
Setelah tamu undangan bubar, Cleve akhirnya bisa bernafas lega. Ia sudah sangat senang memikirkan akan bisa berduaan dengan Nawang. Namun ternyata, Cleve harus dicegat oleh kakeknya yang memberinya wejangan-wejangan agar Cleve tak melakukan kesalahan di malam pertamanya.
Cleve pusing tujuh keliling. Ini sudah sangat larut, ia takut istrinya itu akan tertidur, saking lelahnya menunggu kedatangannya.
Namun berbeda jauh dari apa yang dipikirkan oleh Cleve, Nawang sedang asyik mengagumi kamar mereka.
Bertepat di sebuah hotel mewah, di ruangan presidential suite. Cleve yang ingin menghabiskan waktu tenang hanya berdua dengan Nawang, telah menyewa kamar itu selama 3 hari, 3 malam.
Menggelontorkan uang ratusan juta hanya untuk menginap semalam. Cleve telah menghabiskan begitu banyak usaha untuk membuat istrinya merasa spesial.
Nawang menyadari hal itu dengan baik, melihat dari bagaimana kenampakan kamar itu yang sangat menakjubkan.
Berbeda dengan kamar hotel yang Nawang tahu, kamar itu sangatlah luas.Tidak hanya mewah, furniture dan seluruh seluk beluk tempat itu sangat stylish.
Saat Nawang melihat tempat itu, Nawang langsung menyadari 'nuansa' seorang Cleve Eddison. Kamar itu sendiri merupakan perwujudan dari Cleve.
Nawang semakin di buat terpana saat melihat fasilitas-fasilitas canggih yang ada disana. Kamar itu bahkan tak cocok di sebut sebagai sebuah kamar, karena sangat megah. Bahkan ada bar kecil dan meja biliar juga disana.
Belum puas memeriksa kamar tersebut, Cleve yang akhirnya terbebas dari kakeknya pun muncul.
Tanpa aba-aba, pria yang baru beberapa jam lalu resmi menjadi suaminya itu langsung membe kap Nawang dengan bibirnya.
Sembari memeluk Nawang dengan erat, ia memperdalam ciu mannya hingga membuat Nawang kehabisan nafas.
Tak bisa berkata-kata, Nawang terpaksa mendorong tubuh Cleve yang mene kannya.
"Hmn?!" tanya Cleve bingung. Ia tidak mengerti kenapa istrinya itu menolaknya.
"Pelan-pelan mas, saya tidak bisa bernafas!" ucap Nawang ngos-ngosan. Ia tak hanya kewalahan mengatur nafas, ia juga kewalahan mengatur detak jantungnya yang berderu dengan kencang.
Cleve menyeringai lebar, ia suka melihat wajah Nawang yang memerah dan kesulitan bernafas. Cleve jadi ingin menjailinya lagi.
Nafasnya bahkan belum stabil, tapi Cleve kembali melu matnya dengan ganas.
Dengan manik yang berkabut, Cleve meng angkat tubuh Nawang dan memboyongnya menuju ke dalam kamar.
Nuansa malam pertama yang kental langsung terasa saat Nawang masuk ke kamar utama. Cleve terus menggendongnya tanpa melepas pagu tannya.
Melepaskan Nawang sejenak untuk membuka pintu, Cleve membiarkan Nawang melirik sekilas kamar pengantin mereka.
__ADS_1
Tempat tidur king size yang mewah, dipenuhi dengan bunga mawar merah yang bertebaran, langsung menyapanya. Dua buah hiasan angsa yang bertautan terlihat sangat cantik, bertengger di atas ranjang.
"Apa kamu suka?!" tanya Cleve kemudian.
Nawang mengangguk senang, "Saya suka mas! Terimakasih!"
Cleve menyeringai, sembari menurunkan Nawang dan meletakkannya di atas ranjang. Cleve melancarkan beberapa kecupan di wajah Nawang.
"Sekarang boleh kan?!"Tanya Cleve, manik pria itu berkabut. Menunjukkan betapa besar gairah yang terpendam di dalamnya.
"Saya mandi dulu ya!!" pinta Nawang. Ia berusaha untuk tenang. Namun entah kenapa hatinya menjadi gelisah. Ini adalah kali pertamanya bersama dengan seorang pria.
Padahal sebelumnya, mereka hampir melakukannya. Namun saat Nawang memang dihadapkan pada malam pertamanya, tiba-tiba ia merasa gundah.
"Mandi?!" Cleve frustasi, "Tak usah mandi!"
