
Setelah menimbang berkali-kali di dalam benaknya, Nawang akhirnya memutuskan untuk bertanya pada Sagara.
Meski berisiko, Nawang tak yakin jika kesempatan seperti ini akan datang lagi padanya. Sehingga ia berusaha menggunakannya dengan baik.
"Apa kau mengenal Lalita?!" Tanya Nawang perlahan.
Sagara mengernyit, "Siapa?!"
"Lalita, Lalita Larasati!" ulang Nawang.
Sagara terdiam, berusaha menerawang ingatannya, mencari nama Lalita di dalam benaknya.
'Lalita..Lalita...'
Namun saat ia hampir mengingatnya, tiba-tiba rasa sakit menyengat kepalanya. Bagaikan dihantam dengan tenaga yang kuat, kepalanya seketika pening dan ia merasa nyeri yang teramat sangat.
"Arhhhh!!!" er*ngnya kesakitan, sembari mencengkeram kepalanya dengan kuat.
Nawang yang kaget melihat Sagara yang kesakitan, langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Sagara.
"Sagara, apa yang terjadi?!"ujarnya cemas, ia berusaha memeriksa kondisi Sagara.
Tapi kemudian Sagara kehilangan kesadaran, dan limbung ke arahnya.
Karena terkejut dan tidak siap, Nawang hampir terjatuh. Namun sepasang tangan kekar menangkapnya dengan kuat.
"Anda tidak apa-apa?!"
"CEO Cleve?!" pekik Nawang kaget. Ia kemudian memperbaiki posisinya.
"Apa yang terjadi?!" tanya Cleve sembari meraih tubuh Sagara yang tak sadarkan diri. Ia kemudian mengecek kondisi Sagara dan menyadari bahwa Sagara pingsan.
"Ayo bawa dia ke rumah sakit!!" ucap Cleve kemudian.
Dengan bantuan staf restaurant, mereka memindahkan tubuh Sagara sampai di mobil Cleve. Dan langsung melaju menuju rumah sakit.
"Apa yang terjadi?! Kenapa Presdir Sagara tiba-tiba pingsan?!" tanya Cleve kemudian.
"Entahlah, saya kurang paham!" sahut Nawang kebingungan.
'Apa karena aku menanyakan tentang Lalita padanya?!' batin Nawang.
"Sepertinya, dia kaget mendengar kata-kata saya!" ucap Nawang kemudian.
__ADS_1
Cleve hendak bertanya, namun ia menahan keingin tahuannya. Karena kakeknya juga ada di dalam mobil.
Sejak masuk ke dalam mobil, Thomas tidak banyak bicara. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri, sembari mengawasi cucunya dan gadis itu.
Sejak melihat Cleve berlari meraih wanita itu tanpa peduli dengan sekitarnya, Thomas sudah mengira ada yang tak beres dengan Cleve. Namun setelah melihat Cleve membantu wanita itu sampai seperti ini, rasa curiga Thomas semakin besar.
'Jangan-jangan...' Thomas menduga-duga. Ia memiliki kesimpulan di kepalanya, tapi masih belum bisa dipastikan. Ia ingin membuktikannya dulu.
****
Ria, Agung dan Juni bergegas menuju ke rumah sakit, saat mendengar kabar bahwa Sagara pingsan. Rasa cemas dan takut menyelimuti hati mereka.
Namun untungnya, saat mereka sampai. Dokter mengungkap bahwa itu tak separah yang mereka bayangkan.
"Untuk saat ini jangan biarkan pasien memaksakan diri untuk mengembalikan ingatannya. Karena hal itu dapat membuat pasien mengalami komplikasi!" jelas sang dokter, "Tidak perlu terlalu memaksakan diri, nanti secara bertahap ingatan pasien juga akan kembali!"
"Baik dok!" sahut Agung. Ia menatap sendu pada putranya yang terbaring di ranjang.
"Apa ini karena dia mau mengingat momen saat melamar Nawang, ya pa?!" ujar Ria sembari menyeka air matanya yang meleleh.
"Mungkin saja!" sahut Agung, "Dia terlalu keras kepala. Padahal Nawang sudah menolak melakukannya!"
"Itu mungkin karena Sagara terlalu mencintai Nawang, pa!" sahut Ria.
Agung menghela nafas berat. Dia menyesal karena mengijinkan Sagara melakukan keinginannya. Padahal Nawang sudah memperingatkannya.
Seperti saat Sagara melenceng dan memproduksi make up, padahal 'the last' adalah perusahaan skincare.
Awalnya Agung skeptis. Tapi ternyata, resolusi yang dilakukan Sagara membawa 'the last' menjadi lebih baik.
"Ayo kita keluar, kita temui orang yang telah menolong anak kita!" ujar Agung.
Ia agak kaget saat melihat pria muda dan seorang kakek tua, menemani Nawang di depan ruang rawat putranya. Namun karena ia sangat mencemaskan keadaan Sagara, ia mengabaikan kedua orang itu tanpa sadar.
