Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 85


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak ikut mama sama papa?!" tanya Sagara saat melihat Lalita ada di ruang tengah. Ia pikir Lalita mengikuti ayah dan ibunya menghadiri undangan pernikahan Cleve dan Nawang.


Lalita menghela nafas berat, meski ia sudah bersiap. Mengenakan gaun paling indah yang ia punya, dan bertekad untuk menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Namun tetap, Lalita tak memiliki keberanian untuk melihat Cleve bersanding dengan wanita lain di pelaminan. Ia takut kehilangan kontrol akan dirinya, dan mengungkap kelemahannya di depan banyak orang.


Meski Cleve telah mengabaikan dan menyakitinya, meski ia telah menghianati Cleve dan menikahi Sagara. Perasaan Lalita pada Cleve masih tetap ada.


Cleve adalah pria yang ia cintai langsung pada pandangan pertama. Pria yang membuatnya merasakan perasaan paling berkesan dalam hidupnya.


Mengingat debaran yang ia rasakan pada hari itu, Lalita tenggelam dalam gejolak perasaannya, hingga tak menjawab pertanyaan Sagara.


Sagara yang memahami perasaan Lalita hanya bisa mendengus pelan. Sepertinya dirinya dan Lalita terjebak di dalam perasaan yang sama.


"Sekarang barulah aku sadar, bahwa apa yang kita lakukan adalah kesalahan besar!" ujar Sagara kemudian.


Awalnya Sagara percaya, jika sewaktu-waktu Nawang mengetahui perselingkuhannya. Ia yakin Nawang akan memaafkannya, dan mereka akan tetap menikah pada akhirnya.


Tak terbersit di benak Sagara, bahwa Nawang akan membatalkan semua rencana yang telah mereka siapkan matang-matang. Dan pergi meninggalkannya.


Begitupun dengan Lalita. Mengetahui sifat Cleve yang tak pedulian, ia yakin Cleve tak akan pernah menceraikannya meski ia berselingkuh sekalipun. Ia yakin selamanya akan menjadi istri Cleve.


Lalita tak menyangka hal iseng yang ia lakukan, menjadi bumerang untuknya.


"Aku pikir, meski menghianatinya...ia akan tetap menjadikanku istrinya! Tapi ternyata tidak...." gumam Lalita. "Aku tidak menyangka, pria yang tak punya hati seperti dia juga bisa jatuh cinta!"


Sagara terdiam, ia memikirkan apakah Nawang juga?! Apa Nawang sangat mencintai Cleve, melebihi dirinya?!


Selama mereka berpacaran, Nawang begitu menjaga jarak darinya. Mereka memang terkadang berciuman atau berpelukan. Tapi selalu dirinya yang memulai duluan. Tak pernah sekalipun Nawang melakukan atas inisiatifnya sendiri. Nawang hanya menerima semua yang Sagara lakukan padanya.


Samar-samar mungkin Sagara menyadarinya, namun ia terus menepisnya. Mungkin itu juga yang membuat Sagara memiliki rasa cemburu yang teramat besar, pada setiap pria yang menaruh hati pada Nawang. Ia takut sewaktu-waktu Nawang di curi darinya.


Namun bukannya membuat Nawang lebih mencintainya, Sagara malah menghindar dan mencari pelampiasan lainnya.


Sagara baru menyadari kesalahannya, 'Kenapa aku malah menghindar?! Seharusnya aku membuatnya lebih mencintaiku!' batin Sagara. Ia menyesal!! Namun ia tak berdaya, semuanya sudah terjadi sekarang.


"Yah... mungkin kita memang bukan takdir mereka!" gumam Sagara pasrah.

__ADS_1


Sementara sepasang sejoli yang masih belum bisa move on itu meratapi nasibnya, ada satu orang lagi yang juga mengalami hal yang sama. Namun dengan alasan yang berbeda.


Juni sangat ingin menghadiri pesta pernikahan sahabatnya itu. Namun sayangnya, sejak beberapa hari yang lalu, ia mengalami mual-mual yang parah, hingga menyebabkan dirinya tak bisa makan dan minum.Sampai-sampai ia merasa lemas dan dilarikan ke rumah sakit.


Ia terpaksa menjalani perawatan di rumah sakit untuk mengembalikan vitalitas tubuhnya dan terpaksa absen dari pernikahan sahabat satu-satunya itu.


Juni menatap sendu pada layar gawainya, memperhatikan unggahan-unggahan dari teman-temannya yang hadir di pesta pernikahan Nawang.


Juni tersenyum tipis melihat betapa cantiknya Nawang yang berbalut gaun pengantin. Ia lega saat melihat gurat bahagia di wajah Nawang.


