Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 64


__ADS_3

Seolah telah terhipnotis, Nawang mengikuti saja, saat Cleve menarik tangannya keluar dari aula pesta.


Tangan Cleve yang hangat menuntunnya menuju ke pelataran parkir. Nawang bertarung dengan dirinya sendiri, ia sebenarnya tidak mau melakukan apa yang diucapkan oleh Cleve tadi. Tapi hatinya malah berdebar dengan kencang, memikirkan apa yang akan mereka lakukan.


Punggung Cleve yang lebar menciptakan ilusi, yang membuat perasaan Nawang bergejolak. Ia tak bisa menahan rona di wajahnya yang kian memanas.


Saat suasana sekitar terasa semakin sepi. Dan suara-suara bising menghilang. Langkah Cleve melambat.


Seolah sudah mengetahui apa yang terjadi selanjutnya, Nawang memasrahkan dirinya saat Cleve menariknya ke dalam dekapannya.


"Aku mencintaimu, Nawang!" bisik Cleve. Ia menatap sayu pada wanita di depannya. "Bolehkah aku...?!"


Namun belum sempat Cleve menyelesaikan kata-katanya, Nawang memalingkan wajahnya. Ia malu saat matanya beradu dengan Cleve.


Cleve yang melihat tingkah malu-malu Nawang, tersenyum. Tanpa bertanya lagi, ia mengec*p bibir Nawang.


Nawang terkejut! Namun belum habis keterkejutannya itu, Cleve kembali menc*umnya dengan pelan.


Nawang yang tadinya tegang, berubah rileks seketika, saat daging tak bertulang itu menyapunya dengan lembut.


Nawang hampir kehabisan nafas, namun Cleve menghentikan aksinya tiba-tiba. Nawang yang kaget, menatap Cleve bingung dengan bibir yang terbuka.


Cleve menatap Nawang sayu, senyum puas tersungging di bibirnya dengan lebar.


"Masih mau lagi, tidak?!" tanyanya.


Nawang terkesiap. Ia segera memalingkan mukanya. Berusaha untuk lari, kabur dari situasi. Namun tangannya masih dicengkeram oleh Cleve. Dengan sekali sentakan, Cleve menarik tubuh Nawang kembali ke dalam dekapannya.


"Mau pergi kerumahku?!" tanya Cleve.


"Kerumah mas?!" Nawang kaget, ia gelagapan. Bingung dengan tujuan Cleve. "Untuk apa?!"


"Kamu maunya apa?!" alih-alih menjawab, Cleve balik bertanya.


"Huh?!" Nawang kaget. Ia menatap Cleve dengan pupil yang membulat.


Cleve menyeringai. Ekspresi Nawang selalu membuatnya terhibur.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh!" ujar Cleve, ia menyentil hidung Nawang dengan jarinya. "Aku ingin mengenalkan mu pada kakek!"


"Mengenalkan saya pada kakek?!" Nawang terkejut. "Untuk apa?!"


"Aku ingin mengenalkan calon istriku pada kakek!" bisik Cleve.


****


Bunga mawar merah bertebaran di setiap sudut ruangan. Di atas ranjang mewah itu terdapat dua buah hiasan angsa putih yang tengah memadu kasih.

__ADS_1


Nuansa mal*m pert*ma yang kental menyelimuti kamar Sagara. Kamar yang sebelumnya adalah kamar berantakan pria bujangan, telah disulap menjadi kamar pengantin.


Namun berbeda jauh dari getaran romantis yang diciptakan ruangan itu, kedua pengantin malah diselimuti oleh awan gelap.


Seolah langit tengah mendung dan hujan akan segera turun, baik Sagara mau pun Lalita memasang raut keruh.


Sagara tak bisa melupakan ucapan Nawang yang mengungkapkan bahwa ia mencintai Cleve. Sementara itu, Lalita sendiri tak bisa melepaskan pikirannya dari sikap romantis Cleve pada Nawang.


Bagaimana ini terjadi?! Kenapa bisa seperti ini?!


Kata-kata itu berputar mengelilingi kepala Sagara dan Lalita.


Lama mereka hanya diam, termangu di sisi tempat tidur. Sampai, Sagara bangkit dan mengambil satu buah bantal dan juga selimut.


"Aku tidur di luar!" putus Sagara.


Tanpa menjawab ataupun bereaksi, Lalita bergeming, ia menatap kosong ubin di bawah kakinya.


Sementara dua sejoli yang baru saja menikah itu tengah dilanda oleh kegelisahan. Dua sejoli lainnya juga tengah dilanda oleh keresahan. Namun itu sesuatu yang sedikit berbeda.


Cleve serius dengan keinginannya untuk mengenalkan Nawang dengan kakeknya. Tapi tidak sekarang!! Ini sudah terlalu larut untuk menemui seorang pria tua.


Cleve hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama dengan Nawang. Sehingga ia menggunakan kakeknya sebagai dalih.


Padahal Thomas sendiri tak sedang berada di rumah. Thomas pergi ke luar kota untuk menghadiri acara pernikahan cucu dari sahabatnya.


Kemungkinan besar, Thomas tak akan kembali malam ini. Pria tua itu mungkin akan menginap di hotel dekat sana.


