Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 72


__ADS_3

Indah sebenarnya tak ingin meninggalkan Juni sendirian. Mengingat sikap aneh Juni belakangan ini. Namun ia tak punya pilihan, susu formula Brandon sudah habis.


Jika Indah tak langsung membelinya, bisa saja semalaman Brandon akan menangis kelaparan.


Brandon adalah anak yang unik. Meski sudah mengkonsumsi makanan, Brandon masih suka minum susu setiap harinya. Seolah-olah bocah itu tak akan kenyang tanpa susu.


Berpikir bahwa ia hanya akan pergi sebentar, Indah meyakinkan diri bahwa tak akan ada yang terjadi. Lagipula Nawang akan berkunjung sebentar lagi.


Menepis pikiran buruknya, Indah pergi ke supermarket terdekat meninggalkan Brandon dan Zoe yang tengah tertidur lelap.


Sementara itu, Nawang yang akhirnya tiba di apartemen Juni, merasa takjub saat melihat kemewahan gedung apartemen tersebut.


Menatap tanpa sengaja ke atas, Nawang mengagumi apartemen Juni yang baru. Itu sangat indah, seolah-olah memang diciptakan untuk kalangan orang-orang berada.


Awalnya, Nawang menikmati kemegahan gedung itu, sampai matanya terpaku melihat sosok seorang perempuan yang berdiri di balkon.


Merasa familiar, Nawang memicingkan matanya. Ia segera terkejut saat mengenali orang itu sebagai Juni.


Meski Juni hanya berdiri saja disana, Nawang merasa ada yang tidak beres. Hingga rasa cemas menyeruak di dadanya seketika.


Segera, Nawang berlari menuju ke lantai 10 dimana unit Juni berada.


Dengan nafas yang menderu dan jantung yang bertalu, Nawang berpacu dengan waktu. Ia terus memaksa kakinya untuk melaju.


"Tidak!! Apa yang terjadi?!" gumam Nawang cemas. Meski tak melihatnya dengan jelas, kenampakan Juni di atas sana terlihat tidak normal. Sahabatnya itu seolah sangat kesepian dan putus asa. Sepertinya, Juni akan terjun kapan saja.


Saat Nawang sampai, ia segera menekan sandi yang diberitahu Indah untuk membuka pintu.


"Tidak!!! Juni!!!" pekik Nawang, ia berlari ke arah balkon dan langsung menarik sahabatnya itu ke dalam pelukannya.


Dunia yang awalnya gelap, tanpa cahaya dan hanya dipenuhi oleh kesunyian, seketika sirna saat Nawang datang.


Seolah ditarik dari jurang yang terjal, Juni akhirnya bisa melihat dengan lebih jelas.


Merasakan dekapan hangat Nawang, Juni kemudian menangis tersedu.


"Sebenarnya apa yang terjadi?!" tanya Nawang. Ia datang berkunjung setelah Indah mengatakan padanya, bahwa Juni bersikap aneh.


Awalnya Nawang berpikir, mungkin itu karena Juni mengkhawatirkan Odelia. Tapi melihat apa yang terjadi, sepertinya tidak demikian.


"Kamu kenapa?!" tanya Nawang lembut, dielusnya kepala sahabatnya itu, "Maukah kamu berbagi denganku?!"


Alih-alih menjawab, Juni hanya menangis dan menangis.

__ADS_1


Dengan sabar Nawang menunggu. Terkadang ia mengelus kepala Juni, terkadang ia menepuk pundak Juni. Seraya mengucapkan bujukan demi bujukan, agar Juni mau membagikan kesedihannya.


Namun saat Juni memutuskan untuk mengatakan yang sejujurnya pada Nawang, mereka dikejutkan oleh berita yang diungkapkan oleh Abraham.


Odelia mengalami efek samping dari kemoterapi yang dilakukannya.


Kondisi tubuh yang lemah, dan penyakit lain yang sudah di deritanya. Bahkan alergi obat-obatan yang ia punya. Semua itu, mempengaruhi Odelia. Ia mengalami infeksi hingga komplikasi yang langsung membuatnya kritis.


"Ia ingin mengungkapkan permintaan terakhirnya..." di seberang sambungan, Abraham menangis dengan suara bergetar.


Abraham tak bisa menahan rasa sakit hatinya.


Abraham membujuk Odelia untuk melakukan perawatan, agar ia bisa bersama dengan istrinya lebih lama. Ia juga ingin penderitaan istrinya berkurang.


Bersama dengan Raka, Abraham berusaha meningkatkan keberhasilan terapi yang dilakukan oleh Odelia. Meski sangat berisiko, Abraham optimis bisa membuat istrinya menjadi lebih baik.


Melalui serangkaian perawatan dan tes yang ketat, ia dan Raka yakin bahwa Odelia telah siap untuk menerima perawatan.


Namun angka-angka dan perhitungan manusia, tidak memiliki arti di mata Tuhan. Saat Tuhan menghendaki, bahkan manusia yang sehat tanpa cacat pun bisa sekarat seketika.


