Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 97


__ADS_3

"Akulah ayah anak itu, Raka!!" aku Abraham jujur.


Raka mengernyit bingung. Kata-kata singkat yang dilontarkan Abraham, tiba-tiba menjadi bahasa asing yang tidak dimengerti Raka.


"Apa maksudmu?!" tanya Raka linglung.


"Akulah ayah dari anak yang dikandung Juni itu!" jelas Abraham lagi. Sepertinya Raka terlalu syock, ia bahkan tercenung dengan tatapan kosong pada Abraham.


"K-kau?! Bagaimana... kau bisa..?!" terbata Raka berujar, "Kau tidak mencintainya kau bilang!!"


Abraham menghela nafasnya berat, mengumpulkan kekuatan untuk mengungkapkan yang sejujurnya pada sahabatnya itu.


Menceritakan permintaan terakhir Odelia, teror yang dilakukan Zeline pada Odelia, hingga kebodohannya yang langsung menemui Zeline malam itu. Hingga Juni yang datang menyelamatkannya. Abraham menceritakannya tanpa ada satupun yang terlewat.


Raka yang mendengarnya dengan seksama, merasa pilu. Ia sedih karena ternyata Abraham mendapatkan cobaan yang begitu besar. Namun dirinya yang mengaku sebagai sahabat Abraham malah tak tahu akan hal itu.


Rasa sedihnya kian membuncah saat Abraham menceritakan seluruh kejadian yang terjadi di apartemen Juni malam itu, hati Raka yang mendengarnya hancur berkeping-keping.


Alih-alih sakit hati karena wanita yang ia cintai dino dai orang lain, Raka merasa pedih memikirkan penderitaan yang dialami oleh Juni.


"Pasti sulit untuknya..." lirih Raka. "Aku tidak tahu dia memiliki luka sedalam itu! Dia terlihat baik-baik saja di cafe tempo hari!"


"Dia bahkan gemetar saat melihatku, bagaimana bisa aku tidak merasa bersalah!" lirih Abraham, "Setiap kali aku melihatnya, aku seolah berkaca pada perbuatan ku yang mengerikan!"


Melihat sahabatnya yang tersiksa, Raka juga ikut merasakan penderitaannya.


Meski hatinya perih mengetahui bahwa Juni akan menikahi sahabatnya. Namun rasa simpatinya pada nasib buruk yang menimpa Abraham dan Juni jauh lebih besar.


Takdir memang tak selamanya indah. Namun takdir Juni maupun Abraham sungguh mengenaskan.


Seolah mereka tak diberikan waktu untuk menyembuhkan luka, luka lainnya pun muncul bertubi-tubi berusaha menghancurkan mereka.


"Aku yakin jika dia bersama denganmu, dia akan bahagia. Namun aku tak bisa menyerahkan tanggung jawabku itu padamu!" ujar Abraham kemudian.


Beberapa kali, Abraham sempat memikirkan nya jika Juni akan jauh lebih bahagia bila bersama dengan Raka ketimbang dirinya.


Tapi bagaimana pun, ia tak bisa menyerahkan anak dan juga ibu yang melahirkan anaknya dirawat oleh orang lain.


"Aku mengerti perasaanmu!" sahut Raka. "Bohong jika aku bilang aku tak sakit hati. Tapi ini semua adalah takdir, aku dan Juni mungkin tidak berjodoh!"


"Semoga pernikahan kalian dilancarkan!" ucap Raka tulus. "Aku berharap kebahagiaan untuk kalian berdua!"


"Maafkan aku, Raka!" ujar Abraham. Ia benar-benar menyesal. Ia merasa bersalah pada Raka dan juga Juni.

__ADS_1


Sementara Abraham dan Juni tengah berjuang untuk menjelaskan pilihan mereka, pada orang-orang terdekat mereka.


Nawang dan Cleve akhirnya sampai di tempat tujuan.


Setelah belasan jam berada di dalam pesawat terbang, akhirnya Nawang dan Cleve sampai di Jerman.


Nawang dan Cleve sempat beristirahat sejenak di hotel terdekat, sebelum akhirnya kembali melanjutkan perjalanan. Menuju ke sisi Utara Jerman, daerah perkebunan anggur dimana Hans dan Jacob tinggal.


Selama dalam perjalanan tak henti-hentinya Nawang takjub akan keindahan yang ia lihat. Seolah-olah berada di negeri dongeng, Nawang dimanjakan dengan bangunan-bangunan yang unik dan pemandangan yang cantik.


"Wow..." de sahnya dengan mata berbinar.


Tenggelam dalam euforia berada di negeri asing, Nawang melupakan kegelisahan yang selama ini telah mengganggunya. Ia hanya merasa bahagia dan bahagia.


Begitu pun dengan Cleve, ia yang melihat senyum di wajah istrinya hanya merasakan kebahagiaan yang tiada tara.


