
Kematian Odelia begitu mendadak! Bagaikan mimpi yang terjadi secara tiba-tiba, itu terasa sangat jauh dari kenyataan!!
Hingga saat Odelia di kuburkan, Nawang dan Juni masih linglung. Apapun yang terjadi di sekitar mereka, terasa bak ilusi semata. Lelah menangis dan tersedu, hanya air mata yang meluncur. Membasahi pipi kedua sahabat itu.
Hingga kemarin mereka masih bertiga, namun sekarang satu diantara mereka harus terbaring tenang di dalam peristirahatan abadi.
Sampai doa-doa yang dipanjatkan berhenti mengalun, tubuh Juni yang telah lelah secara fisik dan mental itupun ambruk. Ia tak bisa menahan gejolak emosi yang mengalir di dalam dirinya.
Seolah takdir terus mempermainkannya! Saat ia menginginkan kematian, malah sahabatnya lah yang akhirnya pergi meninggalkan mereka selamanya.
Juni merasa sangat menderita.
Setelah apa yang terjadi antara dirinya dan Abraham, Juni tak memiliki keberanian untuk menemui Odelia lagi. Ia merasa malu.
Setiap kali membayangkan senyum Odelia yang menyambutnya, Hatinya terasa pilu.
Ia merasa tak pantas berdiri di samping Odelia setelah hal kotor yang ia lakukan dengan Abraham. Meski itu terjadi bukan karena keinginannya atupun Abraham. Namun itu tak menjadikan fakta bahwa mereka telah menghianati Odelia, berubah.
Juni merasa sangat sakit!
Melihat Juni menangis dalam keadaan tidak sadar, hati Abraham ikut perih. Abraham masih merasakan ketakutan di mata Juni saat melihat dirinya. Bahkan tubuhnya gemetar dan Juni selalu menghindar.
Perasaan Abraham kini terbagi, antara rasa sedih dan bersalah yang terus menghantui.
Ia ingin jujur pada istrinya setelah semuanya berakhir!! Saat Odelia membaik setelah menjalani serangkaian perawatan, Abraham berencana untuk mengakui kesalahan yang telah ia perbuat terhadap Juni. Dan meminta pengampunan pada istrinya.
Namun alih-alih meminta pengampunan, mengakuinya saja ia tak sempat. Odelia di panggil begitu cepat!!
****
Menyerahkan amplop berwarna putih bersih dengan nama 'Nawang Anjani' pada Nawang, Abraham hanya mengatakan kata-kata singkat.
"Odelia yang menulis ini!"
Nawang terperanjat, air matanya yang telah surut kembali tumpah ruah. Menggigit bibirnya kuat-kuat, Nawang meraih amplop yang disodorkan Abraham.
Saat ia membuka amplop itu, tulisan tangan yang familiar menyapa Nawang. Pilu menyeruak di dadanya ketika ia membaca barisan pertama surat itu.
[Jangan menangis! Kalau kamu menangis, mungkin Cleve akan mengutuk diriku yang sedang bersenang-senang di surga]
Seolah-olah ia tahu akan pergi, Odelia menulis kata-kata yang menyiratkan kematian.
__ADS_1
[Kau masih ingat janjimu padaku kan?!]
Nawang yang membaca kalimat itu langsung mengangguk, seakan-akan tengah berbicara pada Odelia.
[Tolong tepati janjimu!!]
Nawang kembali mengangguk. Nawang juga sudah menyanggupi permintaan sahabatnya itu sebelumnya.
[Bagus!! Aku tahu kau akan melakukannya untukku! Aku percaya padamu]
Seolah-olah Odelia tahu jawaban yang akan diberikan oleh Nawang sebelumnya, ia terus mengungkapkan hal-hal menakjubkan di dalam suratnya.
Setiap baris yang dibacanya, menambah kerinduan di hati Nawang pada Odelia. Dadanya sesak oleh rasa sakit yang tak terhingga. Tak terkira berapa banyak air mata yang keluar, suaranya serak dan tenggorokannya terasa perih. Tapi hatinya yang berdenyut nyeri, jauh membuatnya lebih tersiksa.
Saat ia selesai membaca isinya, ia dikagetkan oleh suara Abraham yang ada di dekatnya.
Nawang melihat Abraham yang berada tak jauh darinya juga menangis.
Membaca surat yang serupa dengan miliknya, Abraham jatuh lunglai ke tanah dan meraung dengan menyedihkan. Seolah-olah ia merasa sangat kesakitan.
