Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 75


__ADS_3

"Maksud om?!" raut wajah Cleve seketika berubah, senyum ramahnya menghilang. Tergantikan oleh wajah dingin tanpa ekspresi.


"Oh... om cuma bercanda, Cleve!Hahahaha!" diiringi oleh gelak tawa, Sahan berkata, "Jangan terlalu serius!!"


"Putriku ini memujimu di depanku!! Aku rasa dia terpesona olehmu!!" sambung Sahan.


Sahna yang bergelayut di sebelah ayahnya, langsung merajuk. Menggembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya.


"Ayah kenapa bilang-bilang!!!" keluh Sahna. Ia tersipu malu, menyembunyikan wajahnya di balik lengan ayahnya.


"Ya ampun!!!" Sahan terkekeh, "Kamu sudah 23 tahun, masih kekanak-kanakan begini! Bagaimana mau punya pacar kalau begitu?!"


"Ayah!!!" Sahna merajuk.


"Hahaha.. oh iya Cleve, apa kau tidak membutuhkan asisten atau sekretaris?! Aku ingin putriku ini belajar berbisnis!" ucap Sahan, berbicara pada Cleve, "Sayangnya dia tidak tertarik bekerja di perusahaanku, dia tidak menyukai bidang pertelevisian!"


Sahna merenggut mencengkeram tangan ayahnya, tak ingin ayahnya mengungkap aibnya di depan pria tampan di depannya.


"Hahaha... iya iya.." Sahan menepuk-nepuk tangan putrinya, memahami maksudnya, "Dia sangat mengagumimu dan kebetulan tertarik dengan dunia kosmetik!!"


Cleve menyunggingkan senyum bisnis, aura mencekam yang ia keluarkan tadi seketika menghilang.


"Saya sudah memiliki sekretaris dan juga asisten! Tapi kami membutuhkan orang di bagian marketing!" ujar Cleve jujur. "Jika om mau, mungkin Sahna bisa menempati posisi itu!"


Sahna menarik-narik jas ayahnya memberi tanda bahwa ia mau melakukannya.


"Baiklah kalau begitu! Aku minta tolong padamu, bimbing anakku dengan baik, Cleve!!" ungkap Sahan memahami maksud putrinya.


Sudah sejak lama Sahna kepincut dengan pesona Cleve. Sahna memang agak unik, dia lebih tertarik pada pria yang jauh lebih tua darinya, daripada pria yang seumuran dengannya.


Sebagai pembanding, dia lebih tertarik dengan seorang guru berusia matang ketimbang dengan kakak kelasnya yang tampan.


Pria-pria yang dipacarinya biasanya memiliki selisih usia belasan tahun lebih tua darinya.


Namun belakangan ini, tak ada pria matang yang bisa menggantikan posisi Cleve di hatinya. Sehingga sudah satu setengah tahun ini, dia tidak menjalin hubungan dengan siapa pun.


Sahna jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Cleve, saat ia bertemu untuk pertama kalinya dengan Cleve di studio ayahnya. Waktu itu Cleve datang untuk menjadi bintang tamu dalam sebuah acara besutan ayahnya.


Cleve yang tampan dengan pesona misterius itu, telah menghipnotis Sahna yang masih muda dengan cinta. Aura dinginnya dan mata tajamnya, seolah menusuk jantung Sahna, hingga membuat Sahna tak bisa berpaling darinya.


Namun Sahna segera kecewa setelah mengetahui bahwa Cleve sudah memiliki seorang istri yang cantik.

__ADS_1


Selama beberapa waktu, Sahna menderita oleh perasaan patah hati yang dalam. Ia menyesali dirinya yang lahir terlambat, dan mengutuk dewa yang telah membuat Cleve lahir terlalu cepat.


Tapi semua rutukannya itu sirna saat mendengar berita perceraian Cleve dan Lalita, tergantikan dengan rengekannya pada sang ayah.


Sahna yang ingin mendekati Cleve, meminta ayahnya untuk menjadikan dirinya sebagai sekretaris Cleve.


Bosan mendengar rengekan putrinya, Sahan berniat meminta bantuan Thomas. Sehingga Sahan mengundang Thomas untuk datang dalam acara amalnya. Tak disangka, malah Cleve sendiri yang datang.


'Takdir memang tak bisa disangka-sangka!' batin Sahan.


****


Mengelus-elus rambut panjang milik Juni, Nawang membiarkan sahabatnya itu tidur di pangkuannya. Bernostalgia tentang masa lalu mereka, kisah persahabatan tiga perempuan. Mereka tertawa dan menangis selama berjam-jam.


"Sepertinya baru kemarin kita mencoret-coret seragam satu sama lain!!" gumam Juni, mengingat pesta perpisahan di zaman SMA.


Nawang mendecih, "Ngawur!! Sadar diri dong, umurmu sudah berapa sekarang?!"


Juni terkekeh, "Itu masa-masa paling bahagia, tidak ada derita, tidak ada kesedihan, hanya perasaan bahagia!!Hanya ada kita bertiga!"


