
Sejak Eric pergi dari apartemennya, Dina tak pernah lagi mendengar kabar dari pria itu. Meski terkadang Dina merindukan Eric, namun Dina enggan mengakuinya. Sehingga ia hanya bisa berkumpul dengan teman-temannya untuk mengusir rasa sepinya.
"Kamu tahu gak, ternyata dokter Eric pindah lho ke daerah X!" ujar Brisia, "Denger-denger kliniknya yang baru juga gak kalah bagus dari yang lama!"
"Hah?!" Dina terkaget. "Maksudnya?!"
"Iya! Jadi pas dia tutup itu, ternyata dia lagi ada masalah sama pemilik tanah di kliniknya yang dulu!!" Jelas Brisia, "Terus karena masalahnya itu gak kunjung selesai, akhirnya dia pindah!"
"Jadi, dia tutup karena pindah?!" Dina terhenyak.
Ia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi! Setahunya, klinik itu adalah milik Eric. Tapi kenapa Eric menghadapi masalah dengan pemilik tanah?! Apa sebenarnya dia hanya menyewa?! Atau apa masih ada masalah dengan pembayarannya?!
'Jadi dia sedang terlilit masalah, aku pikir dia selingkuh!' batin Dina.
Terngiang di benaknya kejadian hari itu, saat ia meneriaki Eric dengan kata-kata kasar dan menuduhnya memiliki perempuan lain.
'S*al, aku telah membuat kesalahan!' batin Dina lagi.
"Iya, aku dikabarin sama staffnya. Katanya tempat praktek mereka sudah pindah!" sahut Brisia, "Kamu gak dapet kabar, Din?!"
"Oh, ngg.. aku kemaren-kemaren lagi sibuk, jadi gak sempet cek hape!" elak Dina, "Gak tahu apa mereka ada kasih info ke aku!"
"Kalau gitu, nanti pas kamu kesana. Kita barengan yuk! Biar bisa ngerumpi!" Ajak Brisia.
Dina mengangguk pelan, merespon perkataan Brisia. Ia memang ingin kesana, ia ingin mengecek kebenarannya. Ia merasa bahwa ada yang tidak beres.
Feeling-nya mengatakan ini ada hubungannya dengan Juni dan kekuarganya. Kemungkinan besar, Juni berusaha menekan Eric agar Eric tak meminta untuk berpisah.
Dina merutuki dirinya yang emosional saat itu, ia bahkan tak berusaha mendengar penjelasan Eric. Dan langsung mengumpat pada pria itu dengan kejam. Padahal Eric telah meninggalkan istri dan anaknya, demi dirinya seorang.
Tiba-tiba Dina merasa rindu pada Eric yang selalu bersikap hangat padanya.
Ia yakin, Eric juga merasakan hal yang sama. Jika mereka bertemu, Eric pasti langsung luluh dan memaafkan kesalahannya.
Tapi tak seperti apa yang dibayangkan oleh Dina, Eric kini tengah merindukan Juni dan Zoe.
Setelah bertemu dengan Juni di persidangan tempo hari, hati Eric dipenuhi oleh penyesalan-penyesalan yang kian menumpuk setiap harinya.
Ia telah memiliki kehidupan yang sempurna sebelumnya. Istri yang baik dan cantik, karier yang cemerlang, dan putri kecil yang lucu.
Hanya karena dorongan sesaat, ia membuang semua itu dan berlari pada seorang janda kasar yang emosional!! Kenapa ia begitu buta saat itu?!
Eric kini menerima ganjarannya. Ia kehilangan istri dan anaknya, kehilangan klinik yang selalu ia banggakan, bahkan wanita yang menyebabkan semua kekacauan itupun mencampakkannya.
Sungguh, Eric merasa ada di fase terendahnya.
Untung saja diantara semua masalah yang menerpanya itu, ia menemukan secercah harapan saat berhasil menyewa sebuah bangunan untuk membuka kliniknya. Kalau tidak, mungkin Eric akan kembali pulang ke rumah orang tuanya. Dan melanjutkan bisnis warteg mereka.
****
Berdiri dengan tubuh rampingnya, gadis itu terlihat indah dengan gaun sleeveless bernuansa nude, surainya yang digerai panjang bergelombang menambah keanggunannya dari belakang. Meski tak melihat wajahnya, siapapun bisa mengenali kecantikannya.
__ADS_1
Cleve yang biasanya hanya berdiri di pojokan sembari menatap kosong ke arah lalu lalang, tanpa sadar mendekatinya.
"Saya tidak menyangka akan bertemu dengan anda disini!" ujar Cleve ringan.
Gadis itu menoleh dengan ekspresi terkejutnya yang khas, ia kemudian menyapa Cleve.
"CEO Cleve, anda disini juga?!" ujarnya.
Alih-alih menjawab, Cleve balik bertanya "Anda sendirian?!"
"Iya, saya sendirian!" jawabnya, "Istri anda dimana?!"
Sedikit berbisik, Cleve menjawab "Bukankah saya sudah bilang akan menceraikannya!?"
Gadis itu membelalak, tidak menyangka Cleve akan mengungkapkan perceraian dalam sebuah acara pernikahan.
Ya, Cleve dan Nawang kini tengah berada di sebuah pesta pernikahan. Tepatnya pesta pernikahan putra sulung pemilik Sunshine.
Sebenarnya yang diundang adalah Sagara, selaku Presdir dari 'the last'. Namun kondisi Sagara tidak memungkinkan untuk datang ke pesta. Begitu pula Agung yang tengah meriang. Alhasil Nawang sendiri yang datang mewakili 'the last'.
