
Raka kecewa mendengar penuturan Abraham, bahwa Juni akan segera menikah. Namun ia curiga dengan sikap Abraham yang aneh.
'Kenapa dia tak mau bilang siapa calon suami Juni?!' batin Raka bertanya-tanya.
"Apa aku mengenalnya?!" gumam Raka kemudian.
Namun Raka menepis semua pikiran-pikiran aneh yang mulai merasuk ke dalam benaknya.
'Apapun itu! Dia akan segera menjadi istri seseorang! Jadi.. aku harus melupakannya!' putus Raka di dalam hatinya.
Meski pedih, tapi memutuskan untuk melupakan cinta yang tak akan mungkin untuk digapai adalah pilihan yang tepat.
Raka tak yakin berapa lama ia akan menderita dalam patah hati, namun ia optimis bisa melakukannya.
'Ya! Aku bisa! Aku bisa!' Raka mendikte dirinya.
Namun ternyata, takdir tak membiarkannya begitu! Saat ia merasa yakin bisa melupakan Juni, Juni datang sendiri padanya. Dan membuatnya kembali goyah.
Ini adalah kali pertama Raka jatuh cinta, jadi ia tak bisa menahan perasaannya meski ia menginginkannya.
Raka tengah makan malam di cafe favoritnya. Saking penuhnya cafe itu, beberapa orang harus saling berbagi meja. Namun entah itu hanya sebuah kebetulan atau memang takdir yang menuliskannya. Raka berbagi meja dengan Juni.
"Mohon maaf pelanggan, karena cafe sangat penuh. Bisakah anda berbagi meja dengan nona ini?!" seorang gadis dengan setelan hitam-hitam berlogo cacafe bertanya padanya.
Raka mengangguk tanpa memperhatikan 'nona' yang dimaksud. Namun ia segera terkejut saat melihat bahwa wanita itu adalah Juni.
"Ah??!" seru Raka kaget.
Juni yang kaget, kemudian memperhatikan Raka dengan seksama lalu mengingat bahwa pria di depannya itu, adalah dokter yang telah merawat sahabatnya.
"Anda dokter Raka kan?!" tanya Juni ramah.
Raka mengangguk pelan, "Benar!"
Raka sangat gugup. Ia tak bisa mengatakan kata-kata dengan baik dari mulutnya.
Sebelumnya, karena nuansa yang berat diantara mereka. Sulit bagi Raka untuk menunjukkan perasaannya pada Juni. Setiap kali datang ke rumah sakit, Juni hanya menangis dan menangis. Jadi Raka tak memiliki keberanian untuk memulai.
"Apa anda mengingat saya!?" tanya Juni kemudian, "Saya temannya istri dokter Abraham!"
Kikuk, Raka mengangguk.
Juni tersenyum, "Apa anda datang kesini sendirian?! Dimana istri anda?!"
"Ah.. saya belum punya istri!" sahut Raka kemudian.
Juni agak kaget, ia kemudian merasa sedikit canggung. Karena telah salah menduga.
__ADS_1
"Ah... ma-maafkan saya!" ujar Juni gagap.
"Tidak apa!" sahut Raka, kembali menemukan ketenangannya. "Banyak yang mengira saya sudah menikah! Maklum, umur saya sudah pantas menggendong anak soalnya!"
Juni terkekeh, "Tidak kok! Bukan begitu maksud saya.. saya pikir anda sudah menikah, karena biasanya pria yang tampan pasti cepat menikah!"
Juni mengungkapkan hal itu untuk mencairkan suasana. Tak ada maksud lainnya. Namun Raka seketika berdebar saat wanita yang ditaksirnya memujinya tampan.
"Ah! Benarkah?!" gumam Raka tersipu, "Apa anda berpikir saya tampan?!"
Juni mengangguk, "Tentu!"
Raka mengulum senyumnya, ia sangat senang.
Sepanjang waktu makannya ditemani oleh Juni, perasaan suka Raka pada Juni kian berkembang.
Juni adalah gadis yang menyenangkan. Ia bisa menjadi pendengar yang baik dan terkadang menjadi pembicara yang baik. Sehingga tak ada waktu yang membosankan saat bersama dengannya.
"Apa anda membawa kendaraan sendiri!?" tanya Raka kemudian.
Juni menggeleng. Saat ia pergi ke rumah orangtuanya, Abraham mengantarnya. Namun saat ia pulang tadi, Abraham tengah sibuk melakukan prosedur operasi. Sehingga Juni memilih menggunakan taksi online.
Sebenarnya, ayahnya ingin mengantarnya pulang ke apartemennya. Namun Juni bilang, ia ingin pergi ke suatu tempat terlebih dahulu. Dan menolak tawaran ayahnya.
"Mari, saya akan mengantar anda!" tawar Raka.
"Tidak apa.. saya senang hari ini bisa berbincang dengan anda!" sahut Raka. "Anggap saja ini sebagai balas budi dari saya, karena anda telah membuat waktu makan saya menyenangkan!"
