Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 69


__ADS_3

Saat ia membuka mata, telinganya berdengung dengan kencang. Kepalanya sakit seolah akan pecah. Mengernyap dengan susah payah, Abraham memaksa matanya untuk terbuka.


Samar-samar Abraham melihat, sebuah bak mandi besar di depannya. Seketika, ia terperanjat. Berusaha bangkit, ia kaget dengan kehadiran Juni yang tergeletak di sebelahnya. Dengan seluruh pakaian yang sobek dan penampilan yang acak-acakan.


Bak Slide foto yang bergerak cepat, ingatan demi ingatan yang ia lupakan menghantamnya dengan keras.


Hati Abraham mencelos, ia gemetar oleh rasa bersalah yang teramat sangat.


"Apa yang telah kulakukan?!" gumamnya.


Selama beberapa saat Abraham hanya mematung, tenggelam dalam penyesalan.


Ia menyesal telah menyentuh wanita selain istrinya dan menyesal telah menyakiti Juni yang begitu baik padanya.


"Tidak..." lirih Abraham.


Ia telah melakukan kesalahan besar terhadap sahabat dari istrinya. Meski ia melakukannya tanpa sadar, sebuah kesalahan tetaplah menjadi kesalahan. Baginya, tak ada permakluman untuk itu!!!


Abraham menangis!!


Melihat keadaan Juni yang begitu mengenaskan, ia yakin wanita itu juga sangat menderita.


"Maaf..." gumam Abraham pada Juni yang masih tidak sadarkan diri.


Dengan lembut, ia mengangkat tubuh Juni. Tubuh wanita itu dingin seolah membeku. Sudah berapa lama mereka terbaring di lantai kamar mandi?!


Meletakkannya di sofa, Abraham terpaku saat matanya menangkap noda-noda merah yang telah ia tinggalkan. Seketika hati Abraham nyeri.


Ia bingung memikirkan reaksi Juni saat tersadar nanti.


Wanita itu pasti sangat membencinya!!


Juni sudah melalui banyak hal yang telah merusak mentalnya. Bahkan ia hampir mati karena bunuh diri. Lalu sekarang setelah perlahan-lahan mulai bangkit, Abraham malah kembali menyakitinya.


"Ha...." Abraham menangis dalam diam. Tak bisa menahan getir yang menyeruak di dadanya. Ia memandang Juni dengan sendu.


Iba dengan penampilan Juni, Abraham mencari selimut untuk menutupi tubuh Juni yang terbuka.


Ia masuk ke sembarang kamar. Tak disangka itu adalah kamar anak-anak. Ia melihat Brandon serta Zoe tertidur dengan nyenyak.


Terlelap dengan posisi duduk di lantai, Indah menggenggam tangan Zoe dan tertidur pulas. Sepertinya, wanita itu tengah menenangkan Zoe sebelum kantuk menyerang.


Melihat pemandangan itu, Abraham diselimuti pilu. Ia menutup kembali pintu. Dan masuk ke kamar lainnya untuk mencari sesuatu, yang bisa menutupi tubuh Juni yang membeku.

__ADS_1


Namun saat Abraham kembali, Juni sudah sadar. Juni tercenung dengan tatapan kosong menatap ke depan. Sepertinya wanita itu syock berat.


Perlahan, Abraham mendekatinya.


"Ju-juni..." gagap Abraham memanggilnya.


Melihat sosok Abraham di depannya, Juni kaget luar biasa. Seolah Abraham adalah binatang buas yang akan menerkamnya, Juni bersedekap merangsek ke ujung sofa. Ia gemetar hebat.


Melihat Juni yang seperti itu, hati Abraham hancur. Ia benar-benar merasa bersalah.


"Juni... aku minta maaf! Aku benar-benar minta maaf!!" ucap Abraham. Air matanya luruh.


Juni hanya diam, menatap Abraham dengan kosong.


"Juni, aku.. aku..." Abraham tak bisa berkata-kata. Ia tiba-tiba blank saat melihat air mata Juni meleleh.


"Aku benar-benar minta maaf.. aku minta maaf..." selama beberapa menit, Abraham hanya bisa mengucapkan permintaan maaf dengan lirih. Juni juga melakukan hal yang sama, Juni hanya menangis dan menangis.


****


"Mas, kenapa mas tiba-tiba bilang mau menikah?!" tanya Nawang saat mereka memiliki kesempatan untuk bicara berdua.


"Kenapa sayang?! Kamu tidak ingin menikah?!" Alih-alih menjawab, Cleve balik bertanya.


"Cepat atau lambat, kita akan menikah. Tidak masalah kalau lebih dipercepat!" ungkap Cleve santai, "Lagipula itu tak ada hubungannya dengan orang lain. Yang menjalani pernikahan itu kan aku dan kamu!!"


"Aku tidak mau menjadi pria brengsek untukmu!" sambung Cleve, "Kamu tahu, sulit bagiku mengontrol diriku setiap kali berada di dekatmu. Aku takut gelap mata dan melakukan kesalahan padamu!!"


Mendengar kata-kata provokatif Cleve, Nawang merasa sangat malu. Ia menutup wajahnya yang telah berubah menjadi udang rebus.


"Jika kita sudah resmi menjadi pasangan suami istri, itu tak akan menjadi kesalahan. Tapi pahala!" bisik Cleve di telinga Nawang.


