
"Siapa wali pasien atas nama ibu Juni Agnita disini?!" tanya dokter tersebut.
Abraham secara refleks berdiri dan melangkah menuju sang dokter.
"Saya!" sahut Abraham yakin.
Eric yang juga spontan melakukan hal yang sama seperti Abraham, kaget melihat tingkah aneh Abraham. Ia mengernyit mempertanyakan kelakuan Abraham yang mengaku-ngaku sebagai wali Juni. Padahal disini, dirinya jauh lebih pantas menyandang status sebagai wali Juni.
Meski mereka telah berpisah, tapi Juni masih merupakan ibu dari anaknya.
"Saya mantan suaminya!" Eric tak mau kalah. Ia juga berusaha untuk masuk.
Sang dokter yang dihadapkan pada dua pria itu, kebingungan. Namun kemudian ia mempersilahkan kedua pria itu untuk masuk.
Abraham tak begitu mempedulikan Eric. Ia hanya ingin tahu keadaan Juni. Apa yang terjadi pada wanita itu hingga tiba-tiba pingsan.
Abraham telah membuntuti Juni sejak beberapa hari lalu. Meski ia tak menunjukkan batang hidungnya pada Juni, ia terus mengikuti Juni. Ia takut Juni akan melakukan hal-hal aneh yang membahayakan dirinya.
Abraham awalnya hendak berkunjung, tapi ia mengurungkan niatnya ketika melihat Juni keluar bersama dengan anak-anak. Ia kemudian mengikuti Juni yang sedang berjalan-jalan di sekitar apartemen.
Melihat Juni tersenyum menikmati pemandangan, Abraham merasa lega juga. Akhirnya senyum merekah pada wajahnya yang biasanya suram.
Namun senyum itu segera sirna saat melihat Eric, mantan suaminya yang tiba-tiba muncul. Abraham ragu, ia ingin menghampiri Juni tapi takut membuat Juni merasa semakin tidak nyaman. Sehingga ia hanya memperhatikan Juni dan juga Eric dari jauh.
Lalu tiba-tiba saja Juni limbung dan pingsan. Abraham yang panik langsung meraih Juni ke dalam dekapannya. Ia tak menyadari tatapan curiga Eric terhadap dirinya.
"Apa ada masalah?! Kenapa dia tiba-tiba pingsan, dok?!" tanya Abraham kemudian.
"Tidak pak, ini bukan masalah! Ini kabar gembira!" ujar sang dokter, ia tersenyum cerah, "Ini hanya karena Ibu Juni sedang hamil!"
Mendengar kata-kata dokter, Abraham dan Eric kaget luar biasa.
"Hamil?!!" pekik Eric kaget. "Apa yang anda katakan?!"
Sang dokter kaget melihat respon tak biasa Eric terhadap kabar gembira yang ia sampaikan. Tapi ia menelan kekagetannya dan kembali berkata, "Benar.. ibu Juni hamil. Usia kandungannya baru dua Minggu!"
Eric mengernyit bingung. Menatap Abraham penuh dengan tanda tanya.
"Kau pasti tahu apa yang terjadi!!" tukas Eric geram. Dengan emosi yang membuncah, ia mencengkeram bahu Abraham.
Abraham yang linglung, hanya bisa tercenung. Perasaannya rumit saat ini. Ia bahkan tak merasakan apapun, pada bahunya yang diremas oleh Eric.
__ADS_1
Ia kaget, bingung dan sedih memikirkan reaksi Juni jika mengetahui berita kehamilan ini. Namun di sisi lain, sebuah perasaan haru muncul di dalam dirinya. Ada seorang anak, darah dagingnya tengah tumbuh.
Terlepas dari siapa dan bagaimana anak itu bisa hadir, di pikiran Abraham anak itu adalah suci. Anak yang diberikan Tuhan untuknya dan Juni.
Seolah ini adalah jawaban dari kebimbangan Abraham selama ini.
'Ternyata kita memang ditakdirkan bersama!' batin Abraham.
Tak mempedulikan Eric, ia melepas cengkeraman tangan Eric dan menghampiri Juni yang tengah berbaring di ranjang.
Dipandangnya Juni yang tengah tertidur lelap. Hatinya berdebar saat melihat perut Juni, 'Ada anakku disana!' batin Abraham sendu.
Abraham hendak mengelus perut Juni namun Eric mencengkeram tangannya.
"Baji Ngan!!!" geram Eric, "Jawab pertanyaanku!!"
Emosi Eric tak tertahan.Ia merasa marah! Ia merasa ada yang salah!!
Seorang Juni Agnita Adyatama yang hanya mencintainya seorang, hamil anak pria lain?! Tidak!! Ini tidak mungkin!!
