
Berbanding terbalik dari apa yang diperkirakan oleh Agung, Juni malah mengungkapkan keinginannya untuk bercerai dari suaminya.
"Pa, aku ingin bercerai!" Ujar Juni saat ayahnya datang menjenguknya.
Agung kaget, namun setengah hatinya merasa lega.
"Sungguh?!" Tanya Agung, "Apa kamu sudah memikirkannya baik-baik?!"
"Aku sudah memikirkannya pa!" Sahut Juni, "Aku ingin berpisah!"
Agung merasa sangat senang. Syukurlah anaknya juga memikirkan hal yang sama.
Awalnya Agung takut, Juni akan bersikeras mempertahankan pernikahannya dengan Eric. Mengingat Juni sangat mencintai pria itu.
Meski mempertahankan pernikahan adalah hal yang baik, tapi pernikahan tanpa cinta juga bukan solusi yang baik.
"Sebenarnya, beberapa hari lalu, dia sudah melayangkan gugatan cerai untukmu!" Ucap Agung. Ia meraih tas-nya dan mengeluarkan surat gugatan cerai itu.
Agung selalu membawanya kemana-mana. Ia mencari waktu yang tepat untuk membicarakannya dengan anaknya. Namun ia selalu kehilangan momen. Untungnya hari ini Juni sendiri yang mengungkapkannya.
Memang Juni sendiri menginginkan sebuah perceraian. Namun saat itu ada di depan matanya, ia merasa syock juga. Seolah-olah disiram oleh berliter-liter air dingin, tubuhnya meremang seketika.
Seluruh kenangan awal hubungan mereka hingga akhir menyedihkan beberapa waktu lalu, terlintas kembali di benak Juni bagai slide foto. Tiba-tiba ia teringat Zoe.
Jika ia bercerai, Zoe tidak akan memiliki keluarga yang lengkap. Anaknya mungkin tidak akan sebahagia anak dengan keluarga normal.
Sejak menikah, tidak pernah terlintas barang sedetik pun dipikirannya, bahwa ia akan bercerai seperti ini. Ia menikah untuk memiliki keluarga kecil yang bahagia, seperti keluarganya. Tak pernah sekalipun ia membayangkan bahwa hal ini akan menimpanya.
Seketika air matanya mengalir tiada henti.
Agung yang melihatnya merasa sangat sedih. Ia tahu, sesakit apa hati putrinya saat ini. Direngkuhnya bahu Juni. Diusapnya kepala Juni.
"Ini pilihan tepat sayang! Ini pilihan yang tepat!" Ucap Agung, "Papa bangga padamu!"
Mendengar penghiburan dari ayahnya, Juni merasa lebih tenang. Emosi yang mengalir tak terkendali tadi, tiba-tiba memudar. Tergantikan dengan tekad yang kuat.
Ia teringat saudara kembarnya yang koma, teman-temannya yang terus menyemangatinya, ibu dan ayahnya yang selalu mengasihinya, serta tentunya Zoe. Putri kecilnya!!
"Pa, tolong buat dia menderita!" Ujar Juni kemudian. "Dia telah menghancurkan hatiku, setidaknya aku harus menghancurkan hidupnya!!"
****
"Jika anda berniat pergi dari Presdir Sagara, datanglah pada saya! Saya akan menerima anda!"
Kata-kata Cleve waktu itu terus terngiang di benak Nawang. Ia tidak bisa memahami maksud dari kata-kata itu. Dia tidak mau GeEr. Tapi kata-kata Cleve seolah menyiratkan ketertarikan pada Nawang.
__ADS_1
'Apa maksudnya pergi dari 'the last'?! Bukan pergi dari Sagara!! Apa mungkin maksudnya, dia akan menerimaku di 'Cleve' jika aku keluar dari 'the last'?!'
'Keluar dari 'the last'??' pikir Nawang.
Ia baru menyadari hal ini setelah memikirkan ucapan Cleve. Apakah dirinya akan tetap melanjutkan rencana pernikahan dengan Sagara?! Setelah apa yang dilakukan pria itu, bisakah ia menerimanya dengan ikhlas?!
Jika pada akhirnya pernikahannya dibatalkan, masih sanggupkah ia berada dalam satu perusahaan dengan Sagara?!
Nawang terus tercenung. Ia terpaku menatap layar laptop di depannya tanpa bergerak.
Tanpa disadari olehnya, rekan-rekan satu timnya yang lain terus memperhatikannya. Dan merasa iba pada keadaannya.
"Ya ampun, kasihan mbak Nawang!" Bisik Wulan. "Akhir-akhir ini pasti sulit, dia sering banget bengong kayak gitu!"
"Gimana ya cara ngehiburnya?!" Bintang bertanya, "Mbak Rani ada ide gak?!"
"Ajak makan-makan aja gimana?!" Usul Alden.
"Ish! Itu sih mau elu kan?!!" Ucap Bintang, "Gimana kalau kita bikin pesta kejutan?! Mbak Nawang kan sebentar lagi ulang tahun!!"
Rani mengangguk, "Bener! Kita bikin pesta buat mbak Nawang!"
****
"Cleve.. apa hari ini kau ada waktu?! Bisakah kau makan malam denganku?! Ada yang ingin aku katakan padamu!" Tanya Lalita.
Awalnya Yoshi merasa kasihan pada 'nyonya' yang diabaikan oleh tuannya. Ia bisa memahami tindakan-tindakan buruk wanita itu, karena tidak dianggap oleh suaminya.