Seketika tubuh Nawang berdesir oleh sensasi aneh, sat Cleve mengatakan hal itu.


"Mas apa sih!!" ujarnya malu-malu.


Melihat reaksi Nawang yang imut itu, Cleve menyeringai lebar. Ia sangat gemas sehingga ingin men**umnya sekarang juga. Tapi Cleve menahan dirinya, karena takut jika tiba-tiba Karina muncul dan memergoki mereka. Bisa-bisa izin menikahnya dicabut.


"Apa kamu tidak ingin menikah denganku?!" tanya Cleve kemudian, "Jika memang begitu, aku akan mempertimbangkannya lagi!"


Bohong jika Nawang berkata, ia tak ingin menikah dengan Cleve. Melihat dirinya sendiri yang hampir lepas kontrol, ia tahu bahwa dirinya juga menginginkan Cleve.


Sebelumnya, meski seperti apapun Sagara menggodanya. Nawang berdiri dengan teguh untuk menolaknya. Namun dengan Cleve, itu sedikit berbeda.

__ADS_1


Entah karena pesona atau kharisma yang ia pancarkan, Nawang selalu tahkluk di depannya.


"Humn?!" Cleve menunggu jawaban dari Nawang, "Kamu juga ingin menikah dengan ku kan?!"


Nawang mengangguk malu-malu.


****


Setelah menangis hingga dadanya terasa sesak, seolah kembali pada kewarasannya, Juni berkata pada Abraham yang tercenung di sebelahnya.


"Pergilah...Odelia membutuhkanmu!" ujar Juni pelan dengan suaranya yang serak.


Abraham tersentak, kaget mendengar Juni berbicara dengannya.


"Anu.. itu..." Abraham ingin mengatakan perihal kelakuannya yang telah menyakiti Juni. Namun Juni segera menyelanya.


"Aku tahu..." ujar Juni, ia gemetar. Berusaha untuk tetap tenang, ia meremas jari-jemarinya hingga terasa kebas. "Itu bukan salahmu. Zeline memberimu obat kan!?"


"Itu bukan keinginanmu.. jadi itu bukan kesalahanmu!! Ini musibah.. musibah untuk kita berdua!" ucap Juni dengan bibir yang gemetar. "Ka-kau.. kau tak perlu memikirkannya! Lupakan semua!!"


Abraham tersentak. Tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Tidak!!" tolak Abraham kemudian, "Kesalahan tetaplah kesalahan, tak peduli dilakukan dengan sengaja ataupun tidak! Itu tetap menjadi luka bagimu yang menjadi korban. Aku tidak bisa berpura-pura tak terjadi apa-apa dan melupakannya!!"


Abraham adalah pria yang lurus. Jika melakukan kesalahan, ia harus bertanggung jawab. Ia tidak mungkin berpura-pura tak terjadi apa-apa. Seumur hidup, ia akan menderita oleh rasa bersalah.


Juni menggeleng, "Jika itu kesalahan. Aku juga telah melakukan kesalahan!!"


"Seharusnya aku tidak membawamu ke apartemenku!! Seharusnya aku membawamu ke rumah sakit, tapi aku.... aku .. jika aku melakukan hal itu, kau dan aku... " Juni terisak. Dadanya dipenuhi oleh penyesalan. Ia menyadari bahwa ia telah salah memutuskan.


Seandainya saja Juni membawa Abraham ke rumah sakit, alih-alih apartemennya. Mungkin hal ini tak akan pernah terjadi.


Namun saat itu, Juni tengah sangat panik. Ia tak bisa berpikir dengan jernih. Yang ada di benaknya, hanya keinginan untuk membawa Abraham pergi dari apartemen Zeline. Dan tempat terdekat yang bisa ia tuju, hanyalah apartemennya sendiri. Tak ada pikiran lain yang terlintas sama sekali.


Abraham mengerti perasaan Juni. Saat dalam situasi kritis, terkadang manusia tak bisa berpikir secara logis. Dan melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang sepele. Apalagi bagi Juni yang tak pernah dihadapkan dengan keadaan seperti itu, Abraham saja yang sering berhadapan dengan situasi kritis setiap waktu sebagai seorang dokter pun. Masih sering bingung.


"Itu bukan kesalahanmu, wajar jika kau bingung disaat seperti itu!!" ujar Abraham kemudian.


"Maafkan aku..." ungkap Juni, air matanya kembali meleleh. Mengingat Odelia yang terbaring di ranjang rumah sakit. Tiba-tiba Juni merasa kotor!! Apa bedanya dirinya dengan Dina dan juga Zeline?! Yang men***tuh pria orang lain!!


Abraham mendelik, kaget dengan permintaan maaf yang dilontarkan oleh Juni tiba-tiba.


"Kenapa kau yang minta maaf?!" sentak Abraham, "Akulah yang salah! Aku akan bertanggung jawab!"

__ADS_1


"Pergilah.. jaga Odelia!! Kau tak perlu memikirkan ku!! Ini akan segera berlalu, seiring berjalannya waktu!" ucap Juni, "Odelia sedang sakit, ia akan sangat sedih jika tahu hal ini terjadi pada kita berdua! Demi kebaikan Odelia, anggap saja ini tak pernah terjadi sebelumnya!!"


__ADS_2