Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 44


__ADS_3

Pagi-pagi Lalita telah bersemangat, undangan pernikahannya baru saja datang. Ia memilah-milah setiap undangan yang akan ia sebarkan dengan riang.


Meski ini bukan pernikahan pertamanya, namun ini adalah kali pertama ia bisa melakukan apa yang ia suka.


Memilih gaun, menentukan tamu undangan hingga mengubah dekorasi.


Agung dan Ria memberinya kebebasan pada Lalita, sebagaimana mereka memberi kebebasan pada Nawang untuk mewujudkan pernikahan impiannya.


Meski hubungan mereka tidak diawali dengan baik. Namun Agung dan Ria telah menerimanya dengan lapang dan berharap yang terjadi selanjutnya hanyalah hal-hal yang baik.


Bagi Agung dan Ria, tidak peduli seburuk apa masa lalu. Yang terpenting adalah masa depan yang akan mereka tapaki.


Lalita akan segera menjadi masa depan bagi putra mereka, sehingga mereka berusaha membahagiakan gadis itu bagaimana pun caranya.


"Kamu ingin menyerahkan itu sendiri?!" tanya Ria saat melihat tumpukan undangan yang dipisah Lalita.


Lalita mengangguk, "Mereka sahabat-sahabatku! Sebelumnya aku tidak bisa memberi mereka undangan. Tapi sekarang akhirnya aku bisa!! Biarkan aku sendiri yang melakukannya, ma!"


Ria terkejut, "Kenapa?! Kenapa kau tak bisa melakukannya sebelumnya?!"


"Pernikahanku dengan Cleve adalah kesepakatan bisnis. Aku tidak memiliki hak untuk memilih. Dari gaun hingga tamu undangan yang hadir. Semua adalah pilihan ayah dan Cleve!" ujar Lalita. "Aku bahkan tak mengenal satupun dari tamu yang hadir!"


Mendengar pengakuan Lalita, Ria merasakan simpati yang kuat dari lubuk hati terdalamnya. Tak terbayangkan untuknya, betapa sakit hati Lalita saat itu.


"Bagaimana bisa kalian melakukan pernikahan bisnis seperti itu?!" tanya Ria kemudian.


"Ya.. itu semua dilakukan untuk keperluan masing-masing!" sahut Lalita, "Cleve dan ayah, mereka mendapat keuntungan mereka sendiri! Itu sudah cukup untuk melakukan pernikahan bisnis!"


Ria juga seorang wanita, ia tahu benar impian dan keinginan wanita lainnya.


Siapapun pasti memiliki pernikahan impiannya yang penuh dengan cinta. Tak terkecuali Lalita. Gadis itu pasti berharap untuk mewujudkan pernikahan idamannya.


Cleve yang telah merampas kesempatan itu, pasti telah menorehkan luka yang dalam pada Lalita.


"Meskipun begitu, apa kalian tak saling mencintai pada akhirnya?!" tanya Ria penasaran. Sebelumnya, ia tak pernah memiliki waktu untuk mengobrol dengan Lalita. Sehingga ia tak tahu banyak tentang gadis itu.


"Pernikahan kami hanyalah pernikahan kontrak. Pernikahan di atas kertas!" lirih Lalita dengan senyum getir yang tersungging di wajahnya. "Mana ada cinta di hati pria itu untukku!"

__ADS_1


"Mama tidak akan pernah bisa membayangkannya. Dia benar-benar kejam. Cleve bahkan tak pernah peduli padaku! Saat aku sakit, atau saat aku sedih. Aku hanya sendirian!" sambung Lalita.


Ria sangat terkejut. Ia pikir Cleve dan Lalita adalah pasangan yang saling mencintai sebelumnya, sehingga ia merasa sangat pilu memikirkan Cleve yang dikhianati oleh Lalita.


Meskipun pernyataan Lalita itu benar, namun ia tak mengungkapkan fakta lainnya. Bahwa ialah yang menyarankan pernikahan kontrak itu pada Cleve. Dan dirinya sebenarnya memiliki cinta sepihak pada mantan suaminya itu.


Alasan kenapa Cleve tidak pernah mengunjungi Lalita saat sedang sakit, adalah karena Lalita sering berbohong mengatakan dirinya 'sakit' hanya untuk menggoda Cleve.


Selain itu, sebagai ganti dirinya yang tak datang. Cleve selalu menempatkan Yoshi di sisi wanita itu. Secara harfiah, Cleve tak pernah meninggalkan gadis itu sendirian.


"Cleve orang yang sangat kaku. Ia benar-benar membuat pernikahan kami seperti di neraka. Tak ada kasih sayang atau perhatian! Kami bahkan tidak bertemu selama berbulan-bulan jika tidak diperlukan!" air mata Lalita luruh, "Aku tahu aku salah, ma! Tapi aku benar-benar menghargai Sagara yang membantuku saat aku terpuruk!"


"Saat aku hancur oleh pengabaian suamiku!" lirih Lalita, "Hanya Sagara yang membantuku! Jika bukan karena Sagara, mungkin aku tak bisa bertahan hidup!!"


