
"Brengs*k!!!!" Maki Odelia, "B*ngs*t, S*Al*n!!"
Tangis Odelia pecah. Mendengar cerita Nawang, ia merasa kepalanya akan meledak.
"Bagaimana bisa, Sagara...?!!"
Mereka berempat bersahabat. Odelia mengenal dengan baik Sagara. Odelia-lah yang mendorong Nawang untuk menerima cinta Sagara saat itu.
Meski Sagara dan Nawang telah lama bersahbat, tak pernah sekalipun mereka terlibat dalam cinta. Mereka memiliki pasangan masing-masing dan tak pernah saling menunjukkan minat.
Sampai pada saat Nawang kuliah, untuk pertama kalinya kembar Adyatama dan Nawang berpisah.
Tak ada di kampus yang sama, membuat mereka jarang bertemu. Entah apa yang dirasakan oleh Sagara, ia mulai merindukan Nawang dan memahami bahwa ia mencintai Nawang.
Saat itu, Odelia yang tahu bahwa Sagara mencintai Nawang. Merasa sangat senang.
Selama beberapa waktu, kisah cinta Nawang tak pernah berjalan mulus. Selalu saja ada rintangan dan halangan yang memutuskan hubungan Nawang dengan kekasihnya. Sehingga membuat Nawang merasa sedih.
Saat mengetahui isi hati Sagara terhadap Nawang, Odelia yakin bahwa Sagara adalah pilihan yang tepat untuk Nawang.
Tapi ternyata, yang Odelia pikir itu salah.
Sagara bukanlah pria terbaik, Sagara hanya pria ampas yang tidak berguna!!!
Odelia datang ke rumah sakit hendak mengunjungi Juni. Namun diperjalanan, ia melihat Nawang mengejar seorang perempuan dan masuk ke sebuah lorong kecil.
Berfikir ada yang tidak beres, Odelia mengikutinya kesana. Namun betapa terkejutnya ia, saat mendengar kata-kata Nawang.
"Apa Juni tau?!" Tanya Odelia. Pikirannya carut marut. Satu temannya diselingkuhi oleh suaminya dan temannya yang lain dikhianati oleh tunangannya yang koma.
"Ha..." Odelia menghela nafas. Berusaha menahan emosinya yang meluap-luap.
"Aku belum bilang apa-apa!" Sahut Nawang, "Om dan Tante masih syock dengan keadaan Juni dan Sagara. Juni sendiri masih terpukul, karena mengetahui kondisi Sagara yang koma. Dia juga masih terkejut, setelah menerima surat gugatan cerai dari Eric!!"
"Apa?! B*Jing*n itu menggugat Juni?!" Odelia kaget.
'Manusia sampah! Bukannya minta maaf! Dasar B*j*Ng*n!!' batin Odelia.
"Beberapa hari lalu surat dari pengadilan agama dikirim ke rumah Juni!" Sahut Nawang.
"Lalu bagaimana dengan Juni?!" Tanya Odelia kemudian. "Dia bilang apa?!"
"Untungnya, dia juga menginginkan perceraian!" Nawang berujar, "Eric juga tidak menuntut banyak hal!!"
Odelia terdiam. Ia kehabisan kata-kata. Apa yang didengarnya selama beberapa menit ini telah menghabiskan seluruh energinya, yang ia kumpulkan seharian ini!
Lama mereka terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
Namun Odelia memecah kesunyian dengan pertanyaannya, "Bagaimana denganmu?!"
"Apa kamu akan tetap melanjutkan rencana pernikahanmu?!"
"Entahlah!" Sahut Nawang, "Aku bingung! Aku tidak tahu harus bagaimana!"
Melihat sahabatnya menderita, Odelia merasa sakit yang luar biasa menghujam dadanya. Ia meremas tangan Nawang yang terkepal di depannya.
"Tinggalkan dia!" Ucap Odelia tegas, "Dia tidak pantas untukmu! Kau berhak mendapatkan pria yang lebih baik!"
__ADS_1
"Nawang!! Kamu berhak untuk bahagia dengan orang lain!! Jangan rusak hidupmu, hanya karena hubunganmu dengan keluarganya!!" Ujar Odelia. Manik kecokelatan Odelia basah, air mata tergenang disana. Ia meremas tangan Nawang kuat-kuat.
Odelia tahu, Nawang pasti ragu karena hubungannya yang dekat dengan Juni dan keluarganya.Nawang adalah tipe orang yang menahan rasa sakit demi melihat orang lain tersenyum. Ia tipe yang akan berkorban untuk melihat orang lain bahagia.
