Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 105


__ADS_3

Setelah menjalani perawatan selama sebulan penuh, akhirnya Nawang kembali pulih sepenuhnya.


Nawang pulih dengan sangat cepat. Cinta dan perhatian dari suami dan ibunya yang membuatnya lebih bersemangat untuk menjadi lebih sehat.


Perawatan yang ia jalani membantunya bisa kembali beraktifitas dengan baik, tanpa mengalami kendala.


Cleve yang melihat perubahan kondisi istrinya, merasa sangat senang.


Senyum yang telah menghilang, kembali terbit di wajah Cleve. Ia bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bersama istrinya.


"Hari ini kita akan pulang, sayang!" ucap Cleve.


Nawang mengangguk, "Mas, kelak kita datang lagi ya!"


Dheg!!!


Cleve tersentak. Sebenarnya setelah apa yang terjadi, Cleve tak ingin kembali lagi. Masa lalunya yang buruk dan dirinya yang hampir kehilangan Nawang. Ia tak berniat lagi untuk kembali.


Cleve sangat menyesali pilihannya ini, bahkan seumur hidup mungkin ia akan tetap menyesal. Karena pilihannya untuk berbulan madu di Jerman, telah membuatnya hampir kehilangan istrinya.


Meski pada akhirnya Nawang baik-baik saja, namun fakta bahwa Nawang terluka, tidak pernah berubah.


Melihat ekspresi keruh Cleve, Nawang memahami perasan suaminya. Ia kemudian menyunggingkan senyum lalu berkata, "Ayo kita kembali nanti! Disini menyenangkan!"


"Mungkin ada satu atau dua hal buruk yang terjadi, tapi sebelumnya sangat menyenangkan kan?! Kita menghabiskan waktu dengan bahagia disini!"


Cleve menghela nafas panjang kemudian mengangguk. Perkataan Nawang benar. Ia dan Nawang menghabiskan waktu yang membahagiakan. Lagipula, Cleve sudah berjanji sebelumnya, jika Nawang sadar dari komanya. Ia akan menjadi suami yang patuh, yang akan menuruti semua keinginan istrinya.


"Baiklah, sayang!" ucap Cleve.


Ia kemudian membantu istrinya untuk bangkit dari ranjang, dan merengkuhnya untuk membantunya berjalan.


Melangkah perlahan, Cleve dengan sabar membantunya. Hingga akhirnya mereka sampai di pintu keluar. Cleve melepas rengkuhannya dan membiarkan Nawang berjalan sendiri.


Thomas, Karina, Hans, Jacob dan juga Theo sudah menunggu mereka.


Theo yang selama sebulan ini tak pernah absen untuk menjenguk Nawang, menerjang ke arah Nawang dan memeluknya.


"Apa kita akan bertemu lagi?!" buliran bening menggenang di mata bulat bocah itu. Ia sudah sangat menyukai Nawang. Namun jika Nawang pulang, tentu ia tak akan bisa melihatnya lagi.


"Tentu!" sahut Nawang, "Kita pasti akan bertemu lagi!"


"Kakak akan datang kesini lagi kan?!" tanya Theo.


Nawang mengangguk.


"Pasti!" ucap Nawang, ia menjulurkan kelingkingnya. Berjanji pada Theo.


Theo mengaitkan kelingkingnya, kemudian dengan tangis yang semakin keras memeluk Nawang. Sebuah kecupan singkat pun dilayangkan anak itu di pipi Nawang.


Nawang terkejut sesaat, namun kemudian balas mengecup pipi Theo. Seraya menggendong Theo, Nawang menepuk-nepuk punggung anak itu berusaha menenangkannya.


Jacob dan Hans pun mengungkapkan kata-kata perpisahan. Mereka menyatakan penyesalan dan rasa terimakasih yang dalam karena Nawang telah menyelamatkan Theo.


Mereka kemudian bergegas menuju ke bandara!! Hans, Jacob dan Theo masih setia menemani mereka hingga waktu penerbangan tiba.


"Selamat tinggal!!" ucap Nawang dan juga Cleve. Melambai pada Jacob, Hans dan juga Theo

__ADS_1


"Terimakasih atas kebaikan kalian selama ini!" Karina menambahkan, "Saya berhutang Budi pada kalian!"


"Tidak nyonya, saya yang berhutang Budi pada putri anda!" ucap Jacob.


"Selamat tinggal!" imbuh Karina.


"Hey, selamat tinggal anak-anak nakal!" seru Thomas. Ia memeletkan lidahnya.


Hans, Jacob dan juga Theo tertawa. Orang tua itu memang sudah jail sejak dulu, sepertinya meski umurnya bertambah tapi sifatnya yang jail tidak berubah.


"Nanti datanglah ke Indonesia!" pesan Thomas pada Theo.


"Jika cicitku adalah perempuan, jadilah cicit menantuku!"Ujar Thomas diiringi gelak tawa.


Meski terkesan tengah bercanda, namun perkataan Thomas menjadi nyata.


Seperti kata pepatah, 'Ucapan adalah Doa'


Cucu menantunya yang baru sembuh dari koma, beberapa bulan kemudian hamil.


