Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 101


__ADS_3

Theo selalu saja bosan, setiap kali harus menunggu Hans dan Jacob memetik anggur di perkebunan. Ia tak mengerti kenapa orang dewasa sangat menyukai memetik buah anggur. Bukankah bermain dengannya lebih seru?!!


Meski ia membawa beberapa permainan untuk dimainkan, jika tidak ada orang yang bisa diajak melakukannya bersama. Itu juga tidak menyenangkan.


Theo yang bosan kemudian mulai berjalan-jalan. Ia yang penuh dengan imajinasi itu, mulai membayangkan dirinya tengah berada di tempat asing seperti dalam film animasi yang ditontonnya.


Bermain menjadi penjelajah yang bebas. Menemukan semacam tanaman langka yang ajaib, Theo bersenang-senang hingga lupa akan waktu.


Meski begitu, ia masih ingat dengan pesan Hans yang tidak memperbolehkannya pergi begitu jauh, lagipula ia takut jika tiba-tiba ada serangga yang muncul seperti waktu itu.


Namun kemudian dari kejauhan, ia melihat sesosok orang yang terus memanggilnya.


Tanpa mengeluarkan suara, wanita berambut pirang itu melambai padanya, memanggilnya untuk mendekat.


Membawa sebuah permen besar di tangannya, ia terus meminta Theo untuk mendekatinya.


Theo tertarik pada permen itu, namun ia merasa takut dengan senyum wanita itu yang mengerikan. Berbeda dengan Nawang yang senyumnya ramah dan juga cantik.


Alih-alih menghampiri wanita itu, Theo kemudian bergegas berlari menjauhinya!! Tapi kakinya terantuk batu dan ia terjatuh. Saat ia hendak bangkit dan kembali berlari, kaki kecilnya ditarik oleh seseorang.


Ketika Theo berbalik untuk melihat orang yang telah menarik kakinya, ia tergidik melihat wanita berambut pirang itu yang melakukannya.


Theo hendak berteriak minta tolong, tapi mulutnya di bekap dengan kuat. Theo kecil kemudian hanya bisa menangis!!


Ia digendong menuju ke sebuah tempat yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Hans dan Jacob belum pernah mengajaknya kesana.


Theo putus asa, namun ia mengingat sebuah film yang ia tonton di malam Natal. Theo kemudian menggigit tangan yang membekap mulutnya dengan kuat. Hingga sang empunya tangan, berteriak kesakitan lalu melepas bekapannya.


Gigitan Theo lumayan kuat, hingga membuat tangan wanita itu berdarah. Darahnya bahkan memercik pada pakaian dan sepatu kecil Theo.


Theo yang melihat wanita itu kesakitan, berusaha memberontak dan kabur. Namun tenaga wanita itu jauh lebih kuat dari Theo. Sehingga Theo kembali tertangkap.


Tak ingin Theo kembali kabur darinya, wanita itu memukul tengkuk Theo hingga Theo tak sadarkan diri.


Menggendong Theo di belakang punggungnya, wanita itu tidak sadar sepatu Theo terlepas dari kakinya.


****


Nawang yang terus menunggu di mobil, merasa sangat cemas. Ia berdoa di dalam hatinya, agar tidak terjadi apapun pada Theo!!! Semoga Theo baik-baik saja!

__ADS_1


Meski kebersamaan mereka terbilang singkat, namun kasih sayang di hati Nawang untuk Theo sangat besar. Ia tak ingin anak yang sangat manis itu mengalami hal yang buruk.


Tepat saat ia membuka mata setelah berdoa. Ia melihat kelap-kelip berwarna-warni yang sangat ia kenal.


Itu seperti mainan yang selalu dibawa Theo, yang selalu dinyalakannya saat menjelang malam.


'Theo?!' batin Nawang.


'Kelap-kelip itu bergerak. Sepertinya Theo baik-baik saja!! Tapi kenapa dia mendaki lereng bukit itu?!' batin Nawang. Ia berpikir bahwa Theo tengah mendaki lereng bukit. Karena suasana sangat gelap, ia tak bisa melihat apa-apa selain kelap-kelip itu.


Nawang ingin menghubungi Cleve dan yang lainnya, tapi mereka semua meninggalkan gawai di mobil. Sehingga Nawang memutuskan untuk mencari Theo sendiri. Mengikuti kelap-kelip itu, Nawang mendaki lereng bukit itu.


Meski lereng itu tak terlalu terjal. Namun keadaan yang gelap menyulitkan Nawang. Untungnya ada jalan setapak yang biasa digunakan oleh para pekerja. Sehingga ia bisa bergerak mengejar Theo meskipun agak lambat.


