Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 91


__ADS_3

"Abraham?!" Raka mengernyit saat melihat Abraham ada di depannya, di dalam pikirannya berkecamuk sebuah pertanyaan. 'Kenapa Abraham ada di sini?! Di apartemen teman istrinya?!'


"Hey!!" gugup Abraham menyapa Raka.


"Kenapa kamu bisa ada disini?!" tanya Raka bingung.


"O-oh itu..." gelagapan Abraham menjawab. Ia sebenarnya ingin mengungkapkan kebenarannya pada Raka. Cepat atau lambat, sahabatnya itu akan tahu mengenai pernikahannya dan Juni. "Sebenarnya..."


"Brandon dititipkan ke saya!! Jadi Abraham sering datang ke sini!" sela Juni. Melihat kegugupan di mata Abraham, Juni memahami bahwa pria itu memiliki kondisi khusus sehingga tak bisa menyampaikan kebenaran.


"Oh.. begitu!" Raka masih merasa ada yang ganjil. Namun ia tak mempermasalahkannya. "Kalau begitu, aku permisi dulu!"


"Sampai jumpa, Juni!" seru Raka sembari menyunggingkan senyum ke arah Juni.


Raka mengabaikan pikirannya, dan melaju dengan pelan menjauh dari apartemen Juni.


Sementara itu, Abraham menghela nafas lega melihat kepergian Raka. Ia bingung harus menjelaskan dengan cara apa pada sahabatnya itu, mengenai hubungannya dengan Juni.


"Ada apa?!" tanya Juni, ia menyadari kegelisahan Abraham.


"Raka jatuh cinta padamu!" ujar Abraham mengungkapkan kegundahannya.


"Apa?!" Juni terperanjat, 'Dokter Raka jatuh cinta padaku?!'


Abraham mengangguk, "Tadi pagi dia meminta bantuanku untuk berkenalan denganmu!"


Juni tercenung. Ia tidak menyangka ada seseorang yang akan jatuh cinta padanya di saat seperti ini.


"Raka adalah sahabatku, dia adalah pria yang baik dan penyanyang. Ini adalah pertama kalinya aku mendengarnya mengungkapkan cintanya pada perempuan!" ujar Abraham, ada getaran di suaranya. "Dia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya! Tapi sekarang saat dia jatuh cinta, dia malah jatuh cinta padamu! Wanita yang akan aku nikahi!"


"Aku ingin mengatakan yang sebenarnya. Tapi aku tidak sanggup melakukannya!" lirih Abraham. Bahunya lunglai. Perasaannya campur aduk.


Memahami perasaan Abraham, Juni dengan penuh simpati menepuk bahu Abraham dengan pelan.


Merasa dihibur, Abraham pun tersenyum.


"Terimakasih!" ucap Abraham, "Kamu memang benar-benar wanita yang sangat baik!"


Hati Abraham tiba-tiba pilu.


"Seandainya saja keadaan kita tak seperti ini, aku akan dengan senang hati menjodohkanmu dengan Raka!" ungkap Abraham, "Jika kau bersama dengannya, aku yakin kau akan menemukan kebahagiaanmu! Bukan malah terjebak dengan diriku ini!"


Rasa sesal meluap di dadanya. Seandainya Juni tak terjebak dengannya, mungkin saja Juni akan bertemu dengan pria yang baik, pria yang bisa ia cintai dan juga mencintainya dengan tulus.


Wanita yang sangat malang itu pasti akan menemukan kebahagiaannya. Tak akan terjebak dengan Abraham yang dia takuti!!! Abraham merasa sesak, memikirkan bahwa dirinya telah merebut masa depan Juni yang indah.

__ADS_1


Menyadari penyesalan dari kata-kata yang dilontarkan Abraham, Juni semakin iba. Ia tahu Abraham tengah menyalahkan dirinya sendiri sekarang.


"Jangan salahkan dirimu, Abraham!" ujar Juni, "Ini sudah digariskan Tuhan untuk kita. Mungkin jodohku bukanlah dirinya, melainkan dirimu!"


****


"Apa dipecat?!" Sahna kaget saat dipanggil HRD dan dinyatakan telah dipecat oleh perusahaan.


"Apa alasannya?!" tanya Sahna bingung.


Wahyu yang menyampaikan pemecatan Sahna pun bingung. Ia hanya diperintahkan untuk memecat Sahna, tak ada alasan apapun yang disampaikan oleh atasannya. Katanya ini perintah langsung dari kantor CEO.


"I-itu..." Wahyu tak mampu menjawabnya. Ia tak mungkin mengarang cerita kan?!


Sahna mendengus, "Sepertinya aku bertanya pada orang yang salah!!"


Sahna yakin bahwa Yoshi mengetahui apa yang terjadi. Sehingga ia mencari keberadaan Yoshi.


Namun seharian Yoshi menghindarinya. Yoshi selalu sok sibuk setiap kali Sahna menemuinya. Padahal biasanya tidak seperti itu. Meski sibuk, Yoshi tetap akan mendengarkan keluh kesahnya.


"Jadi begini cara mainnya!!?" keluh Sahna jengkel. Ia yang kesal dengan tingkah Yoshi, kemudian terus menempeli Yoshi.


Walaupun Yoshi mengabaikannya, Sahna tak pantang menyerah dan terus mengekori Yoshi. Awalnya, Yoshi berusaha tidak peduli. Namun lama-lama Yoshi merasa jengkel juga, karena Sahna mengikutinya sembari menjailinya.