"Suka?!" tanya Cleve sembari mengelus lembut punca kepala istrinya.


Nawang mengangguk pelan, "Terimakasih mas sudah membawaku kesini! Aku bahagia!"


Mendengar ucapan istrinya, Cleve tersenyum simpul.


"Aku akan selalu membuatmu bahagia, istriku!" bisik Cleve, ia mengecup lembut pipi istrinya.


Cleve tak henti-hentinya berterimakasih pada Tuhan, karena telah menciptakan wanita di sampingnya ini untuknya. Ia berharap kebahagiaan yang ia rasakan ini akan berlangsung selamanya.


Namun, Cleve lupa bahwa kebahagiaan yang berlangsung selama-lamanya hanya ada di dalam dongeng. Di dunia nyata, kebahagiaan seperti itu tak pernah ada!!!


****


Tanaman-tanaman anggur berjajar, berderet cantik di lereng perbukitan yang asri. Di atas bukit sebuah rumah mewah yang antik berdiri dengan kokoh.


Hanya dengan melihatnya saja, Nawang seolah merasa masuk ke dalam sebuah cerita dongeng yang selalu ia dengar sejak kecil.


Melewati kawasan rumahnya sendiri, Cleve langsung menuju ke kediaman Hans dan Jacob.


Seolah telah menunggu mereka sejak lama, Hans dan Jacob langsung menyambut mereka dengan hangat.


"Cleve!!" seorang pria tampan, berkulit putih dengan tinggi yang menjulang menghambur memeluk Cleve.


Pria tampan lainnya yang terlihat lebih tua, dengan jenggot yang berwarna kecoklatan hanya menatap keduanya dengan lembut, sembari menyunggingkan senyum di bibirnya yang tipis.


[note; Anggap saja mereka menggunakan bahasa asing yah guys!! Soalnya mau bikin beda tulisannya tapi gak tau caranya 😭😭]

__ADS_1


"Akhirnya kamu datang!!!" pria itu menepuk bahu Cleve dengan pelan. Haru menyeruak di wajahnya.


'Sepertinya mereka sangat menyayangi mas Cleve!' batin Nawang saat melihat reaksi kedua orang itu.


Nawang hanya diam, tidak mengerti apa yang mereka katakan karena menggunakan bahasa Jerman. Namun Nawang tahu, ketiga pria itu sedang membicarakan dirinya, karena mereka terus melirik ke arah Nawang.


'Apakah dia kaget karena wanita yang diajak mas Cleve adalah aku?!' batin Nawang. Mengingat Hans dan Jacob pernah bertemu dengan Lalita, yang waktu itu masih berstatus sebagai istri Cleve.


"Hallo! Kamu Cleve istri?!" tanya pria yang tadi memeluk Cleve.


Nawang kaget, mendengar pria itu mengucapkan bahasa Indonesia.


"Kamu siapa nama!?" tanya nya lagi, "Saya Jacob!"


"Saya Nawang, Nawang Anjani!" ujar Nawang sembari menyunggingkan senyumnya.


"Senang berkenalan!" ujarnya lagi. "Itu kakak saya, Hans!"


Jacob menunjuk pada pria yang tersenyum ke arah mereka. Saat tangan Jacob menunjuk ke arahnya, Hans melambai sembari menyunggingkan senyum yang lebih lebar.


"Saya sedikit bisa bahasa Indonesia!" ujar Jacob, "Hans tidak!"


"Kamu hebat!"seru Nawang kemudian.


Jacob mengangguk bangga!


Memiliki umur yang sama dengan Cleve, membuat Jacob dekat dengan Cleve. Rasa penasarannya yang tinggi, membuat Jacob sangat tertarik pada budaya dan bahasa yang sering digunakan Cleve serta kakeknya. Sehingga Jacob belajar sedikit bahasa Indonesia.


"Dia sedikit jail orangnya!" seru Cleve kemudian.


"Jail itu apa?!" tanya Jacob bingung. Ini pertama kalinya ia mendengar kata itu?!


"Apa Jail itu Jail?!"


Jacob mengacu pada Jail dalam bahasa Inggris.


Nawang segera menggeleng, "Tidak! Tidak!!"


Nawang ingin menjelaskannya. Namun Cleve berbisik pada Jacob. Jacob kemudian tersenyum dan mengangguk-angguk.


Lalu Jacob dengan bangga berkata, "Saya orang Jail!"


Nawang mengernyit bingung, menatap suaminya dengan penuh tanda tanya. Sepertinya Cleve tak mengungkapkan dengan jujur arti dari kata Jail itu.

__ADS_1


Di saat mereka sedang bercengkerama dengan hangat, seorang anak kecil berambut hitam pekat menghambur dan memeluk Jacob.


__ADS_2