
Sejak subuh tadi, Nawang sudah diculik oleh tim MUA. Mereka mendandani Nawang bak seorang putri. Tanpa terlalu mencolok namun tetap terlihat elegan, Nawang menjelma menjadi pengantin yang sangat cantik.
Meski merasa lelah, Nawang senang karena penampilannya yang kini terpantul dari cermin terlihat sangat menakjubkan.
Ditemani dengan setia oleh ibunya, Nawang menikmati setiap proses yang ia lakukan dengan ceria.
Berbeda dengan Nawang, Cleve merasa sangat gugup. Memikirkan harus melakukan rentetan upacara seperti pernikahannya sebelumnya. Cleve merasa pusing.
Ia tak diperkenankan bertemu dengan Nawang, padahal dia sangat merindukannya. Ia penasaran dengan penampilan calon istrinya itu.
Saat fitting beberapa Minggu lalu, Cleve terpana melihat kecantikan kekasihnya. Nawang terlihat cantik dalam gaun mermaid yang menunjukkan setiap lekuk tubuhnya.
Cleve juga tidak sabar untuk segera meresmikan hubungannya. Berpikir akan memanggil Nawang dengan sebutan 'istriku', hati Cleve berdengup kencang.
"Apa masih lama kek?!" tanya Cleve tak sabaran.
Thomas terkekeh, "Tak sabaran sekali kau ini!!"
"Apa aku tidak boleh melihatnya sebentar?!" tanya Cleve pada kakeknya. "Hanya sebentar kek!"
"Tidak boleh ya tidak!" gumam Thomas tegas, "Jangan aneh-aneh!! Sepuluh menit lagi juga kau akan bertemu dengannya!"
Cleve meringis mendengar ucapan kakeknya. Apalagi sepuluh menit, semenit saja serasa seabad untuk Cleve saat ini.
Melihat bagaimana cucunya menghadapi pernikahannya, Thomas geleng-geleng.
Pada pernikahannya yang sebelumnya, Cleve terlihat acuh tak acuh. Ia tak peduli dengan apa yang terjadi dan melakukan dengan tenang apapun yang diperintahkan.
Sedangkan saat ini, Cleve benar-benar gelisah. Ia terlihat sangat cemas dan bersemangat di saat bersamaan. Entah Cleve menyadarinya atau tidak, ia tersenyum sepanjang waktu dengan riang.
****
Duduk di meja paling depan bersama dengan Sahna, Yoshi menghela nafas berat. Ia ditugaskan menjadi 'baby sitter' gadis kaya itu!!
"Awasi dia, jangan sampai membuat masalah!" Ujar Cleve pada Yoshi beberapa waktu lalu.
"Hhhh..." Yoshi menghela nafas. Saat melihat buliran bening yang meleleh di pelupuk mata gadis itu.
Cleve dan Nawang telah bertukar sumpah satu sama lain. Mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri sekarang.
Melihat hal itu, Sahna kembali merasa hancur. Hatinya yang sebelumnya terluka, seolah kembali dilempar dengan garam. Perihnya tak terkira.
Meski begitu, Sahna berusaha untuk kuat. Dengan menyaksikan sendiri kebahagiaan Cleve di depannya, Sahna berharap hatinya akan ikhlas. Dan ia bisa cepat move on.
__ADS_1
Namun alih-alih move on, Sahna malah merasa sangat sedih, saat melihat Cleve mengungkapkan sumpah setia sehidup semati dengan perempuan lain.
Tak kuat menahan perasaan yang bergejolak di hatinya, Sahna pergi menjauh dari aula. Ia tak sanggup lagi menahan pedih.
Dengan setengah berlari, Sahna sampai di pelataran parkir yang sepi. Ia kemudian menangis tersedu di sana.
Seolah sebuah belati menancap di dadanya, ia merasa nyeri tak terkira setiap kali bernafas.
Mimpinya untuk hidup bahagia dengan Cleve, sirna seketika. Bahkan mungkin Cleve tak menyadari bahwa ia memiliki mimpi itu untuknya.
"Ha.. hiks..hiks.. mas Cleve..." lirihnya sendu. Ia terisak-isak di pojokan.
Yoshi yang ditugaskan untuk mengawasi Sahna, panik mencari gadis itu kemana-mana.
Baru saja Yoshi memalingkan wajahnya sejenak, gadis yang seharusnya menangis di sebelahnya sudah menghilang.
"Kemana perginya?!" gumam Yoshi khawatir.
Yoshi kemudian menyusuri pelataran parkir, tempat terdekat yang bisa dituju dari aula pesta.
Awalnya Yoshi hendak pergi karena tak melihat siapa-siapa. Namun saat kakinya hendak melangkah, ia mendengar suara tangisan yang memilukan.
Memeriksanya, Yoshi menemukan Sahna disana. Lunglai dengan bahu yang terkulai, menangis dengan menyedihkan.
