
"Akan aku pikirkan!" sahut Juni kemudian.
Juni mengerti bahwa, meski dirinya tak membutuhkan Abraham untuk membesarkan anak-anaknya. Namun anak-anak itu butuh sosok seorang ayah. Terutama anak di dalam kandungannya.
Walaupun anak itu tak terlahir dari buah cinta diantara dua orang tuanya, tapi anak itu tak pantas untuk dibenci.
Dia tidak salah!! Dia tak harus dihukum atas apa yang telah takdir berikan. Dia tak harus menderita karena keegoisan dua orang dewasa.
'Aku mungkin tidak masalah, tapi bagaimana dengan dia?' batin Juni. Ia bimbang di dalam hatinya.
Jika anak itu lahir tanpa seorang ayah, selamanya ia akan disebut sebagai anak haram. Memikirkannya saja Juni merasa sedih. Apalagi mengalaminya langsung. Dia tak akan sanggup jika melihat buah hatinya disebut sebagai anak haram.
Namun ia juga tak bisa membayangkan pernikahan dengan Abraham. Sebelumnya mereka adalah teman. Di mata Juni, Abraham adalah suami dari sahabatnya. Sehingga sulit baginya untuk menerima permintaan Odelia yang menginginkannya untuk menikahi Abraham.
Bahkan sekarang, ada alasan lainnya yang membuat Juni menghindari pernikahan dengan Abraham.
Sejak insiden itu, Juni selalu ketakutan setiap bertemu dengan Abraham. Padahal ia tahu bahwa Abraham tak bermaksud melakukan hal itu padanya.
Namun ia tak bisa mengendalikan dirinya. Perasaan itu menyeruak begitu saja, hingga membuat tubuhnya bereaksi tanpa bisa ia kontrol.
"Tak perlu cepat-cepat! Kau bisa memikirkannya baik-baik, aku akan menunggumu!" sahut Abraham kemudian. Senyum tersungging di bibirnya.
Abraham sudah sangat bersyukur Juni tak menolaknya dan bersedia memikirkannya. Ia memahami dilema yang Juni rasakan. Karena Abraham pun sempat mengalaminya dulu.
Namun kini Abraham sudah mantap, ia memang bertekad unyuk menikahi Juni apapun yang terjadi.
"Kau istirahatlah, aku akan membelikan bubur seperti yang biasa kau makan!" ujar Abraham. Ia tak sengaja mengungkapkan apa yang ia pikirkan.
Hingga membuat Juni kaget luar biasa.
"Ah!" Abraham yang baru menyadari bahwa ia telah mengungkapkan kebohongannya, kemudian berkata, "Maafkan aku...jika aku katakan bahwa itu dariku. Kau pasti tak akan mau memakannya!"
Juni tercenung. Sebagian hatinya tiba-tiba menghangat, mendengar penjelasan Abraham.
****
Yoshi menatap gadis itu dengan jengkel. Jika benaknya itu transparan, maka akan muncul banyak sekali keluhan di kepalanya.
Untuk apa bosnya menerima putri seorang konglomerat seperti itu untuk bekerja di perusahaan?! Bukannya membantu, gadis itu hanya bisa membuat rusuh!! Yoshi harus bekerja 2x lipat untuk menutupi semua kesalahan Sahna.
"Asisten Yoshi!" panggil Sahna.
"Ya?!" sahut Yoshi singkat.
"Saya mau tanya, boleh?!" ungkap Sahna. "Apa be—"
Belum sempat Sahna menyelesaikan kata-katanya, Yoshi sudah menyelanya duluan.
__ADS_1
"Saya tidak akan menjawab pertanyaan yang tak terkait dengan pekerjaan!" tegas Yoshi.
Sahna langsung manyun!! Ia mengumpat di dalam hatinya!!
'Bagaimana bisa pria breng sek semacam ini punya banyak penggemar?!' batin Sahna.
Selain Cleve, pria paling berpengaruh di kantor adalah Yoshi. Tangan kanan CEO Cleve itu menjadi orang kedua yang paling diincar oleh para kaum hawa di 'Cleve'.
Selain karena ketampanannya, Yoshi masuk ke daftar 'most wanted Cleve', karena kekayaannya.
Menjadi tangan kanan Cleve selama bertahun-tahun telah membuat Yoshi menjadi calon suami paling layak bagi gadis-gadis muda disana. Namun itu tak berlaku untuk Sahna.
Selain karena Yoshi masih muda dan berbeda jauh dari tipe idealnya, Sahna juga tak begitu membutuhkan pendamping yang mapan.
Toh ia akan mewarisi seluruh perusahaan ayahnya kelak. Sehingga tak membutuhkan seorang suami kaya. Dirinya sendiri sudah kaya!!
"Tapi saya punya saran untuk anda!" celetuk Yoshi tiba-tiba, membuyarkan seluruh lamunan Sahna.
"Jika anda bermimpi menggapai tuan Cleve, lebih baik anda menyerah!" sambung Yoshi, "Tuan Cleve telah memiliki seseorang yang sangat dia cintai!"
Kata-kata Yoshi bagaikan palugada yang menghantam hati Sahna. Remuk redam, ia merasa hancur berkeping-keping.
