
"Kebutuhan ibu hamil?!" Raka mengernyit.
"Iya benar! Aku melihatnya mengambil susu untuk ibu hamil!" Dirga manggut-manggut yakin, "Bukankah wanita itu baru bercerai dari suaminya?! Apa mungkin itu anak suaminya?! Atau mungkin..."
"Tidak!!" bentak Raka. "Tidak mungkin!!"
Berbagai kemungkinan yang membingungkan menghantam kepala Raka. Jika memang benar Juni tengah hamil, siapa ayah dari anak yang dikandungnya?! Mungkinkah mantan suaminya?! Tidak mungkin itu Abraham!!
Raka paling paham sifat sahabatnya itu! Abraham sangat mencintai istrinya, ia tak mungkin berpaling secepat itu.
Dan lagi, Juni sepertinya sangat menghargai istri Abraham.
Tidak mungkin kan Juni dan Abraham yang seperti itu, terlibat dalam hubungan terlarang semacam itu?!
Raka menggeleng cepat. Menghempaskan pikiran negatif yang tak mungkin itu!!
Mungkin saja anak itu adalah anak dari mantan suaminya! Bisa saja kan Juni tahu dirinya hamil setelah bercerai.
Hal semacam itu sering terjadi!! Abraham pasti mengetahuinya dan berniat untuk membantunya!!
Raka terus berasumsi di dalam pikirannya sendiri.
"Apa ada kemungkinan kau salah lihat?!" tanya Raka lagi. Berharap bahwa Dirga hanya salah paham.
"Tidak!!" Dirga membantah, "Aku yakin sekali bahwa dia membelinya!"
Keyakinan Dirga membuat Raka semakin penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi?!
Raka kemudian mengingat perkataan Abraham tempo hari saat dirinya mengungkapkan keinginan untuk berkenalan dengan Juni.
'Dia akan jadi istri orang lain!'
"Jangan bilang....!!" gumam Raka menduga-duga. Apa mungkin Abraham berniat menolong Juni dengan menikahinya?!
Sementara Raka tengah kebingungan memikirkan hubungan diantara Juni dan Abraham, Juni sendiri tengah memilih gaun pengantin untuk ia kenakan. Ditemani oleh Abraham, ia memilih sebuah gaun yang longgar agar tak mengganggu kehamilannya.
"Ini terlihat sopan dan tidak pengap!" ujar Abraham, "Apa kamu menyukainya?!"
Juni mengangguk, "Itu cantik dan tidak banyak perhiasan! Sepertinya akan nyaman!"
"Benar.." Abraham setuju. "Apa kita akan memilih ini?!"
"Aku rasa begitu!" putus Juni.
Melihat kedua pengantin yang sedang bercengkrama dengan nyaman. Untuk pertama kalinya, sang desainer merasakan perasaan aneh yang asing.
Biasanya, meskipun kedua pengantin bertengkar, seperti sepasang musuh satu sama lain, atau bersikap seperti sepasang teman. Namun mereka selalu memiliki getaran cinta diantara mereka. Atau salah satu diantara mereka akan memilikinya. Namun kedua pengantin yang ada di depannya ini tak memilikinya sama sekali.
Seolah-olah mereka adalah sepasang sahabat yang sedang memilih sebuah barang untuk digunakan bersama. Alih-alih memilih gaun pengantin.
__ADS_1
Benar-benar tak ada percikan asmara yang terlihat.
'Apa mereka dua sahabat yang dijodohkan?!' batin sang desainer.
Namun ada hal lain yang menarik perhatian sang desainer. Yaitu wajah mempelai wanita, serasa tidak asing dimatanya.
'Dimana aku melihatnya?!' batin desainer tersebut.
"Bisakah anda mengubah gaun ini menyesuaikan bentuk tubuh saya?!" tanya Juni, membuyarkan lamunan desainer itu.
"Tentu!" sahutnya gagap.
Alih-alih memesan gaun baru, Juni lebih memilih membeli gaun yang telah siap pakai.
Waktu persiapan pernikahannya dengan Abraham sangat sedikit. Sehingga membuat Juni urung memesan gaun pengantin.
Meski begitu, Juni tak merasa kecewa. Ia cukup senang dengan apa yang mereka lakukan. Ia merasa seolah-olah sedang bernostalgia.
"Apa setelah ini kita akan membeli cincin kawin?!" tanya Juni kemudian.
Abraham mengangguk, "Maunya sih begitu! Tapi apa kamu masih kuat?!"
"Aku takut kamu kelelahan!" sambung Abraham.
Juni tersenyum tipis, "Aku baik-baik saja kok!"
Abraham menghela nafasnya perlahan. Sedikit tidaknya ia mulai memahami sifat Juni sekarang. Ia memang peka terhadap orang lain, tapi tidak untuk dirinya sendiri.
"Kita pulang dan istirahat dulu ya!" ucap Abraham, "Besok kita pilih cincinnya!"
"Tapi.. besok kan kamu harus ke rumah sakit?!" ucap Juni. Abraham masih harus menangani beberapa urusan sebelum benar-benar mengajukan cuti untuk pernikahan mereka.
"Tidak apa.. besok aku akan sempatkan waktu untuk memilih cincin denganmu!" ujar Abraham, "Hari ini kita pulang dulu saja ya! Kamu butuh istirahat!"
