
Aib perselingkuhannya benar-benar menjadi momok yang telah menghancurkan Eric sepenuhnya. Eric tak bisa lagi menjalani hidupnya dengan tenang. Ia kehilangan banyak pelanggan. Bahkan sebagian staff-nya berhenti karena merasa tidak nyaman.
Eric terancam gulung tikar, padahal ia harus membayar hutang-hutangnya di bank. Bahkan ia tak mampu membayar tunggakan sewa apartemennya. Gaji staff bulan lalu yang masih bertahan juga belum ia bayarkan.
"Aku harus apa?!" keluh Eric putus asa.
Ia tak pernah merasa seputus asa ini sebelumnya.
Meski kesulitan untuk membayar biaya sekolah dan kehidupan sehari-harinya dulu, ada Juni yang selalu siap untuk membantu dan mendukungnya. Namun kini, tak ada seorang pun di sisinya.
Di saat seperti ini, Eric benar-benar menyesali perbuatannya.
Namun bagaimana?! Nasi telah menjadi bubur, tak bisa dikembalikan lagi seperti semula.
Di saat bersamaan, Dina yang menjadi pasangan selingkuh Eric juga telah dilanda oleh penyesalan. Ia yang tak sanggup hidup dalam hujatan dan teror, akhirnya kembali ke kampung halamannya.
Meski berat untuk kembali pulang ke kampungnya, namun Dina terpaksa melakukannya. Ia telah menjual semua aset yang ditinggalkan oleh suaminya. Ia berniat untuk membuka lembaran baru dalam hidupnya disana.
****
"Dalam dua minggu, Lalita bukan lagi istri saya!" ucap Cleve, "Anda bisa bertanggung jawab atas dirinya dan janinnya setelah ini!"
Dihantam oleh kenyataan dari mulut Cleve, Agung tak bisa berkutik.
Benar apa kata Cleve, bagaimanapun anak dalam kandungan wanita itu adalah cucunya. Ia tak bisa mengabaikan wanita itu begitu saja.
"Anda benar..." sahut Agung kemudian.
Namun Ria memiliki pikiran yang berbeda, ia kemudian memekik pada Cleve dengan lantang.
"Bagaimana anda bisa yakin kalau itu adalah anak Sagara?!" tanya Ria kemudian, "Kalian adalah suami istri, bisa saja itu anak kalian!!"
Cleve menyeringai, "Anda bisa bertanya pada orang yang bersangkutan!! Mereka mengetahui dengan pasti, tindakan mereka masing-masing!"
"Jika anda merasa masih belum puas juga, silahkan lakukan tes DNA!" sambung Cleve, "Hal itu tidak ada hubungannya dengan saya!"
Ria tersentak mendengar ucapan Cleve. Keyakinan pria itu membuat Ria tersadar, bahwa memang Cleve bukanlah ayah dari anak yang dikandung oleh istrinya.
Dengan mata yang berkaca-kaca, Ria kemudian bertanya pada Lalita.
"Apa benar itu anak Sagara?!" tanya Ria.
Lalita mengangguk lesu, "Benar!"
"Haa..hiks.." Ria langsung lunglai. Air matanya kembali terurai. Tangisnya pun kembali pecah.
__ADS_1
Ia tidak pernah menyangka akan ada saat seperti ini di dalam keluarganya. Seketika Ria memikirkan Nawang.
Ia menatap wanita yang selama ini selalu ia anggap sebagai menantunya. Bagaimana bisa hal ini terjadi?!
"Nawang..." lirih Ria kemudian.
Namun Nawang yang duduk di samping ibunya hanya terdiam. Emosinya campur aduk, antara marah dan sedih. Hatinya juga pilu, tak sanggup melihat Agung dan Ria yang telah ia anggap sebagai keluarganya tersakiti seperti ini.
Sejak Cleve melemparkan kenyataan itu dihadapan semua orang, tubuh Nawang sudah lemas duluan. Ia bahkan tak bisa membuka mulutnya, hanya untuk sekedar mengatakan sebuah kata. Itulah sebabnya, kenapa ia hanya diam dan menyerahkan seluruhnya pada Cleve.
Cleve sangat berbeda darinya, tanpa ragu dan dengan jelas, pria itu mengungkapkan keinginannya. Tak pernah ada kebimbangan di matanya yang tajam itu.
"Saya minta maaf karena telah membuat suasana menjadi kacau!" ujar Cleve, "Saya harap anda tidak salah paham dengan niat saya!!"
"Saya hanya ingin menyampaikan kebenarannya!!" sambung Cleve, "Saya juga tidak berniat menuntut anak anda dengan perz*nahan di pengadilan! Cukup nikahi saja Lalita!!"
"Saya tidak sanggup melihat wanita yang pernah menjadi istri saya, hidup dengan menyedihkan sebagai seorang wanita hamil tanpa seorang suami!"
Mendengar perkataan Cleve, Sagara merasa tertohok dan langsung murka.
