
"Sayang?! Kenapa sudah pulang?!" Tanya Dina.
Eric segera menyunggingkan senyum cerah saat kekasihnya datang menyambutnya. Sejak prahara rumah tangganya dengan Juni, Eric tak lagi tinggal di rumah itu. Sebab rumah itu milik Juni. Ia tidak mau menambah masalah.
Eric bahkan tidak meminta hak asuh anak atau harta gono gini, ia hanya ingin perceraian yang bersih di dalam gugatannya. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan hubungannya dengan Juni, agar tidak lagi terhalang untuk menikahi Dina.
Rencananya setelah menikahi Dina, Eric akan membeli rumah dengan tabungannya sendiri, untuk memulai hidup baru. Namun untuk sementara ini, ia tinggal di apartemen milik Dina dan suaminya dulu.
"Aku kangen padamu!" Dusta Eric. Dia tidak ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah kedatangan pria itu, Eric tak bisa membuka kliniknya. Ia segera memindahkan barang-barangnya bersama para stafnya.
Untuk sementara waktu, ia meliburkan stafnya sampai ia bisa menemukan tempat yang baru. Ia berniat memberitahu Dina jika semuanya sudah rampung.
"Kamu lagi apa sayang?!" Tanya Eric.
"Aku lagi masak makan siang!" Sahut Dina. "Kamu istirahat saja dulu, nanti setelah semuanya siap aku panggilkan!"
Eric tersenyum tipis. Ia suka melihat Dina yang melayaninya dengan baik seperti ini. Bukannya Juni tidak melakukan hal yang sama, hanya saja melihat orang yang sama setiap hari terasa membosankan.
Juni memang istri yang baik. Dia juga wanita yang sangat cantik. Awalnya Eric merasa beruntung menikahinya. Ada begitu banyak pria kaya yang berjejer menginginkannya. Tapi Juni memilihnya, orang yang biasa-biasa saja.
Namun rasa syukurnya perlahan-lahan menghilang. Digantikan dengan kebosanan. Hari-hari selalu seperti itu, monoton tanpa ada sesuatu yang baru. Seperti memakan makanan yang enak terus menerus selama bertahun-tahun, Eric merasa jenuh.
Meski sekali, Eric ingin 'mencoba' sesuatu yang lain. Dan sayangnya hal yang ia coba itu menjadi candu untuknya.
"Menu apa yang kamu siapkan, sayang?!" Tanya Eric. Alih-alih pergi beristirahat seperti yang dikatakan kekasihnya, Eric mendekati Dina yang sedang memasak.
"Ada ayam kecap, telur balado sama plecing kangkung!" Sahut Dina, "Kamu sih pulang gak bilang-bilang, jadi aku kan masak sedikit! Aku bikin cuma buat aku!"
Eric terkekeh, "Aku gak lapar kok sayang!"
"Kamu gak mau makan?!" Tanya Dina.
"Aku laparnya lain!" Bisik Eric di telinga Dina. Ia kemudian memeluk Dina dari belakang, tangannya yang nakal menggapai-gapai dua benda kembar yang kenyal.
Suara desisan Dina pun bocor dibuatnya.
"Jangan ah! Aku lagi masak!!" keluhnya kemudian.
"Sebentar saja!" Pinta Eric. "Aku kan pulang cepat demi kamu!"
Dina terkikik, wajahnya memanas saat Eric mengatakan hal itu.
Ia berpikir hidupnya akan dipenuhi kemalangan setelah kematian suaminya. Tapi sepertinya Dewi Fortuna menaunginya, sehingga ia mendapatkan pria lain yang jauh lebih perhatian, lebih mesra dan lebih kaya dari suaminya.
Meski mendiang suaminya adalah pria yang royal, tapi Toriq adalah pria yang kaku dan kurang perhatian. Tak pernah bermesraan dan jarang berhubungan.
Hidup Toriq sepertinya hanya dicurahkan untuk pekerjaan.
Terkadang Dina merasa jenuh juga, ia juga ingin diperlakukan mesra atau hanya sekadar disayang-sayang. Tak melulu soal uang.
__ADS_1
Seperti Juni yang selalu terlihat harmonis dengan suaminya. Dina juga ingin diperlakukan sama oleh pasangannya.
