
"A-apa kau bilang?!" Sagara terkejut, ia berbalik menghadap Lalita dengan kening yang mengkerut. "Kau hamil?!"
"Hamil anak siapa?!"
"Iya sayang, aku hamil! Aku hamil anak kamu!!" sahut Lalita kemudian.
Bruaakkk!!!!
Pintu ruangan yang tadinya tertutup, didobrak paksa oleh seseorang. Dengan suara nyaring dan lantang, orang itu membentak ke arah Sagara dan Lalita.
"APA?! HAMIL?!" semburnya.
Sagara dan Lalita serentak kaget. Saat melihat siapa orang yang masuk ke ruangan.
"Apa tadi?!" Juni bertanya dengan marah. "Coba katakan padaku!!! Dia hamil anakmu?!"
Juni sangat emosional. Ia mengarahkan pandangannya pada Sagara dan Lalita secara bergantian, memaksa keduanya untuk menjawab pertanyaannya.
Ia sebelumnya hanya berniat menjenguk saudaranya yang tengah dirawat, tak tahunya ia malah mendengar suara ribut-ribut dari dalam ruangan Sagara. Awalnya, Juni berpikir itu mamanya dan Sagara yang tengah bersenda gurau.
Namun semakin dekat dengan arah pintu, semakin jelas suaranya terdengar.
Jauh dari kata bersenda gurau, suara di dalam ruangan itu saling berteriak. Seolah sedang bertikai. Juni yang penasaran, hendak membuka pintu perlahan. Namun tangannya terhenti saat mendengar kata 'hamil'.
Entah itu intuisi atau apa. Sama seperti saat ia memergoki Eric yang tengah berselingkuh, rasa gelisah dan resah muncul menyeruak di dadanya. Seketika, ia mematung di depan pintu.
Saat itulah, Juni mendengar sayup-sayup suara perempuan yang mengaku hamil dan suara Sagara yang berteriak.
'Iya sayang, aku hamil! Aku hamil anak kamu!!'
Terkejut, Juni mendobrak pintu tanpa sadarnya lalu berteriak.
"Jawab Sagara, jawab!! Siapa yang hamil?! Siapa?!" bentak Juni emosi. Secara kasar ia sedikit mengerti kondisinya. "Dia hamil anakmu?! Huh?! Jawab aku!!"
Juni tengah menolak dugaan-dugaan yang muncul di benaknya. Ia berharap apa yang dia pikirkan salah.
Beberapa hari ini, Juni berusaha membuang jauh perasaan aneh yang mengganjal di hatinya. Terkait dengan kemunculan Lalita dan Cleve. Yang tak biasa baginya.
Meski wajar bagi Sagara atau Nawang mengenal Cleve dan Lalita, sebab berada di bidang yang sama. Namun entah kenapa, Juni merasa aneh saat Lalita mengunjungi saudaranya secara pribadi tanpa suaminya.
__ADS_1
Adapun ekspresi ganjil Nawang dan sikapnya yang agak berubah belakangan ini. Membuat Juni semakin curiga. Ia berasumsi ada sesuatu yang terjadi, sesuatu yang Nawang sembunyikan darinya dan semua orang. Namun Juni belum bisa memastikannya sendiri.
Tapi jika memang benar Sagara telah berselingkuh dari Nawang, semuanya terasa masuk akal.
"Kau menghianati Nawang, hah?!" air mata menitik, terjun bebas dari netranya. "Kau menghianati Nawang?! Jawab aku!!! Bagaimana bisa...?!"
"Dengar ... ini tidak seperti..." Sagara hendak menjelaskannya pada Juni. Namun Juni terlalu emosional. Juni berteriak dan memaki Sagara.
"Kenapa?! Kenapa kau seperti ini?!! Kenapa kau menyakiti Nawang seperti ini?! Dasar Gila!! haa...." Juni mengumpat dan menangis histeris.
Nawang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri. Ia tidak bisa menahan perih di hatinya saat melihat sahabatnya menderita. Apalagi Juni sendiri baru saja mengalami hal yang sama. Ia bahkan masih belum sembuh dari luka yang disebabkan oleh penghianatan suaminya.Tapi sekarang kembarannya sendiri melakukan hal yang sama dan menyakiti sahabatnya.
"Kenapa diam?! Cepet jawab!!!" teriak Juni lagi. "Kenapa kau melakukan ini?! Kenapa?!"
"Itu.. anu.. dengar.. ini tidak seperti yang kau kira!" Sagara berusaha memberi penjelasan pada saudaranya, "Ini semua hanya salah paham!"
"Aku dan dia tak saling mencintai, kami tak berselingkuh. Kau salah paham!!" sambung Sagara.
"Salah paham?!" Juni geram. "Tak selingkuh kau bilang?! Dia hamil anakmu dan kau bilang kau tak selingkuh?!!"