"Jadi rumor itu benar?!" tanya Sahna kemudian.
"Tentang?!" Bukannya Yoshi tak tahu mengenai rumor hubungan Cleve dan Nawang, karena sebenarnya dirinyalah yang membuat rumor itu meledak.
"Rumor kalau mas Cleve itu pacaran dengan sekretarisnya?!"
"Benar!" sahut Yoshi singkat.
"Ah... begitu ya..." gumam Sahna lemas. Awalnya ia menepis semua rumor yang ia dengar.
Meski ada banyak saksi yang 'mengaku-ngaku' melihat kemesraan Cleve dan sekretarisnya. Selama Sahna tak melihatnya, ia tak mau mempercayainya.
Tapi saat Yoshi mengatakannya, entah kenapa Sahna tak bisa menyangkalnya.
"Apa mereka benar-benar akan menikah?!" tanya Sahna kemudian. Walaupun takut dengan kenyataan yang mungkin akan ia dengar, namun Sahna tak mau terus menghindarinya.
"Benar! Pengumuman resminya akan segera di publikasikan!" lugas Yoshi menjawab.
Tak kuat menahan rasa sakit yang menghantam dadanya, tangis Sahna pun pecah. Membekap mulutnya dengan kuat, Sahna terisak di sebelah Yoshi.
Ini memang bukan kali pertama Sahna jatuh cinta, tapi sakit hati yang ia rasakan sangatlah dahsyat!! Ia tak pernah menyukai orang sedalam Cleve sebelumnya.
Sahna benar-benar yakin sebelumnya bahwa Cleve adalah orang yang diciptakan untuknya. Ia percaya bahwa mereka ditakdirkan.
Tapi ternyata Sahna terlalu percaya diri!
__ADS_1
"Apa sekretarisnya itu orang yang baik?!" tanya Sahna kemudian.
"Anda tidak perlu khawatir, hanya sekretaris Nawang yang pantas menjadi pendamping tuan Cleve!" sahut Yoshi kemudian.
Yoshi selalu bersimpati akan keadaan tuannya. Ia tahu tuannya telah banyak menderita, bahkan melebihi dirinya. Meski kaya, dihantui terus oleh masa lalu yang kelam hanya membuat Cleve menderita.
Hidupnya jauh berbeda dari orang-orang kebanyakan. Kemampuan spesialnya bukan menjadi anugerah, tapi lebih mirib kutukan yang malah membuat Cleve tersiksa.
Walaupun Yoshi ingin membantunya, Yoshi tidak berdaya. Ia tak bisa melakukan apa-apa.
Ia senang saat mengetahui perubahan tuannya setelah bertemu dengan Nawang. Ia berharap tuannya tak lagi menderita. Sehingga ia berusaha menghalau segala macam masalah yang mungkin akan mengganggu hubungan tuannya.
"Apa dia sangat spesial?!" celetuk Sahna di tengah tangisnya.
"Amat sangat spesial!" tegas Yoshi. "Saya harap anda tak melakukan hal yang akan menyakiti semua orang!"
****
Berniat meminta penjelasan dari Juni yang masih di rawat , Eric menyambangi rumah sakit untuk mengunjungi mantan istrinya itu.
Namun ia segera kehilangan kesabaran saat melihat tingkah mesra Abraham dan Juni.
Sebelumnya, Abraham yang telah membelikan bubur ayam kesukaan Juni meminta Juni untuk makan. Namun Juni yang enggan untuk makan, menolaknya mentah-mentah.
Dengan alasan bayi di dalam kandungannya, Abraham berhasil meyakinkan Juni untuk melahap beberapa suap bubur.
Namun karena kondisinya yang masih lemah, dan ia merasa agak mual. Bubur yang hendak ia makan, terjatuh dan mengotori bajunya.
Abraham yang mengetahuinya, secara refleks berusaha membersihkan. Adegan itulah yang dilihat oleh Eric sebagai tindakan mesra.
Eric yang naik pitam, berteriak di rumah sakit dengan geramnya.
"Baji ngan!! Apa yang kau lakukan?!" seolah-olah menjadi seorang pria yang telah memergoki istrinya berselingkuh, Eric menerjang ke arah Abraham untuk menyerangnya.
Namun Juni segera berteriak, "Jangan!! Apa yang kau lakukan?!"
"Apa yang kalian lakukan?!"pekik Eric, "Kalian berselingkuh?! Bukannya dia suami dari sahabatmu?! Bagaimana kau bisa melakukan hal sekeji ini?!"
Mendengar kata-kata Eric, hati Juni tenggelam. Ekspresi Juni pun berubah gelap.
Abraham yang menyadari perubahan raut wajah Juni pun merasa geram.
"Kau!! Bicaralah denganku!!" ucap Abraham dingin pada Eric.
Sebelum ia pergi dengan Eric, Abraham mendekati Juni dan berbisik.
"Aku akan menjelaskan semua padanya, kamu tenanglah disini!" ucap Abraham dengan lembut, "Ingat..jangan memikirkan hal-hal aneh, cukup pikirkan anak dalam kandunganmu!"
__ADS_1