
Waktu berjalan sangat cepat. Saat tersadar, hal-hal yang tidak ditunggu berlalu begitu saja.
Juni dan Eric akhirnya resmi berpisah. Mereka tak lagi berada dalam satu ikatan. Dan telah terbebas dari satu sama lain.
Meski hak asuh Zoe jatuh kepada Juni, namun Eric masih diperbolehkan untuk menemui Zoe. Eric juga berkewajiban untuk memberikan nafkah kepada anaknya. Tapi Juni tak memusingkan hal itu. Sebisanya, ia tak ingin bertemu Eric lagi.
Sementara itu, Cleve dan Lalita juga mengalami hal yang sama. Mereka juga telah resmi menjadi orang asing. Tak ada ikatan lagi diantara mereka.
Cleve memang tak pernah muncul di pengadilan, ia mempercayakan segalanya pada kuasa hukumnya. Ia enggan harus bolak-balik pengadilan. Apalagi para wartawan suka mengerubunginya seperti lalat.
Cleve mengetahui bahwa ia telah resmi bercerai melalui laporan Yoshi padanya.
"Selamat tuan, anda telah resmi bercerai dari nyonya!" ujar Yoshi. Ia mengucapkannya dengan tulus. Namun kemudian ia merasa ada yang aneh dari kata-katanya. Terasa janggal saat di dengar.
'Apa perceraian memang biasanya dirayakan?!' batin Yoshi bingung.
Namun Cleve tak peduli dengan apa yang diucapkan oleh asistennya itu. Alih-alih memberikan tanggapan pada ucapan yang dilontarkan Yoshi, Cleve malah bertanya hal lainnya.
"Bagaimana dengan jabatan sekretaris?!" tanya Cleve, "Siapa saja yang melamar?!"
Jabatan sekretaris Cleve tidak pernah ada sebelumnya!!
Dahulu sekali saat pertama kali Cleve menjabat sebagai CEO, ia mewarisi sekretaris sang ayah. Namun karena sekretaris itu adalah seorang wanita, Cleve tak pernah merasa nyaman dengan kehadirannya. Bahkan hanya sekedar berada dalam satu ruangan dengan sekretarisnya saja, Cleve merasa sesak. Sehingga Cleve memecat nya dan menggantikannya dengan pria.
Namun tak ada sekretaris pria yang cocok dengan performa kerja Cleve yang cepat. Tak mau pusing dengan hal itu, Cleve akhirnya menghilangkan posisi sekretaris begitu saja.
Apalagi saat itu, Cleve telah memiliki Yoshi yang bisa mengemban beragam tugas bersama bawahannya. Ia seketika lupa akan posisi sekretaris itu.
Tapi belakangan ini, Cleve menunjukkan ketertarikannya memiliki seorang sekretaris. Sudah sejak beberapa hari ini lowongan sekretaris terpampang di berbagai media sosial 'Cleve' guna mencari seorang yang cakap dan sesuai dengan keinginan Cleve. Namun hingga hari ini, tak ada satupun orang yang ia pilih.
"Ada sekitar seratus orang yang melamar untuk hari ini, tuan!" sahut Yoshi, "Mereka masih dalam penyaringan!"
"Apa...." Cleve hendak bertanya. Tapi bibirnya tercekat sesaat. Namun alih-alih melanjutkan kata-katanya tadi, Cleve malah memberi titah lain pada Yoshi.
"Bawakan daftar nama mereka padaku!"
****
__ADS_1
Setelah perceraian Lalita dan Cleve, pihak keluarga Adyatama pun mulai bergerak. Mereka pun menemui keluarga Lalita, untuk mengungkapkan maksud dan tujuan mereka. Yang ingin menikahkan Sagara dan Lalita.
Haris yang awalnya sangat marah dengan putrinya yang bodoh itu, kini berubah menjadi lebih lunak.
Bagi Haris 'Tak ada rotan, Akar pun jadi'.
Saat 'Cleve' terlepas dari genggamannya, datanglah 'the last' yang berusaha masuk ke dalam cengkeramannya. Tentu saja Haris menerimanya dengan lapang.
Meski tak seluar biasa Cleve, kekayaan pemilik 'the last' pasti bisa menjadi bantuan untuknya, meraih kursi gubernur yang selalu ia dambakan.
Lagipula Cleve Eddison yang kaku itu terlalu pelit setiap memberinya uang. 'Mungkin pria muda yang bernama Sagara itu lebih baik darinya!' batin Haris.
Ia menelisik calon menantunya. Meski penampilannya terlihat agak kacau dengan kepala yang hampir plontos, namun wajahnya terlihat ramah. Jauh berbeda dari Cleve yang dingin dan selalu tanpa ekspresi.
"Saya dengan senang hati menerimanya tuan Adyatama!" seru Haris kemudian. "Anak-anak kita telah melakukan kesalahan. Sudah tugas kita sebagai orangtua untuk menengahinya! Kini kita buka lembaran baru dan melupakan yang lalu!"