"Dengar... kami hanya bersama karena saling membutuhkan. Dia sendiri sudah menikah. Dia tak berniat meninggalkan suaminya. Aku juga!" jelas Sagara, "Aku tak berselingkuh!! Aku tak pernah menghianati Nawang, aku mencintainya!"
"Ha!!!!" Juni menghela nafas kasar, "Dasar Gila!!"
"Kau mau kemana?!" Tanya Sagara, "Apa kau mau mengadu pada Nawang?!"
"Tentu saja!! Nawang harus tau perempuan itu hamil!!" sentak Juni.
"Tunggu!! Apa yang kau pikirkan?! Rencana pernikahanku bisa hancur kalau sampai Nawang tahu!" bentak Sagara.
"Apa?! Pernikahan?! Kau masih memikirkan pernikahan disaat seperti ini?!" Juni emosi. "Apa kau tidak waras?!!"
"Nawang tidak boleh menikahi mu, b*j*Ngan!!!" sambung Juni, "Dia tidak boleh menikahi pria sepertimu!!!"
"Apa kau bilang?!" Sagara frustasi. "Pernikahan kami sudah di depan mata. Jika itu dibatalkan, kau tahu betapa memalukannya itu bagi Nawang!"
"Kau kan tahu, dia sangat mencintaiku! Dia akan sangat menderita jika tidak bersamaku!! Aku juga sangat mencintainya. Aku tak akan bisa hidup tanpa dia. Apa kau mau melihatku mati, karena tak bisa bersamanya?!"
*****
__ADS_1
'Saya akan membantu anda, jika anda tak bisa melakukannya sendiri!'
Kata-kata Cleve terngiang terus di benak Nawang. Cleve mengatakan pada Nawang bahwa ia akan membantu Nawang, jika Nawang merasa tidak sanggup untuk mengungkapkan kebenaran itu pada keluarga Sagara.
'Saya juga berhak melakukannya!! Wanita yang menjadi pasangan perselingkuhannya, adalah istri saya!'
Nawang sering melupakan kenyataan itu saat berhadapan dengan Cleve. Ia selalu lupa bahwa laki-laki itu juga mendapat luka yang sama sepertinya.
'Bagaimana bisa dia begitu tenang?! Padahal dia pasti juga menderita!' batin Nawang.
Nawang terus tercenung, menatap makanannya tanpa menyantapnya sedikitpun.
Karina yang melihat putrinya nelangsa seperti itu merasa sangat menderita. Bagaimana bisa putrinya mendapatkan cobaan seburuk ini dalam hidupnya?! Karina tak pernah membayangkannya sedikitpun.
"Apa makanannya tidak enak?!" tanya Karina berusaha memecah kesunyian.
"Ah! Tidak... bukan begitu, ma!" sahut Nawang kemudian, "Hanya saja, tadi aku sudah makan dengan CEO Cleve!"
"Makan dengan CEO Cleve?!" Karina terkejut, "Kenapa kau bertemu dengannya?!"
Meski Cleve dan Nawang adalah korban dari perselingkuhan kedua pasangan mereka. Namun tak benar juga jika mereka terus bertemu seperti itu.
Apalagi mereka masih terikat dengan pasangan satu sama lain.
"Mama tahu kalian berdua adalah korban, tapi terlalu dekat juga tidak baik! Ingat, kau masih tunangan Sagara dan dia masih berstatus sebagai suami orang!"
"Bukan begitu, ma! Jangan salah paham!" ujar Nawang, "Kami bertemu tidak untuk hal-hal seperti itu. Dia bertemu denganku untuk menyampaikan hal yang penting!"
"Hal penting apa?!" tanya Karina penasaran.
Nawang menghela nafas pelan. Ia tidak ingin membuat syock ibunya lagi, tapi seperti kata Cleve, 'Lebih baik mengetahui kejujuran yang pahit daripada hidup dalam kebohongan yang manis!'
"Lalita hamil, ia hamil anak Sagara!!" ujar Nawang kemudian.
Karina tersentak. Tangannya yang menggenggam sendok, membeku seketika, hingga membuat sendok itu terjun bebas dan terpelanting ke lantai.
Seolah sesuatu yang besar mengamuk di dalam dadanya, Karina merasa sesak yang teramat sangat. Hingga tak mampu bernafas.
"Ma!!" Nawang kaget, ia tak menyangka ibunya akan begitu syock. Nawang kemudian bangkit dari duduknya dan mengambil segelas air untuk sang ibu.
__ADS_1
"Minumlah dulu, ma!" pinta Nawang. Sembari mengelus-elus punggung ibunya.
Setelah merasa lebih tenang, barulah Karina berkata "Kita harus menyampaikan ini pada keluarga Adyatama! Kita tak bisa menunda-nundanya lagi!"