Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 45


__ADS_3

Lalita menatap kartu undangan di tangannya, itu adalah undangan terakhir yang harus ia sampaikan.


Setelah berkeliling untuk menyerahkan undangan pada teman-temannya, Lalita berhenti di depan gedung mewah yang megah. Ia menghela nafas berat sebelum melaju memasuki pelataran parkirnya yang luas.


Sebelumnya ia selalu menyambangi gedung itu sesuka hati. Hingga ia tidak pernah peduli pada penampakannya sama sekali.


Namun kali ini, ia baru menyadari betapa megahnya gedung itu jika dilihat seperti ini.


Meski waktu belum lama terlewat, namun gedung itu terasa asing sekarang. Padahal tak ada perubahan apapun pada interiornya. Entah bagaimana, perubahan statusnya membuat Lalita memandang bangunan itu secara berbeda.


Sembari menggenggam kartu bercorak bunga di tangan kanannya Lalita masuk ke dalam gedung 'Cleve'. Ia disapa dengan sewajarnya oleh orang-orang di sana.


Saat statusnya berubah, secara alami orang-orang itu langsung berubah sikap. Hatinya sedikit nyeri, melihat perlakuan asing dari orang-orang yang sangat dikenalnya.


Namun Lalita menghibur diri, ia teringat bahwa suaminya yang sekarang juga seorang pimpinan di sebuah perusahaan yang serupa.


Lalita yakin akan kembali mendapatkan rasa hormat, meski dari orang-orang yang berbeda.


"Apa ada yang bisa saya bantu?!" Sam, security yang khusus menjaga lorong menuju ruangan Cleve, menghentikan Lalita yang hendak menerobos ruangan CEO.


"Aku ingin bertemu dengan Cleve!" ujar Lalita kemudian.


"Maaf, CEO sedang tidak ada di tempat!" sahut Sam formal, "Apa anda sudah membuat janji?!"


Lalita seketika tertohok mendengar ucapan Sam. Lalita hampir lupa bahwa dirinya bukan lagi istri Cleve. Sehingga tidak bisa menemui pria itu sembarangan.


"Tidak.." sahut Lalita. Ia menelan getir di ujung lidahnya.


"Apa anda memiliki keperluan khusus?!" tanya Sam lagi. "Silahkan tinggalkan pesan!"


"Aku hanya ingin menyerahkan undangan pernikahanku!" sahut Lalita sembari memperlihatkan undangan pernikahan nya.


Setelah bercerai, orang-orang mungkin akan enggan untuk bertemu dengan mantan pasangan mereka. Namun Lalita kebalikannya.


Ia sengaja mengundang Cleve, untuk memperlihatkan pada pria itu bahwa sekarang ia bahagia. Jauh lebih bahagia dari pada saat bersama Cleve.


"Baik, akan saya sampaikan!" ucap Sam seraya meraih undangan tersebut.


Namun belum sempat Sam menyimpan undangan itu, Cleve dan sekretarisnya muncul.


"CEO!" sapa Sam hormat.


Spontan, netra Lalita mengarah pada pandangan Sam yang tertuju pada sosok Cleve yang gagah. Namun ia langsung teralihkan pada figur ramping, perempuan di sisi Cleve.


Lalita tersentak kaget saat menyadari siapa perempuan itu, "Kau?!"


"Ada apa?!" Mengabaikan Lalita, Cleve menatap Sam untuk mendapat penjelasan.


"Beliau menitipkan surat undangan untuk anda, CEO!" lapor Sam, ia kemudian menyerahkan surat undangan berwarna peach itu.


Cleve mengangguk. Ia kemudian menyerahkan undangan tersebut pada Nawang di sebelahnya. Nawang pun menerimanya dengan tenang, dan menyimpannya dengan rapi.

__ADS_1


"Kenapa ada dia disini?!" tanya Lalita. Sembari menahan gejolak aneh yang tiba-tiba membludak. Ia merasa amat marah dan juga sakit hati mendadak.


"Nawang, sekretaris saya sekarang!" sahut Cleve datar.


"Ha?! Sekretaris?!" Lalita mencibir, "Konyol!!"


"Sejak kapan kau punya sekretaris, huh?!" sergah Lalita, "Apa kalian ingin membuat perkumpulan, orang-orang tersakiti semacam itu?!"


Entah kenapa Lalita merasa panas, melihat Cleve dan Nawang bersama.


Saat Cleve mengejar Nawang yang berlari keluar dari rumah Sagara, Lalita sudah merasakan perasan aneh itu di dalam dirinya. Perasaan mengganjal yang terus membuatnya tidak nyaman.


"Anda terlalu banyak menghayal rupanya!" tukas Cleve, "Jika tak ada keperluan lagi, silahkan anda pergi!!"


"Apa-apaan?!" Lalita merasa geram, ia menatap Cleve garang. Marah akan perlakuan buruk Cleve padanya.


Namun Cleve sedikitpun tak menggubrisnya.


"Ayo masuk!" sebagai gantinya, Cleve mengajak Nawang masuk ke dalam ruangannya.


"Kau mengajaknya masuk kesana?! Kau menempatkannya di ruanganmu?!" teriak Lalita.


