Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 24


__ADS_3

Sangat sulit mendapatkan pinjaman, apalagi jika pinjaman itu berjumlah besar!! Eric hampir menyerah saat ditolak oleh beberapa bank. Untungnya, ia bertemu dengan salah satu temannya yang kebetulan menjabat posisi penting di sebuah perusahaan perbankan swasta. Temannya itulah yang telah membantu Eric. Kalau tidak, mungkin Eric akan kehilangan harapannya.


Di saat situasinya sedang kacau, surat panggilan sidang dari pengadilan agama pun datang. Ia dan Juni akan memulai proses cerai mereka.


Eric yang tengah kacau, tak ingin menemui Juni saat ini. Ia telah meminta pada pengacaranya untuk mewakilinya. Namun sang pengacara berkata bahwa jika Eric ingin ini cepat berakhir, maka ia harus datang ke pengadilan.


Sebelumnya, Eric sangat yakin akan keputusannya. Mengingat ia sudah tidak sabar untuk menikahi Dina.


Namun setelah perbuatan Dina padanya, Eric bertanya-tanya di dalam hatinya. Apakah dia benar-benar telah melakukan hal yang tepat?!


Ia yang jatuh cinta secara instan pada Dina, meninggalkan anak dan istrinya. Ia pergi dari rumah mewah yang telah ia tinggali selama beberapa tahun, masuk ke apartemen orang lain. Hanya agar bisa memadu kasih dengan wanita yang telah menarik minatnya. Namun wanita yang ia pikir sempurna itu, ternyata hanyalah wanita kasar yang sangat emosional! Eric berpikir, apakah ini sepadan?!


Eric tercenung memikirkan perbuatannya.


Ia terbayang pada wajah Juni dan Zoe, putri kecilnya yang telah ia sakiti.


'Kenapa aku berselingkuh dari Juni ya?' batin Eric kemudian. Ia bertanya-tanya alasan apa yang mendasarinya waktu itu.


Saat bersama dengan Dina, dia mengira bahwa ia jatuh cinta pada Dina. Namun kalau dipikir-pikir, bukan itu jawabannya.


Awalnya, ia merasa tidak akan sanggup jika dipisahkan dari Dina. Tapi setelah ia meninggalkan apartemen Dina tempo hari, sampai hari ini, Eric bahkan tidak merasakan apapun. Ia memang kesal dan marah, tapi bukan rindu setengah mati seperti apa yang ia bayangkan sebelumnya.


Mungkin, karena ia merasa telah ditipu. Perasaannya pada Dina mulai berubah.


Ia bahkan tidak memusingkan kelanjutan hubungannya dengan Dina.


Ia lebih pusing mengurusi tempat tinggal dan kliniknya yang diambang kehancuran.


"Apakah sebenarnya aku tidak mencintai Dina?!" Gumam Eric.


Sementara Eric tengah menggali ke dalam hatinya dan mulai menyesali pilihannya. Juni yang juga menerima surat panggilan yang sama, merasakan kebalikannya.


Setelah Sagara siuman, hati Juni hanya dipenuhi oleh rasa syukur dan kebahagiaan!! Ia sangat senang sehingga tidak ada yang bisa membuatnya merasa buruk. Bahkan jika itu surat panggilan dari pengadilan agama.


Sebelumnya Juni berpikir, jika hari ini datang maka hatinya pasti akan hancur. Ia pasti merasa sangat sakit. Tapi setelah saudara kembarnya siuman. Semangat akan hidup yang baru dan lebih baik, menghampirinya.


"Aku akan hadir pa!" sahut Juni, saat papanya bertanya apa ia akan hadir dalam persidangan itu atau tidak. "Papa tidak usah khawatir! Aku sudah ikhlas!"


Mendengar kata-kata putrinya, hati Agung tersentuh.


"Papa akan menemanimu!" ujar Agung kemudian.