"Apa yang anda inginkan?!" ujar Yoshi kemudian. Ia akhirnya menyerah dengan tingkah polah Sahna.


"Anda tidak melakukan tugas anda sebagai karyawan dengan baik, sehingga perusahaan memutuskan secara sepihak untuk mengakhiri kontrak kerja anda!" tegas Yoshi.


"Tidak melakukan tugas dengan baik bagaimana?!" geram Sahna. Dia merasa telah melakukan tugas dengan baik. Selama ini ia mengikuti perintah seniornya dan tak pernah membuat masalah. Tapi kenapa ia tiba-tiba saja dipecat?!!


"Sebenarnya ada apa?! Apa ada alasan lainnya?!" tanya Sahna lagi.


Yoshi mendengus pelan. "Jika anda ingin tahu alasan yang sebenarnya. Silahkan berkunjung ke ruangan CEO, untuk bertemu dengan tuan Thomas!!"


"Tuan Thomas?!" Sahna mengernyit. "Kakek Thomas?!"


"Benar, beliau yang memerintahkan langsung pemecatan anda!" aku Yoshi jujur. Thomas sendiri yang menyebutkan, jika Sahna bertanya tentang pemecatan tersebut. Yoshi diperintahkan untuk mengarahkan Sahna pada Thomas.


Sahna termenung. Ia menatap Yoshi dengan bingung.


"A-ah.. aku tak mau berhenti..." lirihnya, air matanya luruh. Ia benar-benar tak ingin pergi dari perusahaan itu.


Awalnya, dia memang datang ke 'Cleve' untuk menarik perhatian Cleve. Namun pada prosesnya, ia menyukai pekerjaannya;.


Ia bekerja di tengah orang-orang yang menyenangkan, melakukan pekerjaan yang ia tahu dan ia suka. Ditambah, ia bisa sering bertemu dengan Yoshi.

__ADS_1


Benar...


Setelah hari itu, Yoshi menghiburnya di pelataran parkir. Benih cinta di hati Sahna untuk Yoshi pun mekar.


Wajah yang awalnya menjengkelkan, berubah menjadi wajah paling manis yang pernah ia lihat. Ia berdebar setiap kali bertemu Yoshi, bahkan saat Yoshi berlaku dingin padanya, Sahna merasa senang.


Meski Yoshi bertolak belakang dari tipe pria idamannya, Sahna tak bisa memungkiri bahwa hatinya kini tertuju pada Yoshi.


Sementara itu, Yoshi yang prihatin dengan gadis itu, akhirnya memutuskan untuk memberi sebuah wejangan yang tulus.


Seraya mendengus pelan, Yoshi berkata, "Tuan Cleve sudah menikah. Saya harap anda membuang jauh-jauh perasaan anda!! Anda adalah putri dari konglomerat Sahan. Masih ada banyak pria di luar sana yang layak menjadi pendamping anda!"


Namun bukannya senang mendengar penghiburan dari Yoshi, Sahna malah terlihat jengkel. Dengan air mata yang mengalir deras Sahna berkata.


"Dasar Yoshi bodoh!!!!" sentaknya, "Bukan mas Cleve!! Aku mikirin kamu tau!!!"


****


Yoshi tercenung. Mengingat kata-kata Sahna tadi sore.


'Bukan mas Cleve!! Aku mikirin kamu tau!'


Yoshi memang buta masalah cinta, tapi dia bukan orang yang bodoh. Kecerdasannya yang lebih dari rata-rata itu, mau bagaimanapun meyakini bahwa kata-kata Sahna menunjukkan bahwa ia tertarik pada Yoshi.


"Dia menyukaimu!" celetuk Illyas. Illyas menghampiri Yoshi yang tengah duduk di ruang istirahat. Ia dan Illyas sedang menunggu Thomas yang sedang bertemu dengan koleganya di ruang CEO.


"A-apa?!" Yoshi terperanjat.


"Putri tuan Sahan, dia menyukaimu!" ulang Illyas lebih jelas.


Mendapat perintah mengawasi Sahna, Illyas melihat kejadian antara Yoshi dan Sahna sejak awal. Jadi ia yang juga merupakan orang yang cerdas, tahu dengan pasti bahwa Sahna menyukai Yoshi.


Namun bukannya senang, Yoshi mendengus kesal.


"Merepotkan!" ujarnya. Yoshi tak menyukai wanita yang membuatnya kerepotan. Sahna adalah tipe yang paling ia hindari jika harus memiliki kekasih.


"Kenapa menyebalkan?!" Illyas mengernyit, "Bukankah itu bagus?! Kau bisa menjadi pemilik perusahaan besar sekaliber Sahan tv hanya dengan menikahi seorang gadis!"


Menurut hemat Illyas, itu adalah durian runtuh. Kenapa menjadi menyebalkan?! Jika itu Illyas, ia akan menerimanya dengan senang hati.


Illyas adalah orang yang realistis. Tak terlalu terpaku pada cinta, ia lebih condong akan materi.


Sebenarnya, Yoshi tak berbeda jauh dengan Illyas. Namun Yoshi jauh lebih pemalas. Ia menyukai uang!! Tapi ia benci jika uang itu membuatnya kerepotan.


Sahna mungkin merupakan lotere paling besar yang datang dalam hidupnya, namun juga menjadi bom paling mengerikan.

__ADS_1


"Jika aku harus menikahi Sahna! Aku rasa aku akan melepaskan kesempatan untuk menjadi konglomerat!"


__ADS_2