlahan meluncur melewati pipinya.


"Ah! Aku.. mataku kemasukan debu!" Ujar Nawang memberi alasan pada tubuh tak bergerak Sagara.


"Ah.. rasanya sakit sekali! Sangat sakit.." ucap Nawang dengan tangis yang pecah.


Sebenarnya ia tidak tahu kenapa ia melangkahkan kakinya ke rumah sakit dan menemui Sagara. Padahal ia berjanji bertemu dengan Agung dan menyerahkan barang-barang Sagara pada Agung di kantor.


Agung berniat menyambangi kantor dan melihat kondisi kantor. Agung berencana mengumumkan dengan resmi keadaan anaknya yang sedang koma kepada karyawan. Bagaimana pun Sagara adalah pimpinan perusahaan saat ini, para karyawan berhak tahu keadaan Presdir mereka.


Namun Nawang yang telah sepakat untuk melakukannya malah berbalik. Hatinya yang berubah menjadi kacau setelah kembali dari kantor polisi membawa Nawang menemui Sagara. Pertanyaan-pertanyaan aneh yang terus mengganggu pikirannya membuat Nawang tidak nyaman.

__ADS_1


Rasanya ia ingin segera menemukan jawabannya. Sehingga ia berlari menemui Sagara, berharap pria itu bisa memberinya jawaban. Tapi bagaimana?! Sagara saja masih terbaring koma!


Pada siapa ia akan bertanya, hubungan apa yang dimiliki oleh Sagara dan wanita yang bernama Lalita?!


__ADS_2