"Jangan pikirkan orang lain! Pikirkan saja dirimu!!"
Meski tanpa bertukar banyak kata, hanya dengan tatapannya saja. Nawang bisa memahami perasaan Odelia untuknya.
Selama beberapa hari ini, ia bertahan dan menyimpan semua lukanya sendiri. Nawang takut menambah luka orang lain di sekitarnya.
Meski menangis, berteriak sekencang-kencangnya. Rasa sakit di hatinya tak pernah berkurang, malah kian bertambah. Namun setelah ia membaginya dengan Odelia, rasa sakit, rasa sesak yang tertahan di dadanya memudar.
Buliran bening tumpah ruah dari sudut mata Nawang. Namun kali ini, bukan rasa sakit yang ia dapat setelahnya, melainkan rasa lega yang luar biasa.
"Benar! Kamu benar Odelia!" Sahut Nawang kemudian.
****
Eric seketika pening, saat melihat nominal yang harus ia gelontorkan hanya untuk menyewa sebuah bangunan di tempat yang strategis.
Ia pikir, uang yang ia miliki sudah lebih dari cukup untuk membeli sebuah bangunan. Tapi ternyata, untuk menyewanya saja masih kurang.
"Bangunan di daerah ini memang lumayan mahal pak, tempatnya sangat strategis. Cocok sekali kalau mau dipakai untuk bisnis!" Ujar Divya, seorang agen properti.
"Harganya luar biasa sekali!" Ucap Eric,"Apa tidak ada yang lebih murah?!"
"Kalau anda berkenan, ada tempat yang lebih murah pak!" Imbuh Divya, "Letaknya agak jauh dari pusat kota. Tapi masih bisa dijangkau dan cukup ramai kok pak!"
"Dimana itu mbak?!" Tanya Eric.
Sekilas memang terlihat 'lumayan'. Namun Eric merasa itu bukan pilihan yang bagus.
Daripada mencari tempat yang sedikit lebih murah namun lokasinya buruk, lebih baik sedikit mahal dengan lokasi yang strategis, bukan?!
Bukannya Eric tidak percaya dengan pelanggannya. Namun jika tempatnya terlalu jauh, para pelanggan juga enggan untuk datang.
Lagipula belakangan ini semakin banyak klinik kecantikan yang muncul dan ada banyak dokter-dokter berbakat di sekitarnya. Mereka juga sangat pandai menarik pelanggan. Sehingga setidaknya, Eric harus berada di tempat yang mudah dijangkau agar pelanggan tidak pergi darinya.
Sebelumnya untuk masalah pemasaran, Juni-lah yang melakukannya. Juni yang awalnya ingin menjadi dokter kecantikan, berakhir menjadi beauty influencer. Sesuatu yang ia lakukan dengan iseng akhirnya menjadi profesinya.
Sebagai beauty influencer, Juni sangatlah sukses. Ia memiliki banyak pengikut, dan sering menjadi brand ambassador sebuah produk. Bahkan beberapa kali, Juni didapuk sebagai bintang iklan.
Juni hanya perlu menunjukkan klinik suaminya sesekali, dan selang beberapa waktu. Klinik Eric akan dipenuhi oleh pelanggan yang ingin melakukan perawatan.
Setelah Juni hamil, Juni berhenti dari pekerjaannya. Sejak saat itu agak sulit bagi Eric mendapatkan pelanggan baru. Ia bertahan dengan pelanggan yang telah ada sebelumnya.
Jika ia pindah ke tempat yang jauh, pelanggan-pelanggan tersebut akan sulit mencarinya. Dan bisa saja pergi ke klinik lainnya untuk melakukan perawatan.
Meski membutuhkan uang yang lebih banyak, Eric berfikir akan lebih menguntungkan jika ia memilih tempat yang strategis.
"Saya lebih condong dengan bangunan ini sih mbak!" Ujar Eric.
"Tapi saya harus diskusikan dulu dengan istri saya. Ini juga berkaitan dengannya!" Dusta Eric.
"Oh, tidak apa-apa pak! Anda bisa mempertimbangkan dulu!" Balas Divya, sembari menyunggingkan senyum bisnis.
'Gak punya uang banyak lagak!' batin Divya.
__ADS_1
Ia sudah sangat sering berhadapan dengan orang-orang seperti Eric ini. Lagaknya saja mau menyewa bangunan paling strategis, konon!! Tapi pas tahu harganya mahal, langsung ciut!