Semakin lama mendengar kisah Lalita, Ria semakin terhanyut oleh rasa simpatinya. Ia kemudian memeluk gadis itu hangat dan membelai kepalanya dengan lembut.


Namun Juni yang sudah tak tahan mendengar ocehan Lalita itu pun bersuara.


"Bukan berarti karena kau menderita, kau boleh mengambil kebahagiaan orang lain sebagai gantinya!" geram Juni. "Apa salah Nawang dalam hal ini?! Jika suamimu yang mengabaikanmu, kenapa kau tidak membalas padanya?! Kenapa kau malah merebut tunangan orang lain sebagai gantinya?!"


Mendengar ucapan putrinya, Ria seolah tertohok.


Juni juga menjadi korban dari seorang wanita yang telah merebut kebahagiaannya. Dan Juni begitu menderita hingga hampir kehilangan nyawa.


Saat itu, Ria merasa ada ketidak adilan yang menimpa Juni. Namun sekarang, bagaimana ia bisa merasa iba pada wanita yang hampir serupa dengan wanita yang telah menyakiti putrinya itu?!


Tiba-tiba Ria merasa malu pada dirinya. Ia segera melepas dekapannya pada Lalita.


****


Setelah menanda tangani kontrak kerja, Nawang resmi menjadi bagian dari 'Cleve'. Ia kini bertugas menjadi sekretaris Cleve Eddison. Sosok yang sebelumnya hanya menjadi pusat kekagumannya.


Entah kenapa, Nawang merasa gugup saat memasuki kantor 'Cleve' hari ini. Padahal ini bukan kali pertama ia datang.


Setiap kali ia mengunjungi gedung megah itu, ada beragam emosi yang mengalir di hatinya. Gedung 'Cleve' telah menjadi saksi bisu dari setiap fase yang mengubah hidupnya.


"Selamat pagi!" sapa Cleve saat Nawang memasuki ruangannya.

__ADS_1


Aroma familiar, yang sama dengan yang dimiliki oleh Cleve menyeruak. Seolah mengalami deja vu, Nawang berhadapan dengan Cleve seperti sebelumnya.


Namun tak ada perasaan tertekan seperti sebelumnya. Cleve juga tak menatapnya dengan waspada. Sebagai gantinya, pria itu tersenyum dengan ramah.


"Itu adalah tempatmu sekarang!" ujar Cleve sembari menunjuk meja di sisi sebelah kirinya.


Setelah Nawang resmi menjadi sekretarisnya, Cleve mengubah panggilannya. Tidak mungkin kan seorang atasan memanggil bawahannya dengan sebutan 'anda' seperti sebelumnya??


Melihat meja minimalis di sudut ruangan itu, Nawang tersentak kaget. Ia bahkan tidak menyadari kehadiran meja itu, saat masuk. Nawang terhanyut oleh nostalgia, hingga lupa memperhatikan sekitar.


"Sejak kapan...?!" gumamnya terkejut.


"Itu memang tempat yang ditujukan untuk sekretaris pada awalnya!" jelas Cleve kemudian. "Namun sebelumnya karena saya tidak membutuhkan sekretaris, peralatan itu disingkirkan!!"


Nawang mengangguk mengerti. Ia hendak pergi ke mejanya untuk mulai bekerja. Namun suara renyah Cleve menghentikannya.


"Ayo sarapan bersama!" titah Cleve.


Nawang terhenyak kaget, "Sarapan?!"


Cleve mengangguk, "Pagi ini saya belum sarapan!"


Nawang tercenung sesaat. Ketika Yoshi menjelaskan apa saja pekerjaannya, Yoshi tidak menyebutkan pada Nawang bahwa ia juga harus menemani atasannya itu makan.


'Apa mungkin asisten Yoshi lupa memberitahuku?!" batin Nawang.


Bukannya Yoshi lupa memberitahu Nawang. Tapi memang tak pernah sekalipun, Cleve sarapan atau makan ditemani oleh asisten atau bawahannya yang lain.


Biasanya Cleve hanya sarapan di rumah dengan kakeknya. Makan pun juga dengan kakeknya. Cleve jarang makan dengan orang lain. Kecuali itu orang penting.


Jika pun Cleve harus terpaksa makan, ia akan makan sendirian tanpa ditemani siapapun.


Namun hari ini, Cleve sengaja melewatkan sarapannya dengan sang kakek. Ia yang sudah sangat menantikan pagi menjelang, tak sabar untuk pergi ke kantor dan melihat sekretaris barunya.


Cleve yakin bahwa ia merasa demikian, karena penasaran dengan hasil kerja Nawang yang luar biasa. Ia menepis alasan lainnya, dan bersikeras bahwa perasaan yang meluap-luap di hatinya itu, hanyalah sesuatu yang terkait dengan pekerjaan.


"Ayo pergi!" ujar Cleve lagi, "Kamu mau mencoba menu di kantin, atau di tempat lain?!"

__ADS_1


__ADS_2