Namun setelah mengetahui fakta bahwa 'nyonya' yang ia kasihani itu telah menghianati tuannya, rasa iba di hati Yoshi sirna seketika.
Yoshi tumbuh di tengah keluarga biasa, ia anak yang cerdas dan mudah bergaul dengan siapa saja. Namun hidupnya segera berubah saat ayahnya mendapatkan peluang dan sukses dalam waktu sekejap.
Ayahnya yang mendadak jadi jutawan, kemudian mulai berubah. Mulai sibuk dengan pekerjaan dan mengesampingkan keluarga.
Tahun demi tahun berlalu, ibunya awalnya bisa menerima.
Tapi kemudian, rasa jenuh menghampirinya. Jenuh akan ketidak pedulian suaminya, letih pada rutinitas yang tak pernah berubah. Sama seperti sang nyonya yang sering dilihatnya, ibunya juga meledak dan bertingkah aneh setiap kali suaminya mengabaikannya.
Yoshi yang tumbuh di tengah keluarga yang seperti itu, menjadi anak yang lebih peka. Ia mengerti ayahnya yang sibuk, ia memahami ibunya yang jenuh. Untuk meringankan penderitaan kedua orang tuanya, ia berusaha menjadi anak yang lebih mandiri di usianya yang masih kecil. Yoshi percaya suatu saat nanti semuanya akan kembali seperti semula.
Namun kemudian, hal yang tidak bisa dipahami oleh Yoshi pun terjadi.
Alih-alih memperbaiki hubungan dengan ibunya, ayahnya malah membuat hubungan baru dan berselingkuh dengan sekretarisnya.
Yoshi, tidak bisa memahami pilihan ayahnya itu!!
__ADS_1
Sama seperti apa yang terjadi saat ini, 'Kenapa nyonya lebih memilih untuk berselingkuh?! Kenapa tidak berusaha memahami tuan?!'
Meski diakui oleh Yoshi, bahwa perbuatan Cleve yang mengabaikan istrinya itu salah. Namun itu semua ada alasannya, bukan karena memang Cleve sengaja melakukannya.
Jika memang Lalita mencintai Cleve, seharusnya ia berusaha memahami Cleve. Tapi sepanjang Yoshi melihatnya, wanita itu hanya menuntut untuk dicintai oleh Cleve. Tanpa ingin memahami Cleve.
"Maaf, hari ini aku tidak ada waktu. Ada hal yang harus aku kerjakan!" Ucap Cleve tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas di tangannya, "Apa ada hal penting?! Kau bisa mengatakan nya sekarang!!"
Lalita terdiam, ia sebenarnya ingin marah melihat sikap Cleve yang acuh tak acuh padanya. Namun ia datang untuk meminta maaf pada Cleve, ia tidak ingin merusak suasana hati Cleve.
"Sebenarnya...." Lalita hendak berkata, namun ia ingat ada orang lain disana selain suaminya.
"Bisakah kau pergi sebentar?!" Sembari melirik Yoshi yang tegap berdiri di sisi suaminya, Lalita berkata "Ini sesuatu yang bersifat pribadi, aku ingin membicarakannya hanya dengan suamiku!"
Yoshi yang memahaminya, mengangguk kemudian pamit permisi dari hadapan Cleve.
Setelah kepergian Yoshi, Lalita mendekat ke arah suaminya. Berdiri tepat di depan meja Cleve, Lalita kemudian bertanya, "Apa kau tahu semuanya?!"
"Tentang?!" Cleve bertanya singkat. Ia masih meneliti berkas-berkas yang bertumpuk di mejanya. Netranya bergerak cepat, tak sedetikpun fokus pada Lalita.
"Apa kau bisa menatapku sebentar?! Ini hal yang penting!" Pinta Lalita geram.
Cleve mendengus, ia kemudian mengalah. Cleve meletakkan berkas-berkas yang digenggamnya dan menatap Lalita langsung.
"Apa kau melihat isi smartphone itu?!" Tanya Lalita.
"Iya" sahut Cleve singkat.
Dheg!!
Jantung Lalita mencelos. Ia sudah menyangkanya sebelumnya, tapi saat Cleve mengatakannya langsung, rasanya sungguh berbeda.
"Itu.. aku...aku.." Lalita berusaha mencari-cari alasan. Padahal ia sudah memikirkan alasan yang akan ia ucapkan pada Cleve, namun saat berhadapan langsung dengan suaminya. Ribuan alasan itu seketika sirna.
"Anu.. aku..." Lalita gagap.
"Kau tidak perlu menjelaskannya padaku!" Ujar Cleve, "Kau ingat kontrak kita, bukan?! Itu adalah urusan pribadimu. Tak ada hubungannya denganku!"
Lalita seharusnya merasa lega karena Cleve tidak mempermasalahkan penghianatannya, namun entah kenapa ia sangat marah.
"Apa kau tidak marah?!" Tanya Lalita kemudian, "Aku tidur dengan pria lain di belakang mu!"
"Lalu?!" Cleve balik bertanya, "Apa hubungannya denganku?!"
"Apa hubungannya?! Aku istrimu, kau.. kau suamiku!!"
__ADS_1
"Kalau kau istriku, kenapa kau selingkuh?!" Tanya Cleve kemudian, "Hubungan kita hanya di atas kertas, seluruh kehidupan pribadi kita tak saling bersinggungan! Ingat saja klausul itu!"