Pilihan Abraham dan kesombongannya sebagai seorang dokter, diuji oleh Tuhan. Ia dengan tangannya sendiri telah mengantarkan istrinya ke dalam jurang kematian.


"Tolong... bawalah Juni juga!" ujar Abraham dengan tangis yang tertahan.


****


Setelah pagi tadi cek cok dengan Sagara, Lalita sempat keluar rumah dengan diantarkan oleh supir pribadi, yang disewa oleh Agung baru-baru ini.


Sedikitpun, tak ada rasa was-was ataupun cemas di hati Ria. Ia tak merasakan firasat apapun pada Lalita. Ria tak pernah berpikir mimpi buruknya itu berkaitan dengan menantunya.


Sehingga ia tak begitu memikirkan pertikaian diantara keduanya. Ia merasa itu hanya hal sepele yang akan berlalu seiring berjalannya waktu.


Namun sore hari, ketika Lalita pulang. Sagara yang masih marah karena lemarinya diisi penuh oleh barang-barang Lalita, mengemas kembali barang-barang itu ke dalam koper dan membuangnya ke luar kamar.


Marah dengan apa yang terjadi, Lalita hendak kembali pulang ke rumahnya. Dengan menenteng koper besarnya, Lalita turun dari tangga.


Saat itu, Ria tak menyadari apa yang terjadi karena ia sedang mandi. Barulah saat ia selesai mandi dan bersiap, ia mendengar suara gaduh.


Ketika ia keluar, Lalita sudah lunglai di lantai dengan darah yang mengucur deras di bawahnya.


Lalita jatuh dari tangga, tangga di rumah mereka cukup tinggi. Apalagi Lalita tengah hamil, itu menjadi lebih berisiko dan berbahaya untuknya.


Seketika, Ria tergidik oleh perasaan takut akan kehilangan cucunya.

__ADS_1


"Cepat bawa Lalita ke rumah sakit!!" teriak Ria cemas.


Sagara yang tadinya hanya tercenung linglung menatap Lalita yang kesakitan, akhirnya mulai bergerak. Digendongnya Lalita menuju ke mobilnya. Dengan perasaan gelisah, Sagara melajukan mobilnya dengan kencang.


Tiba-tiba Sagara merasakan ketakutan yang besar menyebar di dalam dirinya.


Meski ia tak menginginkan bayi di dalam tubuh Lalita itu, hatinya langsung cemas saat dihadapkan pada kenyataan bahwa bayi itu akan menghilang.


Sepertinya, ia mulai menyayangi darah dagingnya yang belum lahir itu!!


Mengintip keadaan Lalita melalui pantulan kaca, ia melihat Lalita yang kesakitan dan terus merintih di pelukan ibunya. Seketika pilu menjalar di dadanya. Sagara tiba-tiba merasakan penyesalan yang dalam.


'Kenapa aku mempermasalahkan soal lemari?!' batinnya menyesal.


Namun penyesalan selalu datang terlambat!!


Saat ia sampai di rumah sakit, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa bayi itu tak bisa diselamatkan!!!


Sebenarnya bayi dalam kandungan Lalita sangat rentan. Sebelumnya, saat hamil muda, Lalita telah mengalami kecelakaan dengan Sagara.


Meskipun berhasil selamat, benturan tersebut sempat membuat Lalita mengalami flek hamil. Namun karena Lalita tak mengetahui kehamilannya, ia pikir itu hanya menstruasi biasa.


Dan sekarang hal yang sama kembali terulang, bahkan Lalita mengalami benturan yang lebih keras dari sebelumnya.


"Mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin! Tapi Tuhan berkehendak lain! Bayi anda tak bisa diselamatkan!" ujar sang dokter saat menemui Sagara.


****


Matanya yang cekung dan sayu menatap ke arah teman-temannya. Berbaring di ranjang dengan lemah, tubuhnya ditempeli oleh selusin alat yang aneh.


Buliran bening luruh, jatuh ketika Nawang dan Juni melihat penampilan Odelia. Menggigit bibirnya, Juni berusaha menahan Isak tangis yang ingin keluar.


Nawang yang juga tak bisa menahan pilunya, terpaksa meremas tangannya hingga kebas.


Dengan anggukan kecilnya, Odelia menyiratkan agar teman-temannya mendekat ke arahnya.


Dengan tangan yang gemetar, Odelia meraih jari jemari sahabat-sahabatnya. Air matanya menetes, satu kata yang keluar dari mulutnya dengan lirih menghancurkan pertahanan Juni dan Nawang seketika.


"Selamat tinggal...."


Air mata yang berusaha mereka tahan sekuat tenaga pun tumpah. Tangis yang mati-matian mereka telan pun pecah.


Saat tangan Odelia perlahan jatuh dan terlepas, suara nyaring dari mesin di sebelahnya mematahkan hati semua orang yang ada disana!

__ADS_1


Odelia telah berpulang!


__ADS_2