
Karena tidak membuat janji sebelumnya, Lalita harus menunggu beberapa saat sebelum bisa bertemu dengan sang desainer. Sebab ia tengah menangani client lainnya.
Merasa malas menunggu, Sagara pergi ke cafe di seberang. Sedangkan Lalita, memilih untuk menunggu di ruang tunggu butik. Setelah kehamilannya, Lalita selalu merasa lelah. Ia tidak ingin melakukan apa-apa jika bisa.
Saat ia sedang menunggu dengan tenang. Lalita mendengar suara samar-samar dua sejoli yang tengah kasmaran dari balik ruang tunggu.
"Kenapa mas memilih warna biru?!" tanya perempuan itu.
"Karena kamu menyukai warna biru kan?!" suara seorang pria terdengar
"Bagaimana mas bisa tahu?!" perempuan itu nampak terkejut.
"Pakaian dan aksesoris yang kamu kenakan, semua berwarna biru!" ucap pria itu. "Lagipula kamu terlihat sangat cantik dengan warna biru!"
Mendengar kata-kata mesra pasangan itu, Lalita merasa iri juga.
Meski Sagara baik terhadapnya, tapi Sagara jarang sekali bersikap manis. Terlebih lagi sekarang, boro-boro bersikap manis, berlaku baik saja tidak!!
"Tolong pasangkan dasinya.." kembali lagi Lalita tak sengaja menguping pembicaraan pasangan itu. "Tiba-tiba tanganku sakit!"
"Mas, tadi baik-baik saja!"
"Tapi sekarang tanganku sakit!"
"Cuupp..."
Lalita kaget. Ia tak menyangka mendengar suara seperti sebuah kec*pan. Sepertinya pasangan itu sedang dimabuk asmara. Bahkan dengan tak tahu malunya mereka bermesraan di depan umum.
Sedikit berbisik, perempuan itu mengeluh.
"Jangan mas!"
"Tidak apa, tidak ada yang melihat!" pria itu meyakinkan, "Aku ingin menandaimu!"
Merasa muak, Lalita mencebik di dalam ruang tunggu. Namun setengah hatinya pun penasaran. Siapa pasangan tidak tahu malu itu?!
Mungkinkah pasangan yang masih muda, ataukah pasangan selingkuh?! Tidak mungkin pasangan suami istri bisa semesra itu. Mengingat dirinya dan Cleve jauh dari kata mesra.
'Ngomong-ngomong tentang Cleve, suara pria itu sangat mirib dengan Cleve!' batin Lalita.
'Ah!! Tidak mungkin!!' Lalita langsung menghempaskan pikirannya itu. Tidak mungkin seorang Cleve Eddison bisa semesra dan semanis itu pada wanita.
Namun semakin lama mendengar pasangan itu, semakin penasaran dirinya. Mereka terdengar saling mengasihi dan sangat mesra.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Lalita mengintip dari balik ruang tunggu. Di depan kasir, ia melihat pria yang tinggi sedang mengantri untuk membayar. Namun karena pria itu tengah berbincang dengan kasir, ia tak melihatnya dengan jelas. Lalita juga tidak bisa melihat wanita yang menjadi pasangannya, karena dihalangi oleh jejeran baju-baju yang tergantung.
Tapi netranya segera membola, saat pria itu berbalik. Dengan jelas Lalita melihat sosok yang sangat dikenalnya. Tak salah lagi, dimana pun ia berada ia akan selalu bisa mengenali pria itu.
__ADS_1
"Cleve?!" gumamnya kaget.
Lalita tak bisa mempercayai pengelihatannya. Ia mengucek-ngucek matanya berulang kali. Siapa tahu kehamilannya membuatnya rabun.
Namun seperti apapun dia melihatnya, itu adalah Cleve. Cleve Eddison!!
'Tidak Mungkin!!' Lalita tak percaya.
Cleve terlihat senang. Matanya tak lepas dari wanita yang direngkuhnya. Ia tertawa dan tersenyum seolah-olah ia menggenggam dunia di tangannya.
Marah, Lalita hendak menghampiri Cleve. Namun sang desainer muncul dan memanggilnya.
Sejenak ia teralihkan oleh panggilan desainer itu. Dan saat ia berbalik untuk memastikan lagi, Cleve dan wanita itu sudah tak terlihat.
****
Nawang meringis saat Cleve berhenti di depan butik yang sangat dikenalnya. Itu adalah butik yang sama, dimana Nawang dan Sagara memesan pakaian pengantin.
Sebenarnya ia ingin menghindar saja, namun sikap Cleve yang begitu hangat. Membukakannya pintu mobil dan membantunya untuk keluar dari mobil. Sungguh membuat Nawang tidak tega untuk menolak.
"Hati-hati" ujarnya manis.
Meski Nawang bukan wanita yang gila dengan perlakuan romantis, tapi sikap Cleve membuat hatinya meleleh.
Sembari merengkuh pinggang Nawang, Cleve berjalan mengiringi kekasihnya.
