Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 88


__ADS_3

"Apa?! Apa saya tidak salah dengar?!" Agung kaget luar biasa.


Mendengar Abraham ingin menemuinya saja, Agung sudah merasa aneh. Namun perkataan pria muda itu semakin membuatnya bingung.


"Tidak om, tante! Kalian tidak salah dengar!" ujar Abraham, "Saya ingin menikahi Juni!"


Agung mengernyit bingung.


Semakin di dengar, semakin tidak masuk akal.


Begitupun dengan Ria. Ia syock! Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba suami dari Odelia melamar putrinya?!


"Kenapa kamu ingin menikahi Juni?!" tanya Agung, "Bukannya istri kamu baru saja meninggal?!"


"Benar, om!" sahut Abraham kemudian, "Saya ingin menikahi Juni, saya dan Juni telah sepakat untuk menikah!"


"Juni sepakat menikah denganmu?!" Agung semakin kaget. Ia menatap istrinya dengan bingung


Abraham mengangguk, "Kami sudah membicarakannya sebelumnya!"


Agung dan Ria saling pandang. 'Mustahil!' batin mereka.


Bagaimana pun, mereka mengenal putri mereka dengan baik. Tak mungkin seorang Juni Agnita Adyatama akan mau menjalin hubungan dengan suami dari sahabatnya.


Meskipun Odelia sudah meninggal, namun sesuai dengan sifat dan tabiat anak itu. Juni tak akan pernah mau melakukannya.


"Apa ada alasannya?! Kenapa kalian tiba-tiba ingin menikah?!" tanya Agung.


Sesuai dengan kesepakatan antara dirinya dan Juni semalam, Abraham urung mengungkapkan kebenaran mengenai kesalahan yang telah ia perbuat pada Juni.


Awalnya, Abraham ingin jujur. Memulai awal yang baru, Abraham tak ingin ada kebohongan. Namun Juni tidak setuju, biarlah kebenaran itu hanya mereka berdua yang tahu.


Juni meminta Abraham untuk merahasiakannya. Ia tak mau ibu dan ayahnya menderita mengetahui apa yang telah terjadi pada dirinya.


"Itu adalah permintaan terakhir Odelia!" ujar Abraham kemudian.


"Odelia?!" Agung dan Ria serempak memekik.


"Benar..." sahut Abraham. Memperlihatkan surat-surat yang ditulis Odelia untuknya dan kedua sahabatnya pada Agung.


Agung dan Ria meraihnya dengan bingung, kemudian membacanya sekilas.


"Ini adalah surat yang ditulis Odelia sebelum ia meninggal!" jelas Abraham.


Barulah saat itu, Agung dan Ria membacanya dengan serius.


Iba dan sedih menyeruak di dada keduanya saat membaca tulisan tangan itu. Agung sekarang memahami pilihan putrinya itu.

__ADS_1


"Begini, Abraham..." Agung kemudian berbicara, "Kami tidak pernah memaksa pemikiran kami pada anak-anak kami!"


"Termasuk dalam menjalin hubungan!" sambung Agung, "Juni sudah pernah menderita sekali, setelah dikhianati oleh suaminya sebelumnya. Om bukannya melarang, tapi om tidak mau anak om mengalami hal yang sama lagi!"


"Diantara kalian tak ada cinta! Bagaimana kalian bisa menikah?!" tutur Agung, "Eric yang dulu sangat mencintai Juni saja bisa mencampakkannya dengan mudah!"


"Om takut, jika suatu saat kamu menemukan seseorang yang menggetarkan hatimu. Kamu akan meninggalkan Juni begitu saja!" terang Agung.


Masih membekas dalam ingatannya, saat Indah menghubunginya dan mengabarkan bahwa Juni berusaha bunuh diri. Agung tak sanggup memikirkan jika putrinya kembali melalui hal yang sama.


Meski ia tak ingin mencampuri pilihan putrinya. Tapi berat baginya untuk membiarkan putrinya berjalan di jalan yang salah.


Menikah hanya karena permintaan seorang sahabat?!


Itu bukanlah hal yang benar!


Meski kesetiaan diantara hubungan dua sahabat sangatlah berharga, namun menyerahkan masa depan demi permintaan orang yang sudah meninggal?! Itu tidak masuk akal!


"Om.. saya tahu om pernah dikecewakan! Tapi yakinlah, saya bukan orang yang sama seperti Eric!" ujar Abraham, "Meski saya tidak bisa memberikan cinta seutuhnya pada Juni, saya pastikan akan memberikan kasih sayang dan perhatian untuknya. Saya juga berjanji untuk membahagiakannya!"


Agung terdiam, menatap lekat-lekat pria muda di depannya.


Matanya yang tajam dan fokus, menunjukkan pada Agung bahwa Abraham tengah serius.


Berbeda dari Eric yang kurang tegas, Abraham seolah sudah membulatkan tekad. Tak ada ragu di matanya. Pria muda itu sudah memutuskan.