"Hhhh..." Yoshi menghela nafas lega. Lalu dengan enggan ia menghampiri gadis itu.
Sahna menggeleng, "Aku akan pulang!"
Ia menghapus air mata yang berceceran di pipinya. Tak mau Yoshi mengejeknya.
"Baiklah, saya akan mengantar!" sahut Yoshi singkat.
Sahna mengernyit, "Kenapa kamu tidak melarang?! Kenapa malah langsung menerima perkataan saya begitu saja?!"
"Anda ingin pulang, jadi saya antar! Apa ada yang salah?!" tanya Yoshi kebingungan.
"Bukankah, seharusnya kamu melarang saya dan menghibur saya yang sedang bersedih?!" gumam Sahna jengkel.
Yoshi mengernyit, "Kenapa saya harus?!"
"Biasanya pria yang gentle melakukan hal itu!"
"Sayangnya saya bukan pria yang gentle!" ujar Yoshi sembari menyunggingkan senyum bisnis. "Saya pria yang efisien.Saya tidak suka membuat diri saya sendiri kerepotan!!"
__ADS_1
Mendengus kesal dengan jawaban Yoshi, Sahna pun berujar, "Inilah alasannya kenapa kamu jomblo sampai sekarang!"
Sahna yang merasa semakin jengkel dengan kehadiran Yoshi, kembali menangis. Bukannya dihibur, pria itu malah membuatnya kesal dan semakin emosional.
"Menyebalkan!!" keluh Sahna sembari terisak. Ia membekap wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu menangis tertahan.
"Ha...." Yoshi kembali menghela nafas. Menatap Sahna yang sedang menangis dengan sendu, hati Yoshi perlahan-lahan merasa iba.
Berbeda dari Lalita yang mengamuk dan mengancam, sikap Sahna ini jauh lebih baik. Meski Sahna dan Lalita sama-sama putri kaya yang tak pernah menelan kesulitan dalam hidupnya. Sikap Sahna yang mau menerima kenyataan itu, patut diacungi jempol.
Meraih tissue yang ia bawa di saku jasnya, Yoshi kemudian berkata.
"Menangislah!" ujar Yoshi, "Menangislah sampai anda merasa puas. Saya akan menunggu anda disini!"
Meski Yoshi mengucapkannya tanpa tujuan lain, dan memang secara harfiah hanya ingin membiarkan Sahna menangis. Lalu mengantarnya pulang. Namun Sahna yang mendengarnya, merasa sangat tersentuh. Ia mengartikan kata-kata Yoshi sebagai hal yang romantis.
Tiba-tiba saja hati Sahna yang terluka, menjadi hangat. Semu merah menyeruak di wajahnya hingga ke telinga.
"Bi-bisakah aku bersandar di bahumu?!"
Sementara sebuah benih cinta baru muncul di hati Sahna. Benih perasaan lainnya yang telah membara setiap waktu, kini tengah berkobar dengan liarnya.
'Persetan!!' umpat Cleve di dalam hati. Ia marah karena tak bisa keluar dari lautan orang-orang yang mengajaknya bicara. Padahal ia ingin segera pergi ke kamarnya, dan menghabiskan waktu bersama Nawang yang telah menjadi istrinya.
Namun orang-orang terus mengerubunginya memberi selamat dan mengajaknya berbicara.
Seolah tak mengerti ratapan hati pengantin baru itu, semua orang berbondong-bondong menghampiri Cleve. Hingga membuat Cleve tak tahan dan hampir gila.
Jika ia tak mengingat bahwa hari ini adalah hari pernikahannya, yang harus berjalan lancar tanpa hambatan. Sudah dia usir semua tamu undangan yang datang, dan ia culik Nawang dari hadapan teman-temannya.
Dari jauh, ia melirik istrinya yang cantik yang juga tengah dikerubungi oleh banyak orang.
"Hhh..." Cleve menghela nafas jengkel.
Ia sudah menunggu sejak beberapa bulan lalu. Dan tepat di hari dimana ia telah resmi menjadi suami Nawang, ia masih tetap harus menunggu. Cleve benar-benar frustasi.
Namun berbeda dengan Cleve yang sudah tak sabar untuk bersama dengan Nawang. Nawang sendiri tengah diliputi kebahagiaan, dengan kehadiran teman-temannya.
Meski dua orang sahabatnya tidak bisa hadir. Itu tak menyurutkan kebahagiaannya hari ini.
"Tante mewakili Sagara, Lalita dan juga Juni mengucapkan selamat untuk kamu, Nawang!" ujar Ria. "Tante harap kamu berbahagia!"
Memeluk Nawang, Ria menangis dalam haru. Tulus dari dalam hatinya, ia mendoakan yang terbaik untuk Nawang, yang telah ia anggap layaknya putrinya sendiri.
__ADS_1
"Terimakasih Tante!" seru Nawang terharu.
"Selamat, sayang!" Agung mengelus punca kepala Nawang, "Kamu layak bahagia!"