Sebelumnya, ia khawatir karena dirinya tak bisa hadir. Setelah kematian Odelia, sahabat terdekat Nawang hanyalah Juni seorang. Namun Juni pun tak bisa hadir dalam acara bahagia sahabatnya itu. Juni cemas memikirkan perasaan sahabatnya itu.


'Semoga kamu bahagia, Nawang...' batin Juni tulus.


Setelah apa yang dilakukan oleh saudaranya pada Nawang, Juni berharap Nawang bisa menemukan kebahagiaan nya.


Ah...


Memikirkan Sagara, Juni membayangkan bagaimana sakit hatinya Sagara, melihat Nawang menikah.


Meskipun orang lain tak mengetahuinya, tapi Juni mengerti dengan pasti sebesar apa cinta Sagara pada Nawang. Hanya saja Sagara terlalu kekanak-kanakan. Saudara kembarnya itu sering terbawa emosi, kurang kontrol diri dan sangat ceroboh.


Tapi meskipun begitu, Juni tak merasa sedih untuk saudaranya itu. Ia tahu, Sagara kini tengah menerima buah dari karmanya. Sehingga ia tak memiliki iba sedikitpun untuk Sagara.


"Kamu sangat ingin datang?!" tanya Abraham. Ia sudah memperhatikan Juni yang sejak tadi, terus menatap layar ponselnya dengan sendu.


Juni tak menjawab, ia hanya tersenyum.


"Lain kali kita temui mereka!" ucap Abraham lagi, "Kamu bisa mengucapkan selamat saat itu!"


"Yang terpenting sekarang adalah kesehatanmu dan juga bayi kita!"


Mendengar kata-kata Abraham, Juni sedikit tersentak.


'Bayi kita'

__ADS_1


Rasanya begitu canggung dan aneh.


"Rasanya canggung, saat kamu menyebut 'bayi kita'!" ujar Juni mengungkap isi pikirannya.


Abraham tersenyum, "Tapi meskipun canggung, itu adalah kenyataannya! Dia adalah anak kita, darah daging kita!"


"Aku sudah berjanji akan mencintainya dan membuat kamu yang merupakan ibunya bahagia!" sambung Abraham.


Seketika Juni merasa ada ribuan perasaan aneh bergejolak di dadanya, saat mendengar apa yang diungkapkan oleh Abraham.


"Kamu adalah orang yang baik, Abraham!" ujar Juni kemudian. "Aku menolak menikah denganmu bukan hanya karena kamu adalah suami dari sahabatku. Tapi juga karena aku tulus berharap untuk kebahagiaanmu!"


"Alih-alih dipaksa menikah dengan seseorang yang tak kamu cintai, aku berharap kamu menikah dengan orang yang benar-benar kamu cintai!" sambung Juni kemudian.


Abraham tersenyum kecut, "Kau tahu.. sulit bagiku jatuh cinta pada seseorang..sebelumnya pun, sulit bagiku menerima Odelia setelah mengalami patah hati yang panjang!"


"Ya...Odelia mengatakannya padaku!" aku Juni jujur, "Dia bilang, kau mungkin akan menduda selamanya!"


Abraham mengangguk, "Yah.. aku sempat berpikir begitu! Tapi sekarang tidak..."


Menatap Juni dengan lembut, Abraham mengelus perut Juni perlahan.


"Aku berniat untuk menikah, demi anak ini dan juga kita berdua!" ucap Abraham, "Seperti apa yang Odelia katakan, kita pasti akan mampu melewati ini jika kita bersama-sama!!"


"Tapi.. mungkin aku tak bisa memberimu cinta seperti Odelia!" sahut Juni kemudian.


Juni tak pernah menganggap Abraham sebagai pria. Ia selalu menjaga jarak dari kekasih teman-temannya.


Pantang bagi Juni untuk tertarik dengan seseorang yang menjadi milik orang lain. Terutama sahabat-sahabatnya. Sehingga setampan apapun, semempesona apapun pria itu, jika itu adalah milik seseorang, Juni tak akan pernah tergoda.


"Aku juga tak bisa berjanji memberimu cinta yang sama!" aku Abraham.


Abraham juga memiliki prinsip yang hampir sama dengan Juni. Ia akui bahwa Juni adalah wanita yang cantik dan mempesona, namun secara pribadi ia tak pernah tertarik pada Juni.


Karena di hatinya hanya selalu ada satu nama. Abraham tak pernah mencintai dua orang di saat bersamaan!!

__ADS_1


Namun tak ada yang bisa menebak takdir. Ucapan dari lidah tak bertulang tak bisa dipegang selamanya.


Saat ini Juni dan Abraham tak pernah mengira, di satu waktu yang jauh nanti, mereka secara perlahan akan saling jatuh cinta dengan sangat dalam.


__ADS_2