
Hanya dalam semalam, Dina berubah dari seorang pelakor menjadi j*l*Ng G*la, cuma karena sebuah komentar.
Komentar dari akun 'Mamane Brandon' yang menjadi sorotan, telah menuduhnya mengumbar aibnya sendiri. Akun itu menuding Dina merupakan pemilik akun anonim, yang telah menyebarkan aib perselingkuhan itu pertama kali ke media.
Meski itu hanya tudingan belaka, namun alasan-alasan yang dijelaskannya sangat masuk akal. Sehingga banyak orang yang menyetujui pendapatnya. Alhasil ribuan komentar jahat yang lebih pedas, yang lebih kejam, masuk memenuhi sosial media Dina.
Tak tanggung-tanggung, meski kolom komentarnya ditutup. Ada banyak orang yang menerornya melalui kontak pribadi. Tak hanya di dalam dunia Maya, di dunia nyata pun Dina mengalami hal yang sama. Para tetangganya mulai menghina dan mencibirnya, bahkan terang-terangan mengecamnya setiap kali bertemu.
Dina bahkan tidak berani keluar apartemennya hanya untuk membeli bahan makanan.
Setiap kali berpapasan dengan orang-orang, Dina akan merasa tidak nyaman. Berpikir bahwa orang itu tengah menghujatnya. Padahal sebenarnya tidak!!
Dina benar-benar merasa kesulitan. Ia kebingungan, putus asa dan kesepian. Tak ada satu pun teman yang datang untuk menghiburnya.Ia merasa sendirian, terjebak dalam masalah yang ia yakini tak memiliki jalan keluar.
Dina tanpa disadari olehnya telah menderita depresi mayor, kondisi yang sama dengan Juni sebelum akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.
Sedangkan Eric, memiliki kondisi yang tak jauh berbeda dari Dina. Sidang kedua perceraiannya juga membuatnya terpuruk.
Ia sangat ingin kembali pada Juni. Namun Juni tak sedikitpun menunjukkan keinginan untuk rujuk. Ia malah terlihat sangat yakin untuk berpisah.
Eric yang tengah frustasi setelah aib perselingkuhannya tersebar, merasa sangat emosional. Ia teringat masa lalu saat Juni menemaninya, selangkah demi selangkah untuk maju. Berjuang meraih mimpinya dengan sabar.
Eric merindukan sosok Juni yang tak pernah melepaskannya, meski Eric bukanlah manusia yang sempurna.
Eric sangat menyesali kebodohannya yang telah membuang wanita yang telah menjadikannya seorang manusia demi kesenangan sesaat.
"Maafkan aku, Juni!" ujar Eric, saat ia mendapat kesempatan berbicara dengan Juni.
"Jangan meminta maaf!" ujar Juni, "Karena aku tak bisa memaafkan mu!"
Eric tersentak, ia kaget mendengar ucapan Juni yang tak terkira. Ia pikir Juni telah memaafkannya. Karena pada pertemuan sebelumnya, Juni bersikap biasa saja. Tak terlihat marah atau jengkel padanya.
"Jangan salah paham!" tegas Juni, "Aku menjaga sikapku karena tak ingin membuat masalah. Aku tak ingin putriku kelak, hanya menemukan aib kedua orang tua mereka saat menelusuri masa lalu. Bukannya aku memaafkan mu!"
"Tapi Juni...aku.. benar-benar...menye.. " Eric terbata, ia ingin mengungkapkan betapa menyesalnya ia. Namun Juni menyelanya.
"Apa yang kau lakukan padaku tak akan pernah termaafkan! Jadi jangan pernah meminta maaf padaku, aku tak bisa memberinya padamu!" sambung Juni. Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan emosinya yang membuncah.
Meski ia merasa lega karena telah mengungkapkan semua yang ingin ia katakan. Juni merasa pahit!
Panas menyeruak, wajahnya seolah terbakar. Dan semburan melesak di sudut matanya. Berusaha menahan emosinya yang bergejolak, Juni memejamkan matanya kuat-kuat.
__ADS_1
"Bawalah semua penyesalan mu! Itu hukuman untukmu!" pungkas Juni dengan suara bergetar.
*****
Setelah di desak berkali-kali oleh Sagara untuk makan malam bersama, akhirnya Nawang terpaksa mengiyakannya juga.
Bertempat di sebuah restaurant Italia, Nawang dan Sagara menikmati makan malam romantis ditemani wine kelas atas yang manis.
"Juni bilang, aku melamar mu disini!" celetuk Sagara tiba-tiba. Ia menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong steak dengan pisau. Dan menatap Nawang intens. "Dari begitu banyaknya kenangan, aku menyesal karena telah melupakan moment penting itu, Nawang!"
Nawang yang duduk di depan tunangannya itu, hanya tercenung. Menatap Sagara dengan tatapan kosong. Tak ada apapun yang terlintas di benaknya saat mendengar pernyataan Sagara itu.
Pria itu mengatakan bahwa ia melupakan momen saat dirinya melamar Nawang. Dan ingin mengingatnya kembali dengan mengunjungi tempat dimana momen itu terjadi.
"Tak apa, itu bukan kesalahanmu!"Sahut Nawang kemudian. "Kamu juga tidak melakukannya dengan sengaja! Lagipula itu hanya sebuah kenangan, cepat atau lambat juga akan terlupakan!"
Sagara menggeleng, ia tak setuju dengan ucapan Nawang."Tidak, Nawang! Bagiku kenangan diantara kita sangatlah berharga, aku tak ingin melupakannya begitu saja!"
"Memang sulit bagiku untuk mengingatnya kembali, tapi aku bisa membuat ulang kenangan itu lagi!" Ucap Sagara dengan senyum yang terukir di bibirnya.