Sementara itu, di luar ruangan. Kondisinya sangat canggung. Nawang tak tahu harus bersikap seperti apa. Apalagi Juni hanya diam dan meneliti Cleve secara terang-terangan, dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Bukannya mengagumi ketampanan Cleve, Juni tengah meneliti sesuatu yang janggal di kepalanya. Yah walaupun tak bisa dipungkiri, Cleve Eddison itu memang sangat tampan. Namun Juni merasa seperti ada puzzle yang belum diselesaikan menantinya.
Rasa penasaran aneh, seperti ada sesuatu yang tersembunyi, yang ia tak tahu apa itu.
Entah kenapa Juni merasakan sebuah keganjilan, sesuatu yang sangat mengganggu di hatinya saat melihat Cleve dan kakeknya.
Ia tiba-tiba mengingat Lalita yang datang bertamu beberapa waktu lalu untuk menjenguk Sagara.
__ADS_1
'Istrinya datang menjenguk Sagara beberapa waktu lalu, terus sekarang suaminya menolong Sagara!' batin Juni, 'Tidak ada yang aneh. Itu wajar saja. Mungkin kebetulan. Tapi kenapa...?? Kok rasanya ada yang tak beres?!
'Perasan janggal apa ini?!' batin Juni tidak nyaman.
****
Plakkkk!!!!
Sebuah tamparan pelak mendarat di pipi Lalita. Ia yang tak menyangka akan ditampar, terhuyung ke belakang saking kerasnya tamparan yang ia diterima. Ia menatap garang pada ayahnya, pelaku yang telah membuat pipinya membengkak.
"Apa kau gila?!!" bentak Haris, "Kau pikir ini lelucon?!"
Sembari memegang pipinya yang berdenyut nyeri, Lalita berteriak.
"Makanya aku bilang, kenapa papa menyetujuinya?! Papa seharusnya tak mengijinkannya menceraikanku!!" teriak Lalita, "Papa seharusnya minta pertanggung jawabannya karena aku hamil!!"
Haris sudah sangat frustasi dengan elektabilitasnya yang dinyatakan menurun. Ia tengah sibuk menyiapkan kampanye-nya, tapi putri semata wayangnya itu, malah memaksanya untuk menekan Cleve agar membatalkan gugatan cerai.
Bagaimana caranya dia menekan Cleve?! Yang ada, dirinya yang ditekan oleh Cleve.
"Dasar Gila!!!" Geram Haris lagi, hampir saja tangannya melayang untuk kedua kalinya ke pipi putrinya. Jika saja istrinya tak menahannya, kedua pipi gadis itu pasti sudah memar.
"Jangan pa! Jangan! Lalita sedang hamil!" pinta istrinya.
"Ha!!! aku bisa gila!!" Haris mendengus dongkol. "Aku tak peduli dia hamil atau tidak, tapi bagaimana bisa dia hamil anak orang lain, saat dia sudah punya suami?!!"
"Benar-benar gila!!" maki Haris geram. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa anaknya hamil dengan pria lain?! Bagaimana bisa ia selingkuh, sementara jelas-jelas ia mengaku cinta mati pada Cleve?!
"Dia yang membuatku seperti ini!! Dia! Dia yang salah! Dia!!" Lalita histeris. Ia berteriak disela tangisannya yang kencang. "Aku hanya korban, pa!! Aku hanya korban!! Aku tak pernah tidak mencintainya. Aku selalu mencintainya!!"
"Jika saja dia lebih perhatian, aku tak akan begini!! Ini salah dia! Salah dia!!"
Mendengar ocehan putrinya, kepala Haris seolah akan pecah. Ia menekan keningnya dengan kuat, berharap bisa mengusir nyeri yang meradang.
Walaupun Cleve bersalah karena mengabaikan Lalita, namun yang berselingkuh adalah Lalita. Tetap saja Lalita yang salah!! Apalagi sekarang, Lalita hamil anak pria lain. Mau ditanya ke siapapun, pasti yang dinyatakan bersalah adalah Lalita!!
Haris benar-benar frustasi, emosinya membuncah. Ia kemudian menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Ia berusaha mengembalikan ketenangannya.
"Pokoknya, bercerailah dengan tenang!!" ujar Haris kemudian, "Jangan membuat keributan!!"
"Apa?! Bercerai?!" Lalita mendelik, "Aku tidak mau pa!! Aku tidak mau bercerai!!"
"Jika aku bercerai, bagaimana dengan anak ini?! Dia tidak akan memiliki ayah!!"
__ADS_1
"Peduli setan dengan anak itu!!! Bagaimana bisa aku memaksa dia untuk mengakui anak pria lain sebagai anaknya, apa kau gila?!" sentak Haris naik pitam.
"Jika kau membutuhkan ayah untuk anakmu, pergilah! Cari pria yang menghamilimu!!"