Setelah kematian Toriq, ada banyak pria yang dikenalkan oleh teman-temannya untuknya. Namun tidak ada yang sesuai dengan kriterianya. Selalu saja ada yang kurang dimatanya.
Dina hanya menginginkan seorang suami seperti Eric.
Awalnya Dina hanya kagum pada Eric, yang merupakan suami yang penyayang. Dina hanya ingin menemukan pria yang seperti itu juga. Tidak ada niatan untuk merebut suami temannya sama sekali.
Namun seperti kata pepatah, 'Pucuk Dicinta, Ulampun Tiba'
Dina yang hanya mengharapkan seorang pria yang seperti Eric, malah mendapat kesempatan untuk mendapatkan Eric.
Karena masalah kulit yang dideritanya, Dina jadi sering bertemu dengan Eric dan menjadi dekat. Entah siapa yang memulai duluan, mereka terjerat ke dalam hubungan terlarang.
Awalnya Dina merasa bersalah, tapi perasan puas saat menggenggam apa yang diinginkan itu, telah memabukkannya. Hingga ia lupa bahwa sebenarnya itu bukanlah miliknya.
****
Awalnya Nawang dan Juni keluar untuk jalan-jalan sembari berkeluh kesah, akan masalah satu sama lain. Mendengar keputusan Juni untuk berpisah, membuat Nawang merasa lega.
Alih-alih meminta Juni untuk tetap bertahan, Nawang merasa lebih condong pada keputusan Juni untuk bercerai. Memang benar, pernikahan harus di pertahankan. Namun pernikahan tanpa cinta hanya akan menjadi derita.
Berbeda jika Eric meminta maaf dan menyadari kesalahannya, Eric malah terlihat tidak menyesal dan lebih condong pada Dina. Jika Juni mencoba bertahan, itu hanya akan menambah luka.
Mereka berjalan-jalan di sekitaran rumah sakit, dan kembali ke kamar Sagara untuk mengecek keadaannya.
Namun yang dilihat oleh Nawang selanjutnya adalah pemandangan menyakitkan, dimana Lalita mengelus rambut Sagara yang koma penuh dengan cinta.
Tapi setelah mengetahui bahwa itu adalah kenalan saudaranya, Juni menyambutnya dengan gembira.
"Silahkan duduk!" Juni kemudian mengajak Lalita duduk di sofa.
Ruang rawat Sagara adalah ruangan VIP, ada kursi sofa empuk untuk tamu. Dan ada satu ranjang yang nyaman untuk keluarga pasien bisa tidur. Beberapa fasilitas seperti kulkas mini dan juga tv layar lebar. Lengkap tersedia disana.
"Ah, saya hanya sebentar!" Sahut Lalita, "Kebetulan saya juga harus menjenguk seseorang!!"
Lalita tidak bisa terus mengobrol dengan Juni. Takut Juni akan mengetahui kebohongannya.
Sebenarnya Juni pernah bertemu dengan Lalita, mereka adalah teman di tempat les yang sama. Hanya saja penampilan Lalita agak berbeda.
Dahulu, Lalita adalah anak yang cukup gemuk. Ia tidak tahu cara berdandan, dan sering menjadi bahan Bully-an.
Tidak ada yang peduli pada dirinya, kecuali Sagara yang kebetulan melihat ia dipukuli oleh gadis lainnya.
Disanalah awal mula Sagara mengenal Lalita.
Meski agak berisi dan culun, Lalita cukup manis untuk dilihat. Sagara adalah pria yang tidak terlalu peduli pada penampilan saat mencari pasangan, yang terpenting adalah kenyamanan.
Walau sesaat, Sagara dan Lalita sempat menjalin hubungan kasih secara diam-diam. Meski bukan hubungan yang bergelora khas anak muda, Sagara menyukai saat diam-diam menemui Lalita yang unik untuk hanya saling mengobrol dan mendengarkan cerita.
Namun hal itu tidak berlangsung lama. Lalita yang sempat mengalami sakit, harus berhenti les dan kehilangan kontak dengan Sagara.
__ADS_1
Lalita hampir tidak mengingat Sagara saat melihatnya di acara televisi saat itu. Ia tidak terlalu peduli, karena hanya menemani suaminya yang diundang.
