Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 11


__ADS_3

"J*l*ng br*ngs*k ini!!" Teriak Odelia segera saat melihat wajah Dina di depannya.


Dengan tidak tahu malunya, Odelia muncul pada perkumpulan hari ini. Di depan ibu-ibu muda istri para dokter yang lainnya, Odelia dengan geram menjambak rambut Dina.


Dina yang kesakitan, berusaha keras untuk lepas dari cengkeraman Odelia. Namun sayangnya, kekuatan Dina kalah jauh dari Odelia. Semakin meronta, cengkeraman Odelia semakin kuat.


"Lepas!! Lepas!!" Teriaknya.


Yang lainnya yang sempat membeku karena terkejut, segera melerai keduanya.


Tapi Odelia yang geram tidak mau kalah, ia bahkan menggunakan kakinya untuk menginjak kaki Dina.


Wanita itu pun mengaduh dengan keras.


Kekacauan itu berlangsung selama beberapa menit hingga seorang wanita yang menjadi pemimpin diantara mereka muncul dan berteriak.


"Ada apa ini?!" Ujar Ani, dia adalah istri direktur sebuah rumah sakit swasta yang sangat ternama. Dia dianggap sebagai pemimpin diantara mereka karena jabatan suaminya yang tinggi.


"Entahlah, Bu!" Ujar Danice, "Tiba-tiba saja Bu Odel marah dan menyerang Bu Dina!"


"Ada apa ini Bu Odelia?! Apa yang terjadi?! Kenapa anda menyerang Bu Dina?!" Tanya Ani kemudian.


"Ibu-ibu sekalian, siapa yang menyebarkan pada kalian jika Juni mengalami baby blues dan mencoba bunuh diri ?!" Tanya Odelia geram.


"Saya mendengarnya dari Bu Dina!" Sahut Ani jujur. Ia merasa prihatin saat mendengarkan hal itu dari Dina, sehingga ia bertanya pada yang lainnya.


Ia berniat mengajak ibu-ibu di perkumpulan untuk mengunjungi kediaman Juni. Niatnya ingin memberikan motivasi dan semangat pada Juni.


"Saya juga mendengarnya dari Bu Dina!" Sahut Danice. Yang lainnya pun kemudian mengungkap hal serupa.


"Asal kalian tahu, Juni tidak mengalami baby blues! Tapi dia memang hampir mati!! Dia hampir mati karena perempuan ini!!" Geram Odelia, "J*l*Ng ini bermain s*rong dengan suami Juni!! J*l*Ng S*Al*n ini!!"


Mendengar ucapan Juni seluruh orang di ruangan itu terkejut. Seruan demi seruan pun menggema.


'Apa?! Bu Dina?!'


'Bagainana bisa?!'


'Berselingkuh?!'


"Apa?! Apa yang anda bilang?!" Ani tidak bisa mempercayai pendengarannya.


"P*l*c*r ini menggoda suami Juni. Dia merayu suami Juni untuk menceraikan Juni!!" Teriak Odel penuh emosi. Ia masih belum puas, ingin sekali ia merobek wajah Dina yang menatapnya dengan garang, "Dan dengan tidak tahu malunya dia memfitnah Juni kena Baby Blues! J*h*n*m!! P*l*c*r S*Al*n!!"


"Ya ampun Bu Dina! Saya tidak menyangka anda seperti ini!!" Ani terlihat syock. Ia tidak menyangka seseorang di dalam perkumpulannya, berbuat sehina ini. Bahkan dengan suami dari temannya sendiri.


"Bagaimana bisa anda berbuat sekeji ini?! Bu Juni baru saja melahirkan!!"


"Keji?! Kenapa kau bilang aku keji?! Aku tidak pernah meminta Eric menikahiku!" Teriak Dina, "Dia yang tergila-gila padaku dan ingin menceraikan Juni. Bukan salahku kalau suaminya bosan padanya!!"

__ADS_1


"Itu salahnya yang tidak bisa menjaga suaminya!!" Teriak Dina. "Kenapa itu menjadi kesalahanku?!"


Dina merasa tidak adil, kenapa ia disalahkan atas apa yang terjadi pada Juni?! Yang memutuskan untuk bunuh diri adalah Juni, itu tidak seperti dia yang menikamnya atau semacamnya. Kenapa malah dirinya yang disalahkan atas segala hal?!


