Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 55


__ADS_3

"Nawang.. apakah aku boleh meminta bantuanmu?!" Odelia menatap Nawang dengan sendu, tangannya yang kurus kering menggenggam erat tangan Nawang yang berubah dingin.


Nawang tersentak sesaat, memandang sahabatnya itu dengan heran.


"Bantuan apa?!" tanya Nawang kemudian.


"Ini adalah permintaan egois ku, tapi aku harap kamu mengerti maksudku!" Odelia memohon. Suaranya terdengar berat, dan tangannya yang menggenggam Nawang pun gemetar.


Nawang kemudian memahami bahwa apa yang akan dikatakan oleh sahabatnya itu, adalah hal yang sangat sulit untuknya.


Dengan sabar Nawang mendengarkan, ia berniat akan melakukan apapun yang diminta oleh Odelia. Namun saat kata-kata Odelia jatuh, seketika Nawang terhenyak oleh dilema.


"Maukah kamu membantuku, untuk menjodohkan Abraham dan Juni?!"


Nawang terbelalak. Ia bingung sesaat.


Tapi saat ia melihat tampilan Odelia yang menyedihkan di depannya. Nawang mengerti, bahwa itu juga merupakan pilihan yang berat bagi Odelia sendiri.


Meski bertingkah agak kasar dan blak-blakan, Odelia adalah orang yang peka. Ia sangat perasa. Odelia selalu lebih mementingkan orang lain ketimbang dirinya. Bahkan di saat seperti ini pun, Odelia lebih memikirkan suami dan anaknya.


Nawang merasa pahit, ia memalingkan mukanya. Menyeka air matanya yang meleleh.


Nawang memahami pilihan sahabatnya itu, jika ia ada di posisi Odelia pun. Nawang akan melakukan hal yang sama. Ia tidak akan bisa tenang, jika memikirkan orang yang ia cintai menderita karena dirinya.


Meski sulit, tapi ia akan berusaha memberi jalan terbaik untuk orang-orang yang ia kasihi.


Odelia pasti telah mengumpulkan banyak keberanian untuk mengungkapkan keinginannya ini, sehingga Nawang tak ingin membantahnya.


"Apa kamu sudah memikirkannya matang-matang?!" tanya Nawang kemudian.


Mendengar jawaban tak terduga Nawang, air muka Odelia seketika berubah. Netranya tiba-tiba berembun, seulas senyum haru pun muncul.


Odelia mengangguk perlahan. Ia tidak menyangka respon Nawang akan sangat positif terhadap keinginannya.


"Brandon masih sangat muda, ia masih membutuhkan sosok seorang ibu. Sedangkan suamiku .... kau tahu dia kan?! Dia sebelumnya selalu hidup dalam kesepian, selalu ditinggalkan oleh orang yang ia kasihi. Dan sekarang, aku juga harus pergi.." Odelia menyeka air matanya yang luruh.

__ADS_1


Nawang pun menundukkan kepalanya, kembali memaksa air matanya bertahan agar tidak tumpah.


"Bagaimana dia akan bertahan setelah ini...?!" gumam Odelia dengan bibir yang gemetar, "Juni, Juni adalah sahabatku. Aku mengenal dia dengan sangat baik. Aku percaya dia bisa membantuku merawat putraku dan juga menjaga suamiku..."


Odelia terisak, "Aku ... aku berharap mereka bisa bersama. Jika mereka bersama, aku rasa.. mereka bisa melewati ini dengan baik! Aku ingin mereka saling berbagi dan saling menguatkan satu sama lain!"


Nawang mengangguk, sepenuhnya mengerti ucapan sahabatnya itu.


"Kamu mau membantuku kan, Nawang?!" pinta Odelia. ""Ini adalah permintaan terakhirku!"


Air matanya yang menetes dengan deras, memercikkan rasa sakit di hati Nawang. Tanpa bisa dikendalikan, Nawang yang merasa hatinya hancur, menerjang memeluk sahabatnya itu dengan erat.


Dalam diam Nawang menangis, "Apapun... akan aku lakukan apapun!!"


Tanpa disadari oleh kedua wanita itu, di luar ruangan, di balik pintu yang sedikit terbuka, seorang pria berdiri mematung. Ia terpaku karena kata-kata yang didengarnya samar-samar. Ia menangis, menggigit bibirnya kuat-kuat.


Cleve yang memperhatikannya hanya diam, seolah-olah tak melihat apapun.


