
Ria menangis tersedu, Agung pun tak bisa menahan haru. Setelah cobaan yang datang bertubi-tubi untuk keluarganya, akhirnya Tuhan memberikan anugerah terindah untuknya.
Sagara akhirnya sadar!!
Meski Sagara mengalami amnesia lakunar, dan masih sulit menggerakkan beberapa bagian tubuhnya. Agung dan Ria tetap merasakan syukur yang luar biasa!
"Sagara!!" tangis Juni, saat melihat saudara kembarnya itu terduduk dengan mata yang terbuka.
Selama beberapa Minggu, Sagara hanya terbaring dengan mata terpejam. Ia sama sekali tak bergerak dan selalu bernafas dengan bantuan alat. Juni selalu cemas bahwa hal itu akan terjadi untuk selamanya.
Namun syukurlah, sekarang semuanya telah berakhir sepenuhnya.
"Kau ingat aku?!! Aku saudara kembarmu!" Juni menunjuk dirinya. Seolah tengah berbicara dengan anak kecil.
Senyum tipis tersungging di bibir pucatnya, Sagara tidak berbicara namun mengangguk pelan. Sagara masih kesulitan melakukan aktifitas dengan normal. Namun amnesia yang dideritanya, tak membuatnya melupakan semua ingatannya. Ia hanya lupa akan beberapa bagian dari ingatannya secara acak.
"N-na..na.. wang.." gumam Sagara serak. Ia menyusuri ruangan dengan netranya, mencari sosok Nawang yang ia rindukan.
"Dasar!! Sekalinya ngomong malah nyebut tunangannya, bukannya aku!!" keluh Juni. Namun ia kemudian terkekeh, rasa bahagia di hatinya membuncah. Juni kemudian mengedarkan pandangannya, mencari sosok Nawang yang diinginkan oleh saudaranya.
Namun Juni tidak menemukan Nawang dimana pun. Padahal tadi, Nawang ada di belakangnya saat masuk ke dalam ruangan.
"Dimana Nawang?!" tanya Juni kemudian, ia menatap ibu dan ayahnya yang juga terlihat kebingungan mencari sosok Nawang.
"Mungkin dia keluar sebentar!" sahut Ria. "Tenang saja sayang, nanti juga Nawang datang!"
Namun berbeda dari apa yang diperkirakan oleh Ria, Nawang tidak akan datang hari itu. Ia bukannya keluar sebentar, ia memang keluar untuk menghindar.
Padahal sebelumnya, ia sangat berharap Sagara akan sadar. Ia berfikir akan memeluk tunangannya itu dengan haru saat membuka mata. Namun sekarang saat semuanya menjadi kenyataan, Nawang malah merasa sebaliknya.
Nawang merasa aneh. Bukan perasaan sedih juga bukan perasaan senang. Perasaan janggal yang tidak nyaman, yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
"Kenapa seperti ini?!" gumam Nawang sendiri. Ia berlari keluar dari rumah sakit dengan tergesa.
Nawang masuk ke mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan cepat, keluar dari pelataran parkir rumah sakit.
Ia tidak tahu akan pergi kemana, namun ia merasa ia harus pergi meski entah kemana. Pokoknya ia tidak boleh ada di rumah sakit.
Ia masih belum siap berhadapan dengan Sagara.
Saat ini Sagara telah sadar.
Meski Sagara sekarang tengah mengalami amnesia lakunar, cepat atau lambat Sagara akan kembali mengingat semuanya.
Dan pembicaraan mengenai pernikahan akan kembali berlanjut. Nawang tidak tahu harus berbuat apa. Tentu Nawang ingin membatalkan pernikahannya seperti apa yang telah ia putuskan sebelumnya. Namun alasan apa yang harus ia katakan?!
__ADS_1
Ia tidak ingin menyakiti hati orang-orang yang sudah ia anggap sebagai keluarga.
Hanya dengan mengungkapkan pembatalan pernikahan saja, sudah akan menyakiti hati semua orang. Tak peduli alasan apa yang akan ia ungkapkan. Terlebih jika ia mengatakan kebenarannya, itu pasti akan lebih menyakitkan untuk mereka.
Nawang benar-benar bingung, memikirkannya saja sudah membuatnya pening bukan kepalang.
Saat pikirannya kacau, Nawang malah sampai di gedung megah 'Cleve'. Ia tidak tahu kenapa ia bisa sampai disana. Namun ia tercenung menatap lantai atas gedung itu, yang merupakan tempat dimana seorang pria yang bernama Cleve Eddison berada.
Terngiang di benaknya kata-kata ambigu Cleve beberapa waktu lalu.
'Jika anda berniat pergi dari Presdir Sagara, datanglah pada saya! Saya akan menerima anda!'
Meskipun sikap Cleve jauh dari kata penghiburan pada umumnya, tapi entah kenapa sikap-sikap Cleve itu selalu membuat Nawang merasa tenang.
