
"Ini sudah sangat larut, tuan!" ujar Yoshi. Ia tak menyukai ide Cleve untuk bertamu ke rumah Nawang, rasanya tidak etis datang ke rumah seorang gadis di malam yang begitu larut ini. "Beberapa jam lagi anda akan menemuinya di kantor!"
Segera setelah kembali dari acara amal itu, Cleve dan Yoshi yang sudah menempuh perjalanan selama berjam-jam, akhirnya bisa pulang. Namun bukannya kembali ke rumah, Cleve malah meminta Yoshi untuk mengantarnya menuju ke rumah Nawang.
"Tidak!" ujar Cleve tegas, "Aku tidak ingin menemuinya beberapa jam lagi, aku ingin menemuinya sekarang!"
"Tapi sekretaris Nawang baru saja kehilangan sahabatnya! Pasti dia sedang sangat sedih sekarang!" ujar Yoshi, "Jika anda memaksa menemuinya selarut ini, dia pasti akan merasa tidak nyaman!"
Tercenung, Cleve menatap Yoshi dalam diam. Yoshi meneguk salivanya. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya, ia melarang Cleve melakukan sesuatu. Ia tergidik oleh rasa takut yang tiba-tiba menyeruak. Dingin menyebar di tulangnya.
Biasanya, pendapatnya selalu beriringan dengan Cleve. Karena mereka sama-sama berpikir dengan logis.
Namun akhir-akhir ini Cleve sering melakukan tindakan tak logis yang tak sesuai akal sehat. Sehingga pendapat mereka sering bersinggungan.
Sebagai seorang asisten, Yoshi tak bisa membiarkan atasannya itu melakukan kesalahan. Itu sudah menjadi tugasnya!! Meski harus membangkang pada atasannya, ia harus menunjukkan jalan yang benar pada Cleve.
"Kau benar!" sahut Cleve. "Dia pasti sudah tidur sekarang!"
Yoshi mengangguk-angguk senang mendengar tuannya mengikuti nasihatnya. Ia akhirnya bisa bernafas lega.
Saat ia hendak melajukan mobilnya yang telah terparkir di depan rumah Nawang, sebuah mobil hitam dengan logo ojek online muncul.
Melambat di depan rumah Nawang, mobil itu menurunkan seorang gadis dengan pakaian serba putih.
Melihat Nawang yang muncul di depannya, tanpa pikir panjang Cleve langsung keluar dari mobilnya.
Seolah sudah berpisah selama bertahun-tahun lamanya, Cleve berlari ke arah Nawang dan menerjang gadis itu dengan cepat. Direngkuhnya tubuh Nawang dengan erat.
Nawang terkesiap, ia tak menyangka akan dipeluk oleh seseorang saat turun dari mobil.
"Aku sangat merindukanmu!" de sah Cleve kemudian.
Menyadari bahwa orang yang memeluknya adalah Cleve, Nawang tersenyum. Namun senyumnya sirna, berubah menjadi malu saat menyadari kehadiran Yoshi.
"Jangan begini disini, mas!" bisik Nawang.
"Apa mas mau masuk dulu?! Mama sedang tak ada di rumah!" ucap Nawang kemudian.
Ibunya sedang pergi ke kota sebelah. Ada hal yang harus Karina lakukan di butiknya yang baru. Ada pesanan dalam jumlah yang sangat banyak dan membuat karyawan baru disana kelimpungan.
Cleve mengangguk, ia memang ingin mengobrol lebih banyak dengan Nawang.
Karena akan bertamu, Cleve yang tak ingin diganggu oleh kehadiran Yoshi. Akhirnya menyuruh Yoshi untuk meninggalkannya di rumah Nawang. Mengingat Yoshi pasti sangat lelah dan membutuhkan istirahat, setelah menemaninya seharian.
"Tapi bagaimana dengan anda?!" tanya Yoshi. "Bagaimana anda pulang nanti?!"
"Tidak apa-apa!" sahut Cleve, "Aku bisa mengurusnya!"
__ADS_1
Cleve tak memiliki rencana. Namun ia tak peduli harus pulang atau apa. Asalkan bisa bersama dengan Nawang lebih lama, ia rela.
Melihat atasannya yang telah terbutakan oleh cinta itu, Yoshi mau tak mau mengikuti perintahnya.
Soalnya, jika ia tetap bersikeras. Hasilnya sudah bisa ditentukan. Cleve pasti tak akan mendengarkan perkataannya.
"Baiklah, tuan!" sahut Yoshi patuh.
****
Nawang tidak mengerti kenapa pada akhirnya bisa sampai seperti ini!!?
Awalnya ia hanya ingin menuntaskan rindunya pada Cleve yang tak ia temui seharian ini. Dengan mengobrol sambil minum teh. Tapi kenapa sekarang ia terjebak dalam dekapan pria itu di atas ranjang?!!
"Aku tidak akan melakukan apa-apa!" bisik Cleve, "Biarkan aku seperti ini beberapa saat!"