"Kalau begitu, kenapa kau menceraikannya?! Tetap pertahankan pernikahanmu saja!!" Sembur Sagara tiba-tiba, "Dia tak akan menjadi wanita hamil tanpa suami, jika kau tak menceraikannya!!"
Agung seketika meledak saat anaknya dengan lancang berbicara.
Hatinya melemah seketika, saat menyadari Sagara terpukul, setelah dibentak olehnya. Putranya itu termenung dengan sorot mata kosong, menatap Agung dengan terkejut.
Ia kemudian menurunkan suaranya. "Cukup Sagara, tolong diamlah!!"
"Pa!!!" ujar Sagara, "Aku tak mau menikahinya!! Aku hanya ingin menikah dengan Nawang! Aku sangat mencintai Nawang, pa!!"
Ucapan Sagara kembali memantik amarah di hati Agung, "Jika kau tak mau menikahinya, kenapa kau menghamilinya?!!"
"Aku tak pernah berniat menghamilinya!! Itu kesalahan!! Kami tak berniat untuk menikah! Kami hanya bersenang-senang, kenapa aku harus bertanggung jawab padanya?! Dia kan sudah memiliki suami!!" teriak Sagara, "Aku hanya ingin menikahi Nawang!!"
Plakkkk!!!
Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi Sagara. Ria dengan garang menatap anaknya yang terkejut.
"Mama...?!!" gumam Sagara kaget. Ia linglung, tak menyangka ibunya yang lemah lembut telah menamparnya.
"Bagaimana bisa aku melahirkan anak sepertimu!!" lirih Ria, "Saudaramu hampir mati karena seorang pria br*ngs*k , tapi kau.. kau malah..."
"Kau bahkan lebih br*ngs*k darinya!!" lirih Ria.
"Bertanggung jawablah, Sagara!!!!" sambung Ria, "Nikahi dia!!! Anak di dalam kandungannya adalah darah daging mu!!"
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Nawang?! Aku tak bisa meninggalkannya! Jika pernikahan kami dibatalkan, bagaimana dengannya?! Aku juga harus bertanggung jawab padanya!!" ujar Sagara.
"Aku tak mau melanjutkan rencana pernikahan kita, Sagara!" ucap Nawang kemudian.
Setelah bertahan dalam diam begitu lama, akhirnya Nawang angkat bicara.
Dengan hati yang berderu dan tangan yang gemetar, Nawang berdiri dan mengungkapkan seluruh isi hatinya yang tertahan.
Berusaha menguatkan putrinya, Karina menggenggam tangan Nawang dengan erat.
"Kamu bisa, sayang!" bisik Karina.
Merasakan kekuatan dalam sentuhan ibunya, Nawang meneguhkan hatinya.
"Ayo kita akhiri ini semua!" sambung Nawang. "Ayo kita akhiri pertunangan kita! Dan batalkan rencana pernikahan kita juga!"
"Apa yang kau katakan?!!" Sagara terkejut. Tidak menyangka Nawang akan mengungkapkan hal itu.
Tanpa menjawab, Nawang kemudian melepaskan dua cincin yang ada di jari-jemarinya. Satu cincin telah disematkan setahun yang lalu oleh Sagara, dan yang lainnya disematkan baru-baru ini juga oleh Sagara.
Dengan tegas, Nawang meletakkan keduanya di atas meja. Dan mengatakan, "Dengan ini semuanya berakhir, Sagara!"
"Apa yang berakhir?! Kenapa harus berakhir?!" tanya Sagara, "Apa karena dia hamil?!"
"Sagara, meski dia tidak hamil pun, aku tak bisa menikahi mu setelah apa yang kau lakukan padaku!" ujar Nawang. "Aku sudah memutuskan hal itu sejak melihat isi di dalam smartphone itu!"
Sagara seketika limbung, "Kau melihatnya?! Bagaimana bisa...?! I-itu kan terkunci?!"
Selama ini Sagara meyakini bahwa Nawang masih belum mengetahui isi ponsel itu. Ia berasumsi Nawang mengetahui perselingkuhannya dari pihak kepolisian atau Cleve. Sehingga ia yakin masih bisa memperbaiki hubungannya dengan Nawang.
Ia tidak menyangka Nawang telah melihat isi ponsel tersebut.
Gambar, video dan rekaman suara dalam ponsel itu tiba-tiba melintas sepenuhnya di kepala Sagara.
Hatinya langsung mencelos, menyadari apa yang telah dilihat Nawang di dalamnya.
Sagara berpikir keras, mencoba mencari alasan yang bisa ia ungkapkan di hadapan Nawang. Ia tak mau hubungannya dengan Nawang berakhir sia-sia.
Namun seakan mengalami blank tiba-tiba, tak ada apapun yang muncul di benaknya. Seolah menemui jalan buntu, Sagara tak tahu harus berkata apa.
"Itu.. itu tidak seperti itu!!" ucap Sagara linglung, "Itu hanya kesalahan!! Kau salah paham, Nawang!! Hanya kau yang aku cintai!"
"Cukup Sagara!" lirih Nawang, "Berhentilah, karena aku tak ingin membencimu lebih dari ini!"
****
__ADS_1