Tak bisa lagi menolak kebaikan hati Raka, Juni akhirnya menerima saat Raka menawarkan tumpangan padanya.
Di lain tempat, Abraham yang telah menyelesaikan pekerjaannya, akhirnya bisa pulang. Ia pikir Juni sudah sampai di apartemennya. Karena sebelumnya Juni mengungkap akan pulang dengan menggunakan taksi online.
Namun saat Abraham sampai di apartemen Juni, wanita itu tak ada!!
Bingung dan cemas, Abraham hendak menyusul Juni ke rumah orangtuanya.
Tapi saat ia turun dari lantai atas, hendak menuju ke parkiran. Ia melihat Juni.
"Hey!" seru Abraham khawatir. "Kamu kemana saja?! Aku pikir terjadi sesuatu padamu! Kenapa tidak mengangkat telepon?!"
Belum sempat mendengat jawaban dari Juni, Abraham dikejutkan dengan suara familiar yang sangat dikenalnya.
"Abraham?!" sentak Raka bingung.
****
Belum sampai tiga hari tiga malam mereka menghabiskan waktu di hotel tersebut, namun tubuh Nawang sepertinya sudah remuk berkeping-keping. Setiap hari tak ada jeda! Cleve benar-benar monster.
__ADS_1
Sementara Nawang kelelahan, Cleve sepertinya malah semakin segar bugar. Bahkan setelah melakukan pekerjaan berat selama berjam-jam, ia tetap mampu berolahraga dan memasak untuk Nawang.
"Sayang, masakan sudah siap!" ujar Cleve ceria. Ia membawakan makanan lengkap pada Nawang yang berbaring manja di ranjang.
Dengan tubuh polos berbalut selimut, Nawang bangkit dengan susah payah.
"Tidak usah bangun, sayang!" ujar Cleve menghentikan gerakan istrinya.
Namun bukannya berhenti, Nawang semakin mempercepat gerakannya. Buru-buru ia bangkit dari ranjang. Menyambar Linge rie merah muda yang berserakan di lantai, Nawang melangkah menjauhi ranjangnya.
Nawang sudah mengetahui akal bulus suaminya itu! Cleve akan menjadi pria yang lembut dan memperlakukan Nawang bak ratu, menyuapinya makan, memandikannya bahkan melakukan apapun yang Nawang suruh. Cleve bahkan tak membiarkan kaki Nawang menyentuh lantai.
Namun beberapa waktu berselang, ia akan berubah menjadi pria yang buas dan ganas. Mengge mpur Nawang hingga Nawang luluh lantak. Menjadikan Nawang budak dan memeras semua tenaga Nawang hingga tak bersisa.
"Sayang... kenapa?! Kok bangun?!" tanya Cleve lembut, pria itu terlihat kecewa. "Tidurlah lagi di ranjang!"
Nawang membuang muka jengkel. "Tidak!"
"Kamu marah, sayang?!" tanya Cleve bingung. Pria itu meletakkan makanan yang telah ia siapkan di meja. Lalu menghampiri istrinya dengan bingung.
Nawang tidak menjawab.
"Apa kamu marah karena tidak puas?! Apa aku kurang bisa memuaskan mu?!" tanya Cleve cemas. Ia sudah belajar banyak hal, apa itu masih belum membuat istrinya senang?!
Cleve belajar bahwa wanita memiliki keinginan akan hal semacam itu, lebih kuat daripada pria. Sehingga Cleve berusaha untuk tetap menjaga staminanya dengan berolahraga. Agar tak membuat Nawang merasa kecewa.
"Apa lima kali dalam sehari tidak cukup?!" tanya Cleve bingung. "Kalau mau, aku bisa melakukannya lagi sekarang!"
Tanpa aba-aba, Cleve mengangkat tubuh Nawang begitu saja lalu melemparnya ke ranjang.
"Mas!!" pekik Nawang kaget.
"Kamu mau aku seperti apa?!" tanya Cleve, "Atau kamu bosan diran jang?! Mau di meja biliar seperti kemarin?! Atau di kolam renang seperti siang tadi?!"
"Apa sih mas?!" Nawang terpekik malu. Meski mereka memang melakukannya, namun mendengarnya langsung dari mulut Cleve membuatnya tersipu.
"Sepertinya mas salah paham!" ucap Nawang. "Saya bukannya tidak puas!"
"Lalu kenapa kamu marah, sayang?!" tanya Cleve.
"I-itu... a-aku capek, mas!" keluh Nawang malu-malu.
"Oh?!" Cleve kaget. Ia pikir Nawang tidak puas. Tapi tenyata istrinya itu hanya capek. Rasa senang menyeruak di dadanya. "Jadi kamu bukannya tidak puas?!"
Nawang mengangguk.
"Itu artinya kamu puas denganku?!"
__ADS_1
Uhh... semakin Nawang mendengar pertanyaan polos suaminya, ia merasa semakin malu. Alih-alih menjawab pertanyaan suaminya, Nawang akhirnya menarik selimut. Menyembunyikan wajahnya yang memerah.