****


"Ah!" Nawang memekik saat tangan kekar Cleve menelusup di balik kaosnya.


Suami barunya itu benar-benar nakal. Setelah kemarin malam dan pagi tadi, seolah ia tak pernah merasa puas. Seharian, pria itu mengganggu Nawang dengan ajakan-ajakan untuk ber cinta.


"Mas, nanti!" tolak Nawang, "Saya mau masak kan?!"


"Tak usah!" Cleve meletakkan spatula di tangan Nawang, lalu men dekap Nawang dengan mesra "Aku lagi tak pengen makan, aku pengen yang lain!"


"Mas!!" Nawang merenggut, "Tapi saya mau makan mas!"


"Kalau begitu aku akan panggil butler!" ujar Cleve, "Kamu tidak perlu masak! Kita pesan saja!"


"Mas!!" Nawang memberenggut.


"Sayang!!" tak mendengar permintaan istrinya, Cleve membe namkan wajahnya di dada istrinya.


Menggigit dari balik kaos yang dikenakan Nawang, Cleve membuat Nawang Mende sis dengan singkat.


"Mas..." keluh Nawang. "Jangan! Ini masih siang!"

__ADS_1


"Memang kenapa?!" tanya Cleve kemudian.


'Ada apa dengan siang?!' batin Cleve bingung.


"Malu mas, masak siang-siang kayak gitu?!" ujar Nawang. Ia melepas dekapan suaminya.


"Malu sama siapa memangnya?!" Cleve mengernyit.


"Tak ada siapa-siapa disini! Hanya ada kita berdua!" lanjut Cleve mesra.


Tanpa peringatan, Cleve mengangkat tubuh Nawang dan meletakkannya di atas kitchen table.


Mendongak menatap istrinya yang sekarang posisinya lebih tinggi, Cleve melu mat bibir istrinya dengan lembut. Tak bisa menolak permintaan suaminya, Nawang kemudian membalasnya dengan perlahan.


Sebenarnya, ia juga menginginkannya!!


Di saat sepasang pengantin baru itu sedang menikmati waktu mereka yang indah dan bergelora. Sepasang pengantin baru lainnya.Tengah menikmati waktu bergelora juga. Tapi dengan cara yang berbeda.


"Sagara, apa maksudnya ini?!" tanya Lalita. Ia mencak-mencak saat mengetahui seluruh koleksi parfum mahal dan juga kosmetiknya kembali pindah ke dalam koper.


"Aku tidak bisa meletakkan barang-barangku jika kau memenuhi meja itu dengan barang-barang yang tak penting itu!!" sentak Sagara.


Baru beberapa waktu lalu, Sagara merasa menyesal telah memindahkan barang-barang Lalita secara membabi buta. Namun sekarang ia kembali melakukannya.


Ia tak tahan membiarkan barang-barang itu bertengger di meja kesayangannya, yang biasanya dipenuhi dengan koleksi dasi dan jam tangan mewahnya.


"Lalu aku harus bagaimana?!" sentak Lalita.


"Letakkan di tempat lain!" teriak Sagara.


"Di tempat lain?!" Lalita balas berteriak, "Apa kau melihat ada 'tempat lain' disini?!"


"Kau cari saja lah sendiri!" tak mau kalah, Sagara membentak pula.


Setelah kedatangan Abraham tadi pagi, kepala Ria benar-benar sakit, pusing tujuh keliling.


Baru saja Ria merebahkan diri untuk menikmati waktu istirahatnya, tiba-tiba saja putranya itu pulang dari kantor.


Katanya ada yang ketinggalan. Tapi Sagara bukannya segera pergi setelah menemukan barang yang ia cari. Ia malah berdebat dengan Lalita masalah parfum dan dasi?!!


"Apa yang terjadi disini?!" tanya Ria kemudian. Ia tak tahan mendengar suara ribut-ribut sejak tadi. Kepalanya sepertinya mau pecah.


"Ini ma, Sagara tak mau berbagi! Dia tak mengizinkanku menaruh barang-barangku disana!" Lalita menunjuk ke arah meja yang dimaksud.


"Bukan begitu ma!" Sagara membela diri, "Dia bukannya berniat berbagi, dia itu mau memonopoli! Mejaku dipenuhi oleh barang-barangnya. Aku bahkan tak bisa meletakkan barang-barangku disini!"


Mende sah pelan, Ria merasa benar-benar pening. Ia seolah bernostalgia dengan masa-masa mudanya dulu, saat Sagara dan Juni saling berebut mainan sewaktu kecil. Hanya saja kini, versi dewasa.

__ADS_1


"Tenanglah Lalita, nanti mama dan papa akan menyiapkan ruangan khusus untuk menyimpan barang-barangmu!" pungkas Ria mengakhiri pertengkaran keduanya.


__ADS_2