Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 70


__ADS_3

Dengan paksaan dari Juni, Abraham kembali ke rumah sakit. Meski ia bersikukuh untuk bertanggung jawab dan menikahi Juni, namun Juni berpikiran sebaliknya. Juni bersikukuh untuk melupakan segalanya.


Mengingat Odelia sedang sakit, itu memang adalah pilihan yang tepat untuk saat ini. Namun Abraham tak bisa melupakan sosok Juni yang gemetar saat berhadapan dengannya.


"Dia pasti sangat menderita!" gumam Abraham.


"Siapa yang menderita, pa?!" tanya Odelia. Ia baru saja bangun dari tidurnya.


Setelah ia meminta Juni untuk mengejar Abraham, ia tak bisa tidur semalaman. Ia khawatir pada Abraham dan Juni.


Ia takut terjadi hal buruk pada suami dan sahabatnya. Mengingat, Zeline sangatlah mengerikan.


Odelia cemas, wanita itu melakukan trik keji untuk menyakiti Abraham dan Juni.


Karena terlalu memaksakan diri dan stress akibat pikiran yang berlebihan, Odelia sempat merasakan sakit yang tak tertahankan. Hingga ia menekan bel untuk memanggil petugas medis.


Setelah mendapatkan beberapa suntikan obat, Odelia akhirnya tertidur lelap.


"Itu.." Abraham kaget, ia tidak menyangka istrinya akan bangun. Mengalihkan pembicaraan, Abraham berujar "Mama tadi tidak apa-apa kan selama papa pergi?!"


Odelia menggeleng dan berdusta "Tidak pa!"


"Lalu... papa sendiri bagaimana?! Tidak ada masalah kan?! Apa yang terjadi dengan Zeline?!" tanya Odelia.


"Ah.. dia dibawa ke kantor polisi!" ucap Abraham sekenanya, ia samar-samar mendengar suara Juni yang menyebut kantor polisi.


"Lalu dimana Juni?! Apa dia baik-baik saja!?" Odelia khawatir. Karena takut terjadi apa-apa pada Abraham. Ia tanpa pikir panjang, menyuruh temannya itu untuk mengejar Abraham, "Mama menyuruhnya mengejar papa!"


Dheg!!


Mendengar nama Juni disebutkan, Abraham merasa getir seketika. Apa yang terjadi di apartemen Juni langsung terngiang di otaknya. Rasa bersalah menimpanya bertubi-tubi.


Memalingkan wajahnya dari Odelia, Abraham berkata, "Dia baik-baik saja! Dia pergi ke apartemennya!"


"Syukurlah..." desah Odelia kemudian.


"Mama sangat khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada kalian berdua!" gumam Odelia tulus, "Zeline sepertinya sangat berbahaya!"


Abraham merasa tertohok, oleh kata-kata istrinya.


'Memang terjadi sesuatu yang buruk, hal yang sangat buruk!' batin Abraham pilu.


Ingin rasanya Abraham berkata jujur. Ia tak mau terus berbohong pada istrinya yang sedang sakit. Namun jika ia jujur, ia hanya akan menambah beban Odelia yang tengah menderita penyakit.


"Syukurnya tak ada yang terjadi!" Abraham kembali berbohong, "Zeline memang sempat mau berbuat buruk, tapi dia tidak berhasil melakukannya! Juni telah menanganinya!!"

__ADS_1


Odelia tersenyum, ia merasa senang. Teman-temannya itu memang selalu bisa diandalkan.


Ia kemudian berbincang lepas dengan Abraham tanpa mengetahui isi hati Abraham yang kacau balau.


Saat itulah, Raka datang dan menginterupsi mereka.


"Hallo!! Selamat pagi!" sapa Raka, senyumnya mengembang.


Abraham langsung memahami ekspresi temannya itu.


"Sudah siap, bro!" ucapnya riang.


Untuk melakukan perawatan terhadap penyakit kankernya, Odelia membutuhkan beberapa prosedur. Namun karena tingkat daya tahan tubuhnya yang rendah, resiko Odelia mengalami efek samping sangatlah tinggi.


Namun setelah beberapa waktu dirawat di rumah sakit, kondisi kesehatan Odelia membaik. Kondisinya jauh lebih baik untuk menerima prosedur perawatan.


"Presentase keberhasilannya meningkat!" ucap Raka. "Aku yakin, ini akan membuat istrimu lebih baik!"


Abraham mengangguk. Ia setuju pada ucapan Raka. Ia optimis, istrinya bisa mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik, dan bertahan disisinya lebih lama.


Namun, nasib tak bisa dihitung. Takdir tak bisa diukur. Sesuatu yang telah pasti pun bisa berubah sewaktu-waktu. Rahasia Tuhan tak ada Yang tahu!!!


****


Cleve dan kakek nya datang untuk meminang Nawang.


Membawa puluhan barang-barang mewah sebagai hadiah, Thomas mengungkapkan keinginannya untuk meminang Nawang dan menjadikannya cucu menantu.