Bukanlah dirinya yang salah karena Eric tergoda pada kecantikannya!! Junilah yang tidak bisa menjaga suaminya.


Juni yang terlalu fokus pada bayinya dan mengabaikan Eric, bukankah itu salah?! Dina hanya melakukan apa yang ia bisa.


Ia merasa kasihan pada Eric yang diabaikan oleh istrinya. Dia hanya mencoba membantu Eric.


Ia selalu menjadi istri yang baik tapi kenapa ia harus kehilangan suaminya?! Sedangkan Juni yang merupakan istri yang buruk, malah memiliki suami yang penyanyang dan anak yang cantik. Bukankah ini tidak adil?!


Bukankah seharusnya dirinyalah yang lebih pantas mendapatkan kebahagiaan itu ketimbang Juni?!


"Ini tidak adil!!! Ini tidak adil!!!" Teriak Dina lantang. "Aku juga pantas bahagia!!!"


"Plaaak!!" Sebuah tamparan mendarat di pipi Dina.


Semua orang terkejut, bahkan Odelia terbelalak. Tidak menyangka Ani yang terlihat kalem dan lembut itu menampar pipi Dina dengan keras.


"P*l*c*r S*Al*n!!" Geram Ani, "Pantas bahagia kau bilang?! Tidak ada kebahagiaan dari merebut milik orang lain!!"


"Enyah kau dari sini!!!" Bentak Ani geram.


Ani sangat membenci perselingkuhan. Ia adalah saksi bisu dari perselingkuhan ayahnya. Karena hal itu, Ani mengorbankan banyak hal. Kebahagiaannya, kebebasannya bahkan ibunya.


Sungguh ironis, wanita yang sempat ia berikan simpati ternyata adalah j*l*Ng tidak bermoral yang paling ia benci.


Disisi lain, j*l*Ng lainnya, yang juga telah bermain-main dengan pasangan orang lain, tengah dipenuhi oleh ketakutan.


Lalita yang menyadari bahwa rahasianya telah terbongkar, merasa resah dan gelisah.


Meski Cleve tidak menyebutkannya, fakta bahwa smartphone rahasianya dengan Sagara disimpan oleh Cleve, sudah menunjukkan bahwa Cleve mengetahui segalanya.


Namun yang membuatnya lebih cemas adalah Cleve yang hanya diam. Seperti seekor pemangsa yang menunggu mangsanya. Seolah-olah sedang menyusun rencana untuk menghancurkannya, Cleve menunggunya untuk bergerak dan menerkamnya dalam sekali serangan.


Selama ini ia masih bisa bertahan sebagai istri Cleve, karena kakek Cleve yang masih menghargainya. Namun jika kakek Cleve, Thomas mengetahui perselingkuhannya. Sudah pasti pria tua itu akan meminta Cleve untuk menceraikannya.


"Tidak!!" Gumam Lalita. Ia tidak ingin bercerai dari Cleve.


Meski ia telah menghianati Cleve, namun sesungguhnya ia masih mencintai Cleve. Ia berselingkuh karena merasa kesepian saja. Ia membutuhkan seseorang untuk memeluk dan menghiburnya. Tidak lebih dan tidak kurang.


Kebetulan saat itu ia bertemu dengan teman lamanya, yang ia kenal di tempat les saat SMA. Pria itu juga merasakan hal yang sama, karena tunangannya juga sedikit kaku dan tidak bisa bersenang-senang.


Mereka hanya menjalin hubungan untuk saling mengisi kekosongan dan memenuhi kebutuhan. Tidak lebih dan tidak kurang.


Ya, meski memang terkadang diakui olehnya, Lalita merasa iri pada tunangan Sagara. Yang akan memiliki Sagara sepenuhnya saat menikah.


"Aku tidak bisa lagi menemuimu setelah ini!" ujar Sagara beberapa saat sebelum kecelakaan terjadi. "Seperti yang aku ucapkan dari dulu, aku hanya akan setia pada Nawang setelah menikah!"

__ADS_1


"Kenapa harus begitu?!" Tanya Lalita, "Tidak bisakah kita tetap berhubungan seperti ini?!"


