
Nawang tadinya hendak mengunjungi Sagara, tapi ternyata Juni ada disana. Perasaan Nawang campur aduk, ia bahkan tidak bisa menyapa Juni yang telah ia cemaskan belakangan ini.
Saat melihat wajah Juni, Nawang terbayang wajah tunangannya yang serupa. Rasa marah, kecewa dan sakit hati memenuhi dadanya.
Juni yang sedari tadi berdiri di sebelah tubuh Sagara yang terbujur tak bergerak itu, menghambur memeluk Nawang.
Ia sangat merindukan sahabatnya itu, ia sangat ingin mengeluh dan menangis di pundak Nawang seperti biasanya.
"Kok baru muncul?!" Tanya Juni, setelah tangisnya mereda.
"Kamu sudah tahu ya?!" Nawang menggigit bibirnya, berusaha menelan emosinya yang kacau.
Juni mengangguk, "Bodoh! Kamu pikir bisa menipuku?!"
Nawang tersenyum kecut, "Makanya aku tidak menjengukmu!"
Selain karena permintaan dari Agung dan Ria, Nawang juga menahan keinginannya untuk menjenguk Juni, karena ia takut akan mengatakan segalanya saat melihat sahabat nya itu.
Nawang sama sekali tak bisa berbohong pada Juni.
"Pasti sulit untukmu!" Celetuk Juni kemudian, "Pernikahan kalian jadi tertunda, tapi aku yakin.. Sagara pasti akan segera siuman. Dan kalian pasti akan menikah!"
Nawang terpaku, ia menatap Juni sendu.
'Apa aku akan menikah dengannya?!' batin Nawang.
Nawang ragu, apa ia akan melanjutkan rencana pernikahannya dengan Sagara.
Di satu sisi ia mencintai Sagara, tapi di sisi lain ia mulai membencinya.
Nawang berusaha untuk ikhlas. Tapi setiap kali melihat wajah Sagara, gambar-gambar yang ada di dalam smartphone itu memenuhi kepalanya. Seketika ia merasa marah dan kecewa. Ia menjadi tidak nyaman.
'Apa aku bisa menahan perasaan ini seumur hidupku?!' batin Nawang.
Jika ia menikahi Sagara, seumur hidup perasaan tidak nyaman itu akan menghantuinya. Ia takut, hubungan yang awalnya dilandasi oleh hal baik akan berubah menjadi buruk. Nawang tidak menginginkan hal itu.
Melihat Nawang yang tercenung menatap Sagara, Juni merasa pilu. Nawang pasti merasa sangat sedih dan takut. Rasa takut kehilangan orang yang dicintai, cemas akan masa depan yang tak pasti.
Juni secara refleks mengelus kepala Nawang dengan lembut. Berharap sentuhannya mampu menghibur sahabatnya itu.
Namun ternyata, Nawang bukannya tersenyum. Ia menangis tersedu-sedu.
Saat tangan Juni menyentuhnya, perasaan hangat. Perasaan bahwa ia tidak sendirian memenuhinya. Rasa sakit yang telah ia coba tahan, tumpah ruah. Tangisnya pun pecah.
Ingin rasanya ia mengatakan segala keluh kesahnya pada Juni.
__ADS_1
Tapi Juni baru saja pulih, setelah dikhianati oleh suaminya sendiri. Bagaimana perasaan Juni jika mengetahui sahabatnya, dikhianati oleh saudaranya sendiri?!
****
Lalita tidak bisa menahan gejolak amarahnya. Kata-kata Cleve benar-benar menyakiti hatinya.
Meski Cleve tidak mencintainya, apa sedikitpun tak ada rasa marah di hati pria itu?! Bagaimana mungkin ia tidak merasakan apapun, saat melihat gambar-gambar itu?! Setidaknya, Cleve seharusnya merasa kesal kan?! Wanita yang telah bersamanya selama bertahun-tahun, memeluk pria lain di tempat tidur!
"Kenapa dia terlihat biasa saja?! Bahkan dia terkesan tidak peduli!!" Gumam Lalita kesal.
Disaat seperti ini Lalita sangat merindukan Sagara. Jika seperti biasanya, ia akan menghubungi Sagara dan memintanya bertemu. Mereka akan menghabiskan waktu yang bergelora, sehingga Lalita bisa melupakan sakit hatinya.
Namun sekarang pria itu sedang koma!!
Lalita sangat ingin menemuinya. Ia berpikir dengan keras, mencari cara untuk bisa menemui Sagara.
Tiba-tiba muncul ide di benak Lalita ntuk menyelinap menemui Sagara di rumah sakit.
Setelah mendengar bahwa Sagara mengalami koma, Lalita mencari informasi keberadaan Sagara. Dan menemukan bahwa Sagara di rawat di RS. Bima Sakti.
Sebelumnya, Lalita ragu untuk menjenguknya. Ia takut keluarga Sagara akan bertanya perihal hubungannya dengan Sagara.
Namun sekarang Lalita tak peduli lagi. Ia sedang merasa sedih. Ia hanya ingin menemui Sagara, agar kesedihannya segera sirna.