Ini pertama kalinya ia merasa gugup, saat bertemu dengan keluarga dari kekasihnya.


Sebelumnya, Nawang tak pernah merasakan hal ini. Terutama saat berpacaran dengan Sagara, yang notabene seluruh keluarganya telah ia anggap sebagai keluarganya sendiri.


Namun entah kenapa, kali ini ia takut jika tiba-tiba kakek Cleve tidak menyukainya. Seketika ia merasa minder. Nawang sepertinya ingin kabur, namun ia tak bisa melakukannya karena Cleve terlihat sangat senang.


"Kenapa diam saja, sayang?!" tanya Cleve, "Masih memikirkan yang tadi?!"


Nawang yang tadinya sedang melamun langsung tersentak kaget.


"Mas!!" pekiknya. Ia seketika merona. Mengingat apa yang mereka lakukan di parkiran tadi.


Untung saja parkiran disana sepi. Kalau tidak, betapa malunya ia. Apalagi itu adalah tempat umum. Bagaimana orang akan melihat mereka nanti?! Bisa-bisa keesokan harinya, sudah ada ribuan berita yang muncul. Terkait betapa memalukannya perbuatan pengusaha Cleve Eddison dan kekasihnya.


"Tenang saja, kakek orang yang ramah!" ujar Cleve, membuyarkan lamunan Nawang.


Nawang memicing, ia melayangkan tatapan tidak percaya pada Cleve.


Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Cleve begitu dingin dan kaku, bagaimana bisa kakeknya begitu ramah?!

__ADS_1


Nawang mengira, Cleve hanya sedang berusaha menghiburnya. Dan berbohong tentang kakeknya.


"Sungguh!" seru Cleve. Ia terkekeh saat melihat lirikan maut Nawang lagi.


"Apa kamu takut?!" duga Cleve.


Nawang mengangguk, "Takut kakek tidak menyukaiku!"


Cleve tersenyum, ia merapatkan jemarinya yang bertautan dengan jemari Nawang.


"Tenang saja, dia sudah menyukaimu bahkan sebelum bertemu denganmu!" ucap Cleve yakin.


Nawang mengernyit, "B-bagaimana bisa?!"


****


Niat hati ingin meneror Odelia, namun dirinyalah yang merasa seolah diteror.


Bagaimana tidak?! Setiap kali Zeline berdiri di depan pintu ruang rawat inap itu. Selalu saja ada orang yang muncul dan membuatnya terganggu.


Sebelumnya, Abraham. Lalu seorang security yang tengah berjaga dan kini kembali, seorang wanita asing yang aneh. Berkeliaran dengan gaun abu-abu dan penampilan berantakan.


Hampir saja jantung Zeline copot, mengira wanita itu hantu.


Zeline merasa geram juga. Ada-ada saja orang yang mengganggu rencananya.


Zeline berniat meneror Odelia dan membuat Odelia ketakutan. Ia ingin Odelia mengalami gangguan mental.


Orang yang tengah mengalami kanker, memiliki kondisi psikis yang tidak stabil. Zeline mengetahuinya dari pengalamannya pada suaminya.


Zeline berpikir, jika ia menakut-nakuti Odelia maka Odelia akan kehilangan kewarasannya. Dan menyerah akan hidupnya. Namun sulit untuk mengguncang wanita itu!


Wanita itu acuh tak acuh terhadap ancaman pesannya, bahkan tak pernah takut saat diawasi setiap malam. Malah sepertinya, Odelia balik menantangnya.


Zeline benar-benar dongkol. Ia sudah tidak sabar melihat wanita itu mati. Zeline ingin Abraham segera terbebas dari Odelia.


Mudah bagi Zeline untuk membunuhnya dengan racun atau obat-obatan. Dia bisa menyewa seseorang untuk melakukannya, kapan saja. Dengan uang yang ia punya, menyewa satu atau dua orang pembunuh bayaran sangatlah mudah.


Namun Zeline tak mau memunculkan kecurigaan. Ia juga tak mau meninggalkan bukti atau saksi. Ia tak ingin menggunakan sesuatu yang memicu pada perbuatan kriminal. Dan membuatnya di penjara.


Kelakuan isengnya itu saja, ia lakukan dengan hati-hati. Ia bahkan membeli sebuah ponsel dan nomor asing di pasar gelap, hanya untuk mengancam Odelia. Jika sewaktu-waktu wanita itu melaporkannya, ia tinggal menghancurkan ponsel itu. Dan perbuatannya tak akan pernah terlacak.


"Bagaimana caranya membuat wanita itu terguncang ?!" gumam Zeline kemudian.


Zeline tiba-tiba teringat suaminya. Suaminya juga mirib dengan Odelia. Ia sangat kuat dalam bertahan hidup, padahal tubuhnya sudah hancur digerogoti penyakit.


Nicky baru terguncang saat Zeline mngekspos pers*lingk*hannya!!

__ADS_1


"Ha...!!" Zeline tertawa nyaring. Ia menemukan caranya, "Bagaimana ya... apa dia juga akan terguncang seperti suamiku, jika berada di situasi yang sama?!"


Membayangkan ekspresi Odelia yang tumpang tindih dengan suaminya, Zeline merasa sangat puas.


__ADS_2