****


Setelah mendengar semua kebenaran dari putrinya, Karina benar-benar syock. Ia tidak pernah menyangka bahwa Sagara yang telah ia anggap sebagai anaknya sendiri, mampu melakukan hal seperti ini.


Apalagi saat Nawang membeberkan bukti-bukti yang ada di smartphone itu. Kecewa, sedih, dan marah bercampur menjadi satu. Ia merasakan sakit hati yang luar biasa.

__ADS_1


Ia bahkan tidak bisa tidur semalaman dan menangis. Ia merasa bersalah telah meragukan putrinya, ia bahkan sempat berpikir bahwa Nawang menjalin hubungan dengan Cleve.


Padahal Cleve sebenarnya hanya ingin membantu Nawang.


Nawang menjelaskan bahwa kata-kata Cleve itu mengacu pada pekerjaan. Bukan hubungan secara personal.


Saat Nawang memutuskan untuk membatalkan pernikahan, pasti sulit baginya untuk bisa bekerja di tempat yang sama dengan mantan tunangan yang berselingkuh.


Cleve menawarkan tempat di sisinya untuk Nawang.


Karina yang mengetahui bahwa dirinya ternyata telah salah paham, merasa sangat malu dan bersalah. Padahal Cleve sebaik ini, dia juga korban tapi Karina malah mencurigainya.


"tok..tok..tok.."


Suara ketukan di pintu mengagetkan Karina, yang tengah larut dalam pikirannya sendiri. Ia kemudian melangkahkan kakinya untuk membuka pintu rumahnya.


Ia begitu terkejut saat melihat Cleve, berdiri disana sembari menenteng keranjang buah.


Senyum mengembang di bibir Cleve, "Selamat pagi!" sapa Cleve. "Maaf saya mengganggu!!"


"Ah.. tu-tuan Cleve?!" Karina gelagapan. Barusan saja ia memikirkan Cleve dan Cleve muncul di depannya. Karina sangat kaget. Rasa bersalah yang ia rasakan tadi, membuncah saat melihat sapaan ramah pria itu.


"Apa saya boleh masuk?!" tanya Cleve polos.


"Oh!Oh! Silahkan..." ujar Karina gelagapan.


"Maaf, saya masih belum memahami sopan santun yang baik saat bertamu!" ujar Cleve.


"T-terima kasih!" ucap Karina gagap. Ia ingin bertanya banyak hal. Namun bibirnya tak sanggup mengucapkan apapun.


"Apa Nawang ada dirumah?!" tanya Cleve kemudian.


"Nawang sedang mandi!" balas Karina kemudian. "Silahkan duduk dulu!"


Karina kemudian mempersilahkan Cleve untuk duduk di ruang tamu. Ia kemudian menyiapkan secangkir teh dan camilan untuk Cleve.


"Saya sudah mendengar semuanya dari Nawang!" ucap Karina kemudian. Setelah meneguhkan hatinya untuk berbicara pada Cleve, Karina akhirnya berhasil mengungkapkan isi hatinya. "Saya benar-benar minta maaf atas apa yang telah dilakukan oleh Sagara!"


Cleve cukup kaget saat mendengar penuturan Karina. Namun kemudian ia menangapinya dengan santai.


"Itu bukan kesalahan anda, kenapa anda meminta maaf?!" ujar Cleve.


"Tetap saja..." Karina berkata, "Saya menyesal dengan apa yang telah terjadi! Sagara sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri, dia sudah bersalah pada anda. Dia telah merusak ketentraman rumah tangga anda!"


"Anda pasti marah dan juga sakit hati!" imbuh Karina, "Saya benar-benar minta maaf!"


Cleve terdiam menatap Karina.

__ADS_1


'Marah?! Sakit hati?!' batin Cleve.


