
Setelah menghabiskan tiga hari tiga malam di kamar presidential suite yang megah dan mewah.
Cleve dan Nawang kembali ke rumah. Ia yang awalnya masuk ke dalam mansion Cleve, sebagai seorang tamu, kini menjadi pemilik tempat itu.
"Selamat datang, nyonya Eddison!" seru Cleve senang. Ia membuka pintu depan rumahnya, dan dengan bangga mempersilahkan istrinya itu untuk masuk.
Saat ia memasuki rumah, ada ibunya, kakek Thomas dan beberapa temannya hadir disana. Bahkan Juni dan Abraham juga ada.
Nawang membekap mulutnya bahagia. Ia terharu dengan pesta kejutan yang disediakan oleh Cleve untuknya.
Juni yang tak sempat menghadiri pesta pernikahan Nawang, menghampiri sahabatnya itu dan berbisik pelan.
"Selamat! Semoga kamu dilimpahkan kebahagiaan!" bisik Juni tulus. "Maaf kemarin aku tak bisa menghadiri pesta pernikahanmu!"
"Tidak apa-apa! Aku senang kamu datang hari ini, Terimakasih!" seru Nawang haru, "Aku berharap kamu juga dilimpahkan kebahagiaan!"
Senyum mengembang diantara keduanya, air mata mereka pun luruh.
"Aku sudah memutuskan akan menikah dengan Abraham!" bisik Juni perlahan, supaya suaranya hanya bisa didengar oleh Nawang.
"Benarkah!?" Nawang terkejut, "Syukurlah!"
Mereka saling berpelukan, tertawa dengan air mata yang meleleh di pipinya.
Melihat kedua sahabat itu, meski sebagian besar dari tamu undangan tak memahami apa yang terjadi. Namun mereka ikut merasa terharu.
"Sudah-sudah! Ayo mulai acaranya!" seru Karina menghentikan suasana haru yang tiba-tiba menyeruak. "Ayo, kalian harus bersenang-senang!"
Nawang dan Juni mengangguk.
"Hari ini adalah hari bahagia, tak boleh ada air mata!"
Selama beberapa jam mereka menghabiskan waktu bersama dalam suka cita. Penuh keceriaan dan kebahagiaan.
Diantara teman-teman dan keluarga! Nawang merasa sangat senang.
Nawang berharap jalan yang kini tersisa untuk dirinya dan orang-orang sekitarnya hanyalah jalan yang dipenuhi dengan bunga-bunga.
Sudah cukup segala tangis dan air mata!!
"Istriku, aku mencintaimu!" bisik Cleve sendu. Ia mencium pipi Nawang dengan mesra. Memeluknya dengan erat. Seolah tak ingin kehilangan Nawang.
****
Setelah kedua orang tuanya mengizinkan. Juni dan Abraham menyiapkan sebuah pesta pernikahan kecil yang hanya akan dihadiri oleh keluarga dan kerabat.
Sepakat untuk tidak melakukan pesta besar, Juni dan Abraham hanya akan mengadakan pesta kecil di luar ruangan.
__ADS_1
"Kamu yakin?!" tanya Abraham saat melihat list tamu undangan yang diserahkan Juni padanya, "Meski ini mendadak, tapi ini adalah pernikahan kita. Hari yang bersejarah untuk kita! Apa kamu hanya akan mengundang beberapa orang saja?!"
Juni mengangguk dengan mantap.
Juni sudah pernah mengundang semua orang sebelumnya, menikmati pesta megah dan mewah yang dipenuhi oleh sukacita tanpa henti juga. Namun pernikahannya yang seperti itu berakhir tragis.
Kali ini ia ingin pernikahannya damai. dan tenang. Hanya dihadiri oleh orang-orang terdekatnya.
Melihat Juni telah yakin, Abraham mengangguk mengerti.
"Bagaimana?! Apa kamu sudah memberitahu dokter Raka mengenai pernikahan kita?!" tanya Juni kemudian.
Abraham menghela nafas berat. Apalagi memberitahu sahabatnya itu, bahkan bertemu dengan Raka saja ia tidak bisa.
Setelah seorang mantan pejabat pemerintah divonis mengalami kanker kolon. Sebagai orang yang bertanggung jawab menanganinya, Raka menjadi sangat sibuk. Sulit bagi mereka untuk bersitatap dan saling mengobrol.
"Dia sangat sibuk akhir-akhir ini!" ujar Abraham kemudian. "Raka sedang menangani seorang mantan pejabat!"
"Aku tak ingin mengacaukan konsentrasinya dengan berita pernikahan kita!" sambung Abraham.
"Tapi kamu harus memberitahunya secepatnya!" ujar Juni, "Sebelum dia mengetahuinya sendiri! Itu akan lebih menyakitkan untuknya!!"
"Jika sulit untukmu melakukannya sendiri.. aku akan menemanimu juga!"imbuh Juni.
Abraham tersenyum, semakin mengenal Juni. Ia semakin menyadari betapa baik dan perhatiannya Juni. Bahkan hal-hal sekecil ini pun dipertimbangkan olehnya.
"Terimakasih!" gumam Abraham, "Tapi sepertinya, aku harus berbicara dari hati ke hati dengannya!"