Juni menatap haru. Sepertinya pria di depannya ini menyadari bahwa dirinya tengah kelelahan.
"Baiklah!" sahut Juni kemudian.
****
Melanjutkan bulan madu mereka yang telah dijadwalkan, Nawang dan Cleve kini tengah menikmati penerbangan menuju ke Jerman.
Awalnya Cleve berencana mengajak Nawang tour keliling Eropa selama kurang lebih sebulan. Cleve ingin mengajak istrinya itu menikmati tempat-tempat indah yang sangat eksotik dan terkenal sangat romantis!!
Namun karena Nawang ingin menghadiri pernikahan sahabatnya, Cleve membatalkan tour mereka dan memilih liburan singkat di Jerman.
Meski Jerman adalah tempat dimana masa lalu kelamnya terjadi, Cleve tak pernah membenci tempat itu. Yang ia benci adalah kejadian buruk yang telah menimpanya!!
Ia sebenarnya juga memiliki kerinduan yang mendalam pada suasana negara tersebut dan orang-orang yang pernah mewarnai hari-harinya.
__ADS_1
Meski Cleve membenci 'wanita itu', namun tak serta merta membuat Cleve membenci semua orang yang ia temui disana.
Ia tak hanya bertemu dengan orang-orang yang menyakitinya disana. Dia juga bertemu dengan orang-orang baik yang mencintainya dengan tulus.
Seperti Hans dan Jacob yang merupakan anak-anak dari pemilik perkebunan anggur. Mereka sangat baik pada Cleve. Keluarga mereka juga sangat mencintai Cleve.
Sering menghabiskan waktu disana, Cleve sudah dianggap seperti adik mereka sendiri.
Namun karena insiden yang terjadi padanya, Hans dan Jacob tak bisa lagi menemui Cleve yang depresi.
Sejak dua tahun lalu, Hans dan Jacob kembali menghubunginya setelah bertemu dengan Cleve tanpa sengaja di Italia.
Saat itu, Cleve harus menjalani bulan madu yang tertunda dengan Lalita sedangkan Hans dan Jacob sedang menghadiri sebuah acara pameran anggur terbesar di Italia.
Mereka bertemu tanpa sengaja disana.
Melihat teman lamanya dalam keadaan baik-baik saja, Hans dan Jacob merasa sangat senang. Mereka mengundang Cleve dan Lalita untuk berkunjung.
Namun saat itu, Cleve yang masih belum bisa melepaskan dirinya dari trauma terhadap wanita, merasa ragu untuk berkunjung. Apalagi tempat itu adalah tempat dimana mimpi buruk Cleve berasal.
Tapi sekarang itu sedikit berbeda. Cleve yakin ia sudah mengatasi traumanya. Mengingat apa yang ia rasakan pada Nawang.
Ketimbang merasa takut atau jijik, Cleve malah merasa wanita itu adalah mahkluk yang lemah dan sangat nikmat.
"Apa mas yakin mau pergi kesana?!" tanya Nawang. Mereka tengah menikmati penerbangan menuju ke Jerman.
"Yakin!" sahut Cleve mantap.
Mendengar jawaban Cleve, Nawang malah merasa gundah. Nawang benar-benar khawatir. Walaupun sepertinya Cleve sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun mengunjungi tempat dimana mimpi buruknya berasal, itu sangatlah berbeda.
Mungkin bagi pelaku, mengunjungi tempat kejadian perkara merupakan sebuah kepuasan pribadi. Tapi bagi para korban, itu hanya akan menambah luka.
'Semoga saja suami hamba baik-baik saja! Semoga tak ada hal buruk yang terjadi disana!' Nawang terus berdoa di dalam hatinya pada Tuhan. Ia takut akan terjadi sesuatu yang mengerikan disana.
Walaupun Nawang bangga mengetahui Cleve memilih untuk menghadapi masa lalunya ketimbang menghindarinya. Namun Nawang tetap merasa was-was juga.
Firasatnya benar-benar tidak enak.
Ia bahkan memimpikan hal-hal aneh yang membuatnya merinding selama beberapa hari belakangan.
Nawang sempat bermimpi naik dalam sebuah gerbong kereta api. Saat dia akan menaikinya, kereta api itu terlihat sangat cantik. Namun seketika berubah sangat mengerikan, ketika Nawang sudah masuk ke dalam nya.
Kereta api itu melaju, membawa Nawang ke sebuah tempat yang sangat gelap, hitam pekat tanpa adanya bahaya. Sekuat apapun Nawang berusaha untuk keluar, kegelapan itu terus menariknya seolah berniat menelannya.
Nawang yakin itu adalah pertanda buruk!!
Melihat ekspresi istrinya yang berubah keruh, Cleve memeluk Nawang dengan erat dan membisikkan kata-kata cinta. Ia juga menenangkan Nawang, berkata bahwa tak akan ada apapun yang terjadi disana.
"Tenang saja sayang!" ujar Cleve, "Semua akan baik-baik saja! Kita akan bersenang-senang disana!"
__ADS_1
Cleve yakin, Nawang akan bersenang-senang disana!!
Namun jauh dari apa yang dipikirkan oleh Cleve. Alih-alih kebahagiaan atau suka cita, yang menunggunya adalah penderitaan dan penyesalan.