Berusaha mengikis jarak dengan Theo, Nawang mempercepat langkahnya.


Hingga akhirnya saat jarak diantara mereka semakin dekat, Nawang menyadari bahwa bukan Theo yang sedang ia kejar. Melainkan orang lain yang tengah menggendong Theo.Orang itu tak sadar mainan Theo tengah bersinar.


Semakin dekat jarak diantara mereka, semakin sadar Nawang akan bahaya. Wanita itu sepertinya tak berniat membawa Theo untuk pulang, karena wanita itu berjalan menjauhi pemukiman.


Di balik bukit itu adalah hutan yang jarang dikunjungi orang-orang.


Meski Nawang cukup ragu untuk melanjutkan, namun Nawang tak bisa meninggalkan Theo dan kembali begitu saja. Ia takut hal buruk keburu terjadi, jika ia kembali dan mencari bantuan.


Hati Cleve resah dan gundah. Ia tidak tahu kenapa hatinya berdebar tak karuan. Meski yang hilang adalah Theo, namun Cleve cemas akan istrinya yang menunggu di mobil.


Cleve berusaha untuk menepis perasaan buruk yang terus menghinggapinya dan fokus untuk mencari Theo. Namun semakin lama, hatinya semakin gundah.


Ia akhirnya kembali ke mobil untuk memeriksa keadaan istrinya.


Cleve begitu terkejut ketika sampai, istrinya tidak ada!


"Nawang!! Nawang!!" teriak Cleve. Ia memanggil-manggil istrinya dengan putus asa.


"Sayang!! Nawang! Dimana kamu?!" panggil Cleve.


Cleve yang panik, hendak mengambil gawainya dan menghubungi Nawang. Namun ia terkejut membaca pesan singkat yang dikirim istrinya.


"Sial!!" umpatnya.

__ADS_1


Dengan hati yang berderu, Cleve berlari ke arah bukit. Ia bahkan melempar gawainya ke sembarang arah karena panik dengan keadaan istrinya.


Jika memang benar Nawang sedang membuntuti orang yang membawa Theo. Berarti Nawang sedang dalam bahaya. Mengingat darah yang tercecer di sepatu Theo, itu berarti orang yang ia buntuti sangatlah berbahaya.


"Sial!!" umpat Cleve lagi. Rasa sesal menyeruak di dadanya. Kata-kata istrinya terngiang di benaknya.


"Tidak! Tidak! Semua akan baik-baik saja!" gumam Cleve sembari berlari ke arah bukit. "Kumohon Nawang!!"


****


Setelah mencari ke segala arah, tempat dimana Theo kemungkinan berada. Jacob dan Hans kembali dengan tangan hampa.


Berpikir untuk menunggu bantuan yang akan segera datang, Hans dan Jacob kembali ke mobil mereka. Namun mereka dikejutkan dengan ketiadaan Nawang disana.


Seharusnya, gadis itu ada di mobil. Menunggu mereka kembali. Tapi nyatanya dia tak ada. Cleve yang harusnya sudah kembali pun terlihat batang hidungnya.


"Kemana mereka?!" tanya Hans. Ia merasa ada yang tidak beres.


"Cleve mungkin belum kembali, tapi istri Cleve ada dimana?!" Jacob pun merasa ada yang aneh.


"Hey! Nawang!" panggil Jacob.


"Nawang!!" Hans pun ikut memanggil.


Namun nihil. Tidak ada jawaban. Hans pun berusaha mencari di sekitar. Ia tak memperhatikan langkah kakinya dan malah menginjak sebuah benda pipih yang tak asing dimatanya.


Meraih benda yang telah diselimuti oleh tanah itu, Hans kaget karena menyadari bahwa itu adalah barang milik Cleve.


"Smartphone Cleve?!" gumam Hans.


Jacob yang melihat saudaranya menemukan sesuatu pun, menghampiri Hans. Penasaran dengan apa yang ditemukan Hans.


"Apa itu?!" tanya Jacob.


"Smartphone! Sepertinya milik Cleve!" ujar Hans.


"Tapi kenapa tergeletak di tanah?!" gumam Hans bingung. Ia membolak-balik benda itu. Saat itulah tanpa sengaja ia menekan tombolnya, hingga benda itu menyala dan menampilkan aplikasi pesan yang terbuka.


"Apa ini?!" ucap Hans, menunjukkannya pada Jacob.

__ADS_1


Jacob yang membacanya kaget luar biasa.


"Di bukit!! Theo disana!!" teriak Jacob.


__ADS_2