Saat ia membuka pintu, staf yang berjaga segera menyapa. Namun mereka terkejut saat melihat Nawang-lah yang datang.
"Hai.." sapa Nawang canggung. Berbeda dengan Sagara yang tak suka berinteraksi dengan para staf, Nawang lumayan dekat dengan mereka.
Gadis itu tersenyum dengan ramah. Tapi wajahnya segera berubah, saat melihat Cleve. Ia kaget seperti melihat hantu.
Awalnya, Nawang tak mengerti apa yang terjadi. Tapi saat ia berbincang dengan gadis itu, barulah ia tahu. Alasan kenapa gadis itu terkejut.
"Mbak, maaf aku lancang. Tapi boleh tidak aku bertanya!" ujar gadis itu.
"Iya!" sahut Nawang sambil mengangguk, "Memang kamu mau tanya Apa, Lis?!"
Gadis itu, Lilis bertanya dengan ragu-ragu.
"Mbak sama calon suami mbak, kenapa bisa tukaran pasangan sama pengusaha Cleve Eddison?!" tanya Lilis.
"Huh?! Tukeran pasangan bagaimana maksudnya?!"
"Calon suami mbak bukannya bakalan nikah, sama mantan istri Cleve Eddison. Pria itu kan?!" tanya Lilis. Ia melirik Cleve.
Siapapun juga tahu pria yang diajak oleh Nawang itu adalah Cleve Eddison. Dan tak jarang orang juga mengenali Lalita sebagai mantan istri Cleve.
__ADS_1
Beritanya yang sempat wara-wiri di televisi selama kurang lebih sepekan, telah menjadikan mereka artis.
Meski tak tertarik dengan bisnis ataupun dunia kosmetik, orang-orang akan mengenal pria itu hanya dengan sekali lihat.
"Darimana kamu tahu dia akan menikah?!" tanya Nawang. Berita pernikahan Sagara dan Lalita belum disebar di media. Tidak mungkin orang-orang mengetahuinya.
"Dia kan pesan gaun pengantin disini!" sahut Lilis jujur.
"Oh.." Nawang sedikit kaget. Tapi ia segera memperbaiki ekspresinya.
"Iya bener!!" ujar Nawang kemudian. "Saya dan tuan Cleve kesini juga untuk membeli pakaian yang akan dikenakan kesana! Saya akan menghadiri acara pernikahan mereka!"
Lilis kaget, "Mbak kesana?!"
Nawang mengangguk.
"Sebenarnya ada apa mbak?! Kenapa kalian bisa seperti tukar pasangan begitu?!" tanya Lilis. Ia sangat menyukai Nawang. Nawang adalah salah satu client bosnya yang paling ramah. Lilis berpikir, Nawang dan Sagara akan menikah dan bahagia selamanya.
"Wanita itu hamil kan?! Apa calon suami mbak itu selingkuh?!" Lilis keceplosan. Ia kemudian menutup mulutnya rapat-rapat. Takut telah menyinggung Nawang.
Meski masih rata, perut wanita itu terlihat agak buncit. Tentu saja banyak yang menyadari bahwa Lalita hamil.
Nawang hanya tersenyum sekilas namun tak memberi jawaban. Tapi meskipun tanpa menjawab, sorot mata Nawang yang berubah sendu menyiratkan bahwa itu benar.
Lilis terkejut. Ia hendak bertanya lagi, namun Cleve datang dan bertanya pada Nawang mengenai jas mana yang cocok dengan gaun yang Nawang pilih.
"Kamu akan pilih yang mana?!" tanya Cleve, ia melihat Nawang mencengkeram dua gaun di tangannya. Yang satu berwarna merah dan satu lagi berwarna biru langit.
"Bukankah kamu menyukai warna merah?!" sambung Cleve.
"Huh?!" Nawang kaget. Darimana Cleve tahu warna kesukaannya?!
"Mas tahu darimana?!"
"Kamu sering menggunakan warna merah!" sahut Cleve lugas.
Nawang tersenyum. Ia suka setiap kali Cleve mengingat hal-hal kecil tentangnya.
"Tapi aku rasa warna merah terlalu mencolok untuk digunakan, aku akan memilih yang biru!" ujar Nawang kemudian.
Cleve mengangguk, "Yang mana saja boleh, semua cantik jika kamu yang menggunakannya!"
Nawang tersipu. Bahkan Lilis yang mendengarnya samar-samar ikut malu-malu.
Nawang yang menyadari bahwa Lilis mendengarnya, segera kabur ke ruang ganti. Ia malu bukan kepalang.
Nawang hendak mencoba gaun itu sebelum membelinya. Namun saat ia sampai di ruang ganti, ia mendengar suara mesra milik pasangan di ruang tunggu.
__ADS_1
Nawang yang risih mendengarnya, akhirnya mengurungkan niat untuk mencoba gaun itu. Dan segera mengajak Cleve untuk membayarnya.
Suara-suara mesra yang di dengar Lalita pun sama, itu bukan berasal dari Cleve dan Nawang. Tapi dari ruang tunggu di sebelahnya.