"Ha.." Nawang menghela nafas panjang. Menahan degup jantungnya yang tak karuan.
Sebelumnya, ia hanya ingin membuatkan secangkir teh untuk Cleve. Namun Cleve yang nakal, malah menjahilinya hingga membuat teh hangat yang ia bawa tumpah. Dan mengenai pakaian yang Cleve gunakan.
Alhasil Cleve harus ganti pakaian dan mandi.
Setelah mencari-cari pakaian yang pas untuk Cleve, Nawang yang kelelahan malah tertidur di kamarnya.
Lama menunggu kedatangan Nawang, Cleve akhirnya mencari keberadaan Nawang dan menemukan Nawang tengah tertidur lelap.
Cleve hanya ingin memeluknya sejenak. Namun ia tak bisa menahan dirinya dan terus memeluknya semalaman. Alhasil ia ikut tertidur lelap dan menginap di rumah Nawang.
Saat pagi menjelang, Nawang yang terbangun, kaget dengan kehadiran Cleve yang memeluknya.
Mendekap Nawang dari belakang. Cleve berbisik dengan mesra. "Kemarin sangat melelahkan, itu hari paling sulit untukku!"
"Humn?! Tumben mas mengeluh?!" tanya Nawang. "Biasanya mas terlihat segar bugar meski berkeliling ke banyak tempat!?"
"Itu karena kamu tak bersama denganku!" bisiknya. Menge c*p leher putih Nawang di depannya.
Merasa geli, Nawang mengge liat manja.
"Mas!!" lirih Nawang, wajahnya memerah.
Ia sebenarnya cemas, kondisi mereka sekarang ini berbahaya. Ia takut melakukan kesalahan dengan Cleve.
"Ayo bangun!" ucap Nawang kemudian. Berusaha melepaskan tangan kekar Cleve yang melingkar di perutnya.
"Tunggu sebentar..." rengek Cleve. Bukannya melonggarkan dekapannya, Cleve malah mengeratkannya. Hingga Nawang tak bisa bergerak.
Cleve ingin memeluk Nawang lebih lama.
__ADS_1
Berbalik dan menghadap Cleve dengan susah payah, Nawang menatap Cleve dan berkata, "Mas mau terlambat datang ke tempat kerja?!" tanya Nawang kemudian.
"Tidak apa-apa..." sahut Cleve kemudian. "Aku datang pagi-pagi untuk menemuimu!"
"Jika kamu sudah ada di depanku, untuk apa aku datang kesana?!" sambung Cleve.
Dheg!!!
Pria itu menjungkir balikkan perasaan Nawang hanya dengan beberapa kata.
Padahal semalam Nawang masih sangat menderita karena kematian sahabatnya. Namun hanya karena ucapan Cleve hari ini, ia merasa berbunga-bunga.
"Bagaimana bisa mas mengatakan hal semacam itu, tanpa tahu bagaimana perasaan saya sekarang?!" ujar Nawang dengan wajah yang memerah.
"Memang bagaimana perasaanmu?!" tanya Cleve, ia meraih anak rambut Nawang yang terlepas kemudian menyelipkannya di balik telinga Nawang dengan lembut.
Seolah sangat memuja Nawang, mata pria itu berbinar menatapnya.
Entah berasal dari mana, Nawang seolah merasa terdorong untuk mencium Cleve.
Dengan cepat, Nawang memeluk Cleve dan menciumnya mesra.
Membalas perlakuan kekasihnya, Cleve mel* mat bibir Nawang dengan lembut.
Kepalanya benar-benar kosong! Ia kemudian hanya mengikuti instingnya dan nalurinya.
****
"Non Juni tidur, tuan!" sahut Indah saat Abraham datang dan menanyakan tentang Juni.
"Apa dia makan kemarin?!" tanya Abraham lagi.
"Tidak tuan!" seingat Indah, Juni langsung masuk ke kamarnya. Apalagi makan, Juni bahkan tidak mengatakan apapun setelah sampai. "Non Juni langsung masuk kamar!"
Ekspresi Abraham berubah rumit. "Biasanya Juni makan apa pagi-pagi?!"
"Pagi-pagi non Juni suka makan bubur!" ujar Indah, "Kadang makan nasi goreng! Tidak tentu, tuan! Non Juni suka apa saja!"
Abraham mengangguk, "Tunggu, saya belikan dia makanan dulu!"
Indah kaget mendengar Abraham akan membelikan makanan untuk Juni. Seumur-umur, setahu Indah, Abraham tak memperhatikan orang lain selain istrinya. Odelia.
Meski Abraham sering berlibur bersama dengan Juni dan lainnya serta cukup saling mengenal, Abraham tipe yang dingin terhadap perempuan lain.
Abraham selalu menjaga jarak dengan wanita lain. Berbeda sekali dengan mantan tuannya, Eric. Yang tetap ramah dan tak menjaga jarak pada siapapun.
'Kenapa ini?!' batin Indah bingung. Melihat tingkah tak biasa Abraham.
__ADS_1