"Kenapa?!" tanya Cleve saat melihat ekspresi Nawang, "Apa anda pikir saya bercanda?! Saya serius!"
Memang benar, Cleve serius dengan ucapannya.
Setelah kedatangan kakeknya tempo hari, Cleve mantap mengajukan gugatan cerai pada Lalita. Alasan terbesarnya, bertahan dari pernikahan neraka itu adalah kakeknya.
Jika kakeknya sendiri menginginkan perceraiannya, untuk apa ia masih bertahan?!
"Saya pikir anda bercanda!" ujar Nawang, "Kenapa anda tiba-tiba memutuskan untuk bercerai?!"
"Seperti anda, yang memutuskan untuk mengakhiri rencana pernikahan anda!" sahut Cleve lugas.
Nawang terhenyak. Kata-kata Cleve menohoknya. Ia hampir lupa Cleve juga korban perselingkuhan, yang sama seperti dirinya.
Nawang melupakannya, karena Cleve terlihat biasa saja. Tidak seperti dirinya yang benar-benar hancur dan terpuruk.
'Mungkin, bukannya tidak merasa sakit hati! Dia hanya tidak memperlihatkannya!' batin Nawang menerka-nerka.
Nawang berpikir, mungkin Cleve juga merasakan hal yang sama seperti dirinya. Hanya saja Cleve menyimpannya di dalam hatinya.
'Bukankah itu jauh lebih menyakitkan?!' batin Nawang. Ia ingat bagaimana dirinya yang sempat menyimpan luka itu sendiri. Rasanya begitu berat dan menyakitkan.
"Anda pasti kesulitan!" ucap Nawang kemudian.
Cleve mengernyit, ia heran kenapa tiba-tiba gadis itu tertunduk dan terlihat bersimpati padanya?! Ia tidak mengetahui bahwa Nawang kasihan padanya. Dan salah paham, mengira Cleve patah hati akibat perselingkuhan istri nya.
Namun Cleve mengabaikan rasa herannya dan kembali bertanya.
"Bagaimana dengan anda?!" tanya Cleve kemudian, "Apa sudah mengatakannya pada Presdir Sagara?!"
Nawang menggeleng.
__ADS_1
"Dia belum pulih sepenuhnya!" sahut Nawang, "Rencananya, saya akan mengungkapkannya saat kondisinya telah stabil!"
Nawang sebenarnya ingin ini semua cepat berlalu. Ia selalu merasa bersalah saat berpura-pura semua baik-baik saja. Apalagi saat Juni, Agung atau Ria menyebutkan tentang pernikahan padanya.
Nawang tercenung lesu, menatap Cleve dalam diam. Kebetulan, Cleve pun tengah memperhatikan Nawang.
Mata mereka kemudian beradu di udara, saat itulah Nawang merasakan panas yang menyebar membakar seluruh wajahnya. Tiba-tiba saja sesuatu memercik tepat di dadanya, ia merasa seolah tersengat.
'Apa itu?!' batinnya. Ia kemudian memalingkan wajahnya yang terasa panas.
"Semoga dia cepat sembuh!" Ujar Cleve kemudian.
****
Akhir-akhir ini Lalita merasa lesu, tubuhnya terasa tidak nyaman dan ia mual setiap pagi. Mungkin ia meriang!! Ia benar-benar tidak tahan dan berniat pergi ke dokter.
Namun saat ia hendak keluar rumah, ia mendapat sebuah kiriman. Itu adalah surat pemberitahuan dari pengadilan agama.
Saat membacanya, Lalita merasa lemas seketika. Kakinya seolah tak menapak tanah dan tubuhnya meremang.
"Cerai?!" gumamnya.
Cleve telah mengajukan gugatan cerai untuknya.
Hal yang sangat ditakuti oleh Lalita sejak lama, akhirnya datang juga di hidupnya.
Meski telah mempersiapkan diri dari dulu, namun saat momen ini ada di depannya, Lalita tetap tak bisa menanggapinya dengan tenang. Ia syock berat hingga tak bisa berkata-kata.
Selama beberapa saat, Lalita hanya bisa membatu, menatap surat di tangannya dengan linglung. Namun saat ia tersadar kembali, Lalita langsung berlari ke arah garasi.
Ia masuk ke dalam mobilnya secepat kilat, kemudian bergegas melajukannya ke kantor Cleve.
Seperti hari-hari sebelumnya, ketika Lalita merasa emosional, ia masuk dan mendobrak pintu ruangan Cleve tanpa peringatan. Ia mengabaikan semua keamanan yang melapisi pintu masuk ruangan Cleve seolah-olah ia kebal. Dan dengan sekali sentakan, ia membuka pintu ruangan Cleve.
"Apa maksudmu, Cleve?!" Bentak Lalita.
Cleve yang tengah duduk di kursi kebesarannya sembari menggenggam berkas di tangannya, hanya melirik sekilas pada istrinya.
"Seperti yang kau lihat!" jawabnya singkat.
"Cerai?! Tidak mungkin!!" Geram Lalita,
"Apa kau tidak peduli lagi pada kakek?!" ancam Lalita. Lalita paling paham bahwa 'kakek' adalah kata pamungkas untuk Cleve. Sehingga ia selalu menggunakannya di tiap kesempatan.
Namun tidak seperti bayangannya, Cleve tidak bereaksi seperti biasanya.
"Jika kakek tahu kau menggugatku, kakek pasti akan sedih!!" Ucap Lalita, "Kau mau melihat kakekmu sedih?!"
"Kenapa kakek sedih?!" ujar Cleve, "Kakek yang menyuruhku menceraikanmu!"
Lalita membola, "Apa?!"
__ADS_1
"Kakek tahu semua ulahmu!" sambung Cleve.