
"Kamu darimana?!" Dina menatap tajam Eric yang baru saja pulang
Eric yang kaget diperlakukan ketus oleh kekasihnya, kemudian bertanya dengan bingung "Ada apa sayang?! Apa ada masalah?!"
"Kamu darimana?!" Tanya Dina lagi.
"Aku dari klinik!" Dusta Eric. Dia belum bisa mengungkapkan yang sebenarnya pada Dina. Ia masih belum bisa mendapatkan tempat baru untuk kliniknya. Rencananya Eric akan mengatakannya saat ia telah mendapatkan bangunan itu.
"Dari klinik?!" Dina meledak, "Jangan bohong kamu! Klinik kamu tutup kan!"
"B-bagaimana kamu...?!" Eric kaget. Dia pikir Dina tidak tahu. Setelah mereka ketahuan selingkuh, Dina selalu enggan datang ke klinik. Sehingga Eric mengira Dina tidak akan mengetahuinya.
"Kemana kamu?!" Dina emosi, "Apa kamu pergi ke rumah wanita lain?! Dasar B*j*Ng*n kamu!!!"
Mendengar kata-kata kasar yang dilontarkan oleh Dina, Eric kaget. Ia tidak menyangka Dina akan menuduhnya sembarangan seperti itu. Bagaimana bisa ia berpikir Eric bersama dengan wanita lain?!
'Apa aku terlihat seperti pria gampangan?!' batin Eric.
"Apa kamu bilang?!" Eric naik pitam. "Kenapa kamu menuduhku sembarangan seperti itu?! Dengarkan dulu penjelasan ku!"
"Heh! Aku tidak menuduh sembarangan!!" Sahut Dina, "Aku tahu kamu berbohong pergi ke klinik setiap pagi! Pergi kemana lagi kamu kalau bukan ke tempat wanita lain?! Dasar kamu Br*ngs*k!!"
"Apa?!" Eric benar-benar kesal dimaki-maki seperti itu. "Jaga mulut kamu, ya!!"
Melihat Eric yang membentaknya, Dina semakin emosi. Seumur-umur menikahi Toriq, tak sekalipun Toriq membentaknya.
"Jaga mulut kamu bilang?! Jaga tuh p**** kamu!!" Dina marah."Main sana-sini!! Menyesal aku ketemu kamu! Aku pikir aku memungut berlian, ternyata cuma sampah!!"
Disebut sebagai sampah, Eric benar-benar murka.
"Diam atau aku tampar kau!!" Geram Eric. Tangannya sudah terkepal. Hampir saja ia melayangkan tamparan ke arah Dina.
Dina bukannya gentar, ia malah menantang Eric untuk menamparnya.
"Tampar! Tampar aku!!" Teriak Dina, "Aku tidak takut!! Tampar, sekalian pukul kalau mau!! Sekali kau sentuh aku, aku laporkan kau ke polisi!!"
Dina benar-benar kesal. Ia pikir Eric adalah anugrah yang Tuhan berikan untuknya. Tapi ternyata pria itu hanyalah sebuah bencana. Bagaimana bisa ia terjebak dengan buaya?!
Eric yang ditantang, merasa semakin geram. Ingin rasanya ia melayangkan tangannya ke pipi Dina. Namun untungnya, ia masih bisa mengontrol dirinya.
Eric memang agak emosian. Selama ini sifatnya itu tidak muncul karena Juni Yang selalu mengalah. Juni yang selalu berusaha menyenangkan hati Eric. Sehingga tak ada alasan bagi Eric untuk marah.
__ADS_1
Tak mau terpancing emosi, Eric masuk ke kamarnya dan mengemas semua pakaiannya kembali ke dalam kopernya.
Melihat hal itu, Dina berteriak "Pergi sana! Aku tak butuh pria macam kau!!"
Mengabaikan Dina, Eric melangkah pergi ke luar. Ia benar-benar merasa terhina. Selama bertahun-tahun menjalin hubungan dengan Juni, tak sekalipun Juni pernah berteriak padanya. Apalagi memakinya.
Saat marah, Juni hanya akan diam atau menangis. Tidak pernah sekalipun Juni menuduh Eric sembarangan. Juni selalu bertanya dengan tenang. Sehingga mereka jarang bertengkar.
"Dasar br*ngs*k!!" Tangis Dina.
Setelah Eric pergi, kaki Dina yang sudah lemas sejak tadi, kehilangan kekuatannya untuk berdiri. Ia langsung jatuh lunglai di lantai.
Ia tidak menyangka, pria yang ia pikir akan menjadi masa depannya itu ternyata hanya pria br*ngs*k yang suka main perempuan.
Mungkin itu sebabnya, Eric bisa dengan mudah tergoda olehnya dan meninggalkan Juni begitu saja. Ternyata karena memang ia memiliki kecenderungan seperti itu!!
Sementara itu, Eric yang telah keluar dari apartemen Dina. Pergi ke hotel untuk menginap. Ia sangat marah sehingga tidak sempat menjelaskan dengan benar.