Karina yang masih linglung dengan pengakuan Cleve subuh tadi, hanya bisa mengangguk menyetujui dengan gugup.


Seolah ia tak diberi waktu untuk bernafas, hal-hal yang mengejutkan menimpanya secara bertubi-tubi hingga membuatnya merasa sesak.


Sungguh!! Karina masih berpikir bahwa semua yang terjadi sejak subuh tadi hanyalah mimpi.


Namun kehadiran Thomas yang hangat dan ramah di dalam gubuk kecil mereka, membuat Karina menyadari bahwa ia ada di dalam kenyataan yang asli.


"Saya akan menyerahkan pemilihan waktu pernikahan pada anda, nyonya!" ucap Thomas. "Karena, kalau saya dan Cleve yang menentukan. Mungkin Nawang akan langsung saya nikahkan hari ini juga! Hahahaha!!"


Diselingi tawa yang keras, Thomas mengucapkan kata-kata serius seolah bercanda.


Kata-kata yang diucapkan oleh Thomas bukan hanya ocehan semata. Saat ia mendengar bahwa Cleve berniat untuk menikahi Nawang. Ia langsung menyarankan untuk menikah secepatnya. Dan Cleve tanpa basa-basi mengungkapkan hal yang sama seperti apa yang Thomas pikirkan.


'Kalau bisa hari ini!! Aku ingin menikahinya hari ini!!' ujar Cleve saat berhadapan dengan kakeknya.


Mengingat kata-kata cucunya itu, Thomas tersenyum. Darah memang tak bisa berbohong. Cleve yang merupakan keturunannya satu-satunya itu, memiliki pikiran yang sama dengannya tanpa harus saling berujar.

__ADS_1


"Kira-kira, kapan waktu yang tepat yang diinginkan oleh Nawang dan juga nyonya?!" tanya Thomas.


Karina melirik putrinya, ia ingin tahu pikiran putrinya itu. Nawang baru saja menghadapi kegagalan dalam sebuah hubungan, pasti anak itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali siap. Mungkin setidaknya enam bulan?!


Namun Nawang menyebutkan waktu yang cukup singkat melebihi dari yang Karina bayangkan.


"Tiga bulan?!"bisik Nawang.


Karina tersentak sesaat. Tiga bulan itu cukup cepat. Tapi Karina tidak memiliki masalah. Ia menerima keputusan putrinya itu apa adanya.


"Putri saya baru saja mengalami kegagalan dalam sebuah hubungan, dia masih membutuhkan waktu untuk bisa menyiapkan hati dan juga dirinya. Saya rasa, tiga bulan adalah waktu yang pas!!" ujar Karina, mengikuti kata-kata putrinya.


"Apa?! Kenapa lama sekali?!" celetuk Cleve. "Apa tidak mungkin melakukannya dalam waktu tiga hari?!"


"Tiga hari?!" Nawang terperanjat. "Bagaimana bisa kita menikah dalam tiga hari mas?!"


"Kenapa tidak bisa?! Sekarang pun, jika kamu mau kita bisa langsung menikah!" ujar Cleve yakin.


Sementara Cleve dan Nawang sedang berdebat mengenai waktu pernikahan. Dua sejoli pengantin baru sedang berdebat mengenai lemari baju.


"Kenapa kau memindahkan pakianku?!" sentak Sagara.


Ia benar-benar terkejut saat mengetahui kemeja-kemeja yang tersusun rapi di lemarinya berganti menjadi gaun-gaun milik Lalita.


"Jika aku tak memindahkannya, dimana aku meletakkan barang-barangku?!" bentak Lalita.


"Letakkan di lemarimu!!" seraya menuding lemari yang telah disiapkan oleh orang tuanya untuk Lalita, Sagara berteriak "Apa kau tidak menyukai itu?!"


"Lemari itu penuh!" sungut Lalita.


"Penuh?!"Sagara mengernyit bingung.


Sembari Menatap lemari super besar dengan banyak pintu, yang ukurannya dua kali lipat dari lemari miliknya. Sagara kembali berkata, "Apa yang kau letakkan hingga lemari sebesar itu bisa penuh?!"


"Baju-bajuku lah!!" geram Lalita. "Lemari itu terlalu kecil untuk semua baju-bajuku!!"


"Terlalu kecil?!" Sagara mencibir, "Sebesar itu kau bilang terlalu kecil?!"


"Sayang, saat aku tinggal di mansion Cleve, aku mendapatkan sebuah ruangan khusus untuk meletakkan pakaian dan seluruh aksesoris yang aku kenakan!" keluh Lalita, "Bukan lemari kecil semacam ini!!"


Mendengar nama Cleve diucapkan di depannya, Sagara memanas.


Bisa-bisanya Lalita membandingkannya dengan Cleve!!


"Kalau kau lebih suka tinggal disana!! Kembalilah kesana!!" geram Sagara kemudian.

__ADS_1


__ADS_2