"Tidak!!" Jawab Sagara tegas. "Aku sangat mencintainya. Aku tidak mau suatu saat ia tahu dan meninggalkanku!"


"Tapi, selama ini, tidak ada yang tahu kan?!" Lalita bersikeras, "Kita tinggal melanjutkannya seperti ini!"


"Tidak Lalita!" Teriak Sagara.


"Lalita?! Bukankah kita sepakat untuk saling memanggil sayang?!" Lalita kecewa. Ia merasa seperti diputuskan secara sepihak. Meski tidak mencintai Sagara, namun Lalita sudah sangat bergantung pada pria itu.


Saat ia merasa rapuh, kecewa, sedih dan terluka. Hanya Sagara yang memeluknya dengan erat. Bagaimana jika pria itu meninggalkannya, siapa yang akan memeluknya nanti jika ia merasa sakit hati?!


"Sayang!" Lalita yang emosional, melemparkan tubuhnya ke arah Sagara dan me*Lu*m*at kasar bibir Sagara. Sagara yang kaget, tidak fokus menyetir. Ia tidak melihat lampu lalu lintas dengan jelas.


Kejadiannya begitu cepat, Lalita hanya mengingat mobil itu telah menabrak sebuah tiang besar dan Sagara bersimbah darah di sampingnya.


****


Gambar itu menunjukkan gambar seorang pria dan wanita mengenakan bathrobe, duduk di atas ranjang dan saling berpelukan mesra.


Jika saja gambar itu adalah gambar orang yang tak dikenalnya. Mungkin saja Nawang tidak akan sesakit ini. Namun nyatanya, itu adalah potret tunangannya dan wanita yang mengamuk di ruangan CEO Cleve sebelumnya.


Tangan Nawang gemetar, ia tidak sanggup menggulirkan jarinya untuk memeriksa gambar-gambar lainnya. Di benaknya sudah terbayang apa yang akan dilihatnya selanjutnya.


Namun ia masih menyimpan harapan di dalam hatinya, bahwa apapun yang ia pikirkan, mungkin hanya asumsinya semata. Bisa saja foto itu hanyalah akal-akalan saja. Bukan hal yang nyata. Benar kan?!


Pesan singkat yang hanya berisikan nomor itu, ternyata adalah pasword dari smartphone tersebut. Nawang sebenarnya telah menyangkanya. Tapi ia pura-pura tidak memahaminya dan kembali bertanya lewat pesan singkat pada nomor pengirimnya.


"Itu pasword smartphone yang anda pegang. Sama dengan yang ada disini!" Begitu bunyi pesan balasannya.


Fakta bahwa pasword kedua smartphone itu sama saja, sudah membuat Nawang lemas. Ditambah lagi dengan foto yang ada di dalamnya.


Nawang takut untuk melanjutkannya, tapi ia memaksa dirinya untuk terus maju. Jika ia menundanya lagi dan lagi, ia akan semakin terganggu seperti sebelumnya.


Dengan tekad yang dipaksakan, Nawang akhirnya menggulirkan jarinya memeriksa semua gambar yang ada di dalamnya.


Setiap kali Nawang menggulirkan jarinya, buliran bening yang terjatuh dari pelupuk matanya semakin deras. Dan Isak tangisnya pun semakin kuat.


Lebih dari apa yang ia bayangkan. Perbuatan keduanya lebih dari yang Nawang bisa pikirkan. Tidak hanya foto, video bahkan rekaman suara pun tersimpan rapi disana.


"Bagaimana bisa kamu melakukan hal ini Sagara?!" Lirih Nawang.


Saat ia menangis menahan pilu yang menusuk hatinya. Benda pipih itu berbunyi, notif yang masuk ke dalamnya membuatnya terbelalak.


"Apa kamu baik-baik saja sayang?! Suamiku mengetahui semuanya sekarang!" Notifikasi dari aplikasi perpesanan tampil di layar depan. Seseorang dengan kontak 'Larasati' mengirimkan pesan.


Dheg!!


Nawang tidak bisa lagi menyangkal. Kebenarannya adalah Sagara telah berselingkuh darinya! Dia bahkan berselingkuh dengan istri seseorang, istri CEO Cleve. Istri seorang Cleve Eddison.

__ADS_1


__ADS_2