Cleve tidak terlalu peduli pada perselingkuhan itu. Bagi Cleve itu tak ada hubungan dengannya. Cleve dan Lalita memang menikah, tapi itu hanyalah sebuah perjanjian di atas kertas. Tak ada hubungan secara emosional diantara mereka. Sehingga tidak ada perasaan apapun, yang dirasakan oleh Cleve pada Lalita ataupun Sagara saat mengetahui kebenarannya.


Jika pun Cleve peduli akan Lalita, alasannya hanya untuk kakeknya. Selama ini, Cleve menyelidiki Lalita dan memastikan semua kesalahan wanita itu tak sampai di telinga Thomas.


Cleve bertahan dalam pernikahan neraka itu hanya untuk menenangkan hati kakeknya. Jika Lalita melakukan kesalahan dan menyebabkan kakeknya bersedih, pernikahan itu hanya akan menjadi sia-sia!!


Sehingga dengan segala daya upayanya, Cleve melindungi Lalita. Cleve mengubur dalam-dalam semua kesalahan dan kekurangan wanita itu dengan berbagai cara.


Hanya saja saat tabrakan itu terjadi, sulit bagi Cleve melakukannya. Ia sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri saat itu.


Cleve sendiri kini tengah menimbang, apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya atau tidak! Sebab kakeknya sudah mengetahui kebenarannya.


"Saya benar-benar merasa bersalah pada anda!" ungkap Karina lagi. Buliran bening jatuh meleleh di pipinya.


"Kenapa anda terus minta maaf?!" Tanya Cleve.


Cleve benar-benar tidak paham kenapa wanita itu terus meminta maaf padanya, padahal itu bukan kesalahannya.


Cleve kemudian meneliti Karina yang ada di depannya. Terlihat jelas dari penampilannya, matanya yang bengkak dan memerah. Pastilah ia menangis semalaman.


"Istri saya juga melakukan kesalahan!" ujar Cleve kemudian, "Saya juga seharusnya minta maaf pada anda dan Nawang!"


"Tidak.. bukan begitu, tuan..."


"Itu kesalahan mereka, mereka yang melakukannya saja tidak merasa bersalah!" sela Cleve.


Karina merasa sangat sedih, tidak menyangka ada takdir buruk diantara mereka. Pertemuannya dengan Cleve adalah anugerah pada awalnya. Namun kini menjadi bencana, karena takdir yang saling terhubung diantara orang-orang terdekat mereka.


"CEO Cleve?!!" Nawang yang telah selesai mandi dan berdandan, muncul. Ia kaget melihat Cleve ada di rumahnya. "Kenapa anda bisa ada disini?!"


Cleve bangkit dari duduknya dan menyerahkan kunci mobil Nawang padanya, "Saya ingin mengembalikan ini!"


Saat ia melihat kunci mobilnya, barulah Nawang mengingat bahwa ia telah meninggalkan mobilnya pada asisten Cleve kemarin.


"Ah!! Terima kasih!!" seru Nawang kemudian.


"Kamu akan pergi ke kantor?!" tanya Cleve kemudian.


Nawang mengangguk, ia berencana pergi ke kantor 'the last' sebentar, sebelum menjenguk Sagara dengan mamanya.


Nawang dan Karina telah sepakat untuk bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Meski sulit, namun ini adalah jalan terbaik yang bisa mereka tempuh saat ini.


Mengenai rencana pernikahan Nawang dengan Sagara, secara pribadi Karina ingin Nawang membatalkannya. Walaupun Karina menyayangi Sagara seperti anaknya, tapi masa depan Nawang jauh lebih penting. Karina tidak mau putrinya menderita di kemudian hari. Namun kembali lagi, pilihan itu ada di tangan Nawang. Karina akan mendukung apapun keputusan putrinya.


"Iya, saya akan pergi ke kantor!" sahut Nawang jujur.

__ADS_1


"Bisakah anda mengantar saya ke kantor saya?!" ujar Cleve, "Saya datang kesini dengan mobil anda!"


__ADS_2