Nawang tersenyum. Ia sependapat. Saat itu hidup mereka tak serumit ini. Tidak ada cinta yang membuat mereka merasakan sakit akibat penghianatan. Kesibukan mereka hanya diisi oleh bermain, belajar dan berkumpul bersama teman-teman.


"Jika aku bisa mengulang waktu, aku ingin kembali ke masa-masa itu!" celetuk Juni tiba-tiba.


"Apa yang akan kau lakukan, jika kau bisa mengulang waktu?!" tanya Juni. Ia menatap Nawang dengan sendu. "Apa ada yang ingin kau ubah?!"


Nawang terdiam sejenak, "Aku akan meminta Odelia untuk memeriksakan kesehatannya secara berkala!"


"Lalu?!"


"Lalu menampar wajah Eric dan memintamu putus dengannya!!" ujar Nawang dengan senyum di bibirnya.


"Lalu?!"


"Lalu...." Nawang tercenung, memikirkan apa lagi yang akan ia lakukan. Tapi kemudian ia menggeleng perlahan dan berkata, "Tidak ada!"


"Tidak ada?!" Juni mengernyit, "Bagaimana dengan Sagara, apa kau akan tetap menjalin hubungan dengannya?!"


Nawang tercenung. Memang benar rasa sakit yang telah Sagara torehkan padanya sangat besar, namun itu tak serta merta membuat Nawang menyesali semua yang terjadi diantara mereka.


Sagara juga pernah memberikan kebahagiaan pada Nawang, Nawang juga belajar banyak hal dari Sagara.

__ADS_1


Mungkin jika ia bisa mengulang waktu dan tidak menjadi kekasih Sagara, ia akan tetap mempertahankan hubungan persahabatan diantara mereka. Namun dirinya dan Cleve juga.. mungkin tak bisa bertemu. Dan tak bisa bersama seperti sekarang ini.


Dari rasa sakit yang telah ia dapatkan, ia menemukan kebahagiaan tiada tara. Ia menemukan perasan cinta yang bergelora, yang tak pernah ia tahu ada sebelumnya.


"Entahlah.. aku tak terlalu menyesali apa yang terjadi padaku dan Sagara!" ucap Nawang kemudian.


Juni tersenyum.Entah kenapa ia merasa sedikit lega saat sahabatnya itu mengatakan hal itu.


"Lalu bagaimana denganmu?!" tanya Nawang, balik bertanya pada Juni.


Juni tercenung. Ada banyak!! Ada banyak hal yang akan ia ulang.


Dari keputusannya yang memaksa Nawang untuk masuk ke dalam 'the last' dan juga menikahi Eric. Ia menyesal karena tak menyadari penyakit Odelia lebih cepat dan juga menyesali pilihannya membawa Abraham ke apartemennya. Ada begitu banyak hal yang salah dalam hidupnya.


"Begitu banyak penyesalan... sepertinya semua dalam hidupku berjalan dengan salah!" gumam Juni kemudian.


Menatap sahabatnya dengan pilu, Nawang mengelus lembut rambut Juni perlahan.


"Tapi aku yakin, kau tak menyesali kehadiran Zoe!" celetuk Juni.


Dheg!!!


Mendengar ucapan Nawang, barulah Juni tersadar. Ia yang begitu tenggelam oleh penderitaannya, lupa pada putri semata wayangnya itu.


Tangisnya pecah, mengingat wajah lucu Zoe yang tersenyum lebar ketika melihat dirinya.


"Kau benar... Zoe!! Aku tak pernah menyesali kehadirannya!" ujar Juni, "Jika aku bisa memutar waktu berapa kali pun, aku akan tetap memilih melahirkan Zoe!"


Nawang tersenyum, menelan air matanya yang hendak luruh. Hatinya perih melihat penderitaan Juni di depannya.


Namun tak hanya Nawang yang merasa sedih, Abraham yang mendengar pembicaraan mereka berdua pun ikut merasa perih.


Memikirkan tentang penyesalan dan hal yang salah dalam hidup. Abraham juga memilikinya. Sangat banyak hingga ia tak bisa menghitungnya.


Mulai dari penyesalan yang ia miliki karena tak menyadari penyakit istrinya, lalu dirinya yang telah salah memilih, hingga membuat istrinya menuju ke jurang kematian lebih cepat. Kemudian kesalahan terbesar yang ia lakukan, adalah menemui Zeline malam itu.


Abraham sangat menyesal telah melakukannya!!


Jika saja malam itu ia tak menemui Zeline, pasti Zeline tak akan memiliki kesempatan untuk menjebaknya. Juni tak akan berusaha menolongnya dan wanita itu akan terhindar dari trauma seumur hidup pada Abraham.


Memikirkan semua penyesalannya itu, pilu menyeruak di dada Abraham.

__ADS_1


Jika saja ia bisa menebusnya!! Ia akan melakukan segalanya, bahkan jika itu membunuhnya!


__ADS_2