
"Kemana kamu Nawang?!" Gumam Juni. Sejak kemarin Nawang tak bisa dihubungi. Juni bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
'Kenapa Nawang tiba-tiba menghilang saat Sagara sudah sadar?!' batin Juni. 'Apa dia tidak suka melihat kondisi Sagara yang seperti ini?!'
"Tidak!! Tidak!!" Juni menggeleng cepat. Ia tahu benar sifat Nawang. Sahabatnya itu bukan tipe wanita yang kabur hanya karena ada keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya.
'Pasti ada alasan yang lain!' batin Juni. 'Apa mungkin ia menjemput ibunya?!'
Kemarin, Ria langsung mengabarkan keadaan Sagara pada Karina. Sehingga Juni berasumsi ibu Nawang pasti ingin menjenguk Sagara, dan kemungkinan besar Nawang tengah menjemput ibunya.
"Na..na-wang?!" Sagara sejak kemarin terus menanyakan Nawang. Ia tidak melihat tunangannya sejak ia sadar, tentu saja ia terus bertanya. Namun Juni memberinya alasan yang masuk akal.
"Nawang sedang pergi menjemput ibunya, Tante Karina. Kamu ingat?!" Ujar Juni.
Sagara mengangguk pelan.
"Dia akan datang sebentar lagi! Kau harus sabar menunggu!" imbuh Juni.
Odelia yang juga hadir disana untuk melihat keadaan Sagara, hanya terdiam membisu.
Ia sangat ingin memukul pria itu sebelumnya, namun melihat keadaannya sekarang ia merasa iba.
'Aku yang seperti ini saja iba padanya, bagaimana dengan Nawang?!' batin Odelia.
Odelia tahu, ia salah jika mengharapkan putusnya hubungan seseorang. Namun ia tak bisa melihat sahabatnya itu hidup dengan luka menganga di hatinya.
Meski Nawang mengalah dan berusaha menerima, luka yang ditorehkan oleh Sagara akan terus membekas. Melihat tingkah wanita yang menjadi selingkuhan Sagara, Odelia yakin bahwa Nawang hanya akan menahan sakit hati jika tetap menikah. Wanita ular itu pasti akan terus menempeli Sagara. Dilihat dari betapa nekatnya ia menemui Sagara yang koma di rumah sakit.
'Aku terlalu emosi, dia bilang akan tetap menemui Sagara meski Sagara telah menikah! Jadi aku tanpa sadar menamparnya!' kata-kata Nawang yang serak itu masih terngiang jelas di benak Odelia.
Bagaimana bisa sahabatnya itu, menikahi pria yang masih terikat dengan wanita lain?! Itu tidak mungkin!!
Juni yang bermental baja saja menyerah dan hampir kehilangan nyawanya, apalagi Nawang yang berhati lembut.
'Tidak!!' Odelia menjerit di dalam hatinya, 'Itu tidak boleh terjadi!! Tidak boleh!!'
Saat Odelia dan yang lainnya tengah memikirkan Nawang, Nawang sendiri tengah sibuk memikirkan dirinya dan situasinya saat ini.
'Bagaimana bisa aku berakhir seperti ini?!' batin Nawang. Ia tengah duduk manis di kursi penumpang, di mobil Cleve. Cleve sendiri yang mengendarai mobilnya.
Sementara Yoshi, tengah mengawasi mobil Nawang yang tengah diperbaiki.
__ADS_1
Saat ia hendak pergi, mobilnya tiba-tiba tidak bisa menyala. Ia kebingungan karena harus cepat kembali, sedangkan mobilnya harus diperbaiki.
Di saat situasi kritis itu berlangsung, Cleve pun menawarkan bantuannya. Secara alami, Cleve yang juga akan kembali pulang mengajak Nawang dan ibunya ikut serta. Awalnya Nawang menolak, namun ibunya yang memang merupakan orang yang 'simpel' dan 'praktis' langsung menerimanya begitu saja.
"Apa anda sudah memikirkan tawaran saya?!" tanya Cleve kemudian.
Nawang yang kaget langsung gelagapan. Ia melirik kaca untuk melihat keadaan ibunya di belakang. Ia takut ibunya akan salah paham dengan kata-kata Cleve.
Seolah mengerti pikiran Nawang, Cleve berkata, "Tenang saja, beliau sudah tertidur!"
"Yang mana yang anda maksud?!" tanya Nawang.
"Saya akan menerima anda jika anda meninggalkan Presdir Sagara!" ujar Cleve. Ia menyingkat kata-katanya. Namun itu terdengar lebih ambigu dari sebelumnya.
"Jika seseorang mendengarnya, pasti mereka akan salah paham!" keluh Nawang yang mengerti maksud Cleve.
"Tidak ada yang mendengarnya selain anda!" ucap Cleve kemudian.
"Sa-saya masih mempertimbangkannya!" Sahut Nawang gagap.
