Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 57


__ADS_3

Seolah matanya itu adalah keran yang bocor. Nawang terus menangis tiada henti.


Meski telah keluar dari pelataran rumah sakit, Nawang tetap setia dengan isakan di setiap nafasnya.


Cleve hanya diam, ia tetap menemani Nawang dengan tenang dan melajukan mobilnya dengan perlahan.


Menuju ke bangunan terbengkalai itu, Cleve hendak menghibur Nawang yang tengah gundah.


Nawang yang menyadari tujuan Cleve pun merasa heran. Sebelumnya, pria itu menyuruhnya untuk tidak datang kesana. Tapi sekarang Cleve malah mengajaknya kesana!


"Kamu sedang sedih makanya aku bawa kesini!" ujar Cleve, "Jadi kamu boleh menangis sepuasnya. Lagipula kamu kan tidak sendiri, ada aku disini!!"


Nawang tercenung. Ia menatap Cleve dalam diam. Setelah apa yang terjadi, ia baru sadar bahwa Cleve tak lagi bicara dengan formal padanya.


Biasanya pria itu berkata 'saya' tapi sekarang 'aku'?!


'Sejak kapan?!' batinnya. Karena terlalu larut oleh emosinya, Nawang tak menyadari sebelumnya perubahan kosakata bosnya itu.


Tentu Nawang merasa aneh, karena setahunya, Cleve tak pernah mengatakan hal itu pada Yoshi atau bawahannya yang lain. Tapi ia tak bertanya. Ia hanya mengikuti Cleve dengan patuh.


Porsche hitamnya yang mengkilap pun akhirnya melambat. Tepat di depan sebuah bangunan tua yang terabaikan, Cleve pun berhenti.


Ditemani oleh Cleve, Nawang naik ke atas bangunan itu. Meski jalan di dalam gedung itu gelap, ia masih bisa berjalan dengan cepat karena sudah terbiasa.


Saat ia sampai di atap, angin dingin menghantam wajahnya. Seketika, Nawang merasa segar. Air matanya yang tadi tak bisa berhenti seketika sirna ditiup angin.


Itulah keajaiban gedung itu bagi Nawang, hanya dengan naik ke atasnya saja, seluruh perasaan tak nyamannya langsung hilang.


Nawang melangkah menuju ke pinggir. Dari atas, ia melihat indahnya kota di malam hari. Gemerlap cahaya lampu-lampu kendaraan yang lalu lalang bagaikan bintang-bintang.


Yah, meskipun gedung itu terabaikan dan tak terawat. Namun ia menyimpan rahasia keindahannya sendiri.


Nawang merasa ironis setiap kali memikirkannya.


Dibalik sesuatu yang dianggap buruk pun ternyata ada hal baik yang tersembunyi.


Seperti dirinya, kecelakaan Sagara adalah hal buruk yang menimpa dirinya. Namun karena hal itu pula ia menyadari perselingkuhan Sagara dan Lalita, sehingga terhindar dari pernikahan yang toxic.


Ia kemudian berhenti dari 'The last', tempat yang bertahun-tahun menjadi tempat bernaungnya. Tapi karena hal itu, ia bisa masuk ke dalam 'Cleve' yang merupakan impiannya sejak muda.

__ADS_1


Walaupun ia kehilangan sesuatu, selalu ada hal lain yang menjadi penggantinya. Seolah-olah itu adalah pertukaran yang adil yang Tuhan berikan padanya.


Apakah mungkin bisa dikatakan begitu?!!


Nawang termenung, memikirkannya di benaknya.


Apakah ini yang disebut sebagai sebuah berkah di balik musibah?!


Sebuah keindahan di balik keburukan?!


Mungkin... Begitu juga dengan penyakit yang di derita oleh Odelia. Mungkin ini adalah takdir yang membawanya mencapai keindahan.. ya.. keindahan.. keindahan apa itu?!


Apakah kematian?!


Apakah kematian itu indah?!


Nawang tercenung, berusaha memikirkan hal positif yang berada di balik penyakit yang di derita oleh sahabatnya. Tapi sekeras apapun ia memikirkannya, tak ada.. tak ada hal positif apapun yang muncul.


Mungkinkah.. mungkinkah.. penyatuan Juni dan Abraham?! Ah tidak.. itu bukan anugrah!! Itu mungkin lebih bisa disebut sebagai derita seumur hidup untuk mereka. Menikah dengan orang yang tidak mereka cintai!!