Nawang menatap gedung megah itu selama beberapa menit. Kemudian, saat ia hendak tancap gas dan pergi. Sebuah ketukan di kaca mobilnya, mengagetkannya.
****
Eric terbangun dengan kepala yang sakit, ia merasa tubuhnya berat dan tenggorokannya kering. Sepertinya ia akan sakit!
Biasanya disaat seperti ini, Juni akan membuatkan bubur ayam kesukaannya. Dan air madu yang memulihkan energinya seketika.
Namun saat ini, ia hanya tinggal sendiri. Di dalam hotel sempit yang hanya akan ia gunakan sehari.
Jika kembali ke rumah orangtuanya, itu akan semakin merepotkan. Karena rumah orangtuanya cukup jauh.
Eric benar-benar pusing!!
Semalaman ia berfikir, kenapa tiba-tiba Dina menuduhnya memiliki wanita lain?! Apa hanya karena kliniknya tutup?!
Bagaimana bisa Dina menuduhnya dengan sembarangan seperti itu?! Ditambah lagi memaki-makinya seperti ia telah melakukan kejahatan besar. Semakin dipikirkan, semakin marahlah ia.
Eric merasa ditipu dengan sikap lembut dan manis Dina selama ini.
Namun bukan hanya Eric yang merasa telah ditipu oleh Dina, Dina juga merasakan hal yang sama. Ia benar-benar merasa telah ditipu oleh Eric.
Eric bersikap baik dan perhatian padanya. Memberinya hadiah-hadiah mahal dan mewah, juga membanjirinya dengan perhatian. Ia pikir Eric adalah pasangan idamannya yang selama ini telah ia impi-impikan.
Namun ternyata, pria yang sepertinya sempurna itu hanya buaya darat yang suka bermain dengan perempuan.
"Bagaimana bisa aku tidak tahu?!!" Geram Dina.
Dina membenci dirinya sendiri, yang tak bisa menilai orang!!
"Dia bertemu dengan banyak wanita cantik setiap hari!! Mana mungkin tidak tergoda satupun!!" Keluh Dina.
__ADS_1
Sama seperti dirinya yang memiliki hubungan dengan Eric karena sering bertemu di klinik, wanita lain juga memiliki kemungkinan yang sama.
Namun tidak seperti yang dipikirkan oleh Dina. Eric tak pernah memiliki hubungan dengan yang lain. Selain karena profesionalitasnya sebagai seorang dokter, itu juga karena yang lainnya tak menunjukkan ketertarikan padanya.
Berbeda dengan Dina yang memang sengaja menggoda Eric, yang lainnya tak pernah melakukan hal semacam itu.
Perselingkuhan mereka bisa terjadi karena adanya niat dan kesempatan. Momen yang pas saat Juni tak bisa melayani suaminya, dan Eric yang jenuh pada hidupnya yang monoton.
****
Cleve menatap kosong pada keramaian yang ada di bawahnya. Melihat pemandangan dari atas tepat dari ruangannya, ia menyaksikan orang-orang serta kendaraan seperti semut kecil yang melangkah tak beraturan.
Sembari mendengarkan Yoshi yang terus membeberkan laporannya, ia terus termenung dengan pikiran yang tak terfokus.
Ia teringat saat naik ke atas gedung terbengkalai, dimana Nawang menangis disana. Nawang yang menatap ke bawah dengan air mata yang mengalir,
'Apa ini yang ia lihat?!' pikir Cleve, 'Apa yang dia rasakan saat itu?!'
"Illyas telah menemukan kebenarannya, tuan!" Ujar Yoshi mengungkap laporan terakhirnya.
"Bagaimana dengan kakek?!" Tanya Cleve kemudian.
"Beliau telah mengetahuinya!" Sahut Yoshi. "Illyas sudah melaporkannya!"
Sebelumnya, Cleve sengaja menyembunyikan jejak perselingkuhan istrinya dari kakeknya. Cleve takut kakeknya akan terkejut dan sakit karena hal tersebut.
Thomas memiliki gangguan jantung yang sempat hampir membunuhnya sebelumnya. Karena itu, Cleve selalu berhati-hati dan melakukan semua perintah kakeknya. Termasuk menikah saat itu.
Namun kemudian, saat kakeknya datang mengunjunginya dan langsung bertanya padanya, Cleve tahu bahwa kakeknya telah menaruh curiga.
Jika Cleve terus memaksa untuk menyembunyikan faktanya lebih lama, kakeknya akan melakukan upaya yang lebih keras. Ia tahu betapa keras kepalanya kakeknya itu!! Cleve tidak mau melawan kakeknya sendiri.
Meski beresiko, Cleve memilih membiarkan kakeknya mengetahui sendiri perbuatan Lalita.
"Apa kakek baik-baik saja?!"
"Beliau baik, tuan!" Sahut Yoshi cepat, "Tidak ada masalah apapun!"
Cleve terdiam sejenak, kemudian berkata.
"Aku rasa kita bisa melanjutkan rencana yang sebelumnya tertunda!" titah Cleve.
"Baik tuan!"
****
__ADS_1