Insiden waktu itu, tak hanya terkait dengannya tapi juga dengan Juni. Sehingga Abraham meminta izin pada Juni untuk mengungkapkannya pada sahabatnya. Dia ingin sahabatnya mengerti pilihannya dan juga Juni.
Juni tersenyum, ia merasa terharu. Saat bersama dengan Eric, pria itu tak pernah meminta izin padanya akan sesuatu. Namun Abraham sungguh berbeda.
"Tentu" sahut Juni sembari menahan rasa haru yang meledak di hatinya.
Sementara itu, Raka sendiri tengah disibukkan oleh pekerjaannya. Beberapa hari terakhir ini, ia benar-benar fokus merawat orang penting itu!! Dia ditekan oleh direktur rumah sakit agar tak membuat kesalahan.
Berbeda dari Odelia yang telah mencapai stadium akhir, kanker yang diderita oleh sang mantan pejabat itu masih berada di stadium awal. Sehingga kemungkinan untuk sembuh masih ada.
Dengan beberapa prosedur perawatan, dipastikan bahwa beliau akan sembuh. Apalagi kondisi fisiknya masih segar bugar, tak memiliki alergi obat juga.
Meski lega karena pasien yang ia tangani memiliki kemungkinan untuk sembuh yang tinggi. Namun Raka tetap merasa tidak nyaman.
Ia tiba-tiba merindukan Juni. Pertemuannya dengan Juni di cafe tak terlupakan. Begitu berkesan hingga Raka ingin menemuinya lagi.
'Kira-kira kapan aku bisa bertemu lagi dengannya?!' batin Raka sembari mengenang Juni.
"Mikirin apaan sih?! Sampek ngeces kayak gitu?!" seloroh Dirga yang kebetulan bertemu dengan Raka di toilet.
__ADS_1
"CK! kepo banget!" sentak Raka. Ia paling males bertemu Dirga, anak itu pasti akan mengajaknya bergosip ria.
Raka yang tengah sibuk, tak ingin menghabiskan waktu dengan gosip-gosip tak berbobot Dirga. Ia hendak meninggalkan toilet sebelum Dirga mulai berujar.
Namun kata-kata Dirga yang biasanya ia anggap tak penting, tiba-tiba membuatnya tertarik. Saat Dirga menyebut nama sahabat baiknya.
"Eh!" panggil Dirga, "Kamu sahabatan sama Abraham sudah lama kan?!"
"Apaan sih?!" Raka mengernyit, "Emang kalau iya kenapa?!"
"Abraham itu, punya berapa istri sih?!" celetuk Dirga.
"Hah?!" Raka kaget.
'Pertanyaan macam apa itu?!' batinnya.
"Apaan sih?! Satu lah!" ujar Raka sewot, "Jangan buat gosip macem-macem kamu ya!"
"CK!" mendecakkan lidahnya, Dirga kembali berujar, "Bukan gosip! Tapi aku nanya, istrinya itu bukannya sudah meninggal ya?! Yang beberapa waktu lalu karena kanker usus itu kan?!"
"Iya" sahut Raka singkat. Mengingat Odelia, hati Raka pilu seketika. Ia masih merasa bersalah pada sahabatnya itu. Karena perhitungannya yang tidak tepat, sahabatnya itu harus kehilangan orang yang dicintainya.
"Nah, terus siapa wanita yang kemarin diajak jalan-jalan sama Abraham?!" gumam Dirga kebingungan.
"Hah?!" Raka kembali terkejut, "Maksudnya apa nih?! Aku kok tidak mengerti!"
"Kemarin aku pergi ke supermarket buat beli kebutuhan bulanan, terus ketemu tuh sama Abraham!" sahut Dirga, "Dia sih tak melihatku, tapi aku melihatnya dengan jelas"
"Dia bersama dengan seorang wanita, sedang berbelanja kebutuhan bulanan! Mereka terlihat seperti pasangan suami istri!" sambung Dirga.
"Ngawur!" Raka tidak percaya pada omongan Dirga. Palingan anak itu salah lihat!
"Beneran kok!" Dirga meyakinkan Raka, "Itu Abraham! Wanita itu juga, dia orang yang terkenal! Yang kemarin sempat heboh di tv, yang beauty influencer itu, yang suaminya selingkuh itu lho!"
Seketika, jantung Raka mencelos. Ia tahu yang dimaksud Dirga adalah Juni.
Abraham dan Juni membeli kebutuhan bulanan berdua?!! Seketika perasaan tidak nyaman menyeruak di dada Raka.
Namun kemudian Raka teringat, bahwa anak semata wayang Abraham dititipkan pada Juni.
"Oh! Iya.. yang kamu maksud pasti Juni Agnita kan?!" ujar Raka, "Abraham menitipkan anaknya pada Juni, Juni itu sahabat baiknya mendiang istri Abraham!"
"Mungkin Abraham tengah membelikan beberapa kebutuhan untuk anaknya!" sambung Raka, ia yakin itu yang terjadi.
Dirga menggeleng.
"Dia tidak membeli kebutuhan anak kecil saja! Dia juga membeli kebutuhan ibu hamil!"
__ADS_1
Dheg!!!!
Raka membelalak kaget!!