Ah, bukan!! Bukan dirinya yang tidak sempat menjelaskan. Tapi wanita itu yang tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
Padahal saat pulang tadi, ia berfikir untuk mengisi energinya yang hilang dengan melihat wajah kekasihnya.
Ia sudah sangat stress dengan harga bangunan yang mahal, ditambah lagi ia tengah kebingungan mencari jalan untuk mendapat pinjaman. Ia pulang dengan tujuan mendapat penghiburan. Namun malah berakhir dengan pertengkaran.
****
Seharusnya, hari ini mereka meresmikan hubungan mereka sebagai sepasang suami istri. Namun takdir berkata lain!! Sebuah kecelakaan telah mengubah seluruh rencana yang mereka buat. Memporak-porandakannya begitu saja.
Entah, apa Nawang harus mengeluh atau bersyukur.
Jika saja kecelakaan itu tidak terjadi, Nawang tidak akan pernah tahu penghianatan Sagara terhadapnya. Ia mungkin akan tetap menikah, dan selamanya hidup dalam kebohongan yang diciptakan oleh Sagara. Atau, kemungkinan ia akan mengetahui semuanya setelah bertahun-tahun berlalu.
Entahlah, Nawang tidak bisa membayangkannya.
Namun yang pasti, Nawang telah bertekad untuk membatalkan pertunangannya. Mengingat apa yang dikatakan oleh Lalita tempo hari. Bahwa ia akan tetap bertemu dengan Sagara meski Sagara telah menikah.
Itu menunjukkan seberapa besar perasaan Lalita terhadap Sagara.
Meski Nawang sangat membenci Lalita, di satu sisi ia mengasihani Lalita juga.
'Seberapa sulitkah hidup nya hingga ia begitu membutuhkan pria lain sebagai sandaran?!' batin Nawang.
__ADS_1
Nawang percaya, bahwa sesuatu selalu memiliki alasan. Bahkan perselingkuhan juga.
Seperti Sagara yang menghianati Nawang, karena Nawang tidak bisa melayani Sagara. Begitupun Lalita yang mengkhianati Cleve karena Cleve tidak bisa melayaninya.
"Tunggu..." Nawang kemudian menyadari sesuatu.
Nawang tidak bisa melakukan hal itu dengan Sagara, karena mereka bukanlah suami istri. Namun Lalita dan Cleve, bukankah mereka suami istri?! Kenapa mereka tidak melakukannya?! Apa alasannya?!
Saat Nawang tengah berfikir keras tentang Cleve dan Lalita, tangan pucat yang dihiasi dengan selang itu bergerak perlahan.
Bergetar, naik dan turun.
Namun Nawang yang tenggelam dalam pikirannya, tak menyadari sedikitpun. Barulah saat ia mendengar er*ng*n, Nawang tersadar.
****
Illyas menatap tuannya dengan gugup. Ia bukannya takut akan dimarahi oleh tuannya. Sebaliknya, ia takut jika tuannya akan tiba-tiba jatuh pingsan.
Thomas sejak tadi hanya menatap kosong ajudannya itu, setelah mendengar laporan mengenai Lalita.
Illyas sebenarnya tidak ingin menyampaikan kebenaran yang ia dapat. Ia juga menyadari bahwa tuan mudanya menyembunyikan semua, karena khawatir pada kesehatan kakeknya.
Namun apa daya, sudah tugasnya melaporkan semuanya dengan jujur.
Ia sendiri memahami betapa terkejutnya tuannya itu, saat mengetahui cucu menantu yang sangat ia harapkan telah berselingkuh.
"Tu-tuan!!" Panggil Illyas, ia sungguh merasa ketakutan. Keringat dingin sudah membasahi hampir seluruh tubuhnya. Ia benar-benar cemas tuannya dalam masalah. "Apa anda baik-baik saja?!"
"Aku baik-baik saja" Sahut Thomas, menghentikan kekhawatiran Illyas. "Apa kau sudah menyelidikinya dengan benar?!"
"Sudah tuan!" Sahut Illyas yakin.
Mendengar jawaban yakin dari Illyas, Thomas menghela nafas berat.
"Sudah berapa lama?!" Tanya Thomas kemudian.
"Kurang lebih setahun, tuan!" Sahut Illyas, "Mereka bertemu di sebuah stasiun televisi. Saat itu tuan muda diundang sebagai salah satu pengisi acara!"
"Apa pria itu sudah menikah?!"
"Dia belum menikah, tapi sudah memiliki tunangan, tuan! Seharusnya hari ini mereka menikah, tapi karena kecelakaan itu, pria itu mengalami koma. Sehingga pernikahan mereka ditunda!" Sahut Illyas cepat.
__ADS_1
"Apa wanita itu tau?!" Tanya Thomas lagi.
"Dia tahu tuan!" Sahut Illyas, "Beberapa waktu lalu mereka terlibat pertengkaran, wanita itu juga sempat memukul nyonya Lalita tuan!"