
Nawang berlari meninggalkan kediaman Adyatama tanpa pikir panjang. Ia sudah tidak kuat mendengar omong kosong yang terus dilontarkan Sagara.
Bagaimana bisa pria itu mengungkapkan kata-kata menjijikkan seperti itu, di depan keluarganya dan wanita yang tengah mengandung anaknya?! Nawang tak habis pikir!!
Sebelumnya, Sagara dengan lantang mengusulkan perceraian setelah anak Lalita lahir. Ia juga mengungkap akan menikahi Nawang setelah bercerai dari Lalita.
Seolah-olah pernikahan hanyalah sebuah permainan baginya, Sagara mengungkapkan pernikahan dan perceraian begitu entengnya.
Pria itu bahkan tak berpikir untuk bertanya pada Nawang bagaimana perasaannya dan apa keinginannya.
Namun dengan egoisnya Sagara memaksa Nawang untuk menikahinya. Bahkan mengancam akan bunuh diri jika Nawang menolaknya.
Nawang benar-benar muak mendengarnya. Sehingga tanpa pikir panjang langsung berlari untuk menghindar.
"Nawang!!" Cleve yang muncul dengan mobilnya, mengekori Nawang dari samping. "Ayo masuk!"
Nawang menolak. Ia menggeleng kuat-kuat. Ia lebih ingin berjalan daripada berkendara sekarang. Ia hendak menghirup udara segar dan melangkahkan kakinya hingga sakit dan tak bisa bergerak.
"Ayolah!" pinta Cleve lagi, "Apa anda tidak malu?! Banyak orang memperhatikan anda!"
Mengedarkan pandangannya ke segala arah, Nawang memastikan bahwa apa yang Cleve katakan benar. Orang-orang pasti penasaran saat melihat seorang gadis muda, berjalan sembari menangis diikuti oleh sebuah mobil mewah.
Ia seketika merasa malu seperti yang Cleve katakan.
"Saya tidak akan pergi sebelum anda masuk!" ancam Cleve, " Jadi bersiap-siaplah untuk terus menjadi tontonan, kalau anda tidak mau masuk!!"
Melihat Cleve tidak gentar sedikit pun dan terus mengekorinya, Nawang tak memiliki pilihan lain.
Karena semakin lama, semakin banyak pula orang-orang yang lalu lalang dan memperhatikannya. Hingga membuatnya malu bukan kepalang.
Gadis itu pun terpaksa mengikuti perkataan Cleve dan masuk ke dalam mobil.
Segera setelah Nawang naik ke dalam mobilnya, Cleve melajukan mobilnya secara perlahan.
Tanpa banyak interaksi dan kata-kata, Cleve membiarkan Nawang tercenung dengan tenang. Tengelam ke dalam pikirannya. Hingga akhirnya Nawang sendiri yang angkat bicara, karena tak tahan dengan kesunyian.
"Kenapa anda ikut keluar?!" tanya Nawang kemudian, "Anda seharusnya tidak melakukannya!"
"Bagaimana dengan Lalita?! Kenapa anda meninggalkan nya?!"sambung Nawang.
Cleve tersenyum, "Sejak tadi anda hanya terdiam. Tapi sekalinya buka mulut, anda berbicara tanpa jeda! Sungguh luar biasa!!"
__ADS_1
Mendengar kata-kata Cleve, Nawang menjadi malu. Ia diam sebelumnya karena sedang banyak pikiran. Namun setelah memikirkannya selama beberapa waktu, Nawang sadar bahwa memikirkan bukanlah jawabannya. Ketika ia sadar, ia malah menjadi penasaran dan pertanyaan demi pertanyaan lain muncul di benaknya.
"Jika anda tak ingin menjawabnya, tidak apa!" sahut Nawang, menyembunyikan wajahnya yang seolah terbakar. Pria itu selalu memiliki cara untuk membuat orang salah paham dan malu "Saya tidak memaksa anda melakukannya!"
"Siapa bilang saya tidak akan menjawab?!" ucap Cleve sembari menyunggingkan senyum menggoda, "Anda terlalu cepat menilai!"
Nawang mengernyit. Memasang wajah jengkelnya melihat senyum Cleve yang cerah.
Namun Cleve yang melihat ekspresi unik Nawang itu, malah merasa geli. Ia gemas karena Nawang begitu lucu.
"Masih ada banyak hal yang harus mereka bicarakan disana, jadi saya meninggalkan Lalita disana!" sahut Cleve, menjawab pertanyaan Nawang.
Seperti kata Cleve, masih banyak hal yang harus di bicarakan oleh Lalita disana. Kedua orang tua itu sudah memutuskan secara sepihak pernikahan Sagara dan Lalita. Menurut mereka, ini adalah jalan yang paling tepat yang bisa mereka ambil sebagai pertanggung jawaban.
Namun Sagara masih ngotot untuk melakukan keinginannya. Dia mengatakan akan menikahi Nawang jika anak yang dikandung Lalita sudah lahir. Ia juga berseru kalau anak itu akan menjadi anaknya dan Nawang nanti.
"Cukup Sagara!!" Agung juga sudah muak dan capek dengan tingkah keras kepala Sagara. "Kenapa kau tidak mengerti! Pernikahan itu bukanlah permainan. Kau tak bisa menikah dan bercerai sesuka hati!"