"Secepatnya saya akan menghubungi anda!" Ucap Eric kemudian.
Ia tengah memikirkan cara untuk mendapatkan uang agar bisa menyewa bangunan itu. Awalnya, ia berpikir akan menggunakan setengah dari uang yang ia akan gunakan untuk membeli rumah. Tapi ternyata, uang itu saja tidak cukup.
'Dimana aku bisa mendapatkan uang?!' batin Eric.
Selama ini jika ia butuh uang dalam jumlah yang besar, selalu ada Juni dan keluarganya yang siap membantunya. Namun kini, ia harus berusaha sendiri. Mereka sudah tidak mungkin akan membantunya lagi.
'Apa aku harus pinjam uang di bank?!' batin Eric.
****
"Kakek dengar kamu sempat dirawat di rumah sakit!" Ujar Thomas sembari menyendok sup ikan di depannya. Ia kemudian menatap cucu menantunya yang terlihat sedikit pucat. "Apa sekarang kamu sudah membaik?!"
"Ah?! Oh.. iya.." sahut Lalita gelagapan.
Ia tidak menyangka tiba-tiba kakek Thomas datang mengunjungi mereka.
Biasanya pria tua itu akan datang sebulan sekali untuk mengunjungi Cleve dan Lalita. Namun hari ini bukanlah jadwalnya untuk berkunjung. Sehingga Lalita belum menyiapkan dirinya.
Thomas biasanya bertanya banyak hal mengenai kehidupan sehari-hari mereka. Lalita dan Cleve biasanya mencocokkan cerita satu sama lain sebelum Thomas datang. Tapi kali ini, mereka tidak bisa melakukannya karena Thomas datang secara mendadak.
"Ada apa?! Kenapa kakek tiba-tiba datang?!" Cleve mengalihkan pembicaraan.
Thomas terkekeh, "Kenapa?! Apa kakek ini tidak bisa menemui cucunya?!"
Cleve tersenyum tipis, "Biasanya kakek datang hanya di saat ada perlu saja!"
Mendengar ucapan Cleve, Thomas tertawa terbahak-bahak.
"Wah.. lihatlah! Betapa kurang ajarnya!!" Ucap Thomas kemudian. "Benar-benar.. kau sangat mirib denganku saat masih muda!"
Cleve yang mendengar kata-kata kakeknya hanya bisa menggeleng sembari mengulum senyum.
Setiap kali Thomas datang, Lalita selalu merasa senang. Karena hanya dengan begitu, Lalita bisa melihat sosok manusiawi Cleve.
Hanya ketika bersama Thomas saja, Cleve menunjukkan beragam emosi. Jauh berbeda dari saat biasanya yang bak robot tak berperasan.
Namun saat ini untuk pertama kalinya, Lalita merasa cemas ketika Thomas datang berkunjung. Entah kenapa ia memiliki firasat buruk.
"Ngomong-ngomong, kenapa cucu menantuku dirawat di rumah sakit?! Kau belum mengatakan alasannya padaku!" Celetuk Thomas tiba-tiba.
Alasan sebenarnya Thomas datang adalah karena hal aneh yang ia temukan saat menyelidiki cucu menantunya.
Saat mendengar Lalita dirawat di rumah sakit, Thomas meminta pada bawahannya untuk menyelidiki apa yang terjadi. Ia cemas dengan keadaan cucu menantunya, tapi tak bisa bertanya banyak pada cucunya karena sikap dinginnya itu.
Alhasil, ia memilih untuk mencari tahunya sendiri.
Sayangnya, Thomas hanya mengetahui bahwa Lalita dirawat di rumah sakit karena mengalami kecelakaan. Sedangkan detail mengenai kecelakaan tersebut tidak bisa di selidiki. Seseorang memblokir penyelidikan Thomas.
Saat itulah Thomas merasa ada yang aneh.
Pasti ada sesuatu di balik kecelakaan tersebut yang sengaja di tutupi oleh cucunya padanya. Kalau tidak, tidak mungkin Cleve akan repot-repot membendung semua informannya.
Bukannya apa-apa, Thomas hanya mengkhawatirkan cucunya. Meskipun terlihat sebagai pria tangguh yang kuat, Cleve sebenarnya bagaikan gelembung sabun yang rentan pecah. Ia tidak ingin cucunya mengalami luka yang sama seperti sebelumnya.
__ADS_1