Seketika, Sagara bangkit dari duduknya kemudian berlutut tepat di depan Nawang. Ia mengeluarkan kotak merah kecil dari sakunya dan menyodorkannya tepat di hadapan Nawang.
Sebuah cincin berlian berkilau menyembul, mengintip dari balik kotak.
Nawang terhenyak. Ia tidak menyangka Sagara akan melakukan hal ini! Ia menatap Sagara dalam diam. Tak mampu bereaksi sama sekali.
Sementara itu, beberapa orang yang juga sedang menikmati makan malam disana, tertarik untuk memperhatikan jawaban Nawang. Mereka melirik Nawang dengan tatapan penasaran.
Nawang menghela nafas berat,
"Kau sudah memberiku satu cincin! Untuk apa cincin lainnya?!" tolak Nawang halus, saat Sagara berusaha menyematkan cincin itu di jari manisnya yang lain.
"Cincin ini kan pengikat antara aku dan kamu!" ucap Sagara, ia tetap menyematkan cincin itu dengan paksa di jari Nawang. "Semakin banyak ikatan, semakin bagus bukan?!"
Mendengar kata-kata yang dilayangkan oleh Sagara, Nawang mendengus pelan, "Untuk apa ada banyak 'pengikat', jika kau tak bisa memahami esensi dari ikatan itu sendiri?!"
Nawang menatap cincin di jarinya itu dengan hati yang kacau balau.
'Untuk apa membuat kenangan?! Untuk apa menyematkan banyak cincin?! Untuk apa pengikat itu?!' batin Nawang, 'Padahal itu tak ada gunanya. Toh, meskipun mengingat kenangan itu dan bahkan menggunakan cincin itu, kau tetap saja berselingkuh!!'
"Apa maksudmu?!" tanya Sagara bingung. Ia kemudian bangkit setelah berlutut beberapa saat.
__ADS_1
"Tidak..." sahut Nawang, "Lupakan itu! Aku cuma asal bicara!"
"Nawang, apa kamu marah?!" tanya Sagara, "Aku merasa ada yang berbeda dari sikapmu padaku!"
"Tidak...! " elak Nawang, "Aku tidak marah! Bagaimana bisa aku marah pada orang yang sakit?!"
"Aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku! Aku sudah mengenalmu sangat lama! Kau tak bisa membohongiku" pungkas Sagara
Mendengar ucapan Sagara, Nawang bimbang. Ia sedang menimbang, apakah ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan semuanya?!
Sementara Nawang tengah bimbang, seorang pria tengah mengawasi Nawang dan Sagara dengan perasaan 'aneh' yang membuatnya tak nyaman.
Sejak tadi, ia ingin menerjang ke arah mereka dan menarik gadis itu dari sana. Namun ia menahan hasratnya karena tengah bersama kakeknya.
"Cleve, apa kau tidak menyukainya?!" tanya Thomas mengacu pada makanan yang tengah disantap Cleve. Cucunya itu sama sekali tak memasukkan makanan itu ke mulutnya, Cleve hanya mengaduk-aduknya tak karuan.
Linglung Cleve menjawab kakeknya, "Bukan begitu, aku sudah kenyang. Tadi sempat makan dengan pak Haris!"
Thomas terkejut mendengar Cleve menyebut, makan malam dengan Haris.
Haris Dewangga, ayah Lalita yang tengah mengincar posisi sebagai gubernur tahun ini.
Biasanya Cleve enggan menemui Haris, karena pria itu terus memaksa Cleve masuk ke dunia politik. Tapi sekarang apa?! Makan bersama?!Apa itu mungkin??
"Kau?! Makan dengan Haris?!" Thomas bertanya-tanya, "Ada apa?! Apa ada yang terjadi?!"
"Tidak.. hanya saja.. aku akan menceraikan Lalita, aku ingin menyampaikannya secara langsung padanya, aku tak ingin ada salah paham!!" ujar Cleve.
Thomas takjub pada cucunya. Bahkan dengan semua perbuatan Lalita pada Cleve, Cleve tetap menghargai istri dan mertuanya itu.
"Kakek bangga padamu!" ungkap Thomas.
Namun jauh berbeda dari apa yang dipikirkan oleh Thomas, Cleve menemui Haris bukan untuk menunjukkan betapa ia menghargai mertuanya. Namun untuk membungkam mertuanya itu.
Sebelum Lalita sempat mengadu pada ayahnya, dan membuat sedikit drama, Cleve bergerak cepat dan menemui Haris lebih dulu.
Cleve mengancam Haris sama seperti ia mengancam Lalita. Hingga membuat Haris diam tak berkutik.
Haris berniat maju sebagai kandidat gubernur dalam Pilgub tahun ini. Sedikit saja skandal akan mempengaruhi reputasinya. Apalagi ini berkenaan dengan perselingkuhan. Hal yang sangat sensitif bagi berbagai kalangan. Tentu saja Haris tak bisa berbuat apa-apa. Padahal ia sangat membutuhkan kekuatan finansial Cleve, untuk mendukungnya dalam kampanye.
Cleve melakukan segala macam cara agar bisa melepaskan belenggu Lalita darinya. Namun orang yang seharusnya juga merasakan hal yang sama dengannya, malah makan malam romantis dan melakukan lamaran?!
__ADS_1
'Apa yang terjadi?! Apa dia berubah pikiran?!' batin Cleve. Ia menatap Nawang yang tengah makan malam dengan bahagia disana.
Cleve merasa sangat aneh, ia merasa emosinya memuncak. Ia marah dan kecewa, seolah-olah orang kepercayaannya telah menghianatinya.