Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 21


__ADS_3

"Maaf nona, anda tidak bisa parkir disini!!" seorang pria, petugas keamanan gedung 'Cleve' menegurnya.


"Ah, S-saya mohon maaf!" sahut Luna gagap.


Ia benar-benar malu. Nawang segera melajukan mobilnya dan pergi dari sana.


Ia akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Namun di tengah perjalanan, ia menerima panggilan dari ibunya.


"Hallo ma!!" Ujar Nawang menyapa ibunya.


"Mama dengar Sagara sudah sadar!" Ucap Karina dari seberang sambungan. "Mama ingin menjenguknya juga!"


Nawang kaget, bagaimana ibunya tahu begitu cepat?!


"Oh?! Kapan mama mau jenguk Sagara?!" tanya Nawang kemudian.


Karina, ibu Nawang sejak beberapa bulan lalu tinggal di luar kota. Ia sedang disibukkan dengan butik barunya.


Setelah kematian papanya, Nawang dan ibunya mengalami banyak hal. Melalui beragam proses hingga akhirnya bisa seperti sekarang.


Bisnis ibunya yang sebelumnya hanya butik kecil dengan sedikit pelanggan, berubah menjadi butik besar yang sukses. Bahkan sekarang sudah membuka beberapa cabang di beberapa kota.


"Mungkin lusa!" Sahut mamanya, "Masih ada yang perlu mama kerjakan disini. Mama juga harus cari supir nih, buat anter mama kesana!!"


Ibunda Nawang tidak bisa menyetir dengan jarak perjalanan yang jauh, ia cepat mengantuk dan sering tertidur. Sangat beresiko jika harus berkendara sendirian.


"Bagaimana kalau Nawang yang jemput mama?!" Tanya Nawang.


"Ah, jangan! Jauh, nanti kamu capek!" tolak mamanya.


Namun Nawang bersikeras. Dengan alasan akhir pekan dan ingin melihat butik batu ibunya, Nawang akhirnya berhasil mendapatkan izin dari ibunya.


Alhasil gadis itu berangkat menuju luar kota untuk menjemput ibunya, tanpa mengatakan pada siapapun.


Nawang mengabaikan panggilan Juni dan keluarganya, bahkan panggilan dari Odelia. Entah kenapa untuk saat ini, ia ingin menghindar dari semuanya dan ingin merasakan kebebasan walau hanya sebentar.


Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam lebih, ia akhirnya sampai di butik ibunya. Saat ia masuk, ia merasakan nuansa familiar seperti dirumah. Di setiap sudut ada sentuhan ibunya. Pernak-pernik yang merupakan favorit ibunya. Nawang merasakan perasaan akrab yang membuatnya nyaman.


"Nawang!" Suara manis yang selalu membuat Nawang merasakan ketenangan, menyapanya.


"Mama!" seru Nawang.

__ADS_1


Di meja kayu kecil dengan tulisan cassier, seorang wanita paruh baya dengan mengenakan dress dan blazer hitamnya tersenyum menatap Nawang.


"Ayo duduk dulu!" ujar mamanya sembari menarik tangan anaknya menuju kursi yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri, "Kamu pasti capek! Kenapa pake maksa mau jemput mama segala!!"


"Gak capek kok ma!" sahut Nawang, "Kan sekalian aku mau lihat butik baru mama!!"


Karina hanya bisa menggeleng mendengarkan celotehan anaknya, "Tumben kamu kepo sama butik mama! Biasanya tidak tuh?!"


"Apa kamu lagi ada masalah?!" imbuh Karina mengira-ngira.


Nawang menggeleng pelan. Ibunya itu memang peka. Nawang sebenarnya ingin mengatakan yang sebenarnya pada ibunya, sekalian ingin meminta pendapat ibunya mengenai rencana pernikahannya.


Namun Nawang merasa ini bukan waktu yang tepat.


Meski mungkin ibunya akan terluka setelah mendengar kebenarannya, Nawang ingin ibunya tahu apa yang terjadi. Mengingat ibunya sangat peka. Ia juga tidak bisa selamanya berbohong pada ibunya.


"Gak ada apa-apa mamaku sayang!!" seru Nawang, "Memang Nawang tidak boleh datang kesini?! Nawang kan kangen sama mama!"


Karina mendecih, seumur-umur selama apapun Karina pergi. Nawang tak pernah berusaha menemuinya. Palingan hanya menelepon beberapa kali dalam sebulan. Nawang adalah workaholic yang langsung melupakan segalanya saat memulai pekerjaan.


"Tak percaya aku!" goda mamanya.


Melihat tingkah mamanya itu, Nawang hanya bisa terkekeh.


Rencananya sih begitu. Setelah bersih-bersih dan menutup toko, mereka akan langsung tancap gas. Namun manusia hanya bisa berencana, karena yang menentukan akhirnya adalah Tuhan.