"Nanti setelah kita melakukannya, kita mandi bersama!" bisik Cleve mesra.
"Tidak! saya mau mandi dulu!" ujar Nawang bersikeras. Ia berusaha mengulur waktu, berniat mengumpulkan keberaniannya yang terpencar.
Manghela nafas panjang, Cleve tak bisa menolak keinginan istrinya.
"Baiklah!" ujar Cleve kemudian.
"Tak masalah mandi duluan atau belakangan!" gumam Cleve kemudian, "Kita akan tetap mandi bersama!"
****
Nawang tak bisa menolak saat tangan Cleve merampas seluruh benda-benda yang menghias tubuhnya.
Cleve terpana sejenak. Ia sudah melihatnya sejenak. Tapi sekarang saat ia melihat nya dengan lebih jelas. Ia tak bisa menahan rasa takjubnya.
Ini bukan pertama kalinya ia melihat wanita dengan tampilan polos. Lalita pernah menunjukkannya pada Cleve beberapa kali. Namun getaran yang ia rasakan saat melihat Nawang sangatlah berbeda.
"Mas..." lirih Nawang malu. Ia menutupi setiap inci yang bisa ia tutupi.
Ia merona menyadari tatapan panas suaminya yang seolah berniat memakannya itu.
Namun hal itu malah mengaduk-aduk akal sehat Cleve dan membuatnya semakin bersemangat.
__ADS_1
Dengan rahang yang mengeras, berusaha menahan gejolak yang siap meledak di tubuhnya. Cleve berbisik pada Nawang, "Jangan bergerak-gerak seperti itu, atau aku akan menerkammu dan mengurungkan niat untuk mandi!"
Mendengar suara geraman Cleve yang se ksi, Nawang tak bisa berkata-kata. Hanya menurut bagai kerbau di cocok hidung. Ia tahu, suaminya itu tengah berusaha menahan dirinya sendiri.
Dengan cepat, tangan Cleve menang galkan seluruh pakaiannya. Memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang berkilau. Jauh dari kesan pria tua yang buncit, perut Cleve dipenuhi dengan kotak-kotak bak roti sobek.
Nawang menelan salivanya tanpa sadar, tapi ia segera tercekat saat melihat apa yang tegak di bawahnya.
Nawang belum pernah melihatnya!! Seumur hidupnya secara langsung ia tak pernah melihatnya.
'Ap-apa.. apa memang sebesar itu?!' batin Nawang kaget. Ia bingung, malu tapi juga penasaran. 'Apa itu yang akan masuk nanti?!'
Memikirkannya saja, Nawang dibuat kelimpungan. Ia tak bisa menahan panas yang menyeruak memenuhi dirinya. Nawang dengan gugup memalingkan wajahnya.
"Ayo mandi!" ujar Cleve kemudian. Menyadari kekagetan istrinya saat melihat dirinya.
Duduk di atas pang kuan Cleve, Nawang berusaha menjadi tenang, mengabaikan deru jantungnya yang tak tentu.
Mengacuhkan gese kan di belakang punggungnya, Nawang menikmati air hangat yang membasuh tubuhnya.
"Mau pakai sabun apa?!" tanya Cleve. Mengabaikan hatinya yang meronta-ronta.
"Apa aja mas..." sahut Nawang gugup.
Ia pikir pria itu akan memberikan sabun itu padanya. Namun ternyata tidak, Cleve sendiri yang menyapukan busa di setiap lekuk yang bisa dijangkau dengan tangan.
"Apa aku menggosok terlalu keras?!" tanya Cleve, suaranya bergetar. Seolah-olah tengah menahan sesuatu.
"Ti-tidak mas..." terbata Nawang menjawab.
"Kamu menyukainya?!" tanya Cleve kemudian.
Nawang mengangguk!
Dengan lembut Cleve menutupi Nawang dengan busa, dengan rajin pula Cleve membersihkannya. Hingga ia bertemu dengan dua Bu kit besar yang membuatnya tak bisa menahan gejo laknya.
Cleve kehilangan akal sehatnya, bukannya menggosoknya perlahan. Cleve mere masnya hingga Nawang tersentak di buatnya.
Dengan nafas yang memburu, Cleve memi Lin ujungnya yang tegak. Hingga membuat Nawang tak bisa menahan suaranya.
__ADS_1
"Mas.. " lirih Nawang.
Mengabaikan ratapan Nawang Cleve menyambar yang lainnya. Kini dengan kedua tangannya, ia melakukan hal itu secara bersamaan. Hingga membuat Nawang tak berhenti berteriak.