Namun ternyata Sagara mengenalinya. Bahkan dengan penampilan yang telah berubah, Sagara bisa tahu itu adalah dirinya. Lalita merasa sangat tersentuh dibuatnya.
Hubungan diantara mereka memang tidak seperti sebelumnya. Meski sudah tak ada cinta di hati Lalita untuk Sagara, dan sebaliknya. Rasa nyaman yang pernah mereka miliki bersama, tetap ada.
Dimulai dari komunikasi yang terus menerus, pertemuan yang terjadi secara teratur. Kenyamanan yang didapat dari masa lalu yang tertinggal. Lalita dan Sagara terlibat dalam hubungan tanpa status.
Mereka sepakat saling mengisi kekosongan, dan hanya bersama disaat membutuhkan. Tak ada janji, tak ada komitmen, hubungan bebas, lepas tanpa tanggung jawab satu sama lain.
"Maaf saya tidak bisa lama-lama!" Ujar Lalita sopan, "Lain kali saya akan berkunjung lagi!"
"Terimakasih atas perhatian anda!" Balas Juni dengan senyum.
Lalita tersenyum lembut, kemudian pamit undur diri. Ia akhirnya merasa lega, ia takut Juni akan mengenali dirinya dan hubungannya dengan Sagara akan terbongkar.
Namun kelegaannya menghilang saat Nawang mengejar langkahnya dan mengajaknya untuk bicara.
"Anda bilang anda menemui Sagara hanya disaat anda membutuhkannya. Anda bilang tidak ada cinta diantara kalian!" Tanya Nawang. "Lalu untuk apa anda datang kesini?!"
Sejak tadi ia berusaha menahan perasaan aneh yang terus mengganjal di hatinya, ketika melihat Lalita mengelus rambut Sagara.
Bagaimana pun Nawang memikirkannya, baginya Lalita memiliki sebuah perasaan pada Sagara. Dan ia curiga, bahwa Sagara juga memiliki perasaan yang sama.
Menatap Nawang tajam, Lalita berkata "Saya datang karena membutuhkannya!"
Nawang mengernyit, kata-kata Lalita menggelitik kesabaran Nawang.
"Membutuhkannya?!"
"Benar, saya sedang dalam pikiran yang buruk. Jadi saya merindukannya! Hanya dia yang bisa membuat saya tenang. Makanya saya datang!" Sahut Lalita.
"Anda datang karena merindukannya?!"
"Iya, saya akan selalu datang setiap kali saya merindukannya!" Ujar Lalita tanpa berkedip, "Tapi tenang saja, saya tidak akan mengganggu anda. Saya datang hanya untuk menemui Sagara sebentar! Anda tidak akan mengalami kerugian apapun!"
"Anda akan selalu datang meski Sagara sudah menikah?!" Tanya Nawang lagi. Perasan aneh bergejolak di hati Nawang. Ia merasa panas menjalar di seluruh tubuhnya. Maniknya seakan terbakar oleh kobaran api yang besar.
"Tentu saja. Memangnya kenapa?!" Ucap Lalita santai, "Toh dia tetap akan menjadi suami anda, kami hanya bertemu. Tidak akan ada yang berubah darinya hanya karena dia bertemu dengan saya!"
Plaakkkkkkk!!!!!
Emosi yang ia tahan akhirnya meledak juga. Setiap kata yang diucapkan Lalita tidak masuk akal. Sangat di luar nalar, sehingga membuat Nawang merasa amat murka mendengarnya.
"Apa yang anda katakan?!" Geram Nawang, "Apa anda bisa bersikap tenang jika saya menemui suami anda, dan mengajaknya tidur, seperti apa yang anda lakukan dengan tunangan saya?!"
Pranggg!!
Rantang keramik terhempas ke tanah dan hancur berkeping-keping. Kedua wanita yang emosional itu secara bersamaan memandang ke arah asal suara. Tepat di depan pecahan rantang tersebut, seorang wanita berdiri dengan wajah pucat. Terlihat ia sangat terkejut. Wanita itu menatap Nawang penuh pertanyaan.
"Apa maksud kamu Nawang??!"
__ADS_1