
"Maaf ya Juni, sepertinya Nawang belum kembali!" ujar Karina. Ia datang ke pernikahan Juni tanpa ditemani oleh Nawang dan Cleve sesuai janji.
Selama beberapa hari ini, ia kebingungan mencari kabar putri dan menantunya. Saat ia menghubungi Thomas, Karina mendapat kabar bahwa Thomas akan pergi ke Jerman untuk menyusul Nawang dan Cleve.
Namun sejak kemarin, Thomas malah tak bisa dihubungi juga.
Bohong jika Karina tidak cemas. Tapi dia tidak bisa hanya berdiam diri di rumah saat Juni yang juga telah dia anggap sebagai anaknya sendiri, akan menikah.
"Tidak apa kok Tante!" sahut Juni, "Juni mengerti, Juni sudah senang Tante bisa hadir disini!"
"Mungkin ada kendala di penerbangannya!" sahut Juni berpositif thinking. Meskipun hatinya gundah karena tak biasanya sahabatnya seperti ini.
Apalagi sejak dua hari lalu, Nawang sudah tidak dapat ia hubungi. Padahal sebelumnya mereka terus berkirim pesan.
Namun Juni tak mau mengungkit hal itu disini, ia tak ingin membuat Karina resah.
"Sayang, acaranya akan segera dimulai!!" ujar Ria memanggil putrinya.
Membantu Juni berdiri dan menuntunnya. Karina melangkah menuju ke arah Ria.
Ria kemudian mengambil tempat di sisi lainnya, menuntun putrinya bersama dengan Karina. Mendampingi Juni keluar dari ruangan pengantin wanita.
Di luar ruangan ada Agung yang tengah menunggu. Pria tua itu terpana melihat paras cantik putrinya yang mengintip di balik kerudung brokatnya.
Menyerahkan tangan putrinya pada Agung, Ria seketika merasa haru. Padahal ini bukan pernikahan pertama putrinya, tapi entah kenapa ia seperti menyerahkan putrinya untuk pertama kali menikah.
Karina merengkuh Ria yang tengah diselimuti sendu.
"Jangan menangis! Ini kan hari bahagia!" bisik Karina.
Ria mengangguk sembari berusaha menelan tangis yang hendak pecah.
Juni yang didampingi Agung, berjalan di atas panggung megah diantara para tamu undangan. Di ujung jalannya, seorang pria tampan dengan tuxedo hitamnya tersenyum menunggu kedatangan Juni dengan sabar.
Pria yang dulu adalah suami dari sahabatnya, pria yang bahkan tak pernah hadir di dalam mimpinya, kini berdiri di depannya dan akan menjadi masa depannya.
Juni tak mampu membendung gejolak emosinya yang tiba-tiba menyeruak. Seiring langkahnya berjalan, hatinya berderu semakin kencang. Keraguan-keraguan kecil yang sudah sempat menghilang, kembali muncul menghantamnya.
Berdiri di sebelah Abraham, Juni berusaha melirik pria itu di balik kerudung brokatnya.
Wajah tampannya, dipenuhi dengan senyum. Menatap Juni dengan lembut. Sepertinya ia tak merasa ragu sedikitpun.
'Benar! Kita akan menikah!' batin Juni menghempaskan semua keraguan di hatinya.
Sementara Juni menghempaskan kegundahannya. Karina yang berdiri tidak jauh dari panggung, tempat dimana Juni berdiri, malah semakin merasa cemas.
__ADS_1
Namun Karina bukannya mencemaskan Juni, melainkan putrinya dan menantunya.
Meski Karina berusaha untuk berpositif ria.Tapi hatinya tak bisa memungkiri kecemasan yang kian melanda. Tubuhnya memang ada di pesta, namun hatinya terbang ke Jerman.
Karina menatap kosong ke arah panggung, semua orang bersuka cita saat Juni dan Abraham melakukan wedding kiss. Meskipun Karina juga berbahagia, ia tidak bisa mengulas senyum sedikit pun.
Di saat itulah, ia mendapatkan sebuah telepon.
Itu adalah panggilan dari Thomas yang telah ia tunggu-tunggu sejak kemarin.
Karina merasa sangat senang. Ia berlari meninggalkan aula pesta hanya untuk mendengar kabar bahwa anak dan menantunya baik-baik saja. Namun sejurus kemudian, kabar yang menyakitkan yang membuat ia kehilangan kesadaran lah yang ia terima.
****
Tubuh Nawang menggelinding menabrak beberapa pohon anggur sebelum akhirnya terhenti. Meski bukit itu tak terlalu tinggi, namun Nawang menghantam sebuah batu hingga membuat pembuluh darahnya pecah.
Sehingga ia dalam keadaan koma sekarang!!
Selama beberapa hari ini, Cleve tak henti-hentinya menangis. Ia bahkan tak ingat makan dan minum, bagaimana bisa ia ingat untuk menghubungi keluarganya.
Ia hanya menatap Nawang, berbicara seolah-olah Nawang bisa mendengarnya.
Setiap kali Jacob maupun Hans memintanya untuk makan, Cleve hanya menggeleng dan mengatakan tidak perlu.
Jacob dan Hans-lah yang akhirnya menghubungi Thomas.
Namun hatinya tak kalah pedih saat melihat keadaan cucunya yang menyedihkan.