Agung tersenyum kecut, entah kenapa ia kurang menyukai karakter Haris ini. Agung bisa mencium ada hal buruk yang akan menimpa keluarganya, jika terus menjalin hubungan dengan pria gendut itu.
Namun apa daya, jangankan menghindarinya. Bahkan sekarang mereka tengah berusaha mengikat sebuah hubungan yang solid dengan pernikahan.
"Saya senang jika anda menerima maksud kami dengan baik, tuan!" sahut Agung kemudian.
"Kami sudah memilihkan tanggal-tanggal yang cocok!! Jika anda berkenan, silahkan anda bisa memilihnya sesuai dengan keinginan anda!" ujar Agung kemudian.
"Ah~ tidak usah!" tolak Haris, "Saya percayakan semua pada anda dan keluarga. Kami akan mengikutinya dengan senang!"
"Kalau begitu... kami sempat mendiskusikannya sebelumnya. Sekitar sebulan lagi ada waktu yang tepat untuk mengadakan pernikahan! " ucap Agung kemudian. "Mengingat kondisi Lalita yang tidak bisa menunggu, waktu ini saya rasa cocok. Kita juga membutuhkan sedikit waktu untuk mempersiapkan pernikahannya! "
Haris mengangguk-angguk setuju. Karena kondisi Lalita yang tengah berbadan dua, sulit baginya untuk menunggu pernikahan lebih lama. Namun jika menikah terlalu cepat setelah perceraian, itu juga tidak bagus. Terlebih, baru-baru ini berita perceraian mereka dibongkar media.
"Saya harap anda bisa menerimanya!" sambung Agung.
"Itu pilihan yang tepat, tuan!!" ujar Haris kemudian, "Saya sangat setuju!"
Agung akhirnya menghela nafas lega. Ia merasa puas karena pembicaraan diantara mereka berjalan lancar. Namun Sagara yang juga ikut hadir disana, merasakan sebaliknya.
Hanya dalam waktu sebulan, dirinya sudah akan menyandang status sebagai suami seseorang. Namun bukannya sebagai suami Nawang, wanita yang telah digadang-gadang sebagai istrinya selama ini. Melainkan dengan wanita bekas Cleve Eddison, pria yang selalu ia anggap sebagai musuh.
__ADS_1
'Menyebalkan!' batin Sagara kesal.
Sementara Sagara tengah berkumpul bersama keluarganya untuk membicarakan pernikahan, Nawang tengah menyendiri di dalam ruang istirahat di butik ibunya.
Setelah mengundurkan diri dari 'the last', Nawang pergi ke luar kota.Ia tinggal disana dan membantu ibunya di butik baru tersebut.
Namun saat ia tengah tercenung, ibunya masuk dan mengajaknya mengobrol.
"Setelah mereka mahir dengan pekerjaan mereka, kita bisa kembali ke rumah!" ujar Karina ceria.
Namun Nawang tidak memiliki pemikiran yang sama. Ia tak ingin kembali ke kota dimana ada banyak luka di setiap sudutnya.
Menyadari air muka putrinya yang berubah keruh, Karina pun merasa pilu. Ia tahu putrinya enggan kembali.
Namun Karina juga sangat memahami putrinya. Satu-satunya hal yang mungkin bisa membuat Nawang bangkit adalah pekerjaannya. Hal yang paling ia cintai dan paling bisa membuatnya nyaman.
"Apa kau tak ingin bekerja lagi!?!" tanya Karina.
"Aku sudah bekerja!" elak Nawang, "Aku bekerja sebagai asisten mama!"
Karina mendecih, ia tertawa pelan saat mendengar ucapan putrinya. Meski anaknya itu melakukan pekerjaan dengan baik di butiknya. Namun ia bisa melihat betapa tak bahagianya Nawang.
Anaknya itu mencintai dunia dimana kosmetik bertebaran di sekitarnya. Ia paling suka menganalisis perkembangan tren kosmetik saat ini dan mengungkapkan ide-ide briliannya mengenai kosmetik di masa depan. Ia tak cocok berada diantara kain-kain dan benang-benang.
"Pergilah!" ucap Karina.
Nawang mengernyit tak mengerti. "Pergi?! Pergi kemana, ma?!"
"Cleve" sahut Karina singkat.
"Tidak..." sahut Nawang kemudian.
"Kenapa?!"
"Aku kan sudah bilang pada mama alasannya, sebelumnya!" jawab Nawang enggan. Ia sudah menceritakannya pada sang ibu. Bahwa ia merasa menjadi penghianat bagi teman-temannya, jika beralih dan bekerja di bawah Cleve sekarang.
"Tidak ada yang seperti itu!" ujar Karina, "Jika mereka memang teman-temanmu, mereka pasti akan memahami dirimu dan pilihanmu!"
__ADS_1
" 'Cleve' adalah mimpimu bukan?!" sambung Karina, "Sebelumnya kau tak bisa meraih mimpimu, sekarang bukankah kau bisa melakukannya?! Tak ada lagi yang membelenggu mu!"