[Mas... jangan ingkar, meski aku sudah tidak ada. Aku akan terus mengawasimu dari sana! Ingat mas, janji adalah janji]
Abraham tak sanggup menahan kesedihannya. Seolah-olah itu meledak di dalam dirinya. Saat Odelia memanggilnya 'mas' adalah saat mereka belum menikah.
Seakan menyiratkan bahwa hubungan mereka kembali seperti semula, Odelia memanggilnya dengan 'Mas'.
'Apa maksudmu?! Apa bagimu kita sudah bukan suami istri lagi?!' batin Abraham pahit.
Seperti menjawab pertanyaan Abraham, barisan selanjutnya dari surat Juni menghantam hati pria itu hingga hancur berkeping-keping.
[Mas, sekarang kamu bebas!! Janganlah terpaku pada hubungan kita yang telah lewat! Aku mohon, kamu harus berbahagia. Demi diriku yang pernah menjadi pendampingmu. Dan demi dirimu serta anak kita, yang harus terus menjalani hidup]
****
Menangis tersedu, Juni menggenggam erat amplop putih dengan namanya yang tertulis di bagian luarnya.
Hanya dengan melihat tulisan rapih milik sahabatnya itu, hati Juni terasa perih.
Pahit menyebar saat ia membuka amplop itu. Dengan tangan yang gemetar ia membaca baris demi baris surat yang disiapkan oleh Odelia untuknya.
Tak bisa menahan kesedihannya, Juni kembali terisak. Buliran-buliran bening kembali melesak keluar dari pelupuk matanya.
__ADS_1
Seolah itu tak pernah habis, air matanya mengalir bagai mata air abadi.
[Tuhan tak pernah menciptakan sesuatu tanpa tujuan! Tuhan tak pernah menggariskan sesuatu tanpa maksud tertentu. Perceraianmu dan juga penyakitku. Pasti ada alasan di balik itu!]
[Aku yakin Tuhan juga sudah menunjukkan jalan pada dirimu dan mas Abraham untuk bersatu! Jika hal itu terjadi, ku mohon padamu untuk mau menerimanya]
Membacanya, hati Juni bergejolak. Kejadian malam itu kembali terulang di dalam benaknya.
Kengerian, rasa sakit dan keputus asaan yang seolah membuatnya hampir gila. Ia marah, benci dan jijik pada dirinya sendiri.
Apakah itu yang disebut takdir Tuhan?!
Kenapa dirinya dan juga Odelia harus menghadapi dan menerima takdir yang sekejam ini?!
Juni merasa pedih. Ia menangis dalam diam, menggigit bibirnya kuat-kuat.
Abraham yang datang untuk memeriksa keadaan Juni, hanya bisa menatap wanita itu dari jauh. Sedih melihat penderitaan Juni yang mungkin berasal darinya. Ingin rasanya ia berlutut dan memohon maaf pada Juni, tapi ia ragu. Ia takut Juni akan gemetar ketakutan saat melihatnya.
"Abraham, bisa kita bicara sebentar?!" Nawang yang muncul, tiba-tiba mengajaknya untuk berbicara.
Mereka beralih ke tempat lain untuk mengobrol. Tak mau mengganggu Juni yang tengah emosional.
"Apa Odelia juga mengungkapkan permintaan terakhirnya padamu?!" tanya Nawang tanpa basa-basi.
Abraham yang lemas, menatap Nawang tanpa ekspresi. Sesaat ia hanya diam, namun kemudian tiba-tiba berujar, "Jika yang kau maksud itu adalah menikahi Juni, iya..Odelia menyebutkannya!"
"Bagaimana menurutmu?!" tanya Nawang, meski ia sudah berjanji untuk menyatukan kedua orang itu pada Odelia. Itu tak menjadikan Nawang buta, dan memaksa keduanya untuk menikah begitu saja.
Abraham mendengus, memejamkan matanya sembari menutup pikiran-pikiran rumit yang terus berdengung di kepalanya.
Lalu dengan satu keyakinan penuh, Abraham berkata.
"Aku ingin mengakui sesuatu!" ujar Abraham.
Nawang mengernyit, "Mengakui apa?!"
"Aku.. aku telah melakukan kesalahan!!" gumam Abraham, getir menyeruak memenuhi lidahnya, seketika ia merasa kelu.
Masih mendengarkan, Nawang hanya memperhatikan Abraham.
"Aku telah men* dai Juni!"
__ADS_1