Seolah-olah Cleve tak menyadari kehadiran kakeknya, Cleve terus berbicara dengan air mata berlinang pada Nawang yang hanya diam membisu.
"Hari ini seharusnya kita sudah pulang, kamu mau menghadiri acara pernikahan sahabatmu kan?! Bangunlah sayang, ayo kita pulang!" gumam Cleve.
"Kamu tidak mau melewatkannya kan?! Sayang.. bukalah matamu!" lirih Cleve lagi. Ia mengelus pipi Nawang yang lebam.
"Aku mohon...aku tidak bisa hidup tanpamu.. sayangku..." tangis Cleve pecah. Rasa sedih yang teramat sangat menyeruak di dada Cleve.
Untuk pertama kalinya Cleve merasakan perasaan seperti ini. Takut, sedih, putus asa dan tidak berdaya. Ia ingin melakukan segalanya, tapi apapun yang ia lakukan tidak ada gunanya. Ia benar-benar menderita.
Cleve bersedia melakukan apapun!! Apapun itu, ia akan melakukannya hanya untuk membuat Nawang Kembali membuka mata dan sembuh seperti sedia kala.
Namun apapun yang ia lakukan, ia tak bisa membuat Nawang kembali sadar.
Sebanyak apapun uang yang ia gelontorkan, dokter hanya mengatakan bahwa mereka telah melakukan yang terbaik. Dan tak bisa melakukan hal yang lebih dari ini. Mereka bukan Tuhan katanya.
"Bangunlah sayang!!" lirih Cleve. Ia meraung disisi istrinya dengan pilu. "Aku mohon!!"
__ADS_1
Thomas yang tak mampu melihat keadaan cucunya dan cucu menantunya, akhirnya keluar dari ruang VVIP Nawang dengan air mata yang menggenang.
Ia disambut oleh Jacob dan Hans yang terus menunggu di luar ruangan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?!" Tanya Thomas kemudian.
Sebelumnya, Hans hanya mengungkap bahwa ada insiden yang membuat Nawang mengalami koma. Mereka tak mengungkapkan fakta-fakta lainnya.
"Daniella...dia.." ucap Hans terbata.
Mendengar nama Daniella, hati Thomas tergetar. Ia menegang seketika.
"Dia dibebaskan?!" Sergah Thomas kaget. Setahunya, Daniella masih dirawat di penjara khusus.
Meskipun kejahatannya tidak termasuk ke dalam kejahatan yang bisa dihukum seumur hidup, namun karena kondisinya yang mengalami gangguan mental. Daniella dipindahkan ke penjara khusus yang diperuntukkan bagi tahanan dengan gangguan kejiwaan serius.
"Mereka menyebutkan, ia sudah dibebaskan beberapa tahun lalu karena telah menunjukkan tanda-tanda kesembuhan!" ucap Jacob.
"Sekarang dia sudah kembali ditahan!" sambung Jacob. "Kami sudah memastikannya agar dia tidak bisa lagi dibebaskan!"
"Dia membuntuti Cleve?!" sergah Thomas kaget. Bagaimana bisa, Daniella menemukan Cleve yang baru kembali ke Jerman beberapa hari ini?!
"Tidak!" sahut Hans, "Dia membuntuti Theo!"
"Theo?!" Thomas bingung, "Siapa Theo?!"
Seorang anak kecil yang bersembunyi di balik tubuh tegap Hans kemudian muncul. Mengintip dengan mata abu-abunya, Thomas kemudian mengerti maksud dari perkataan Hans.
"Dia berpikir Theo adalah Cleve, dia membuntuti Theo dan menculiknya!" jelas Hans, "Nawang yang berusaha menolong Theo malah didorong oleh Daniella hingga jatuh ke lereng bukit!!"
Thomas meringis, mendengar apa yang terjadi pada cucu menantunya. Nawang memang gadis yang baik. Itulah sebabnya, ia tidak akan tinggal diam jika melihat hal buruk terjadi di depan matanya.
Namun itu malah membawanya ke dalam malapetaka.
'Kenapa kamu menjadi orang yang baik cucu menantu!?' lirih Thomas di dalam hatinya.
Thomas bangga memiliki cucu menantu yang baik, namun juga merutukinya! Orang yang baik cenderung tidak peduli pada dirinya sendiri, dan selalu mengorbankan dirinya untuk orang lain. Hal itulah yang dibenci Thomas.
"Kakek ... ma-maafkan saya!" celetuk Theo tiba-tiba, "Karena saya kakak tidak bangun-bangun. Dia terus tertidur, maafkan saya..."
Theo menangis tersedu. Ia tahu bahwa Nawang terluka karena dirinya. Makanya, ia selalu merengek pada Hans maupun Jacob untuk selalu ikut mengunjungi Nawang di rumah sakit.
"Ji-jika saya tidak nakal.. jika saya tidak pergi jalan-jalan.. orang mengerikan tidak menangkap saya.. dan kakak.. kakak tidak akan sakit! huuuu...." Theo menangis, memeluk kaki Hans yang panjang.
Thomas mendengus pelan, ia seperti melihat Cleve kecil di depannya. Pedih menyeruak di hatinya, ia tahu pasti anak itu juga merasakan trauma. Meski tak separah Cleve dulu.
__ADS_1
"Tidak apa sayang.. itu bukan kesalahan kamu!" ujar Thomas. "Dia pasti akan segera bangun! Tenanglah!"