Awalnya Lalita berpikir setelah menemui Sagara, rasa sedihnya akan menghilang. Tapi ternyata ia tambah sedih, melihat Sagara yang biasanya tersenyum lembut ke arahnya, berbaring tak bergerak di ranjang.
Lalita merasa hatinya hancur seketika.
"Sagara..." Lirihnya, sembari mengelus rambut hitam Sagara yang lebat.
Biasanya, pria itu akan mengernyap jika rambutnya disentuh dengan lembut. Tapi sekarang matanya itu tetap terpejam.
Buliran bening meleleh di pelupuk mata Lalita, ia merasa sengsara karena tak bisa bertemu dengan Sagara yang seperti biasanya.
Saat itulah, pintu ruangan terbuka. Dua wanita muda masuk dan kaget saat melihat Lalita duduk di sebelah Sagara.
"Siapa ya?!" Juni orang pertama yang bersuara. "Anda siapa?! Apa anda kenalan saudara saya?!"
Juni dan Sagara adalah kembar, pergi kemanapun bersama-sama. Juni tau benar siapa teman, sahabat, kekasih ataupun musuh saudaranya. Tapi siapa ini?! Juni tidak pernah ingat telah mengenalnya.
"Ah, maaf!" Lalita segera bangkit dari duduknya, "Saya Lalita, saya kenalannya!"
"Kenalan?! Kenalan darimana ya?!" Tanya Juni curiga.
"I-itu.. saya istri dari CEO 'Cleve', apa anda pernah mendengarnya?!" Tanya Lalita, "Kami bertemu di sebuah acara televisi saat itu. Kami sama-sama diundang sebagai pengisi acara di sebuah stasiun televisi swasta!"
__ADS_1
"Oh.. 'Cleve' yang itu!!" Juni langsung tahu. Cleve adalah brand kosmetik yang sangat disukai Nawang. Sahabatnya bahkan bermimpi untuk masuk ke dalam perusahaan itu. Bagaimana mungkin Juni tidak tahu.
"Saya tidak menyangka akan kedatangan tamu berharga seperti anda!" Ucap Juni menunjukkan keramah tamahan.
"Ah.. saya mendengar kenalan saya mengalami musibah, tentu saja saya datang untuk menjenguknya!" Ujar Lalita.
"Wah.. sepertinya kalian cukup dekat!" Seru Juni,
"Apa kau kenal juga Nawang?!"Juni bertanya pada Nawang.
Nawang yang sejak tadi hanya diam dan meneliti setiap gerak-gerik Lalita, kemudian menjawab.
"Tentu, kau tidak akan menyangka sedekat apa mereka!" Ujar Nawang kemudian.
****
"Anda harus mengosongkan bangunan ini pak!!" Ungkap seorang pria dengan setelan jas lengkap. Ia datang pagi-pagi sekali ke klinik kecantikan yang dimiliki Eric dan memaksa bertemu dengan Eric.
Pria itu datang bersama dua orang pria bertubuh besar dan tegap. Mereka menatap Eric dengan tatapan tajam yang mengancam.
"Ada apa ini?! Kenapa tiba-tiba?!" Tanya Eric gelagapan.
"Tanah ini milik tuan Agung Adyatama, beliau meminta pengosongan bangunan selama 24 jam ke depan!" Ujar pria itu lagi. "Jika tidak, anda akan dituntut karena telah mendirikan bangunan tanpa izin, di tanah hak milik orang lain!"
"Apa?! Saya adalah menantunya!" Ujar Eric kemudian, "Dia sendiri yang mengizinkan pembangunan. Bagaimana sekarang bisa seperti ini?!"
"Apa anda memiliki bukti sewa atau perjanjian semacamnya?!" Tanya pria itu kemudian.
Eric terhenyak. Tentu saja ia tidak punya! Mertuanya itu hanya berkata secara lisan, tidak ada surat perjanjian apapun.
"Tidak..." Sahut Eric lesu.
Ia kemudian mengerti. Ini adalah balasan dari perbuatannya pada Juni. Mertuanya ingin menyulitkannya dengan cara ini.
'Apa dia pikir, aku akan menyerah hanya karena hal ini?!' batin Eric.
Eric pikir mertuanya itu berusaha untuk mengembalikan Eric pada putrinya, sehingga menyiksanya seperti ini.
Ia yakin Juni yang meminta ayahnya melakukan hal ini. Wanita itu pasti menginginkannya kembali.
Namun Eric sudah tidak mencintainya lagi. Hanya Dina yang ada di hatinya saat ini.
Meski Juni ataupun ayahnya menghalangi, Eric tak akan gentar. Ia akan tetap menceraikan Juni dan menikahi Dina pada akhirnya.
Ia berpikir Juni dan juga ayahnya adalah orang yang picik, yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya.
__ADS_1
'Tidak masalah, aku bisa mencari tempat lain untuk membangun klinik!' batin Eric.
"Saya harap anda mengosongkan tempat ini segera!" Ujar pria itu tegas.