Tepat sebelum mereka menutup toko, seorang pelanggan VIP, kenalan ibunya datang.


"Saya tidak menyangka anda juga memiliki cabang disini!" pria itu, berkata dengan ramah. Senyumnya itu, yang sempat dilihat Nawang beberapa hari lalu kembali lagi menggantung di netra Nawang.


"CEO Cleve?!" seru Nawang kaget.


"Nawang?!" Cleve juga kaget.


"Oh tuan Cleve, apakah anda mengenal putri saya?!" Tanya Karina kemudian.


Karina dan Cleve bertemu saat Sandrina didapuk menjadi brand ambassador Cleve, saat itu Cleve yang masih sangat muda sudah menjabat sebagai CEO setelah kematian ayahnya.


Meskipun waktu telah berlalu dan mereka tak pernah lagi bertemu, namun saat Cleve mengunjungi butiknya. Secara ajaib Cleve masih mengingatnya.


'Anda nyonya Karina?! Kakak dari nona Sandrina, benar?!' Karina masih mengingat kata-kata Cleve hari itu.

__ADS_1


Dan semenjak hari itu, beberapa bulan sekali Cleve akan berkunjung dan membeli beberapa setel jas.


Anehnya, meski sering berkunjung. Tak pernah sekalipun Cleve bertemu dengan Nawang.


"Ah, ternyata Nawang putri anda! Saya tidak menyangka!!" tanya Cleve, "Kami bekerja di bidang yang sama, tentu kami saling mengenal!"


"Ah! Benar!!" Karina sempat lupa anaknya juga bekerja di bidang yang sama seperti Cleve. "Saya sampai lupa!"


"Bagaimana anda bisa sampai disini?!" tanya Nawang yang penasaran,


'Jangan bilang dia membuntuti ku lagi?!'batin Nawang GeEr.


Namun jika dipikir-pikir, siapapun pasti akan curiga. Sangat mustahil bagi dua orang yang saling mengenal, bertemu di sebuah butik di luar kota secara kebetulan.


"Toko saya ada di ujung jalan!" ujar Cleve sembari menunjuk ke ujung jalan, "Kebetulan saya melihat butik yang familiar, jadi saya berkunjung!"


Cleve memang terkadang mengecek situasi setiap toko miliknya. Dan hari ini kebetulan adalah tokonya di daerah ini. Ia yang hendak kembali pulang, melihat butik baru itu. Dan berkunjung begitu saja.


"Oh..." wajah Nawang memerah. ia malu pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia berfikir seperti itu?! Untung saja ia tidak mengungkapkan isi pikirannya tadi. Kalau tidak, dia mungkin akan lebih malu dari ini.


"Kenapa anda ada disini?!" tanya Cleve kemudian. Menatap Nawang penasaran.


Alih-alih Nawang, Karina lah yang menjawab.


"Menantu saya yang sakit telah pulih, saya ingin menjenguknya!" sahut Karina. Ia memang suka menyebut Sagara sebagai menantu! Baginya pernikahan Sagara dan Nawang adalah berkah. Siapa lagi yang lebih dikenal Nawang melebihi Sagara, dan tak ada anak laki-laki yang lebih dikenal oleh Karina daripada Sagara.


Selama bertahun-tahun memperhatikan Sagara sejak kecil, Karina yakin Sagara akan membahagiakan putrinya. Sehingga tanpa keraguan, ia telah menjadikan Sagara sebagai menantunya.


'Menantu?!' Cleve berfikir. Namun setelah mendengar kata sakit dan pulih. Secara kasar Cleve memahami maksudnya.


Sagara telah sadar dari komanya. Cleve melirik Yoshi sekilas, Yoshi yang peka langsung memahaminya dan mengangguk pelan.


"Begitu..." ujar Cleve, "Apa saya mengganggu waktu anda?! Kalau anda terburu-buru, saya akan berkunjung di lain waktu!"


"Tidak tuan!" Ujar Karina, "Anda bisa melihat-lihat! Nawang masih lelah setelah perjalanan jauh, dia masih membutuhkan waktu untuk rehat sejenak!!"


Setelah diberikan izin untuk melihat-lihat, Cleve langsung menuju ke jejeran jas yang terpajang di sebelah kanan. Pria itu tidak begitu pemilih, ia mengambil apa yang dilihatnya begitu saja.


Namun anehnya, apapun yang ia kenakan selalu membuatnya terlihat tampan.


Mungkin karena usianya yang matang, ia terlihat sangat berkharisma saat mengenakan setelan jas.

__ADS_1


'Orang ganteng memang beda!' batin Nawang. Ia melirik Cleve dengan ujung matanya. Ia gengsi jika menatap pria itu terang-terangan.


__ADS_2