"Ha..." Nawang menahan tangis. Ia menatap hening ke bawah. Tenggelam dalam pikirannya lebih dalam lagi. Ia bahkan lupa dengan keberadaan Cleve disana.


Cleve kemudian melepaskan mantelnya, membungkus tubuh Nawang yang gemetar.


Saat itulah Nawang tersadar, bahwa Cleve ada di sisinya.


"Terimakasih, tuan.." gumamnya canggung. Ia baru merasa malu sekarang, karena telah menunjukkan sisi buruknya pada Cleve. "Tuan pasti berpikir saya sangat cengeng!!"


Cleve mendengus pelan, "Tidak, kenapa aku berpikir begitu?!"


"Saya menangis tanpa henti, seperti mesin air mata!" ucap Nawang malu. Wajahnya merona. Pipinya yang tadi terasa membeku tiba-tiba panas.


"Yah.. tadi memang aku pikir begitu!" ungkap Cleve jujur, "Tapi wajar kamu seperti itu!"


Nawang terkesiap. Tak menyangka Cleve akan mengatakan hal itu.


"Menangis saat bersedih itu perlu!" ujar Cleve, "Aku sudah pernah mengatakannya padamu kan?!"


Nawang tersenyum. Bibirnya yang berubah kebiruan itu melengkung. Ia menatap Cleve dengan haru.

__ADS_1


"Tuan begitu baik..." sahut Nawang, ia memuji kebaikan atasannya itu. Yang selalu saja membantunya. Bahkan sejak sebelum Nawang menjadi bawahannya. "Kalau di pikir-pikir..sejak mengenal anda pertama kali, anda selalu baik terhadap saya!"


"Anda selalu membantu saya, menguatkan saya dan selalu menuntun saya saat saya kehilangan arah!" sambung Nawang."Apa anda juga melakukan hal yang sama pada orang lain?!"


Nawang mengatakannya tidak dengan tujuan lain. Ia hanya iseng mengungkapkannya. Karena Cleve memang selalu baik padanya. Rasanya Nawang senang dan juga bertanya-tanya di saat bersamaan.


Namun pertanyaan Nawang yang iseng-iseng itu, membuat Cleve tersentak. Dan menembus ke dalam hati Cleve.


"Tidak!!" sahut Cleve lugas, "Hanya kamu.. aku seperti ini hanya padamu!"


Nawang yang bertanya hanya karena iseng itu, terkesiap mendengar jawaban tak terduga Cleve. Rasa penasaran yang selalu dipendamnya membuncah.


"Kenapa?!"tanya Nawang kemudian.


"Karena aku mencintaimu!" tegas Cleve.


Nawang terhenyak. Seketika panas mengalir di tubuhnya. Nawang bingung mau mengatakan apa.


Namu sejurus kemudian, ia terlena saat Cleve memeluknya dengan hangat dan menc*umnya dengan mesra.


****


Cleve tak mengerti, dorongan aneh apa yang ia rasakan saat melihat wajah Nawang yang tersentak kaget dan memerah.


Ia tak lagi bertanya-tanya atau menganalisis di dalam benaknya. Ia kemudian hanya mengikuti instingnya.


Saat ia ingin memeluknya, ia memeluknya dengan erat dan saat ia ingin menyentuh bibirnya yang cantik. Ia melakukannya.


Saat ia menyentuh bibir merah Nawang dengan bibirnya, Cleve merasa aneh. Bukan sesuatu yang menjijikkan seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Itu adalah sensasi asing yang membuatnya merasa seperti ada di atas awan.


Tubuhnya seolah mengambang padahal ia yakin masih menginjak tanah.


Setiap kali ia mengecapnya, sengatan-sengatan kecil seperti percikan listrik mengalir di dadanya. Kulitnya yang bergesekan dengan Nawang terasa panas. Seperti terbakar tapi membuat ketagihan.


Ia merasa sangat haus. Semakin lama bibir mereka bersentuhan, semakin besar dahaga yang ia rasakan.


Ia mereguk dan mereguknya lebih dalam. Namun ia tak pernah merasa puas dan semakin tak bisa mengontrol dirinya.


Semakin lama, ia merasa semakin rakus. Rasa nikmat itu, ia menginginkannya lebih dan lebih lagi. Sehingga Ia menggali lebih dalam seolah-olah dengan melakukannya, ia akan mendapatkan kepuasan yang ia dambakan.

__ADS_1


****


__ADS_2