Mendengar kata-kata Nawang itu, entah kenapa sesuatu meluap di dada Cleve. Dan dia tiba-tiba melengkungkan bibirnya tanpa sadar.
"Bagus?! I-itu kan menurut anda!" sahut Nawang. "Belum tentu bagi saya begitu!"
Cleve tersenyum lagi, hingga lesung pipinya mengintip.
'Apa itu!!!' keluh Nawang yang memperhatikan reaksi Cleve, 'Kenapa dia punya lesung pipi yang manis?!'
Nawang yang menatap Cleve, terpesona dan membeku tanpa sadar.
Berbanding terbalik dari apa yang dipikirkan Cleve, Karina sebenarnya tidak tidur. ia hanya pura-pura tidur.
Biasanya, ia akan langsung mengantuk saat masuk ke dalam mobil. Namun kali ini, Karina tidak merasakan perasan itu sama sekali. Karena ia cemas akan putrinya.
Sejak kedatangan Cleve ke butiknya, Nawang hanya menatap Cleve yang tengah sibuk memilih-milih jas. Meski ia melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, Karina yang paling memahami putrinya itu tahu gelagat aneh putrinya.
Nawang bukanlah gadis genit yang tertarik ke sembarang pria. Ia hanya akan tertarik pada pria yang memang berusaha menarik perhatiannya. Sifatnya itu mirib dengan Karina sendiri.
Awalnya Karina berfikir, mungkin Nawang penasaran dengan Cleve yang memang merupakan pemilik dari produk kosmetik idolanya.
Namun kemudian, gerak-gerik Cleve memunculkan kecurigaan lain di hati Karina. Cleve beberapa kali mencuri pandang pada putrinya.
__ADS_1
Bagaimanapun Karina melihat, gestur itu bukanlah milik dua orang yang hanya saling mengenal. Seorang wanita dan seorang pria yang saling melirik dengan sembunyi-sembunyi.
Hati Karina kalut saat menyadarinya!!
Setahu Karina, Cleve sudah menikah. Dan Nawang sendiri telah bertunangan. Ia tidak ingin mencurigai putrinya sendiri, namun Karina tak bisa menahan rasa penasarannya. Sehingga ia terpaksa menerima tawaran Cleve dan berakhir dengan berpura-pura tertidur. Untuk mengetahui hubungan Nawang dan Cleve.
****
"Apa?! Benarkah?!" Lalita berseru senang saat mendengar kabar itu dari temannya.
Salah satu temannya yang adalah seorang perawat di rumah sakit Bima Sakti mengabarkan padanya, bahwa Sagara telah siuman.
Sebelumnya, Lalita yang telah bertengkar hebat dengan Nawang tak ingin lagi mengunjungi Sagara.
Ia yang telah dihina dengan tamparan Nawang, merasa tidak sudi untuk kembali ke rumah sakit itu dan melihat Nawang lagi. Apalagi, ia juga merasa tidak sanggup jika harus berhadapan dengan Sagara yang seperti itu.
Untungnya, saat hendak kembali pulang ia melihat salah satu temannya disana. Dengan sedikit kebohongan, Lalita membuat temannya itu percaya bahwa Sagara adalah sahabat sejak kecilnya yang berharga.
Alhasil, setiap perkembangan Sagara selalu disampaikan oleh wanita itu padanya.
"Tapi sayangnya, dia mengalami amnesia lakunar! Dan belum bisa menggerakkan anggota tubuhnya dengan normal!" Ujar suara di seberang sambungan.
"A-apa maksudnya itu?!" tanya Lalita tak paham.
"Amnesia Lakunar itu, membuat penderitanya tidak bisa mengingat beberapa bagian dari memorinya secara acak. Memang tidak semua memorinya hilang, tapi ada beberapa yang ia tidak ingat!" sahut temannya itu.
Dheg!!
Lalita kaget. Hatinya mencelos saat mendengar Sagara hilang ingatan.
Bagaimana kalau ternyata Sagara melupakan dirinya?! Apa yang harus dia lakukan?! Kepada siapa ia akan berkeluh kesah dan meminta pertolongan?!
Lalita merasa hatinya hancur berkeping-keping.
"Dia juga kesulitan untuk bergerak dan berbicara, tapi itu hal yang normal. Mengingat ia telah koma selama beberapa Minggu. Kemungkinan dalam beberapa bulan ia akan kembali normal!" imbuh temannya itu.
"Benarkah?!" Lalita sangat senang saat mendengar bahwa Sagara bisa kembali normal, "Terimakasih banyak ya, kamu sudah mengabarkan berita berharga ini!"
"Ah, bukan apa-apa kok!" sahut temannya, "Aku juga dulu pernah ada di posisi kamu, jadi tahu banget bagaimana perasaan kamu!"
"Kamu baik banget sih! Nanti kapan-kapan kita makan bareng ya!!" ucap Lalita.
__ADS_1