
Berlari dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Tak ada yang dirasakan Juni selain rasa cemas!! Setiap kali ia menyusuri lorong dan melewati orang-orang, tak pernah ada kelegaan di dalam hatinya.
'Kenapa selalu begini?!' batin Juni dongkol pada nasibnya.
Setelah mengetahui Sagara baik-baik saja, Juni yang dihubungi oleh Indah sebenarnya hendak pulang. Namun ia kaget melihat banyaknya panggilan dari telepon rumah Odelia. Ia menghubungi balik namun tak ada jawaban. Hingga ia berinisiatif, menghubungi Nawang untuk bertanya apakah Nawang juga mendapatkan panggilan yang sama.
Tapi jawaban Nawang segera membuat Juni berlari menuju rumah sakit lainnya guna menemui sahabatnya itu.
Saat Juni sampai di rumah sakit, ia berpapasan dengan Abraham yang juga sedang bergegas menuju ke ruang UGD untuk menemui istrinya.
Sekelebat, rasa marah muncul di hati Juni. Ia masih curiga jika Abraham telah bermain-main di belakang Odelia. Namun ia menghempaskan gejolak di hatinya, ia lebih ingin mengetahui keadaan sahabatnya saat ini.
Namun segera, keterangan dokter meluluh lantakkan hati semua orang yang ada disana.
"Kanker usus!! Istrimu mengalami kanker usus!" ujar Raka, salah satu teman Abraham yang merupakan seorang dokter spesialis kanker.
Saat mendengarnya, Abraham tersentak. "A-apa yang kau bilang?!"
"Abraham.. tenanglah!" Raka berusaha menenangkan Abraham, "Kau harus mendengarkan, istrimu mengalami kanker usus!"
Seolah tak bisa memahami apa yang dikatakan oleh temannya itu, Abraham kembali bertanya, "Kanker usus..?! A-apa maksudmu!?!"
Tak kalah terkejut dari Abraham, Nawang, Juni dan Bik Karti juga syock. Meski tak mengetahui pasti apa artinya, saat mereka mendengar 'kanker' mereka memahami bahwa ini adalah hal yang serius.
Raka menghela nafas berat. Ia tak sanggup memberitahu kabar selanjutnya untuk Abraham. Ini seperti menyebut istri sahabatnya itu mati. Namun sebagai seorang dokter, Raka tak punya pilihan lain.
"Abraham, istrimu... dia.. dia sudah sampai stadium 4! Tepatnya 4C!!"
Meski berusaha menyangkal. Abraham tahu benar apa yang Raka maksudkan. Seolah dunia runtuh di atas kepalanya, Abraham jatuh lunglai ke lantai.
"Tidak... itu tidak mungkin!!" lirih Abraham.
Ia adalah seorang dokter, bagaimana bisa istrinya yang tinggal bersamanya bisa mengalami penyakit mematikan itu tanpa ia ketahui?! Bagaimana bisa?!
Abraham menyesal kenapa ia malah berlari dari rumah sakit menuju apartemen mantan kekasihnya hanya untuk merawat suami dari wanita itu. Sedangkan istrinya sendiri ia abaikan!!!
Air matanya luruh!!!
"Apa maksud anda dok?!" sela Nawang. Ia tidak memahami maksud sang dokter.
Raka menghela nafas panjang, meski ia telah melakukan hal ini secara berulang-ulang karena tuntutan profesinya. Namun tetap saja setiap kali ia menjelaskan situasi ini pada keluarga pasien, ia selalu merasa sakit hati.
__ADS_1
"Itu adalah stadium akhir kanker usus!"Jawab Raka, ''Pada kanker usus stadium 4C, kanker telah menyebar dari usus ke beberapa organ yang jauh dari usus!!"
"Pada Odelia, kanker sudah menyerang hati, liver, paru-paru, juga kelenjar getah bening. Selain itu, sel kanker bahkan telah menyebar di membran yang menahan organ-organ perutnya!" jelas Raka.
Saat itulah air mata Nawang jatuh. Nawang sekarang paham secara jelas kenapa Abraham syock begitu. Begitupun dengan Juni yang tengah menutup telinganya dan tak mau mendengar penjelasan dokter.
"Tidak..." lirih Juni sembari menangis terisak.
'Bagaimana mungkin?! Kenapa harus Odel?!' sesal Juni. Yang ingin mati adalah dirinya, tapi kenapa Odelia yang sakit?! kenapa?!
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin! Tapi kau juga.." Raka menatap Abraham yang masih terduduk lemah di lantai. Dengan rahang yang mengeras, menahan gejolak emosinya Raka meraih sahabatnya.
Ia juga merasa sakit melihat kondisi sahabatnya ini!