*****


"Konyol!!" dengan geram Lalita melangkahkan kakinya menuju ke mobilnya. Ia tak percaya dengan apa yang diungkapkan oleh Sagara.


'Apakah Cleve memang memiliki selera yang buruk?!' pikir Lalita.


Selama mereka menikah. Jangankan b*rc*NT*, menyentuhnya saja Cleve enggan.


Awalnya Lalita pikir, Cleve mungkin tak menyukainya sehingga tak mau menyentuhnya. Namun Cleve melakukan hal yang sama dengan wanita lainnya. Tak pernah ada skandal dan semua wanita yang pernah Lalita kirimkan pada Cleve, berakhir dengan mengenaskan.


Itu sempat membuat Lalita menduga, Cleve lebih menyukai jenis yang satunya. Apalagi Cleve terlihat dekat dengan Yoshi.


Namun setelah menikah selama bertahun-tahun, Lalita menghempaskan semua pikiran absurdnya itu, dan sampai pada kesimpulan, bahwa Cleve hanyalah pria yang kaku. Pria itu hanya tak punya hati, sehingga tak bisa mencintai dan tak memiliki ketertarikan se**u*l.


Tapi kata-kata Sagara hari ini seolah menghantam dinding kepercayaan Lalita yang kokoh itu.


Sagara tak mungkin mengatakan kebohongan. Toh pria itu bahkan sampai pingsan saking syocknya. Namun memikirkan bahwa Cleve melakukannya?!!

__ADS_1


"Ha..Tidak!!" Lalita tertawa sumbang. "Tidak mungkin!!"


Lalita ingin memeriksanya dengan mata kepalanya sendiri!!!!


Dengan kasar ia masuk ke dalam mobilnya, kemudian membanting setir dengan ganas. Ia melaju secepat yang ia bisa, menuju ke kantor Cleve. Ia yakin, Cleve masih di kantor. Karena biasanya Cleve selalu pulang larut malam.


Dengan pikiran yang kacau, ia akhirnya sampai di depan gedung megah Cleve yang terlihat gemerlap. Lalita masuk ke pelataran parkir bawah tanah. Tak seperti saat jam kerja, tak ada begitu banyak mobil yang parkir disana. Sehingga dengan mudah ia memarkirkan mobilnya.


Netranya yang berkeliling mencari mobil Cleve, terpaku pada Porsche hitam disana. Ia yakin itu adalah Porsche hitam milik Cleve. Namun ia tersentak, saat menyadari gerakan aneh pada mobil itu.


Lalita tehenyak. Ia kaget!


Sejenak ia terpana, menatap mobil itu dengan seksama. Namun suara samar-samar dari mobil itu memantik rasa penasaran Lalita.


Lalita pun mendekati mobil itu dengan perlahan. Semakin ia melangkahkan kakinya, semakin tidak nyaman hatinya. Ia merasa dadanya sesak seolah dipenuhi oleh batu.


Seketika Lalita membeku saat melihat samar-samar seorang pria tengah bergulat, ******* seorang perempuan dengan ganas.


Seolah kepalanya meledak, amarah Lalita seketika membuncah. Ia langsung menerjang ke arah Porsche itu dan membanting tangannya dengan kasar. Lalita kemudian berteriak lantang, "KELUAR!!!!"


****


Meninggalkan kamar jenazah, Zeline melangkah dengan perlahan menuju ke ruang rawat inap. Ia mencari-cari tempat dimana wanita itu dirawat.


Hatinya berdegup kencang, takut jika ada orang yang memergokinya. Apalagi pria itu, ia tak ingin melihatnya untuk sekarang.


Saat ia melangkah dengan gusar, kakinya terhenti menyadari kehadiran pria gagah yang tengah menangis pilu, di depan sebuah ruangan.


Hatinya tersayat oleh perasaan cemburu, saat melihat kesedihan pria itu.


Dengan sabar, ia menunggu. Ia berharap pria itu pergi untuk sesuatu. Agar ia bisa menyambangi wanita itu.


Seolah takdir memberinya waktu, pria itu menerima sebuah panggilan telepon dan langsung bergegas pergi.


Dengan senyum melengkung di bibirnya, Zeline melangkah masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Ia segera disambut oleh penampilan kurus kering, seorang perempuan dengan alat yang ditempel di seluruh tubuhnya. Mengingatkan Zeline dengan keadaan suaminya beberapa jam lalu sebelum mati.


"Ha.. benar-benar mirib!!" serunya sembari menyeringai senang.


__ADS_2