"Bang sat!!" maki Eric, "K-kau!! Jangan bilang.. kau ayah dari anak yang dikandung Juni?!"
Berharap Abraham tak menjawab 'iya', Eric segera kecewa karena Abraham mengangguk dan menjawab dengan tegas.
****
Memandang wajah cantiknya di cermin, sembari menyisir rambutnya dengan pelan. Lalita merasa hatinya hampa.
Air matanya seketika menetes, ketika menyadari perutnya yang rata.
Saat bayi itu ada di dalam perutnya, ia tak begitu memperhatikannya. Namun saat ia telah menghilang, rasa penyesalannya menyeruak.
"Seharusnya aku lebih perhatian!" gumam Lalita kemudian.
Melihat tingkah Lalita yang berubah kalem dan tak banyak bicara, hati Sagara luluh juga.
Ia awalnya sangat membenci Lalita. Karena wanita itu, Sagara tak bisa menikahi Nawang yang ia cintai. Dan sebagai gantinya malah terjebak dalam pernikahan yang tak diinginkan.
Namun kini, melihat wanita itu terpuruk karena kematian bayinya. Hati Sagara sedikit tersentuh.
"Kau... ayo pergi jalan-jalan!" ajak Sagara.
__ADS_1
Setelah menikah, ini adalah kali pertamanya Sagara mengajak Lalita pergi ke luar bersama.
Hati Lalita terguncang saat mendengar ucapan Sagara. Lalita terperanjat. Ia merasa kaget sekaligus senang.
Tak mendapat respon apapun dari lawan bicaranya, Sagara menjadi geram, "Kenapa?! Tak mau?! Ya sudah!"
Melihat Sagara yang tiba-tiba berubah, hati Lalita yang membeku tiba-tiba menghangat.
Sepertinya ada berkah di balik musibah yang telah ia terima!!
'Apa dia berusaha menghiburku?!' batin Lalita.
"Cepat ganti pakaianmu!" titah Sagara. "Aku tunggu kau di bawah!"
Lalita mengangguk senang. Segera ia berdandan dan memilih gaun tercantik yang ia punya.
Setelah beberapa menit berselang, Lalita turun ke bawah menemui Sagara yang telah menunggunya dengan bosan.
Dengan hati yang berbunga-bunga, Lalita mengapit lengan suaminya dan berjalan ke luar menuju garasi. Tak seperti sebelumnya, Sagara tak menampik tangan Lalita yang bergelayut manja. Ia membiarkannya begitu saja.
Melihat Sagara tak menolaknya, hati Lalita semakin bahagia. Senyumnya mengembang sumringah!
Walaupun perasaan Lalita pada Sagara, tak sebesar perasaannya pada Cleve. Tapi Lalita sangat berharap pada hubungannya yang sekarang ini. Lalita yang haus akan perhatian suaminya, ingin diperlakukan sebaik mungkin kali ini.
Tak muluk-muluk, Lalita hanya ingin Sagara memperlakukannya seperti saat mereka belum menikah dulu.
Saat mereka menjalin hubungan di belakang pasangan masing-masing, Sagara memperlakukan Lalita penuh dengan kasih. Lalita ingin Sagara memperlakukannya lagi seperti itu.
"Bagaimana kalau kita nonton film habis itu makan malam di Brads restaurant?!" tanya Sagara kemudian.
Lalita mengangguk setuju! Asalkan Sagara tak lagi bersikap kasar dan acuh tak acuh padanya, kemanapun ia rela.
Awalnya, kencan mereka berjalan lancar. Meski tak seromantis dulu, Sagara memperlakukannya dengan baik. Hingga membuat Lalita sangat senang.
Ia merasa seperti diratukan. Sampai ia melihat pasangan yang benar-benar mengubah pikirannya!!
Menikmati makan romantis di restaurant mewah, ternyata bukan hanya menjadi pilihan Sagara dan Lalita karena Cleve dan Nawang juga ada disana.
Kedua sejoli itu terlihat sangat menikmati waktu mereka. Cleve yang memperlakukan Nawang bak ratu, membuat Lalita yang melihatnya sangat geram.
Cleve dengan senyum sumringah di bibirnya menatap Nawang dengan penuh cinta. Sesekali tangan Cleve menyelusup di balik jari jemari Nawang dan meremasnya dengan mesra atau mengecupnya singkat. Terlebih saat Cleve melihat noda yang muncul di bibir Nawang, dengan lembut pria itu menyekanya.
__ADS_1
Hati Lalita panas seketika!!!
Selama bertahun-tahun mereka menikah, tak sekalipun Cleve melakukan hal itu padanya. Tapi kenapa?! Kenapa pada perempuan itu, Cleve seperti itu?! Apa yang menyebabkan Cleve bisa bersikap begitu bertolak belakang?!