"Abraham! Ayo kita lakukan yang terbaik! Kita usahakan yang terbaik untuk istrimu!" ujar Raka menguatkan sahabatnya itu.
Raka tahu benar perasaan Abraham saat ini. Raka menghabiskan setengah umurnya bersama dengan Abraham. Hal-hal yang terjadi pada Abraham hampir semua diketahui olehnya.
Sebesar apa cinta Abraham untuk wanita itu, Raka mengetahuinya dengan baik.
Sehingga saat membaca hasil pemeriksaan Odelia tadi, Raka gemetar memikirkan reaksi sahabatnya itu.
****
"Br*ngs*k!!" umpat Sagara kesal.
Bagaimana mungkin Nawang melakukan hal itu dengan Cleve, bahkan di kantor pula!!?
Selama ini bahkan hanya tanpa sengaja menyentuh bagian sens*t*f nya saja, Nawang sudah marah bukan kepalang. Paling mentok, Nawang hanya memperbolehkan ciuman dan pelukan. Selebihnya tidak!!
Bagaimana mungkin Nawang bisa menyerahkan dirinya pada Cleve?! Sihir macam apa yang pria itu lakukan pada kekasihnya itu?!
"S*Al!!!" gumam Sagara kesal. Ia benar-benar murka. Hatinya sakit memikirkan apa yang telah Nawang lakukan dengan Cleve disana.
"Sayang!! Kamu tidak apa-apa?!" Lalita yang baru saja mengetahui keadaan calon suaminya, langsung bergegas ke rumah sakit setelah kembali dari salon.
Sagara bergeming. Ia bahkan tak repot-repot menjawab Lalita yang menatapnya dengan bingung.
"Ada apa?! Bukannya tadi kamu bilang akan pergi menemui Cleve dan Nawang?!" tanya Lalita, "Kenapa kamu malah pingsan?!"
"Bukan urusanmu!!" geram Sagara menjawab. Ia marah karena ternyata ucapan Lalita benar!!
__ADS_1
Sagara tak ingin mengakuinya!!
Namun Lalita merasa curiga. Kenapa tiba-tiba Sagara pingsan setelah menemui Cleve dan Nawang, apa terjadi sesuatu!?
****
"Kek, apa yang dirasakan oleh pria saat menyukai wanita?!" tiba-tiba saja Cleve bertanya.
Thomas untungnya tidak sedang makan atau minum, sehingga ia tak sampai tersedak lagi. Namun ia terhenyak mendengar pertanyaan Cleve yang di luar nalar itu.
"Apa yang dirasakan pria saat menyukai wanita?!" tanya Thomas mengulangi pertanyaan cucunya tadi.
Cleve mengangguk.
Seraya meneliti raut wajah Cleve, Thomas berkata "Biasanya pria akan selalu ingin berdekatan dengan wanita yang ia sukai, selalu berusaha membuat wanita itu bahagia, takut jika wanita itu marah dan membencinya!"
"Memang apa yang kau rasakan?!" sambung Thomas, memancing Cleve.
"Mirib seperti yang kakek katakan!" sahut Cleve, mengkonfirmasi kecurigaan Thomas, "Tapi apa wajar jika aku jijik pada sentuhannya?!"
"Apa?! Dia menyentuhmu?!" Thomas kaget.
'Wanita macam apa yang menyentuh-nyentuh pria yang bukan kekasihnya atau suaminya?!' batin Thomas.
"Dia berusaha mengobati tanganku yang terluka, tapi aku..." Cleve tak melanjutkan kata-katanya. Apa yang ia lakukan pada Nawang kembali terulang di benaknya. Ia merasa sangat bersalah.
Meski Cleve tak melanjutkan ucapannya, Thomas memahami maksudnya.
"Kenapa kau bisa berpikir bahwa kau menyukainya?!" Thomas kembali bertanya.
"Tidak seperti biasanya, aku merasa nyaman di dekatnya. Saat aku memeluknya, aku merasa senang! Dan aku suka setiap kali dia ada di sisiku!" ucap Cleve kemudian.
Thomas terbelalak, dia kaget luar biasa!
'Memeluk?! Cleve memeluk seorang wanita?!'
Sejak insiden yang membuat Cleve trauma itu, apalagi memeluk wanita bahkan bersalaman dengan wanita saja Cleve enggan.
Meskipun itu sebuah keharusan, terkadang Cleve tidak membalas jabatan tangan seorang wanita. Sehingga Cleve sering disebut dingin dan kaku.
'Tapi apa ini sekarang?! Dia memeluk wanita itu?!' Thomas tak bisa mempercayai pendengarannya.
__ADS_1
"Siapa wanita itu?!" tanya kakeknya penasaran.
"Sekretarisku! Sekretarisku yang baru!" Sahut Cleve jujur.