Tepat saat Juni melahirkan bayi perempuannya, Nawang mengetahui bahwa dirinya tengah hamil.


Saat itu, Nawang yang mengetahui Juni akan melahirkan bergegas mengunjungi Juni di rumah sakit, bersama dengan Cleve.


Selama kurang lebih satu setengah jam, Juni berjuang untuk melahirkan putrinya. Ia menge jan dengan kuat, dan berteriak hingga tere ngah-engah.


Hingga tangis bayi pun pecah.


Sang dokter pun berseru ke arahnya "Selamat bu, bayi anda perempuan!"


Abraham beserta yang lainnya, yang menunggu di luar ruang persalinan pun merasa lega saat mendengar tangis bayi yang memekakkan telinga.


"Syukurlah!"


"Akhirnya lahir juga!!"


Namun berbeda dengan yang lainnya, Nawang yang seharusnya merasa lega tiba-tiba pening.


Kepalanya pusing dan ia ingin muntah saat mendengar suara teriakan bayi.


"UPS.. uekkh.." Nawang berusaha menahan mualnya, namun ia tak bisa.


Cleve yang senantiasa di samping istrinya, merasa panik seketika.


"Sayang, apa yang terjadi?! Apa kamu merasa sakit?!" tanya Cleve bingung.


"Kepalaku sakit, mas..."keluh Nawang, "Aku mual.."


Berpikir ada masalah dengan luka di kepala istrinya, Cleve langsung memaksa istrinya untuk diperiksa.


"Ayo kita periksa dulu! Siapa tahu ada masalah dengan lukamu yang dulu!" ujar Cleve.


"Tidak usah, mas.. sepertinya hanya meriang!" tolak Nawang.


"Tidak!" Cleve bersikeras, "Ayo kita periksa! Aku tidak akan bisa tenang sebelum melakukannya!"


Melihat suaminya yang bersikeras, Nawang tak bisa menolak. Sejak kejadian yang menimpanya di Jerman, Cleve menjadi sangat protektif. Sedikit saja Nawang merasa sakit, suaminya itu akan panik dan berteriak memaksanya pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


Sebelum keinginannya dituruti, pria itu akan merengek pada Nawang seharian.


"Baiklah!" sahut Nawang kemudian. Ia tak mau berdebat karena sudah pasti Cleve yang akan menang.


Berpamitan pada yang lainnya untuk memeriksakan kondisi Nawang, Cleve menuju ke ruang pemeriksaan.


"Apa yang terjadi pada istri saya dok?! Apa ada masalah?! Apa dia sakit?!" tanya Cleve heboh.


Sang dokter tersenyum simpul, "Istri anda tidak sakit, tapi sepertinya selama beberapa bulan ke depan istri anda akan mengalami kesulitan!"


"Kesulitan?!" Cleve mengernyit.


"Benar!" sahut sang dokter, "Mungkin nanti akan sering merasa mual, banyak muntah dan sering merasa pegal-pegal! Tapi itu wajar.. istri anda hamil, pak!"


Cleve tersentak. Ia terpaku, linglung ia menatap sang dokter.


Sang dokter yang melihat reaksi Cleve, merasa kaget.


'Lah kok malah ngefrezze?!' batin sang dokter.


"Anda bilang apa?!" tanya Cleve lagi. Ia takut salah dengar.


"Istri anda hamil, pak!" ulang dokter tersebut, "Sudah dua bulan!"


Cleve membekap mulutnya, ia senang luar biasa.


"Istri saya hamil, dok? Dia hamil?!" tanyanya riang.


"Benar pak!" ucap sang dokter dengan senyum yang tersungging di bibirnya.


Mendengar berita kehamilan istrinya, Cleve senang luar biasa. Ia bangkit berdiri kemudian menyalami sang dokter dengan antusias. "Terimakasih dok!"


*****


Menemui istrinya di ruang perawatan, Cleve tak bisa menyembunyikan rasa bahagia di hatinya. Senyum cerah terpatri di bibirnya.


"Bagaimana mas?!" tanya Nawang. Ia kaget melihat suaminya itu tersenyum begitu cerah. Biasanya meski hasilnya baik, Cleve tak tersenyum secerah itu.


Alih-alih menjawab, Cleve malah mengecup seluruh wajah Nawang dengan gemas. Nawang kaget luar biasa dan meronta. Ia malu!


"Mas!! Jangan.. tunggu! Mas!!" Nawang mendorong tubuh suaminya.


"Ada apa?! Kenapa mas aneh begini?!" tanya Nawang bingung.


"Kamu hamil, sayang! Kamu hamil!" ucap Cleve riang.


Mendengar ucapan suaminya, Nawang tersentak. Namun kemudian hatinya menghangat. Ia sangat senang.


"Ya Tuhan!!" serunya.


"Terimakasih sayang! Kamu membuatku menjadi pria paling bahagia di dunia ini!" seru Cleve.


"Aku mencintaimu, sayang!" tambah Cleve.


Cleve kemudian menci um bibir istrinya dengan mesra.


Tak lagi peduli pada orang yang mungkin akan memergoki mereka. Nawang membalas ciu man suaminya dengan hangat.

__ADS_1


__ADS_2