"Pa, kalau begitu biarkan aku menikah dengan Nawang!" sahut Sagara, "Maka aku tak akan pernah bercerai!"
"Sagara!!!" bentak Agung murka. Ia benar-benar frustasi berbicara dengan putranya itu.
****
Rani mengernyit, ia menatap Nawang dengan penuh ketidak percayaan!!
"Apa maksud mbak?!"ujar Rani, ia menggeleng "Tidak mungkin! Mbak bercanda kan?!"
Alden, Wulan dan Bintang pun tak bisa mempercayai pendengaran mereka.
"Kenapa tiba-tiba begini mbak?!" tanya Alden kemudian.
Seperti apa yang diduga oleh Sagara, Alden memang sangat menyukai Nawang. Namun setelah mengetahui bahwa Nawang telah bertunangan dengan Sagara, ia menelan perasaannya mentah-mentah.
Meski perasaannya tak tersampaikan, Alden sudah merasa cukup hanya dengan melihat Nawang setiap hari di tempat kerja.
Tapi sekarang, bahkan ia tak bisa melihat Nawang lagi!!! Alden benar-benar tak bisa menerima ini.
"Apa yang terjadi mbak?!" Bintang juga tak mampu menahan keterkejutannya. "Kenapa tiba-tiba berhenti!?"
Nawang hanya tersenyum, menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan teman-temannya.
__ADS_1
"Tidak ada masalah kok!" sahut Nawang, "Mbak lagi pengen istirahat aja sebentar!"
"Kalau begitu gak usah resign mbak! Ambil aja cuti!" balas Alden. "Kenapa harus berhenti?!"
"Gak apa Alden.." sahut Nawang, ia berusaha untuk tak terlalu emosional di depan teman-temannya. Tapi saat melihat wajah mereka, Nawang kesulitan menahan perasaannya. "Mbak mungkin butuh waktu yang lebih banyak. Takutnya cuti ndak cukup!"
Alden mengernyit, "Kenapa mbak?! Ada apa sebenarnya?!"
Nawang ingin mengungkapkan alasan lain yang mungkin bisa diterima oleh teman-temannya. Hanya saja, Nawang tak bisa membohongi mereka.
Bukan sehari dua hari, mereka bekerja bersama selama bertahun-tahun. Melalui jalan yang terjal dan berbunga bersama-sama. Ada semacam ikatan yang tak terlihat diantara mereka. Sehingga sulit bagi Nawang untuk mengelabui rekan-rekannya. Cepat atau lambat, mereka akan mengetahuinya juga.
Sebenarnya, Nawang sendiri berat meninggalkan pekerjaannya. Dia memang masuk ke dalam 'the last' karena Juni dan Sagara. Tapi Nawang memang mencintai pekerjaannya.
Namun jika ia tetap bertahan, ia akan selalu di bayang-bayangi oleh hubungannya dengan Sagara. Terlebih, Sagara masih belum menyerah dengan rencana pernikahan mereka.
Nawang tak ingin menjadi masalah dalam rumah tangga Sagara dan Lalita kelak. Nawang ingin memulai hidupnya yang baru, lepas dari masa lalu.
Wulan yang pertama, ia menghambur dan memeluk Nawang. Ia yang paling peka, ia tahu bahwa keputusan Nawang sudah bulat. Sebanyak apapun mereka memohon, Wulan tahu bahwa Nawang akan tetap pergi. Sehingga ia memilih menangisi kepergian Nawang ketimbang memohon.
"Sering-sering main kesini mbak!" ucapnya di sela isakan.
Melihat Wulan yang seperti itu, Bintang, anak paling cuek dan tak pedulian itu juga menghambur memeluk Nawang.
Alden tak terkecuali. Hatinya pedih. Rasanya ia ingin merobek surat pengunduran diri itu. Namun itu tak akan ada gunanya, saat orang yang bersangkutan memang tidak ingin ada diantara mereka.
"Jangan menangis!" ucap Nawang, "Kalian tidak malu dilihat orang lain!?"
"Masa Bodo!" sahut Bintang, ia terus menangis dan memeluk Nawang lebih erat.
Sementara itu Rani hanya terisak sembari memandang Nawang dari jauh. Hatinya pilu. Dirinya dan Nawang sudah sangat dekat, tak sekalipun Rani pernah berpikir tempat kerja tanpa Nawang. Baginya 'the last' adalah Nawang itu sendiri.
"Bagaimana aku bisa bekerja kalau mbak pergi?! Aku tanya siapa kalau aku gak ngerti?!" keluh Rani kemudian.
"Mbak belum mati!" ujar Nawang, "Kamu bisa tanya-tanya mbak kapan saja!!"
"Hiks...." Rani pun menghambur memeluk Nawang.
Mereka terus bertanya-tanya apa alasan yang membuat Nawang mengundurkan diri. Apakah ada hubungannya dengan Presdir Sagara?! Masalah kesehatan atau ada masalah lainnya?! Mereka terus bertanya-tanya tanpa mendapat jawaban.
Namun beberapa bulan setelahnya, mereka mendapatkan jawabannya sendiri!!
__ADS_1