Ia masih berteriak juga. Padahal dua security telah menyeretnya menuju ke arah lift, "Apa yang kau pikirkan?! Apa kau menyesal telah menceraikanku?! Kau berusaha menarik perhatianku lagi dengan menggunakan dia, begitu?!"


"Sungguh menyedihkan!!" geram Lalita, "Kau pikir aku akan kembali padamu, dengan menggunakan trik kecilmu itu!?"


"Aku sudah bahagia, aku tidak akan kembali padamu meski kau memohon padaku!!!" sentak Lalita.


"Apa kamu baik-baik saja?!" Cleve langsung bertanya saat pintu ditutup.


"Ya?!" Nawang terkejut. Ia sempat melamun tadi. "Apa maksud anda, tuan?!"


"Dia mengatakan omong kosong!" ucap Cleve, "Jadi jangan terlalu dipikirkan!"


Nawang tersenyum, "Saya tidak memikirkan itu!"


"Lalu kenapa kamu melamun?!" Cleve penasaran, ia memperhatikan ekspresi Nawang tadi, "Apa karena undangan itu?!"


Entah kenapa saat Cleve menyebut undangan itu, Cleve sekilas merasa ada sesuatu yang menyakitkan telah menyengat dadanya. Terasa nyeri meski tak terluka.


"Bukan begitu..." Nawang hendak berdusta. Tapi ia terdiam karena memang benar, ia memikirkan undangan itu.


Nawang bingung, apa ia harus datang atau tidak. Juni juga telah menghubunginya, mengungkap akan menyerahkan undangan untuk Nawang.


"Kamu masih mencintainya?!" tanya Cleve kemudian. Kesal menunggu jawaban yang tak kunjung datang dari Nawang.


"Huh?!" Nawang terkejut.


"Apa kamu masih mencintai laki-laki itu?!"


*****

__ADS_1


Juni menghela nafas berat saat memandang ponselnya. Hatinya pilu, menyadari pesan yang ia kirim untuk Nawang hanya dibaca tanpa dibalas.


"Bagaimana?!" tanya Odelia.


Alih-alih menjawab, Juni balik bertanya.


"Ada apa denganmu?! Kenapa kau terus muntah-muntah seperti itu?!" tanya Juni, cemas dengan keadaan temannya itu.


"Entahlah... akhir-akhir ini aku sering mual-mual. Aku merasa lemas dan kembung setiap pagi!" sahut Odelia.


Akhir-akhir ini ia merasa tubuhnya sangat berat. Ia terus saja muntah-muntah.


"Apa haidmu lancar akhir-akhir ini?!" tebak Juni.


Odelia terkekeh, "Kau pikir aku hamil?! Tidak... suamiku sibuk belakangan ini! Kami bahkan sudah tidak melakukannya selama berbulan-bulan!"


Dheg!!


Sekelebat, firasat buruk menghantam Juni. Namun ia menepisnya kuat-kuat.


'Tidak.. Abraham bukan orang yang seperti itu!' batin Juni. 'Iya, dia sangat mencintai Odelia!'


"Apa kau mau pergi ke dokter?!" tanya Juni, "Ayo, aku antar!"


Odelia menggeleng, "Aku mungkin hanya meriang!"


Mendengar ucapan Odelia, Juni marah. Odelia sering sekali sakit. Dia bahkan memiliki maag akut. "Jangan menyepelekan penyakit!"


"Tenang saja, suamiku kan dokter!" sahut Odelia menenangkan sahabatnya. "Sekarang yang perlu kita khawatirkan adalah Nawang!"


"Bagaimana dengannya?!" sambung Odelia.


"Dia hanya membaca pesanku!" Juni menghela nafas berat, "Pasti berat untuknya! Aku sebenarnya tak ingin menyerahkan undangan ini padanya!"


Juni juga pernah ada di posisi yang sama. Apalagi melihat dua orang yang menyakitinya itu menikah, mengetahui bahwa mereka tinggal bersama saja sudah membuat Juni hancur sehancur-hancurnya.


"Aku rasa setelah mereka menikah, aku akan keluar dari rumah!" aku Juni tiba-tiba.


"Kenapa?!" Odelia kaget. Setahunya, Juni kembali pulang ke rumah karena tidak kuat tinggal di rumah yang terisi penuh, dengan kenangan Eric di dalamnya. "Apa kau akan kembali ke rumah itu?!"


Juni menggeleng, "Aku masih memikirkannya. Tapi keputusanku untuk keluar dari rumah sudah bulat!"


"Aku pulang untuk mendapatkan ketenangan. Tapi sekarang aku malah merasa rumah itu menjadi tempat yang paling tidak nyaman untukku!" imbuh Juni.


Ia memilih tinggal di rumah bersama keluarganya, untuk mendapatkan ketenangan. Tapi sekarang, setiap kali melihat Lalita, amarahnya selalu membuncah. Ia teringat pada Dina yang serupa.


"Sebenarnya, Aku berniat mencari sebuah apartemen!" sahut Juni. "Tapi aku masih mempertimbangkan hal lainnya!"


"Lakukan apa yang terbaik menurutmu!" seru Odelia, "Aku juga merasa, kau lebih baik tinggal di tempat yang membuatmu nyaman!"


"Jika kau membutuhkan bantuan, katakan saja padaku!" imbuh Odelia.

__ADS_1


__ADS_2